
Sembilan emiten masih mencatatkan entitas Bakrie di register: BNBR, BUMI, ENRG, UNSP, VKTR, VIVA, MDIA, ALII, JGLE.
Empat emiten berlabel Bakrie tetapi kepemilikan grup kecil atau tidak tercatat: ELTY, DEWA, BRMS, BTEL.
UNSP dan BTEL berstatus suspensi — tidak dapat diperdagangkan.
Saham Bakrie adalah emiten BEI yang terafiliasi dengan Grup Bakrie melalui kepemilikan entitas grup atau anggota keluarga Bakrie, dengan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai perusahaan induk historis grup.
Kode | Nama Perusahaan | Pemegang Saham Terafiliasi | Kepemilikan | Sumber & Tanggal |
|---|---|---|---|---|
PT Bakrie & Brothers Tbk | PT Bakrie Capital Indonesia | 25,31% | Diverifikasi langsung di idx.co.id, dilihat 22 Sept 2026 | |
PT Bumi Resources Tbk | Kendali bersama Bakrie–Salim | Mach Energy (HK) 45,78% + Bakrie Capital 1,18% | Register per Des 2025; CNBC Indonesia, 12 Feb 2026 | |
PT Energi Mega Persada Tbk | PT Shima Global Kapital + PT Bakrie Kalila Investment* | 17,54% + 2,42%* | Shima Global Kapital: diverifikasi langsung di idx.co.id, dilihat 22 Sept 2026. *Bakrie Kalila Investment: BEI Monthly Register, 30 Nov 2025 — tidak muncul di ambang batas ≥5% pada pengecekan 22 Sept 2026, sehingga angka ini belum diverifikasi ulang | |
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk | PT Bakrie Capital Indonesia | 17,82% | Register bulanan BEI, 31 Mar 2026 | |
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk | BNBR + Bakrie Metal Industries | 24,40% + 14,23% (±39,86% total, Jul 2026) | Register BEI, Apr–Jul 2026 | |
PT Visi Media Asia Tbk | PT Bakrie Global Ventura | 32,94% | Register bulanan BEI, 31 Mar 2026 | |
PT Intermedia Capital Tbk | Rantai: Bakrie Global Ventura → VIVA → MDIA | VIVA 83,28% | Register bulanan BEI, 31 Mar 2026 | |
PT Ancara Logistics Indonesia Tbk | PT Graha Adika Niaga + Aninditha Anestya Bakrie | 32,87% + 1,95% | Register BEI 31 Mar 2026; prospektus e-IPO, Feb 2024 | |
PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk | Rantai: ELTY → Surya Global Nusantara → JGLE | Surya Global Nusantara 38,76% | Register bulanan BEI, 31 Mar 2026 |
*highlight merah = berstatus suspensi, tidak dapat diperdagangkan.
Catatan penting soal BNBR: per Juni 2026, register pemegang saham BNBR memang tidak memuat entitas bernama Bakrie di posisi ≥5% — pemegang saham utamanya saat itu adalah empat entitas luar negeri (Port Fraser International, Fountain City, Levoca Enterprise, dan Eurofa Capital). Namun ini berubah setelah penambahan modal 89,92 miliar saham baru yang disebutkan di bagian "Bagaimana Arah Kepemilikan Grup Bakrie di BEI?" di bawah — Grup Bakrie bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer) dalam aksi korporasi tersebut, dan porsi saham baru yang tidak diserap pemegang saham lain diserap oleh entitas Bakrie.
Hasilnya terlihat pada register terbaru: per pengecekan langsung di idx.co.id pada 22 September 2026, PT Bakrie Capital Indonesia kini tercatat sebagai pemegang saham terbesar BNBR dengan 25,31%, mengungguli Fountain City Investment (14,6%), Port Fraser International (10,58%), dan Levoca Enterprise (9,07%). Eurofa Capital tidak lagi muncul di posisi ≥5% pada register terbaru.
Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data pembanding: register Juni 2026 vs. verifikasi langsung idx.co.id, 22 September 2026.
Catatan tambahan ENRG: PT Bakrie Kalila Investment (~2,42%, dikutip dari BEI Monthly Register 30 Nov 2025) tidak muncul pada daftar pemegang saham ≥5% dalam pengecekan langsung idx.co.id per 22 September 2026. Ini bisa berarti porsinya sudah berada di bawah ambang batas pengungkapan wajib 5%, bukan berarti kepemilikannya hilang — angka ini disajikan dengan sumber aslinya karena belum diverifikasi ulang secara langsung.
Empat emiten berikut rutin masuk daftar "saham Bakrie", tetapi register resminya menunjukkan gambaran berbeda. Ini bagian yang sering keliru.
Kode | Apa yang ditunjukkan register | Sumber & Tanggal |
|---|---|---|
PT Bakrieland Development Tbk. PT Bakrie Capital 1,05%; PT Bakrie & Brothers hanya 300 saham (0%); publik 84,81%. Pemegang saham utama adalah Interventures Capital 5,12% dan KPD Simas Equity 5,35%; tidak ada pengendali dominan. Perusahaan masih menyatakan diri bagian dari Bakrie | Register bulanan BEI, 31 Jan 2026 | |
PT Darma Henwa Tbk. Tidak ada entitas bernama Bakrie di register. Pengendali yang diungkapkan adalah Zurich Assets International Ltd (6,17%). Katadata (Feb 2026) menyebut Nirwan Dermawan Bakrie sebagai pemilik manfaat akhir berdasarkan data registri Ditjen AHU | Register BEI; Katadata, Jan–Feb 2026 | |
PT Bumi Resources Minerals Tbk. BUMI kini hanya memegang 3,08%. Pemegang saham utama adalah Emirates Tarian Global Ventures SPC (Cayman) 25,10%, yang oleh IDN Financials disebut terafiliasi Grup Salim | Register bulanan BEI, 31 Mar 2026 | |
PT Bakrie Telecom Tbk. Disuspensi di seluruh pasar sejak 2019, ekuitas negatif. Termasuk dalam kelompok 13 emiten yang suspensinya dilanjutkan per 1 Juli 2026 | Pengumuman BEI via IDN Financials, 1 Jul 2026 |
*highlight merah = berstatus suspensi, tidak dapat diperdagangkan.
Untuk DEWA, dua catatan resmi memberi jawaban berbeda: keterbukaan informasi BEI menyebut Zurich Assets International sebagai pengendali, sementara data registri AHU yang dikutip media menyebut nama Bakrie sebagai pemilik manfaat akhir. Kami menyajikan keduanya dan tidak memilih salah satu.
Catatan tambahan untuk BRMS: meski tidak ada entitas bernama Bakrie di posisi ≥5% pada register (pemegang saham terbesar adalah Emirates Tarian Global Ventures SPC asal Cayman dengan 25,1%), tiga posisi di jajaran direksi dan komisaris BRMS diisi oleh individu bermarga Bakrie — Adika Aryasthana Bakrie dan Adhika Andrayudha Bakrie (Direksi), serta Adika Nuraga Bakrie (Komisaris) — masing-masing dengan kepemilikan saham langsung 0%. Satu nama lain yang juga duduk di jajaran direksi BRMS, Agoes Projosasmito, adalah nama yang sama yang menurut pemberitaan (CNBC Indonesia, 12 Februari 2026) memegang porsi kepemilikan di Mach Energy (Hongkong) Limited, pengendali BUMI — sebuah keterkaitan personel lintas dua emiten ini, bukan keterkaitan kepemilikan saham. (Diverifikasi langsung di idx.co.id, dilihat 22 September 2026.)
Dua, dan keduanya perlu dinyatakan tegas karena beberapa daftar masih menampilkannya sebagai saham yang bisa dibeli:
UNSP (Bakrie Sumatera Plantations) — disuspensi di seluruh pasar sejak 1 Juli 2026 karena ekuitas negatif, dengan defisiensi modal Rp5,27 triliun per kuartal I 2026 (pengumuman BEI via IDN Financials, 1 Juli 2026).
BTEL (Bakrie Telecom) — disuspensi sejak 2019, masih termasuk kelompok suspensi berlanjut per 1 Juli 2026.
Saham yang disuspensi tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler selama suspensi berlaku. Periksa status terkini langsung di idx.co.id sebelum mengambil keputusan apa pun.
Sebagian, dan menyebutnya "saham Bakrie" saja tidak akurat.
BUMI dikendalikan melalui konsorsium Mach Energy (Hong Kong) yang memegang 45,78%, ditambah PT Bakrie Capital 1,18%. Kepemilikan Mach Energy Ltd sendiri terbagi: Bakrie 42,5%, Anthoni Salim 42,5%, dan Agoes Projosasmito 15%. Pemilik manfaat akhir yang diungkapkan adalah Nirwan Bakrie dan Anthoni Salim, dengan porsi gabungan 46,96% (CNBC Indonesia, 12 Februari 2026).
Artinya BUMI adalah emiten dengan kendali bersama dua grup, bukan emiten Bakrie tunggal. Bisnis Indonesia (5 Agustus 2026) sendiri menyebut BUMI dan BRMS sebagai "duo emiten Grup Bakrie dan Salim".
Berdasarkan dokumen kepemilikan yang tersedia, arah umumnya menurun di beberapa emiten inti: BUMI berpindah ke kendali konsorsium bersama, BRMS terdilusi hingga BUMI tinggal 3,08%, ELTY tersisa sekitar 1%, dan DEWA tidak lagi memuat entitas Bakrie di register.
Sejumlah aksi korporasi juga sedang berjalan dan akan mengubah persentase kepemilikan:
BNBR menjalankan penambahan modal 89,92 miliar saham baru pada harga Rp53 (±Rp4,76 triliun), periode perdagangan 14–27 Juli 2026, dengan Grup Bakrie sebagai pembeli siaga. Update 22 September 2026: penambahan modal BNBR di atas telah rampung. Register terbaru menunjukkan PT Bakrie Capital Indonesia masuk sebagai pemegang saham terbesar dengan 25,31% — lihat detail di bagian "Emiten Mana yang Masih Mencatatkan Entitas Bakrie di Register?" di atas.
VKTR menyetujui penambahan 21–25 miliar saham dalam RUPSLB 19 Mei 2026.
Karena itu, penyebutan yang lebih tepat untuk beberapa emiten dalam daftar ini adalah terafiliasi atau historis, bukan dimiliki.
Risiko suspensi dan kelangsungan usaha. Dua emiten dalam daftar ini disuspensi karena ekuitas negatif. Ini bukan risiko teoretis pada kelompok ini.
Risiko dilusi. Penambahan modal berskala besar seperti pada BNBR dan VKTR memperkecil porsi pemegang saham yang tidak ikut menambah modal.
Ketidakpastian identitas pengendali. Pada beberapa emiten, catatan BEI dan data registri lain memberi jawaban berbeda tentang siapa pengendalinya. Informasi pengendali adalah bagian dari analisis, dan ketidakjelasan di sini adalah risiko tersendiri.
Korelasi sentimen antar emiten satu grup, sehingga jumlah kode tidak otomatis berarti diversifikasi.
Sisi lainnya, grup ini memberi eksposur ke beberapa sektor — energi, pertambangan, media, logistik, properti, dan kendaraan listrik. Kedua sisi perlu dinilai bersamaan, dengan status suspensi dan aksi korporasi diperiksa lebih dahulu.
Sembilan emiten masih mencatatkan entitas Bakrie atau keluarga Bakrie di register pemegang saham; empat emiten lain berlabel Bakrie secara historis dengan kepemilikan grup yang kecil atau tidak tercatat.
BNBR, PT Bakrie & Brothers Tbk. Per Juni 2026 register BNBR sempat tidak memuat entitas bernama Bakrie di posisi ≥5%, tetapi setelah penambahan modal yang rampung pertengahan 2026, PT Bakrie Capital Indonesia kini tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan 25,31% (diverifikasi langsung di idx.co.id, 22 September 2026).
Tidak selama suspensi berlaku. UNSP disuspensi di seluruh pasar sejak 1 Juli 2026 karena ekuitas negatif.
Karena sebagian sumber mencampur kepemilikan yang masih tercatat dengan afiliasi historis, dan sebagian tidak memperbarui setelah aksi korporasi atau dilusi. Register bulanan BEI adalah acuan yang bisa diperiksa.
Pihak yang berkomitmen membeli sisa saham baru dalam penambahan modal yang tidak diambil pemegang saham lain.
Di mana memeriksa daftar pemegang saham resmi? Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek di idx.co.id, serta laporan tahunan masing-masing emiten.
| Tanggal | Perubahan |
|---|---|
| 10 September 2026 | Artikel dipublikasikan, memetakan status kepemilikan 13 emiten berlabel Grup Bakrie berdasarkan register BEI dan pemberitaan bertanggal. |
| 22 September 2026 | Data kepemilikan BUMI, BNBR, DEWA, BRMS, dan ENRG diverifikasi ulang langsung terhadap idx.co.id. Perubahan signifikan: BNBR kini memiliki entitas Bakrie (PT Bakrie Capital Indonesia, 25,31%) di posisi ≥5% menyusul rampungnya penambahan modal 2026, membalikkan kesimpulan sebelumnya. Ditambahkan pula temuan personel bermarga Bakrie di jajaran direksi/komisaris BRMS dan ENRG, baris identifikasi emiten, dan tabel riwayat pembaruan ini. Data BUMI dan DEWA diperiksa ulang dan dikonfirmasi tidak berubah dari yang tertulis. |
Daftar saham Bakrie perlu dibaca dalam dua kelompok: emiten yang masih mencatatkan entitas grup di register (BNBR, BUMI, ENRG, UNSP, VKTR, VIVA, MDIA, ALII, JGLE), dan emiten berlabel Bakrie yang kepemilikan grupnya sudah kecil atau tidak tercatat (ELTY, DEWA, BRMS, BTEL).
Tiga hal yang perlu diperiksa sebelum menggunakan daftar semacam ini: status suspensi (UNSP dan BTEL), apakah kendali dibagi dengan grup lain (BUMI), dan tanggal register yang menjadi dasar setiap persentase.
Untuk perbandingan struktur kepemilikan grup lain di BEI, baca saham konglomerat Indonesia dan saham Prajogo Pangestu.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi. Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini. Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Informasi mengenai masing-masing emiten dalam artikel ini hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Data kepemilikan bersumber dari register resmi dan pemberitaan bertanggal, dan dapat berubah setelah tanggal publikasi. Periksa Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek dan status suspensi terbaru di idx.co.id.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


