Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Pluang Insight: Pendapatan Iklan Seret buat Kinerja Keuangan Alphabet Surut

Alphabet, induk Google, selama ini dikenal sebagai raja iklan daring sejagat. Namun, apakah Google masih bisa mempertahankan status tersebut di tengah kondisi makroekonomi sulit seperti saat ini? Simak ulasannya di Pluang Insight!

Sekilas Mengenai Alphabet

Alphabet adalah induk usaha dari raksasa internet dunia, Google, yang tercipta akibat restrukturisasi Google pada 2015 silam. Saat ini, Alphabet menjelma menjadi salah satu raksasa teknologi AS, bersanding dengan perusahaan lain seperti Amazon, Apple, Meta, dan Microsoft.

Google sendiri menopang 99% pendapatan Alphabet. Adapun 85% pendapatan Google berasal dari pemasangan iklan daring, sementara sisanya berasal dari penjualan aplikasi di Google Play, pemasangan konten di YouTube, dan peralatan smart home seperti Nest dan Google Home.

Baca Juga: Pluang Insight: Dihujam Segudang Tantangan, Pendapatan Netflix Tetap Menawan!

Bagaimana Isi Laporan Keuangan Alphabet?

Kuartal III tahun ini sepertinya bukanlah masa bulan madu bagi perusahaan. Pasalnya, prestasi keuangan Alphabet jauh di bawah harapan analis.

Dari sisi pendapatan, misalnya, Alphabet memang sukses membukukan pendapatan US$69,09 miliar sepanjang triwulan lalu alias loncat 6% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hanya saja, menurut Refinitiv, pertumbuhan tersebut merupakan yang terlemah sejak 2013 silam. Selain itu, angka tersebut juga jauh di bawah estimasi analis US$70,58 juta.

Jika ditilik lebih detail, maka sebagian besar pendapatan Alphabet, atau US$54,48 miliar, disumbang oleh pendapatan iklan. Memang, angka tersebut sukses tumbuh 2,54% dibanding capaian triwulan III tahun lalu sebesar US$53,13 miliar. Namun, pertumbuhan ini ternyata juga jauh berada di bawah harapan analis.

Ambil contoh pendapatan iklan dari mesin pencari Google yang hanya tercatat US$39,53 miliar di triwulan lalu, atau tumbuh 4,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, sebelumnya analis menaksir bahwa segmen pendapatan ini bisa menanjak 8%.

Sementara itu, Alphabet pun hanya mengantongi pendapatan iklan dari YouTube sebesar US$7,07 miliar di triwulan lalu, ambles 2% dibanding capaian setahun sebelumnya. Tadinya, analis berharap segmen pendapatan ini bisa loncat 4,4%.

Dikutip dari Financial Times, CEO Alphabet Sundar Pichai mengakui bahwa saat ini adalah masa-masa yang berat di sektor periklanan. Direktur Keuangan Alphabet Ruth Porat juga mengamini komentar Pichai, sembari menambahkan bahwa permintaan atas periklanan daring menyusut setelah mobilitas masyarakat beranjak normal akibat meredanya pandemi COVID-19.

Selain itu, pelaku bisnis memang tengah mengerem pengeluaran iklan lantaran kondisi makroekonomi yang tak menentu. Manajemen Alphabet sendiri mengakui bahwa penurunan pendapatan iklan terbesar datang dari bidang usaha gaming akibat sektor tersebut tak bisa pulih pasca pandemi. Akibatnya, pendapatan iklan dari Google Play dan YouTube pun menurun.

Nah, khusus pelemahan pendapatan iklan YouTube, Pluang beranggapan bahwa biang kerok utamanya berasal dari persaingan sengit Google dengan platform video lainnya, TikTok.

Manajemen Google sendiri sepertinya paham bahwa mereka harus jibaku lebih keras lagi demi menumbangkan dominasi TikTok. Oleh karenanya, tak heran jika pada akhir September lalu, YouTube mengumumkan skema bagi hasil baru bagi content creator yang mau memanfaatkan fitur video pendek miliknya bernama Shorts, sebuah produk yang digadang sebagai kompetitor langsung TikTok.

Nasib malang tak hanya menimpa segmen pendapatan iklan Google. Alphabet ternyata juga harus menanggung rugi sebesar US$902 miliar di segmen penerimaan lain-lain pada kuartal lalu. Sadisnya, angka ini longsor 55,63% dibanding capaian triwulan sama tahun sebelumnya.

Seluruh petaka tersebut membuat raihan laba Alphabet menjadi tak memuaskan. Sepanjang triwulan lalu, perseroan hanya mampu membukukan laba bersih US$13,39 miliar, terjun 26,52% dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Hal ini membuat laba per saham Alphabet "cuma" sebesar US$1,06 per lembar di triwulan lalu atau lebih rendah dari prakiraan analis US$1,25 per lembar. Karenanya, bukan kejutan jika harga saham Alphabet ambles 9,14% pada perdagangan Rabu (26/10).

Baca Juga: Pluang Insight: Ibarat Laju Mobil, Laba Tesla 'Ngebut' Kencang di Kuartal III

Bagaimana Prospek Alphabet ke Depan?

Sejatinya, penurunan pendapatan Alphabet terbilang wajar lantaran pelaku bisnis tentu akan menyunat biaya pemasarannya akibat perlambatan ekonomi dan inflasi yang meradang. Hanya saja, pertanyaan terbesarnya, bagaimana dampaknya ke kinerja keuangan perusahaan jika kondisi serupa berlangsung hingga tahun depan?

Nah, menjawab pertanyaan tersebut, sebenarnya kondisi fundamental Alphabet masih tetap kokoh. Pasalnya, masyarakat masih saja getol belanja daring, sehingga permintaan akan iklan digital masih akan terus terjadi. Terlebih, masyarakat kini sudah jarang menyimak televisi konvensional dan sudah hijrah menikmati hiburan secara daring.

Di samping itu, pendapatan bisnis non-periklanan seperti penyimpanan awan dan biaya langganan YouTuve juga dipercaya akan mendapatkan momentum jangka panjang.

Berdasarkan hal tersebut, lembaga JPMorgan menaksir bahwa harga saham Alphabet akan berada di US$115 per lembar di akhir 2023, tumbuh 21% dari posisi harganya saat ini. Sementara itu, jika melihat valuasinya dari rasio harga per saham, maka saham Alphabet akan bernilai  20x P/E pada 2024 mendatang.

Pluang juga percaya bahwa saham Alphabet seharusnya memiliki valuasi d iatas rata-rata perusahaan S&P500 mengingat perseroan mengambil sepertiga dari industri online global. Terlebih, pertumbuhan pendapatan dan laba yang terbilang selalu double digit di periode-periode sebelumnya memberikan justrifikasi bagi status premium saham Alphabet.

Hanya saja, tetap saja ada risiko yang perlu diperhatikan.

Alphabet kemungkinan akan mengalokasikan belanja investasi yang lebih besar, sehingga margin keuntungan Alphabet akan tersendat. Di samping itu, Alphabet kemungkinan harus menghadapi regulasi-regulasi yang membatasi inovasi produknya. Tak ketinggalan, perseroan mungkin akan menghadapi pertumbuhan pendapatan lebih lambat di beberapa segmen seperti penyimpanan awan, piranti keras, dan Waymo.

Dapatkan Saham Google di Sini!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait