Berita & Analisis
7 Saham Blue Chip Murah 2026: Kriteria, Valuasi & Tips Aman

Saham blue chip adalah saham perusahaan yang sudah mapan, memiliki market cap besar (umumnya di atas Rp 10 triliun di BEI), dan konsisten membukukan keuntungan dari waktu ke waktu. Nama "blue chip" berasal dari dunia poker, di mana kepingan biru bernilai paling tinggi.
Di Indonesia, saham blue chip umumnya masuk dalam indeks utama seperti IHSG, LQ45, atau IDX30. Perusahaan-perusahaan ini biasanya memiliki model bisnis yang sudah terbukti, moat yang kuat, dan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Sebelum menyebut sebuah saham blue chip "murah", penting untuk memahami bahwa harga nominal saham (misalnya Rp 500 vs Rp 5.000 per lembar) bukan satu-satunya ukuran. Ada tiga kriteria transparan yang digunakan dalam daftar ini:
PER (Price to Earnings Ratio) yang lebih rendah dari rata-rata sektornya mengindikasikan saham diperdagangkan lebih murah dibandingkan laba yang dihasilkan. PBV (Price to Book Value) di bawah rata-rata historis menunjukkan harga pasar lebih rendah dari nilai aset bersih perusahaan.
Saham blue chip sejati diperdagangkan dengan volume tinggi setiap harinya. Likuiditas yang baik memudahkan investor masuk dan keluar posisi tanpa menggerakkan harga secara signifikan, sehingga mengurangi risiko volatilitas ekstrem.
Return on Equity (ROE) yang tinggi menunjukkan perusahaan efisien menggunakan modal pemegang saham. Debt to Equity Ratio (DER) yang rendah mengindikasikan struktur utang yang sehat. Pertumbuhan laba (EPS) yang konsisten mengonfirmasi kualitas bisnis jangka panjang.
Berikut adalah 7 saham blue chip Indonesia yang dinilai menarik secara valuasi berdasarkan kriteria di atas. Daftar ini bersifat edukatif dan bukan merupakan rekomendasi beli. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasi dengan profesional keuangan sebelum berinvestasi.
Sektor: Perbankan
Mengapa masuk daftar: BBRI adalah bank dengan jaringan terluas di Indonesia, khususnya di segmen UMKM. Saham ini secara historis diperdagangkan dengan PBV yang relatif terjangkau dibandingkan potensi pertumbuhan jangka panjangnya. ROE konsisten di kisaran 15–18% dan pembagian dividen yang rutin menjadikannya salah satu pilihan utama investor value.
Sektor: Perbankan
Mengapa masuk daftar: BBCA dikenal sebagai bank paling efisien di Indonesia dengan rasio CASA (Current Account Saving Account) tertinggi. Meski harga nominalnya relatif tinggi per lembar, valuasi PER-nya tergolong wajar jika dibandingkan dengan kualitas bisnis dan rekam jejak pertumbuhannya. Ini adalah contoh saham blue chip "murah secara nilai" meski harga nominalnya tidak murah.
Sektor: Telekomunikasi
Mengapa masuk daftar: TLKM menawarkan eksposur ke infrastruktur digital Indonesia melalui Telkomsel dan IndiHome. Dengan PER dan PBV yang secara historis berada di bawah rata-rata 5 tahunnya, TLKM sering dipandang sebagai saham blue chip defensif yang sedang dalam fase reakumulasi.
Sektor: Konglomerasi (Otomotif, Alat Berat, Keuangan, Agribisnis)
Mengapa masuk daftar: ASII adalah konglomerasi terbesar di Indonesia dengan diversifikasi bisnis yang luar biasa. Dengan PBV yang kerap berada di bawah rata-rata historisnya dan dividend yield yang menarik, ASII menjadi pilihan bagi investor yang mencari eksposur luas ke ekonomi Indonesia dalam satu saham.
Sektor: Fast-Moving Consumer Goods (FMCG)
Mengapa masuk daftar: Setelah mengalami koreksi signifikan dari puncak historisnya, UNVR kini diperdagangkan pada valuasi yang jauh lebih terjangkau dibandingkan beberapa tahun lalu. Dengan portofolio merek konsumer yang dominan (Pepsodent, Sunsilk, Walls), UNVR menawarkan stabilitas pendapatan yang tinggi.
Sektor: Energi (Gas)
Mengapa masuk daftar: PGAS adalah distributor gas terbesar di Indonesia dengan jaringan pipa yang luas. Dengan PER dan PBV yang rendah dibandingkan BUMN sektor energi lainnya, PGAS menawarkan nilai yang menarik bagi investor yang percaya pada transisi energi bertahap Indonesia.
Sektor: Perbankan
Mengapa masuk daftar: Bank Mandiri adalah bank BUMN terbesar berdasarkan total aset. Dengan ROE yang terjaga konsisten di atas 19% dalam beberapa tahun terakhir dan PBV yang berada di bawah rata-rata historis 5 tahunnya, BMRI dinilai sebagai salah satu saham perbankan dengan rasio harga-terhadap-nilai yang paling menarik.
| Kode | Emiten | Sektor | Valuasi Relatif | Dividen | Likuiditas |
|---|---|---|---|---|---|
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia | Perbankan | PBV moderat, PER terjangkau | Tinggi | Sangat Tinggi |
| BBCA | Bank Central Asia | Perbankan | PER wajar vs kualitas | Moderat | Sangat Tinggi |
| TLKM | Telkom Indonesia | Telekomunikasi | PER & PBV di bawah historis | Tinggi | Tinggi |
| ASII | Astra International | Konglomerasi | PBV di bawah historis | Tinggi | Tinggi |
| UNVR | Unilever Indonesia | FMCG | Valuasi koreksi besar | Sangat Tinggi | Moderat |
| PGAS | Perusahaan Gas Negara | Energi | PER & PBV rendah | Moderat | Tinggi |
| BMRI | Bank Mandiri | Perbankan | PBV di bawah peer regional | Tinggi | Sangat Tinggi |
Catatan: Data valuasi bersifat indikatif dan berubah sesuai kondisi pasar. Selalu cek data terkini sebelum mengambil keputusan investasi.
Berikut adalah langkah-langkah yang dapat kamu gunakan secara mandiri untuk mengidentifikasi saham blue chip murah:
Banyak investor pemula mengacaukan saham murah (harga nominal rendah) dengan saham blue chip murah (valuasi yang menarik). Keduanya sangat berbeda:
| Dimensi | Saham Blue Chip Murah | Saham Gorengan |
|---|---|---|
| Harga Nominal | Bisa tinggi atau rendah | Biasanya sangat rendah (< Rp 200) |
| Market Cap | Besar (Rp 10T+) | Kecil (smallcap/microcap) |
| Likuiditas | Tinggi, volume konsisten | Rendah atau volatil |
| Fundamental | ROE, DER, laba teruji | Sering merugi atau tidak jelas |
| Dividen | Konsisten | Jarang atau tidak ada |
| Risiko | Moderat, terukur | Sangat tinggi, manipulasi harga |
Meski lebih stabil dibanding saham lain, saham blue chip tetap memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum berinvestasi:
Pluang memungkinkan investor untuk membeli saham Indonesia langsung dari aplikasi yang sudah berizin OJK, termasuk seluruh saham blue chip dalam daftar ini. Berikut langkah-langkahnya:
Memiliki saham blue chip bukan berarti kamu bisa beli dan langsung untung. Ada beberapa strategi yang terbukti efektif untuk memaksimalkan potensi saham-saham ini:
Strategi Dollar Cost Averaging — membeli dalam jumlah tetap secara berkala tanpa mempedulikan harga saat itu — cocok untuk saham blue chip. Dengan DCA, kamu otomatis beli lebih banyak lot ketika harga turun dan lebih sedikit ketika harga naik, sehingga rata-rata harga belimu lebih rendah dari waktu ke waktu.
Saham blue chip yang rajin membagi dividen seperti BBRI, ASII, dan TLKM memberikan kesempatan untuk reinvestasi dividen ke saham yang sama atau ke saham blue chip lain. Efek compounding dari reinvestasi dividen dapat meningkatkan return total secara signifikan dalam horizon 5–10 tahun.
Jangan menaruh semua investasi di satu sektor. Sebarkan kepemilikan saham blue chip ke perbankan (BBRI, BBCA, BMRI), telekomunikasi (TLKM), konglomerasi (ASII), FMCG (UNVR), dan energi (PGAS) untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi.
Saham blue chip murah adalah saham perusahaan besar dan mapan yang diperdagangkan pada valuasi (PER atau PBV) di bawah rata-rata historisnya atau rata-rata sektoral, bukan sekadar saham dengan harga nominal rendah.
Saham blue chip umumnya memiliki volatilitas lebih rendah dan likuiditas lebih tinggi dibanding saham kecil, sehingga sering direkomendasikan sebagai titik awal investasi saham bagi pemula. Namun, semua investasi tetap mengandung risiko. Pastikan kamu memahami profil risiko kamu sebelum berinvestasi.
Minimum pembelian saham adalah 1 lot (100 lembar). Untuk saham seperti BBRI atau PGAS yang harganya di bawah Rp 5.000 per lembar, modal awal bisa dimulai dari ratusan ribu rupiah.
Bandingkan PER dan PBV saat ini dengan rata-rata historis 5 tahun dan rata-rata sektor. Jika keduanya berada di bawah rata-rata tersebut dan fundamental bisnis masih kuat, saham tersebut kemungkinan besar berada dalam zona valuasi menarik.
LQ45 adalah indeks yang berisi 45 saham paling likuid di BEI. Tidak semua saham LQ45 adalah blue chip, dan tidak semua blue chip masuk LQ45, namun ada banyak tumpang tindih. Blue chip lebih menekankan pada kualitas fundamental dan rekam jejak bisnis yang panjang.
Tidak selalu, namun kebanyakan saham blue chip Indonesia memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten. Cek cum date dan ex-date dividen untuk mengetahui kapan kamu harus memiliki saham agar berhak atas dividen.
Ya. Pluang menyediakan akses untuk membeli seluruh saham Indonesia yang terdaftar di BEI, termasuk semua saham blue chip dalam daftar ini, langsung dari aplikasi yang sudah berizin OJK.
Saham blue chip murah bukan tentang mencari saham dengan harga nominal terendah, melainkan menemukan saham perusahaan berkualitas tinggi yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Dengan menggunakan tiga kriteria transparan — market cap, likuiditas, dan fundamental — kamu dapat menyaring saham-saham yang benar-benar memberikan nilai, bukan sekadar harga murah.
Tujuh saham dalam daftar ini (BBRI, BBCA, TLKM, ASII, UNVR, PGAS, BMRI) merupakan representasi dari berbagai sektor ekonomi Indonesia dengan rekam jejak yang teruji. Mulai investasi dengan modal yang kamu sanggup tanggung risikonya, terapkan strategi seperti DCA, dan kelola portofolio dengan disiplin.
Siap mulai? Buka aplikasi Pluang dan mulai riset saham blue chip pilihanmu hari ini.
Peringatan Risiko: Investasi di pasar modal mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan sebagian atau seluruh modal. Artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasi dengan profesional keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


