
Per 1 Oktober 2026 pukul 16.11 WIB, harga saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) adalah Rp54/lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) saham GIAA setara Rp5.400 (sumber: IDN Financials, 1 Oktober 2026). Perlu dicatat: "Garuda" di sini merujuk pada GIAA (maskapai Garuda Indonesia), bukan PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) yang merupakan emiten berbeda di sektor konsumer.
GIAA adalah maskapai penerbangan nasional (BUMN) yang tercatat di sektor IDX-IC Transportasi & Logistik, sub-sektor Airlines (sumber: IDN Financials, 1 Okt 2026). Saham GIAA baru keluar dari Papan Pemantauan Khusus BEI (notasi "E" — ekuitas negatif) pada 26 Maret 2026, setelah ekuitas perseroan berbalik positif USD91,9 juta di 2025 dari negatif USD1,35 miliar di 2024 (sumber: Kumparan, 26 Maret 2026). GIAA tidak membagikan dividen sejak minimal tahun buku 2021 karena kondisi ekuitas dan akumulasi kerugian, meski sempat mencatatkan laba bersih di sejumlah tahun (sumber: CNBC Indonesia, 22 Mei 2024; Bisnis.com, 18 April 2023).
Ringkasan singkat:
● Harga 1 lot GIAA per 1 Okt 2026: Rp5.400 (100 lembar × Rp54)
● GIAA tidak membagikan dividen dalam 5 tahun buku terakhir (2021–2025) karena ekuitas negatif/akumulasi rugi
● Saham GIAA baru keluar dari notasi khusus "ekuitas negatif" pada 26 Maret 2026; sedang merencanakan rights issue (PMHMETD) dengan RUPSLB dijadwalkan 6 November 2026
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) adalah maskapai penerbangan nasional (flag carrier) Indonesia yang menyediakan layanan penerbangan penumpang dan kargo domestik maupun internasional. GIAA tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sektor IDX-IC Transportasi & Logistik, sub-sektor Airlines (sumber: IDN Financials, data per 1 Oktober 2026). GIAA berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan pengendali saat ini PT Danantara Asset Management.
Berdasarkan laporan kepemilikan bulanan ke BEI per 10 Maret 2026, PT Danantara Asset menguasai 91,11% saham GIAA (370,9 miliar lembar) sebagai pemegang saham pengendali, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian BUMN memegang 0,92% (3,7 miliar lembar), dan sisanya sekitar 7,97% dimiliki publik (sumber: Liputan6.com, 10 Maret 2026). Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Berdasarkan data pasar per 1 Oktober 2026 pukul 16.11 WIB, harga saham GIAA adalah Rp54/lembar (sumber: IDN Financials). Karena aturan BEI mewajibkan transaksi saham Indonesia dalam satuan 1 lot = 100 lembar, maka:
1 lot GIAA = 100 lembar × Rp54 = Rp5.400
Sebagai pembanding, Investing.com mencatat harga penutupan Rp56/lembar pada 25 September 2026 (beberapa hari sebelum Angka Kunci di atas) — konsisten dengan pergerakan harga saham yang volatil pada periode ini. Harga saham bergerak setiap hari bursa; untuk harga live, cek halaman saham GIAA di aplikasi Pluang.
Tidak. Berdasarkan pemberitaan yang konsisten sejak 2022, GIAA belum membagikan dividen sejak minimal tahun buku 2021 hingga tahun buku 2024 — termasuk pada tahun-tahun GIAA mencatatkan laba bersih (2022 dan 2023) — karena ekuitas perseroan masih negatif akibat akumulasi kerugian dari restrukturisasi utang (PKPU 2021–2022) dan dampak pandemi (sumber: CNBC Indonesia, 22 Mei 2024; Bisnis.com, 18 April 2023; Katadata.co.id). Data dividen resmi untuk tahun buku 2025 belum ditemukan pada sumber yang diverifikasi per artikel ini ditulis — lihat flag kepatuhan di bawah.
Tahun Buku | Laba/Rugi Bersih | Status Dividen | Alasan |
2025 | Ekuitas berbalik positif USD91,9 juta (vs. negatif USD1,35 miliar di 2024) | Belum ditemukan data RUPST resmi* | Perlu verifikasi ke pengumuman IDX/RUPST terbaru |
2024 | Rugi (ekuitas masih negatif USD1,35 miliar) | Tidak membagikan dividen | Ekuitas negatif, menutup akumulasi rugi (sumber: CNBC Indonesia, 22 Mei 2024) |
2023 | Laba bersih dicatatkan | Tidak membagikan dividen | Akumulasi kerugian dan ekuitas belum pulih (sumber: Kompas.com, Mei 2024) |
2022 | Laba bersih dicatatkan (±Rp56 triliun, sebagian besar restrukturisasi utang non-kas) | Tidak membagikan dividen | Laba didominasi keuntungan restrukturisasi non-kas, bukan kas operasional (sumber: CNBC Indonesia, 17 Apr 2023) |
2021 | Rugi — dalam proses PKPU/restrukturisasi utang | Tidak membagikan dividen | Perseroan dalam restrukturisasi utang besar-besaran |
Periode data: 2021–2025 (tahun buku). Sumber: CNBC Indonesia (22 Mei 2024; 17 Apr 2023), Bisnis.com (18 Apr 2023), Katadata.co.id, Kumparan (26 Mar 2026). *Data dividen tahun buku 2025 belum ditemukan pada sumber yang diverifikasi — tidak diasumsikan tidak ada maupun ada.
Angka ini bukan cerminan performa mendatang.
Status ekuitas positif di 2025 tidak serta-merta berarti dividen akan dibagikan atau harga saham akan terus menguat — keputusan dividen tetap bergantung pada RUPS dan kondisi keuangan penuh perseroan.
GIAA sebelumnya mendapat notasi khusus "E" (ekuitas negatif) dan ditempatkan di Papan Pemantauan Khusus BEI akibat ekuitas perseroan yang negatif dalam laporan keuangan — notasi ini membuat mekanisme perdagangan saham dibatasi melalui skema Full Call Auction (FCA). Pada 26 Maret 2026, BEI resmi mengeluarkan GIAA dari papan pemantauan khusus setelah ekuitas perseroan berbalik positif menjadi USD91,9 juta di 2025, dan harga saham sempat melonjak 21,92% ke Rp89/lembar pada hari pengumuman (sumber: Kumparan, 26 Maret 2026). Saham GIAA sebelumnya juga pernah disuspensi penuh selama sekitar 1,5 tahun terkait proses restrukturisasi dan penerbitan sukuk global (sumber: Kontan.co.id).
Jargon: Notasi khusus = tanda yang diberikan BEI pada saham emiten dengan kondisi keuangan/tata kelola tertentu yang perlu diwaspadai investor. FCA (Full Call Auction) = mekanisme lelang panggilan penuh yang membatasi frekuensi pencocokan harga, digunakan BEI untuk saham bernotasi khusus guna meredam volatilitas ekstrem. Papan Pemantauan Khusus = papan perdagangan BEI untuk saham dengan kriteria risiko tertentu, termasuk ekuitas negatif. Ekuitas negatif = kondisi total liabilitas perusahaan melebihi total aset. 1 lot = satuan standar perdagangan saham di BEI, setara 100 lembar.
GIAA berencana menerbitkan saham baru Seri E melalui skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD/rights issue) sebanyak-banyaknya 124.352.806.609 lembar dengan nilai nominal Rp25/lembar. Harga pelaksanaan belum ditetapkan dan akan diumumkan dalam prospektus. Rencana ini ditujukan untuk akuisisi saham PT GMF AeroAsia Tbk (GMFI) melalui kontribusi modal non-tunai (inbreng) dari Danantara Asset Management, serta modal kerja operasional dan rencana transformasi perseroan. RUPSLB untuk menyetujui rencana ini dijadwalkan pada 6 November 2026 (sumber: Liputan6.com, 1 Oktober 2026).
Rencana ini belum final — tunduk pada persetujuan RUPSLB dan dapat berubah.
Komponen | Nilai |
Harga per lembar (1 Okt 2026, 16.11 WIB) | Rp54 |
1 lot (100 lembar) | Rp5.400 |
Minimum pembelian di Pluang | 1 lot (100 lembar) |
Komisi broker | Bervariasi per sekuritas (ilustratif, bukan berlaku seragam di seluruh sekuritas berizin) |
Levy BEI (IDX) | Diatur dan dipungut sesuai ketentuan bursa yang berlaku |
PPh Final atas nilai jual | 0,1% — sesuai ketentuan perpajakan pasar modal, bukan komponen biaya sekuritas |
Data per 1 Oktober 2026. Biaya komisi final mengikuti sekuritas yang digunakan; cek rincian lengkap di halaman biaya transaksi saham Indonesia Pluang.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas dan PT Sarana Santosa Sejati (Mitra PPE Level II) berizin dan diawasi OJK. Kamu bisa membeli saham GIAA melalui aplikasi Pluang dengan pembelian minimum 1 lot (100 lembar). Mengingat riwayat volatilitas, ekuitas negatif, dan absennya dividen dalam 5 tahun terakhir, pastikan kamu memahami profil risiko emiten ini secara menyeluruh dan melakukan analisis pribadi sebelum bertransaksi. Untuk mengetahui status perizinan dan entitas pengelola produk saham Indonesia di Pluang, kamu bisa cek informasi lengkapnya di halaman keamanan Pluang.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi. Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini. Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Biaya transaksi saham Indonesia di Pluang terdiri atas tiga komponen yang tidak digabung menjadi satu angka: komisi broker (bervariasi per sekuritas, bersifat ilustratif dan bukan berlaku seragam), levy BEI (diatur regulator), dan PPh Final 0,1% atas nilai jual (komponen pajak, bukan biaya sekuritas). Rincian lengkap dan terkini tersedia di halaman biaya transaksi saham Indonesia Pluang.
Tidak. GIAA adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, maskapai penerbangan BUMN. Garudafood tercatat dengan kode saham GOOD dan bergerak di sektor konsumer — dua emiten yang sepenuhnya berbeda.
Per 1 Oktober 2026 pukul 16.11 WIB, harga saham GIAA adalah Rp54/lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) setara Rp5.400 (sumber: IDN Financials).
Tidak. Sejak tahun buku 2021 hingga 2024, GIAA tidak membagikan dividen karena ekuitas negatif dan akumulasi kerugian, meski sempat mencatat laba bersih di 2022 dan 2023 (sumber: CNBC Indonesia, 22 Mei 2024).
Karena ekuitas perseroan negatif (notasi "E"). GIAA keluar dari papan pemantauan khusus pada 26 Maret 2026 setelah ekuitas berbalik positif USD91,9 juta (sumber: Kumparan, 26 Mar 2026).
GIAA dikendalikan oleh PT Danantara Asset dengan kepemilikan 91,11% per 10 Maret 2026 (sumber: Liputan6.com). Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Per 1 Oktober 2026, 1 lot saham GIAA (100 lembar) bernilai sekitar Rp5.400. GIAA tidak membagikan dividen dalam 5 tahun buku terakhir karena riwayat ekuitas negatif dan akumulasi kerugian, meski baru keluar dari Papan Pemantauan Khusus BEI pada Maret 2026 setelah ekuitas berbalik positif. Perseroan juga tengah merencanakan rights issue yang akan diputuskan dalam RUPSLB November 2026. Mengingat riwayat volatilitas tinggi saham ini, pastikan kamu memahami risiko investasi saham dan melakukan analisis pribadi sebelum bertransaksi.
Mau mulai investasi saham Indonesia, termasuk GIAA? Pelajari lebih lanjut di aplikasi Pluang — minimum pembelian 1 lot, dan selalu perhatikan disclaimer risiko di bawah sebelum bertransaksi.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas dan PT Sarana Santosa Sejati (Mitra PPE Level II) berizin dan diawasi OJK.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.