Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 7 menit

View

0

Pasar Sepekan: Market Mendung di Bawah Bayang Inflasi & Waswas Kebijakan Fed

Investor lagi-lagi harus mengakhiri pekan ini dengan kecut. Betapa tidak, kinerja indeks saham AS, kripto, bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) letoy ditempa rentetan sentimen negatif. Seperti apa lengkapnya? Simak Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Performa aset kripto lagi-lagi bikin investor gigit jari. Betapa tidak, sembilan dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat pasrah melehoy ke zona merah dalam sepekan terakhir.

Sejak awal pekan, harga aset kripto memang terlihat mondar-mandir di rentang harga yang itu-itu saja. Kalau pun pelaku pasar melakukan aksi beli dalam rangka price actions, dampaknya pun terbilang tak signifikan dalam mendongkrak harga kripto.

Nah, hal ini dapat diartikan bahwa pelaku pasar memang sengaja menahan aksi belinya. Kuat dugaan, mereka kurang pede nyemplung ke pasar kripto lantaran menanti perilisan data inflasi AS pada pekan ini. Selain itu, investor institusi nampaknya juga mulai hijrah menuju aset-aset berisiko rendah dalam mengantisipasi data tersebut di pekan ini.

Ternyata, data inflasi AS justru di luar dugaan. Biro Ketenagakerjaan AS mencatat bahwa inflasi tahunan AS Mei ternyata menyentuh 8,6% dan menjadi rekor tertingginya dalam empat dekade terakhir.

Sebenarnya, inflasi tak berkorelasi langsung dengan kinerja aset kripto. Bahkan, melihat contoh kasus di masa lalu, tingginya inflasi sebenarnya berdampak baik bagi permintaan dan laju harga Bitcoin (BTC) mengingat statusnya sebagai aset kripto penyimpan kekayaan (store of value).

Namun, saat ini kondisinya cukup berbeda. Pasar kripto dijejali oleh investor institusi yang gerak-geriknya sangat dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi. Kali ini, investor institusi khawatir bahwa kenaikan inflasi AS akan memicu bank sentral AS, The Fed, untuk mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin di beberapa kesempatan di tahun ini.

Jika itu terjadi, maka investor institusi bakal mengurangi porsi aset berisiko di dalam portofolionya (derisking). Sayangnya, mengingat jumlah dana kelolaannya yang cukup besar, aksi jual investor institusi bakal sangat mempengaruhi performa aset kripto.

Selain karena antisipasi data ekonomi, pelaku pasar juga enggan all out di pasar kripto karena meyakini bahwa harga beberapa aset kripto belum benar-benar menyentuh titik bottom-nya di pekan ini.

Cardano Masih Bertahan

Jika Sobat Cuan melihat tabel di atas, maka kamu bisa melihat bahwa nilai Cardano (ADA) adalah aset kripto satu-satunya yang sukses mendarat di zona hijau dalam sepekan terakhir.

Hal ini tak lepas dari antisipasi dan permintaan deras pelaku pasar menyusul implementasi upgrade jaringan Vasil. Setelah perbaikan jaringan tersebut, pengguna Cardano bisa beraktivitas di jaringan dengan biaya transaksi yang jauh lebih rendah.

Selain itu, kabar penting lainnya dari jagat kripto adalah perubahan algoritma konsensus di jaringan uji coba utama Ethereum, Ropsten, pada pekan ini yang membawa Ethereum selangkah lebih dekat ke fase Ethereum 2.0. Sobat Cuan bisa membaca penjelasan mengenai Ropsten dan dampaknya ke harga ETH di artikel berikut.

Namun, kabar buruk justru datang dari Binance Coin (BNB). Ternyata, regulator pasar modal AS (Securities and Exchange Commission/SEC) tengah memusatkan perhatiannya pada penawaran koin perdana (Initial Coin Offering/ICO) BNB pada 2017 silam.

Laporan Bloomberng mengatakan, lembaga tersebut tengah mengkaji apakah ICO BNB oleh Binance lima tahun lalu itu telah melanggar aturan pasar modal dan apakah kegiatan itu memang seharusnya dilaporkan ke SEC.

Baca juga: Rangkuman Pasar: 'Hantu' Inflasi Gentayangan, Kripto & IHSG Kelabakan!

Pasar AS Sepekan

Trio indeks saham Amerika Serikat (AS) justru mengalami nasib lebih apes. Tengok saja, nilai indeks saham S&P 500 terjun bebas 2,91% di pekan ini, sementara nilai S&P 500 dan Nasdaq malah anjlok lebih parah masing-masing 4,58% dan 5,6%.

Pelaku pasar sangat syok melihat data inflasi AS Mei yang ternyata di luar ekspektasi, yakni menyentuh titik tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Wajar saja jika mereka cukup kaget mengingat mereka awalnya mengira inflasi tahunan AS April sebesar 8,3% merupakan puncak siklus inflasi tinggi AS yang terjadi sejak akhir tahun lalu.

Melihat data tersebut, pelaku pasar yakin bahwa The Fed akan mengetatkan kembali ikat pinggangnya demi menghalau inflasi. Alhasil, pelaku pasar pun segera membuang kepemilikannya di aset berisiko dan memilih membenamkan uangnya di instrumen aset berpendapatan tetap. Maklum, kenaikan suku bunga acuan nantinya bakal ikut mengerek imbal hasil obligasi maupun simpanan.

Selain itu, pelaku pasar meyakini bahwa kebijakan agresif The Fed bisa mengantar ekonomi AS ke jurang resesi. Pasalnya, kenaikan suku bunga agresif akan memperlambat pertumbuhan konsumsi dan investasi, dua motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, kinerja keuangan emiten AS tentu akan redup jika ekonomi diramal mendung ke depan.

Jika dilihat dari sisi emiten, maka lampu sorot pekan ini jatuh ke saham Alibaba.

Rabu pekan ini, saham BABA meroket setelah regulator China memberikan sinyal untuk melonggarkan pengawasannya terhadap perusahaan teknologi asal negara tirai bambu tersebut. Hal itu tercermin dari sikap otoritas China yang memberikan lisensi batch kedua untuk proyek video game Alibaba.

Hanya saja, nilai saham Alibaba kemudian terbanting 8% sehari setelahnya setelah induk usahanya, Ant Group, menepis kabar burung terkait rencana penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).

Ant Group sendiri tadinya memang berniat IPO pada November 2020 silam, namun rencana itu urung setelah regulator China merasa "khawatir" atas aksi korporasi tersebut. Sejak kejadian itu, regulator terus mentitah Ant Group untuk memperbaiki bisnisnya agar sesuai dengan aturan China, termasuk mendirikan perusahaan induk keuangan.

Untuk saat ini, Pluang beranggapan bahwa kinerja aset berisiko punya peluang untuk turun lebih dalam pasca inflasi yang tak kunjung turun. Namun, Sobat Cuan juga tak boleh melewatkan kesempatan ini untuk melakukan diversifikasi.

Pasar Emas Sepekan

Nasib mujur justru dirasakan oleh emas. Nilai sang logam mulia mengakhiri pekan di level US$1.871 per ons alias melesat 1,08% dibanding sepekan sebelumnya.

Sang kogam mulia akhirnya berhasil comeback setelah kinerja awal pekannya terbilang memble.

Di awal pekan ini, laju harga emas empot-empotan akibat dihadang kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun. Sekadar informasi, kenaikan yield obligasi AS akan membuat opportunity cost dalam menggenggam emas menjadi lebih mahal. Hasilnya, pelaku pasar akan meninggalkan emas, sebuah instrumen aset yang tidak menghasilkan imbal periodik.

Kenaikan yield obligasi AS sendiri tak lepas dari antisipasi pelaku pasar atas pengetatan kebijakan moneter The Fed. Mereka yakin The Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin setelah melihat data inflasi yang menjulang plus kuatnya data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll) Mei yang dirilis pekan lalu.

Kendati demikian, ternyata aksi beli pelaku pasar justru semakin kuat di akhir pekan. Adapun pangkal kekhawatiran mereka adalah kecemasan atas ancaman resesi ekonomi AS.

Kekhawatiran mereka berhulu pada laporan terkini Bank Dunia yang memangkas target pertumbuhan ekonomi global 2022 dari 4,1% menjadi 2,9%. Tak ketinggalan, mereka juga waswas akan ancaman resesi di depan mata jika The Fed menaikkan suku bunga acuannya secara kebangetan

Baca juga: Pluang Insight: Katanya Dunia di Ambang Resesi. Apa Sih Arti Resesi Ekonomi?

Pasar Domestik Sepekan

Setelah tampil menggelegar pekan lalu, IHSG ternyata harus pasrah terjun bebas pada pekan ini. Tengok saja, pada penutupan Jumat (10/6) kemarin, sang indeks domestik ditutup di level 7.086,65 poin alias terjun bebas 1,34% dibanding sepekan sebelumnya.

Kali ini, sentimen eksternal menjadi biang kerok pelemahan IHSG. Ya, pelaku pasar tampak mencemaskan dua hal, yakni antisipasi kebijakan moneter agresif The Fed dan aksi otoritas China yang kembali menerapkan lockdown demi mengekang penyebaran COVID-19.

The Fed tampaknya benar-benar selangkah lagi mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin bulan ini setelah inflasi AS Mei secara mengejutkan tembus ke rekor tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Jika hal itu terjadi, maka bukan tidak mungkin aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar domestik tak dapat terbendung.

Di samping itu, kenaikan suku bunga acuan AS ditakutkan juga akan mengerek instrumen pendapatan tetap AS. Kondisi tersebut diramal menghujam kinerja saham teknologi Indonesia ke depan. Pasalnya, pelaku pasar selalu membandingkan return saham perusahaan teknologi berkategori growth stocks dengan imbal hasil instrumen berpendapatan tetap.

Sementara itu, kembalinya aksi lockdown China ditakutkan akan merembet ke kinerja ekonomi dalam negeri dan mempengaruhi kinerja emiten domestik. Maklum, ini lantaran China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.

Pelemahan IHSG sebenarnya cukup disayangkan mengingat kinerja IHSG yang gemilang di awal pekan. Asal tahu saja, kinclongnya performa indeks domestik di awal pekan didorong oleh penampilan apik saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Bahkan, sepanjang pekan ini, nilai saham GOTO sukses terbang 9,04%.

Pelaku pasar terpantau memborong saham GOTO di awal pekan setelah saham raksasa teknologi tanah air tersebut resmi masuk indeks LQ45.

Dengan demikian, maka manajer investasi yang memasarkan produk keuangan berbasis indeks tersebut mau tak mau juga harus mengoleksi saham GOTO. Imbasnya, nilai saham GOTO pun ikut terdongkrak.

Asing Masih Tampak Agresif

Meskipun IHSG ditutup di zona merah pada pekan ini, investor asing masih doyan mengoleksi saham tanah air. Hal ini tercermin dari nilai beli bersih asing (net foreign buy) sebesar Rp1,31 Triliun.

Dengan ukuran pembelian yang jumbo, investor asing memborong saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Di sisi lain, asing malah melego saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 90 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait