
ARB asimetris 7% adalah batas penurunan harga harian saham sebesar 7% dari harga acuan, lebih sempit daripada batas kenaikan (ARA) 35%, 25%, atau 20%, yang berlaku untuk saham harga di atas Rp10 pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. BEI menerapkannya dengan dukungan OJK lewat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A, yang menggantikan Kep-00136/BEI/09-2026 (Bisnis.com, 19 Oktober 2026). Saham harga Rp1 sampai Rp10 tetap memakai batas ARB Rp1 (ANTARA, 19 Oktober 2026).
| Rentang harga | ARA | ARB sampai 16 Okt 2026 | ARB 19 Okt–31 Des 2026 |
|---|---|---|---|
| Rp1–Rp10 | Rp1 | Rp1 | Rp1 |
| Rp11–Rp200 | 35% | 15% | 7% |
| >Rp200–Rp5.000 | 25% | 15% | 7% |
| >Rp5.000 | 20% | 15% | 7% |
BEI menyatakan ketentuan ini akan dievaluasi kembali dengan mempertimbangkan kondisi pasar (Periskop, 19 Oktober 2026). Batas aktual mengikuti pembulatan fraksi harga di sistem JATS, sehingga penurunan yang tercatat bisa sedikit berbeda dari 7%. Contohnya, BBCA berhenti di −6,86% ke Rp4.820 pada 19 Oktober 2026 (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026).
Pemangkasan ini menyusul anjloknya IHSG pada 16 Oktober 2026. Indeks turun sekitar 11,6% ke 5.185,11 setelah MSCI membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market (CNBC Indonesia dan Bisnis.com, 19 Oktober 2026). Penurunan itu sempat memicu trading halt (Bisnis.com, 19 Oktober 2026). MSCI menyebut dugaan perdagangan terkoordinasi, transparansi kepemilikan, dan keandalan data saham publik yang dapat diperdagangkan (Bisnis.com, 19 Oktober 2026).
Konsultasi itu belum berupa keputusan: tanggapan diterima hingga 30 April 2027 dan keputusan akhir dijadwalkan selambat-lambatnya 30 Juni 2027 (Bisnis.com, 19 Oktober 2026). Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita menyebut penyesuaian ARB memberi investor kesempatan mengevaluasi dan mencerna informasi (ANTARA, 19 Oktober 2026). Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut pengumuman MSCI tidak terduga sehingga pasar bereaksi panik, dan BEI akan meminta bertemu MSCI (Bisnis.com, 19 Oktober 2026).
Harga saham minimum Rp1 adalah batas bawah harga yang diizinkan BEI untuk perdagangan saham di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, menggantikan batas lama Rp50. Aturan ini berlaku sejak 28 September 2026 berdasarkan Keputusan Direksi BEI Kep-00136/BEI/09-2026 yang terbit 21 September 2026 (Katadata, 23 September 2026). BEI menyebut tujuannya meningkatkan kualitas pembentukan harga (price discovery), mendorong likuiditas, dan memberi fleksibilitas bagi pelaku pasar (Katadata, 23 September 2026).
Per 21 Oktober 2026, pemberitaan belum merinci ketentuan batas ARB setelah 31 Desember 2026. Sebelum perubahan 19 Oktober, Katadata (23 September 2026) melaporkan ARB akan kembali simetris dengan ARA mulai 1 Januari 2027, tetapi BEI belum menjelaskan apakah jadwal itu tetap berlaku.
Ilustrasi sederhana dari harga penutupan sebelumnya:
Pada rentang Rp1–Rp10, batasnya berupa nominal Rp1, sehingga secara persentase sangat lebar: Rp1 dari harga Rp2 berarti 50%, dari harga Rp10 berarti 10%. Pada harga Rp5, satu lot (100 lembar) bernilai Rp500.
Pada hari pertama, IHSG ditutup di 4.996,61, turun 3,64% (Katadata Databoks, 19 Oktober 2026). Sebanyak 351 saham menyentuh ARB, sekitar 36% dari 963 saham tercatat (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026). Jeffrey Hendrik menilai sesi pertama cukup efektif meredam kepanikan, meski tekanan jual masih ada (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026).
Saham semi-gocap adalah saham dengan harga sekitar Rp52–Rp100 per lembar. Sebelum aturan baru, harga tidak bisa turun di bawah Rp50. Pada 28 September 2026, hari pertama harga minimum Rp1, sedikitnya 23 saham menyentuh ARB, mayoritas turun 14% ke Rp43, dan IHSG melemah 1% ke 6.174 (Fortune IDN, 28 September 2026). Penyebabnya tidak tunggal: analis juga menyebut imbal hasil obligasi AS dan pelemahan rupiah (RCTI+, 25 September 2026).
Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data: 28 Sep–19 Okt 2026 · Data per 19 Okt 2026
ARB 7% membatasi penurunan harian satu saham, tetapi order jualmu belum tentu terisi. Pengamat pasar modal Hendra Wardana memperingatkan saham yang terkunci di ARB bisa menumpuk antrean jual tanpa pembeli, sehingga investor sulit keluar (RCTI+, 19 Oktober 2026). Pada 19 Oktober 2026, sekitar 1,2 miliar saham GOTO masih antre jual saat penutupan (CNBC Indonesia, 19 Oktober 2026).
Menurut Hendra Wardana, stabilitas harga akibat batas harian tidak sama dengan pulihnya kepercayaan investor (RCTI+, 19 Oktober 2026). Konsultasi MSCI juga belum selesai, sehingga ketidakpastian dari faktor eksternal masih ada hingga keputusan akhir yang dijadwalkan selambat-lambatnya 30 Juni 2027.
Batas Rp1 pada harga satu digit berarti pergerakan persentase besar dalam sehari. Volatilitas setinggi itu dapat menggerus modal dengan cepat. Dengan fraksi harga Rp1, satu langkah harga pada saham Rp5 setara 20%. Saham harga rendah cenderung kurang likuid, sehingga order dapat sulit terisi pada harga yang kamu inginkan. Waspadai pula pola saham gorengan.
Karena ketentuan setelah 31 Desember 2026 masih menunggu evaluasi BEI, batas ARB yang kamu pakai untuk menghitung risiko bisa berubah. Jika ARB kembali melebar seperti jadwal lama yang dilaporkan Katadata (35%, 25%, atau 20% mulai 1 Januari 2027), penurunan harian bisa jauh lebih besar dari 7%. Pesan stop loss pun bisa tereksekusi pada harga yang berbeda dari level yang kamu tetapkan.
Pluang menyediakan produk Saham Indonesia; informasi perizinannya ada di bagian akhir artikel. Kamu juga dapat memakai Screeners dan Web Trading untuk menyaring dan memantau saham.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.
Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.
Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Pelajari lebih lanjut tentang Saham Indonesia di Pluang.
Batas ARB saham di BEI menjadi asimetris 7% sejak Senin, 19 Oktober 2026, turun dari 15%. Aturan ini berlaku hingga 31 Desember 2026 melalui Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026, menurut ANTARA (19 Oktober 2026), dan akan dievaluasi sesuai kondisi pasar.
Saham harga Rp11–Rp200 memiliki batas ARA 35% dan ARB 7% sejak 19 Oktober 2026, sebelumnya ARB 15%. Saham di atas Rp200 sampai Rp5.000 memakai ARA 25%, sedangkan di atas Rp5.000 memakai ARA 20%, keduanya ARB 7% (Bisnis.com, 19 Oktober 2026).
Aturan ARB asimetris 7% berlaku sampai 31 Desember 2026. BEI menyatakan akan mengevaluasi kebijakan ini sesuai perkembangan kondisi pasar (ANTARA, 19 Oktober 2026). Per 21 Oktober 2026, pemberitaan belum merinci ketentuan batas ARB yang akan berlaku setelah 31 Desember 2026.
Tidak. Saham harga Rp1 sampai Rp10 tetap memiliki batas ARB Rp1, sama seperti sebelum 19 Oktober 2026 (ANTARA, 19 Oktober 2026). Pada harga Rp5, batas Rp1 setara 20%, sehingga harga harian berkisar Rp4 sampai Rp6 sejak harga minimum Rp1 berlaku.
Harga saham minimum di BEI menjadi Rp1 sejak Senin, 28 September 2026, turun dari batas lama Rp50. Aturan ini berlaku untuk Pasar Reguler dan Pasar Tunai berdasarkan Keputusan Direksi BEI Kep-00136/BEI/09-2026, yang terbit 21 September 2026 (Katadata, 23 September 2026).
ARB asimetris 7% membatasi penurunan harian saham di atas Rp10 hingga 31 Desember 2026, sementara harga minimum Rp1 memperluas ruang gerak harga. Batas ini bukan berarti order jual selalu terisi, dan ketentuan setelah 31 Desember 2026 masih menunggu evaluasi BEI. Pahami batas harian, nilai per lot, dan risiko likuiditas sebelum bertransaksi.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


