
Jawaban Singkat:
Grup Salim adalah konglomerasi bisnis Indonesia yang dirintis Liem Sioe Liong pada era 1970-an dan kini dikendalikan oleh putranya, Anthoni Salim, dengan bisnis inti di sektor pangan, agribisnis, dan ritel melalui PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebagai emiten blue chip utamanya. Struktur pengendali INDF berlapis lewat First Pacific Company Limited (perusahaan investasi yang tercatat di Hong Kong), dengan Anthoni Salim menjabat sebagai Chairman First Pacific. Di luar bisnis pangan, Anthoni Salim juga membangun portofolio pribadi yang lebih terdiversifikasi ke sektor tambang, media, data center, dan perbankan lewat kendaraan investasi seperti DNET dan PT Pesona Sukses Cemerlang.
Berdasarkan pemetaan artikel ini, ada 12 emiten dengan keterkaitan kepemilikan ke Anthoni Salim atau Grup Salim per data terbaru yang tersedia untuk masing-masing (lihat kolom sumber pada tabel). Sebagian merupakan emiten inti Indofood, sebagian lagi posisi investasi Anthoni Salim secara pribadi di luar bisnis pangan.
| Ticker | Nama Emiten | Sektor | Keterkaitan dengan Grup Salim / Anthoni Salim | Sumber & Tanggal Data |
|---|---|---|---|---|
| INDF | Indofood Sukses Makmur Tbk | Konsumer & agribisnis | Flagship; dikendalikan lewat rantai First Pacific | Wikipedia/First Pacific, diakses Sep 2026 |
| ICBP | Indofood CBP Sukses Makmur Tbk | Konsumer (mi instan, dairy) | ~80% dikuasai INDF | Laporan publik INDF |
| SIMP | Salim Ivomas Pratama Tbk | Perkebunan sawit | Anak usaha INDF | InvestasiKu, diakses Sep 2026 |
| LSIP | PP London Sumatra Indonesia Tbk | Perkebunan (sawit, karet, teh, kakao) | Bagian dari grup usaha SIMP | InvestasiKu, diakses Sep 2026 |
| IMAS | Indomobil Sukses Internasional Tbk | Otomotif | Grup usaha Indomobil | Wikipedia, diakses Sep 2026 |
| ROTI | Nippon Indosari Corpindo Tbk | Konsumer (roti/Sari Roti) | Terafiliasi Grup Salim | Wikipedia, diakses Sep 2026 |
| DNET | Indoritel Makmur Internasional Tbk | Investasi ritel & digital | 25,3% -- kendaraan investasi pribadi Anthoni Salim | Indopremier, 19 Sep 2025 |
| BUMI | Bumi Resources Tbk | Pertambangan batu bara | 45,78% via Mach Energy (Hongkong) Limited | Indopremier, 19 Sep 2025 |
| DCII | DCI Indonesia Tbk | Data center | 11,12% | Indopremier, 19 Sep 2025 |
| EMTK | Elang Mahkota Teknologi Tbk | Media & teknologi (SCTV, Vidio) | 8,98% | Indopremier, 19 Sep 2025 |
| AMMN | Amman Mineral Internasional Tbk | Pertambangan tembaga & emas | 6,28% via PT Pesona Sukses Cemerlang per 31 Des 2025, berkurang sepanjang 2026 | Bisnis.com, 6 Jul 2026 |
| BINA | Bank Ina Perdana Tbk | Perbankan | 22,83% via Indolife Pensiontama | Indopremier, 19 Sep 2025 |
Ada dua lapis yang perlu kamu pahami sebelum membaca tabel di atas sebagai daftar belanja saham. Lapis pertama adalah bisnis inti pangan-agribisnis: INDF adalah induk yang menguasai ICBP (~80%), sementara SIMP dan LSIP berada dalam rantai perkebunan sawit yang sama. Artinya, performa INDF, ICBP, SIMP, dan LSIP banyak digerakkan oleh variabel yang sama -- harga CPO, nilai tukar rupiah, dan daya beli konsumen domestik. Lapis kedua adalah portofolio investasi pribadi Anthoni Salim yang jauh lebih terdiversifikasi secara sektor: DNET sebagai kendaraan investasi ritel, BUMI di tambang batu bara, DCII di data center, EMTK di media, AMMN di tambang tembaga-emas, dan BINA di perbankan. Posisi pada lapis kedua ini umumnya bukan kepemilikan mayoritas dan beberapa di antaranya -- terutama AMMN -- aktif diperdagangkan sehingga persentasenya berubah dari waktu ke waktu.
Ini pertanyaan yang wajar karena kedua nama ini secara historis lebih dikenal publik terkait grup lain. Untuk BUMI, data pemegang saham yang dipublikasikan Indopremier per 19 September 2025 mencatat Mach Energy (Hongkong) Limited sebagai pemegang 45,78% saham -- porsi pengendali tunggal terbanyak yang tercatat -- dan entitas ini dikaitkan dengan Anthoni Salim, meski nama BUMI masih identik dengan Grup Bakrie di ingatan banyak investor. Untuk AMMN, keterkaitannya jauh lebih tipis: PT Pesona Sukses Cemerlang (kendaraan Grup Salim) tercatat memegang 4.558.377.112 lembar saham atau setara 6,28% per 31 Desember 2025 (Bisnis.com), sebelum melepas sekitar 1,15 miliar lembar sepanjang Januari-Juni 2026. Karena posisi ini dinamis, angka persentase saat kamu membaca artikel ini bisa sudah berbeda -- selalu cek keterbukaan informasi terbaru di BEI sebelum mengambil keputusan.
Membeli beberapa saham dari grup yang sama bukan otomatis berarti kamu terdiversifikasi. Tiga risiko utama yang perlu kamu perhatikan:
Kinerja masa lalu tidak mengindikasikan proyeksi kinerja masa depan.
Kamu bisa membeli saham-saham yang dipetakan di atas -- termasuk INDF, ICBP, dan emiten lain yang tersedia -- lewat produk Saham Indonesia di aplikasi Pluang. Langkah umumnya:
Unduh aplikasi Pluang, daftar, dan lengkapi verifikasi data diri (KYC) sesuai ketentuan yang berlaku.
Masuk ke menu Saham Indonesia dan lengkapi pembukaan Sub-Rekening Efek jika diminta oleh sistem.
Ketik ticker seperti INDF, ICBP, atau AMMN pada kolom pencarian untuk melihat data harga dan fundamentalnya.
Perhatikan harga per lot (1 lot = 100 lembar) dan risiko masing-masing emiten sebelum menekan tombol beli.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi. Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini. Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Untuk BUMI, ya secara kepemilikan pengendali: Mach Energy (Hongkong) Limited menguasai 45,78% saham BUMI per data 19 September 2025 (Indopremier), dan entitas ini dikaitkan dengan Anthoni Salim. Untuk AMMN, porsinya jauh lebih kecil dan terus berkurang -- 6,28% per 31 Desember 2025, lalu turun setelah pelepasan sekitar 1,15 miliar lembar pada semester I 2026.
Operator Indomaret (PT Indomarco Prismatama) tidak tercatat langsung di BEI. Eksposur tidak langsung hanya tersedia lewat DNET (Indoritel Makmur Internasional), kendaraan investasi Anthoni Salim yang punya saham di jaringan tersebut.
Secara kode saham iya, tapi ICBP sekitar 80% dikuasai INDF sehingga kinerja keduanya sangat berkorelasi -- ini bukan diversifikasi lintas risiko, karena eksposurnya ke harga komoditas pangan sebagian besar tumpang tindih.
Artikel ini memetakan 12 emiten: INDF, ICBP, SIMP, LSIP, IMAS, ROTI, DNET, BUMI, DCII, EMTK, AMMN, dan BINA. Jumlah ini bisa berubah karena beberapa posisi, seperti AMMN, bersifat dinamis dan terus diperdagangkan.
Tidak selalu. Emiten dalam satu rantai bisnis (misalnya INDF-ICBP-SIMP) cenderung berkorelasi tinggi, tapi emiten di portofolio pribadi Anthoni Salim seperti DCII (data center) atau EMTK (media) punya penggerak harga yang berbeda dan tidak otomatis mengikuti pergerakan INDF.
Grup Salim jauh lebih luas dari sekadar Indofood -- pemetaan di atas menunjukan 12 emiten lintas sektor, dari pangan, agribisnis, otomotif, tambang, data center, media, hingga perbankan. Yang penting kamu ingat: sebagian emiten ini terkorelasi erat lewat satu rantai bisnis (INDF-ICBP-SIMP-LSIP), sementara sebagian lain adalah posisi investasi pribadi Anthoni Salim yang persentasenya bisa berubah, seperti terlihat pada AMMN. Sebelum memutuskan, cek data kepemilikan terbaru langsung di keterbukaan informasi BEI dan pertimbangkan profil risiko masing-masing emiten.
Pelajari lebih lanjut produk Saham Indonesia di Pluang untuk mulai membangun portofolio kamu.
Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kamu sendiri berdasarkan analisis dan pertimbangan pribadi.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


