
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan, terutama batu bara, dan terdaftar di sektor Energi Bursa Efek Indonesia. Per penutupan perdagangan 22 September 2026, 1 lot saham DEWA setara Rp34.800 (100 lembar × Rp348, sumber: Investing.com, 22 September 2026). Pemegang saham pengendalinya adalah Zurich Assets International Ltd, dengan penerima manfaat akhir Nirwan Dermawan Bakrie dari Grup Bakrie (IDX Channel, 22 Desember 2025).
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Data mengenai DEWA disajikan untuk tujuan identifikasi dan edukasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kamu setelah mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
Saham DEWA bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan, yaitu mengerjakan tahapan operasional tambang milik perusahaan lain, mulai dari pembukaan lahan hingga pengangkutan batu bara dan rehabilitasi lahan pascatambang (Katadata, 21 Januari 2026). Dalam klasifikasi industri, DEWA masuk sektor Energi pada kelompok industri penunjang minyak, gas, dan batu bara (IDNFinancials, 22 September 2026).
Menurut profil usaha yang sama, lingkup pekerjaan DEWA mencakup 12 kegiatan, di antaranya:
1. Pembukaan lahan (land clearing) dan pengupasan tanah pucuk.
2. Pengeboran dan peledakan untuk membuka lapisan batuan.
3. Pengupasan lapisan penutup (overburden), yaitu tanah dan batuan di atas lapisan batu bara.
4. Penambangan, pengangkutan ke stockpile, dan pemuatan batu bara.
5. Rehabilitasi dan reklamasi lahan, serta pembangunan jalan dan jembatan tambang.
DEWA memperoleh pendapatan dari kontrak jasa dengan pemilik tambang, yang besarnya bergantung pada volume pekerjaan seperti pengupasan lapisan penutup (diukur dalam bank cubic meter atau bcm) dan batu bara yang ditambang serta diangkut. Kenaikan laba DEWA pada semester I 2026 antara lain dikaitkan dengan kenaikan volume pengupasan lapisan penutup atau waste removal (Kompas.com, 10 Agustus 2026).
Pelanggan utamanya adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang juga berada dalam Grup Bakrie, dengan wilayah tambang di Sangatta dan Bengalon, Kalimantan Timur (bumiresources.com). Dari pendapatan semester I 2026 sebesar Rp3,20 triliun, jasa pertambangan untuk KPC menyumbang Rp2,34 triliun atau sekitar 73% (IDX Channel, 11 Agustus 2026).
Mulai 2026, DEWA mengambil alih operasi tambang Bengalon milik KPC yang sebelumnya dikerjakan subkontraktor. Untuk proyek ini, manajemen memperkirakan volume pengupasan lapisan penutup sekitar 158–164 juta bcm pada 2026–2027 dan merencanakan belanja modal sekitar Rp1 triliun untuk alat berat dan rehabilitasi lokasi (Investortrust, 22 Desember 2025). Angka tersebut merupakan perkiraan manajemen, bukan jaminan realisasi. Di luar batu bara, DEWA mengakuisisi PT Gayo Mineral Resources, perusahaan tambang emas dan tembaga di Aceh (IDNFinancials, 27 Maret 2026).
DEWA adalah kode saham PT Darma Henwa Tbk, emiten kontraktor tambang yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 26 September 2007 dengan 40.687.434.244 saham terdaftar per 22 September 2026 (KSEI, 22 September 2026). Perusahaan didirikan pada 8 Oktober 1991, mulai beroperasi komersial pada 1993, dan sahamnya diakuisisi mayoritas oleh Henry Walker Group asal Australia pada 1996 sebelum kemudian menjadi bagian dari Grup Bakrie (IDNFinancials, 22 September 2026).
Profil emiten | Keterangan |
Nama legal | PT Darma Henwa Tbk |
Kode saham | DEWA |
Sektor | Energi — industri penunjang minyak, gas, dan batu bara |
Tanggal pencatatan di BEI | 26 September 2007 |
Jumlah saham terdaftar (lembar, per 22 Sep 2026) | 40.687.434.244 |
Kapitalisasi pasar (Rp, per 22 Sep 2026) | ~Rp13,59 triliun |
Kantor pusat | Prosperity Tower lantai 39, Jakarta |
Komposisi investor (per 22 Sep 2026) | 74,14% lokal, 25,86% asing |
Sumber: KSEI (tanggal pencatatan, jumlah saham, komposisi investor, 22 September 2026); IDNFinancials (sektor, kapitalisasi pasar, kantor pusat, 22 September 2026). Kapitalisasi pasar dapat berbeda antarpenyedia data, tergantung basis jumlah saham yang dipakai.
Pemilik saham pengendali DEWA adalah Zurich Assets International Ltd dengan kepemilikan 6,18%, dan penerima manfaat akhirnya adalah Nirwan Dermawan Bakrie, sehingga DEWA termasuk dalam konglomerasi Grup Bakrie (IDX Channel, 22 Desember 2025, data per 30 November 2025). Meski berstatus pengendali, porsi kepemilikannya lebih kecil dibanding dua pemegang saham lain, dan mayoritas saham DEWA dipegang publik.
Pemegang saham (per 30 November 2025) | Kepemilikan (%) | Jumlah saham (lembar) |
Goldwave Capital Limited | 9,38 | ~3,81 miliar |
PT Andhesti Tungkas Pratama | 9,33 | ~3,80 miliar |
CIMB Securities Limited | 6,38 | ~2,59 miliar |
Zurich Assets International Ltd (pengendali) | 6,18 | ~2,51 miliar |
Publik | 68,73 | ~27,96 miliar |
Sumber: IDX Channel, 22 Desember 2025 (data per 30 November 2025). Komposisi pemegang saham dapat berubah setiap bulan.
Struktur ini terbentuk antara lain setelah DEWA menerbitkan 18.833.700.452 saham baru seharga Rp75 per lembar lewat penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement) pada Februari 2025, yang diserap PT Madhani Talatah Nusantara, PT Andhesti Tungkas Pratama, dan PT Antareja Mahada Makmur (IMA, 20 Februari 2025). Aksi korporasi seperti ini menimbulkan dilusi saham bagi pemegang saham lama.
Pada semester I 2026, DEWA mencatat pendapatan Rp3,20 triliun, naik 3,13% secara tahunan, dan laba bersih Rp354,28 miliar, naik 89% dari Rp187,44 miliar pada semester I 2025 (IDX Channel, 11 Agustus 2026). Kenaikan laba tersebut ditopang penyesuaian nilai wajar investasi saham sebesar Rp229 miliar pada kuartal II, sementara beban keuangan naik 95%, termasuk denda pinjaman bank satu kali sebesar Rp46 miliar (IDX Channel, 11 Agustus 2026).
Untuk tahun buku 2025, DEWA membukukan pendapatan Rp6,39 triliun dan laba bersih Rp4,3 triliun. Lonjakan laba ini terutama berasal dari pengakuan negative goodwill (selisih lebih nilai aset bersih yang diakuisisi di atas harga beli) sebesar Rp4,5 triliun dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources, bukan dari kegiatan jasa pertambangan (IDNFinancials, 27 Maret 2026).
Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data: 1 Januari–31 Desember 2025 dan 1 Januari–30 Juni 2026.
Harga 1 lot saham DEWA adalah Rp34.800 berdasarkan harga penutupan Rp348 per lembar pada 22 September 2026, ditambah biaya beli 0,15% sehingga totalnya sekitar Rp34.852 (Investing.com, 22 September 2026). Harga hari ini dapat dicek di halaman harga saham Darma Henwa Tbk (DEWA) hari ini.
Komponen | Nilai (Rp) | Keterangan |
Harga per lembar | 348 | Harga penutupan 22 September 2026 (Investing.com) |
Jumlah lembar per lot | 100 lembar | Satuan perdagangan di BEI |
Nilai 1 lot = minimum pembelian | 34.800 | 100 lembar × Rp348 |
Biaya beli di Pluang (0,15%) | 52 | Rp52,20 dibulatkan; termasuk levy BEI/KSEI 0,03%, biaya KPEI 0,01%, trading fee Pluang 0,0961261%, dan PPN 11% atas levy serta trading fee |
Estimasi total dana beli 1 lot | 34.852 | Rp34.800 + Rp52 |
Biaya jual di Pluang (0,25%) | 87 | Komponen biaya beli ditambah PPh Final 0,1% atas nilai jual; ilustrasi pada harga Rp348 |
e-Meterai | 10.000 | Hanya untuk konfirmasi transaksi bernilai di atas Rp10.000.000; tidak berlaku untuk transaksi 1 lot DEWA pada harga ini |
Data harga per 22 September 2026. Tarif biaya sesuai halaman biaya trading saham Indonesia di Pluang, diakses 23 September 2026. Harga saham berubah setiap hari perdagangan, sehingga nilai 1 lot juga ikut berubah.
Komponen biaya perlu dibaca terpisah: trading fee atau komisi broker berbeda-beda antarsekuritas, levy BEI/KSEI dan biaya KPEI merupakan pungutan yang diatur, sedangkan PPh Final 0,1% atas penjualan dikenakan sesuai ketentuan perpajakan pasar modal, bukan komponen biaya sekuritas. Rincian lengkapnya tersedia di halaman biaya trading saham Indonesia di Pluang.
Risiko utama saham DEWA berasal dari konsentrasi pelanggan, kualitas laba, tingkat utang, dan volatilitas harga:
• Konsentrasi pelanggan. Sekitar 73% pendapatan semester I 2026 berasal dari satu pelanggan afiliasi, KPC (IDX Channel, 11 Agustus 2026), sehingga perubahan kontrak atau volume produksi KPC dapat berdampak besar pada kinerja DEWA.
• Kualitas laba. Laba 2025 didominasi negative goodwill Rp4,5 triliun dan laba semester I 2026 ditopang penyesuaian nilai wajar investasi Rp229 miliar; keduanya bukan pendapatan operasional berulang.
• Tingkat utang dan beban keuangan. DER 1,17 kali dan beban keuangan yang naik 95% pada semester I 2026 menambah sensitivitas terhadap suku bunga dan arus kas.
• Kepatuhan pelaporan. BEI memberikan Surat Peringatan I (SP1) kepada DEWA karena laporan keuangan kuartal III 2025 belum disampaikan hingga 31 Desember 2025 (Katadata, 21 Januari 2026).
• Risiko sektor. Permintaan jasa kontraktor tambang bergantung pada rencana produksi pemilik tambang, yang dipengaruhi harga batu bara global dan kebijakan energi.
Saham DEWA dapat dibeli di aplikasi Pluang melalui menu Saham Indonesia, dengan minimum pembelian 1 lot (100 lembar). Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
1. Buka aplikasi Pluang dan login ke akun kamu.
2. Pilih menu Saham Indonesia, lalu cari kode saham "DEWA".
3. Klik "Beli", lalu masukkan harga dan jumlah lot yang diinginkan.
4. Pastikan saldo RDN (Rekening Dana Nasabah) mencukupi nilai order ditambah biaya transaksi.
5. Periksa ringkasan order, konfirmasi, lalu cek statusnya di riwayat transaksi.
Sebelum bertransaksi, perhatikan diversifikasi portofolio agar dana tidak terkonsentrasi pada satu saham.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.
Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.
Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
DEWA adalah kode saham PT Darma Henwa Tbk, emiten kontraktor tambang sektor Energi yang tercatat di BEI sejak 26 September 2007, dengan 40,69 miliar saham terdaftar per 22 September 2026 (KSEI).
DEWA bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan batu bara, dari pembukaan lahan hingga pengangkutan batu bara. Sekitar 73% pendapatan semester I 2026 berasal dari PT Kaltim Prima Coal (IDX Channel, 11 Agustus 2026).
Pengendali DEWA adalah Zurich Assets International Ltd (6,18%) dengan penerima manfaat akhir Nirwan Dermawan Bakrie dari Grup Bakrie; publik memegang 68,73% per 30 November 2025 (IDX Channel, 22 Desember 2025).
Dengan harga penutupan Rp348 per lembar pada 22 September 2026, 1 lot saham DEWA (100 lembar) setara Rp34.800, atau sekitar Rp34.852 setelah biaya beli 0,15% di Pluang.
Laba bersih DEWA semester I 2026 mencapai Rp354,28 miliar, naik 89% secara tahunan, ditopang penyesuaian nilai wajar investasi Rp229 miliar; pendapatannya Rp3,20 triliun (IDX Channel, 11 Agustus 2026).
DEWA adalah emiten kontraktor tambang batu bara dalam konglomerasi Grup Bakrie, dengan pendapatan yang sebagian besar berasal dari pelanggan afiliasi KPC dan ekspansi ke tambang emas-tembaga lewat PT Gayo Mineral Resources. Kinerja labanya dalam 18 bulan terakhir banyak dipengaruhi pos non-operasional, sementara DER, beban keuangan, dan riwayat keterlambatan laporan keuangan menjadi faktor risiko yang perlu dicermati. Sebelum mengambil keputusan, pelajari laporan keuangan DEWA yang dipublikasikan di situs BEI dan sesuaikan dengan profil risiko kamu.
Gambar yang ditampilkan dalam konten ini dibuat dengan menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.