Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Pluang Insight: Belanja Bengkak Bikin Laba Meta Platforms Terkoyak

Meta Platforms diketahui mencoba mengalihkan fokus dari sekadar platform media sosial biasa ke bidang metaverse. Namun, apakah hal tersebut menjadi berkah atau justru tulah bagi perusahaan? Simak di Pluang Insight berikut!

Sekilas Mengenai Meta Platforms

Meta Platforms, yang sebelumnya dikenal dengan Facebook, adalah konglomerasi yang menaungi perusahaan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Dengan pengguna mencapai 2,5 miliar, tak heran jika Meta Platforms menjadi ekosistem media sosial terbesar di dunia.

Sebanyak 90% dari pendapatan Facebook berasal dari pendapatan iklan. Namun, sejak Oktober 2021, perusahaan mencoba untuk memfokuskan bisnisnya ke penciptaan metaverse. Menurut perusahaan, metaverse merupakan sebuah lingkungan di mana seluruh produk dan jasa Meta Platforms bisa saling terintegrasi.

Kini, Meta adalah salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Bahkan, ia kini disebut sebagai lima jagoan teknologi AS bersama Alphabet, Amazon, Apple, dan Microsoft.

Baca Juga: Pluang Insight: Pendapatan Iklan Seret buat Kinerja Keuangan Alphabet Surut

Bagaimana Isi Laporan Keuangan Meta?

Kuartal III sepertinya bukanlah periode yang baik bagi perusahaan raksasa teknologi. Setelah Google dan Microsoft, kini Meta Platforms pasrah menelan pil pahit dari sisi performa keuangan.

Meta Platforms mencetak pendapatan US$27,71 miliar sepanjang kuartal III 2022, di mana pendapatan iklan menjadi penyokong utama sebesar US$27,23 miliar. Meski angka ini melemah 4,5% dibanding tahun lalu, namun pencapaian ini 2,2% lebih tinggi dari ekspektasi analis.

Sama seperti yang terjadi pada Google, Meta Platforms juga mengalami pelemahan pendapatan iklan yang khususnya berasal dari belanja daring, gaming, dan sektor keuangan. Meski demikian, pendapatan iklan dari sektor kesehatan dan travel masih terbilang moncer.

Sejatinya, analis sudah memprediksi pelemahan pendapatan iklan Meta Platforms. Tekanan makroekonomi membuat pelaku usaha semakin urung menambah pengeluaran iklannya. Untungnya, pendapatan iklan Meta Platforms masih bisa selamat berkat bantuan fitur video pendek besutan perusahaan bernama Reels.

Pada kuartal III lalu, Reels bahkan berkontribusi US$3 miliar atau 9,3% terhadap pendapatan total Meta. Apalagi, Reels juga kini memiliki tingkat interaksi yang cukup tinggi dibanding produk Meta lainnya.

Oleh karenanya, tak heran jika manajemen Meta yakin bahwa Reels akan menjadi katalis kuat bagi pendapatan iklan perseroan di masa depan. Kendati demikian, muncul pertanyaan apakah nantinya Reels bisa mengalahkan dominasi TikTok dan YouTube Shorts sebagai platform video pendek terpopuler sejagat.

Lebih lanjut, meski pendapatan persroan terbilang "aman-aman saja", hal serupa sepertinya tidak terjadi pada komponen pengeluaran Meta Platforms yang tercatat di US$22,05 miliar di kuartal III atau tumbuh 19% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Rupanya, pengeluaran Meta Platforms membengkak seiring meningkatnya belanja modal untuk kegiatan rekayasa buatan (Artificial Intelligence) dan produksi piranti lunak bagi seri headset mereka bernama Quest. Tak ketinggalan, perusahaan juga mengalami rugi yang terjadi akibat munculnya selisih antara nilai asetnya saat ini dan harga jualnya (impairment loss).

Meta Platforms sepertinya belum mau mengerem pengeluarannya di tahun depan. Analis memperkirakan bahwa perusahaan akan meningkatkan belanja modalnya di 2023 yang berfokus pada segmen Family of Advertisement (FoA) di Instagram, Whatsapp, dan Facebook. Selain itu, perusahaan juga sepertinya akan mempertahankan jumlah pekerja dengan beban sebesar US$96-US$101 miliar, jauh di atas ekspektasi US$90 miliar.

Nah, rentetan hal tersebut membuat pelaku pasar cemas bahwa belanja jumbo perusahaan akan menjegal peforma keuangannya ke depan. Bahkan, gara-gara pengeluaran yang terus menggembung, Meta pun hanya mampu mencetak laba bersih US$4,39 miliar di kuartal III atau ambles 34,28% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$6,68 miliar.

Dengan kata lain, Meta Platforms hanya berhasil mencatat laba per saham US$1,64 per lembar atau melemah 49% dibanding tahun lalu. Padahal, analis tadinya berharap laba per saham perusahaan bisa mencapai US$1,9 per lembar.

Pencapaian laba Meta yang tak sesuai impian juga menyeret saham Meta sebesar 24,56% dan ditutup di bawah level US$100 pada perdagangan Kamis (27/10). Sedihnya, ini merupakan level harga terendah Meta dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Pluang Insight: Ibarat Laju Mobil, Laba Tesla 'Ngebut' Kencang di Kuartal III

Bagaimana Prospek Meta ke Depan?

Meski kinerja keuangannya tumbang di kuartal lalu, Meta sejatinya masih menjadi perusahaan menjanjikan untuk jangka panjang. Sebab, dari sisi fundamental, Meta Platforms mengambil mayoritas pangsa pasar media sosial sehingga sifat kompetitifnya tak perlu diragukan lagi.

Selain itu, fokus perusahaan pada penciptaan user experience dan pengelolaan data dan kebijakan privasi yang semakin baik juga diramal membuat penggunanya tetap lengket pada produk-produk Meta.

Di sisi lain, memang perusahaan harus menghadapi persaingan sengit dari TikTok dan Apple iOS. Hanya saja, inovasi dan fokus tingkat tinggi perusahaan terhadap Reels dinilai akan menjadi titik cerah bagi Meta ke depan, khususnya dari sisi pendapatan iklan.

Berdasarkan hal tersebut, harga saham Meta diharapkan bisa mencapai US$115 per lembar di tahun depan atau 17% lebih baik dari harga saat ini.

Namun, tetap saja ada risiko yang mengintai kinerja keuangan perusahaan ke depan contohnya adalah tingkat interaksi yang semakin melandai, khususnya bagi golongan remaja dan orang dewasa.

Selain itu, tingkat profitablitas perusahaan juga bisa tersumbat akibat inisiatif bisnis baru. Terakhir, Meta juga harus menghadapi kemungkinan bahwa metaverse bisa gagal menarik perhatian masyarakat.

Dapatkan Saham Meta di Sini!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait