pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 5 menit

View

0

Pluang Insight: Katanya Dunia di Ambang Resesi. Apa Sih Arti Resesi Ekonomi?

Belakangan, resesi tiba-tiba menjadi buah bibir pelaku pasar. Pasar finansial konon ambruk gara-gara ancaman resesi ekonomi. Tapi, apa sih arti resesi? Dan apakah Sobat Cuan perlu khawatir soal itu? Yuk, simak di Pluang Insight berikut!

Apa Itu Resesi?

Secara sederhana, resesi adalah periode di mana ekonomi suatu wilayah tak bertumbuh selama dua kuartal berturut-turut. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut mendarat di area negatif selama dua triwulan berturut-turut.

Misalnya, ekonomi Indonesia masuk ke jurang resesi jika mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) -2,3% dan -3% dalam dua kuartal berturut-turut.

Namun, jika pertumbuhan Indonesia melemah dari 5% menjadi masing-masing 4% dan 3% di dua triwulan kemudian, maka peristiwa tersebut tidak layak disebut sebagai resesi. Pasalnya, meski melemah, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di area positif.

Selama ini, pertumbuhan ekonomi dipandang sebagai variabel utama yang digunakan untuk menilai resesi. Apa alasannya?

Pertumbuhan ekonomi adalah angka pertumbuhan PDB satu periode dengan periode sebelumnya. Sementara itu, PDB merupakan gambaran atas kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor-impor. Sehingga, pertumbuhan ekonomi bisa dibilang adalah tolok ukur kesehatan ekonomi suatu wilayah.

Kendati begitu, beberapa ekonom mengatakan bahwa resesi bukanlah perkara jebloknya pertumbuhan PDB semata. Mereka beralasan, resesi juga menyangkut aspek-aspek ekonomi lainnta yang kurang tercermin di dalam PDB. Contohnya adalah pelemahan daya beli, lesunya pelanggan bisnis, susahnya mencari pekerjaan, dan menyusutnya perputaran uang di masyarakat.

Baca juga: Mempelajari Indikator Dasar Makroekonomi

Berapa Lama Resesi Cenderung Berlangsung?

Memang, patokan umum dari resesi adalah menyusutnya PDB ke zona negatif selama dua triwulan berturut-turut. Namun, pada kenyataannya, resesi ekonomi malah bisa berlangsung sekitar satu hingga dua tahun. Bahkan, resesi ekonomi kadang menyisakan masalah baru meski aktivitas ekonomi perlahan pulih.

Ambil contoh resesi ekonomi AS 2008. Kala itu, pemerintah dan bank sentral AS The Fed kompak melonggarkan kebijakan fiskal dan moneternya.

Khusus kebijakan moneter, The Fed bahkan juga menurunkan suku bunga acuan hingga 0% dan menambah suplai uang beredar ke masyarakat alias quantitative easing.

The Fed mematok suku bunga sangat rendah demi memicu pertumbuhan kredit, utamanya konsumsi dan investasi. Sebab, konsumsi dan investasi adalah dua komponen utama pembentuk PDB dan memiliki efek pengganda ekonomi yang kuat (multiplier effect).

Namun, rezim suku bunga rendah plus longgarnya kebijakan moneter pun tentu berakhir ketika pemulihan ekonomi berjalan lancar. Alhasil, The Fed pun mengumumkan akan mengetatkan kembali kebijakan moneternya pada 2013.

Sayangnya, kebijakan itu direspons negatif oleh investor asing yang buru-buru memindahkan dananya dari negara berkembang kembali ke AS.

Nah, derasnya arus modal keluar tersebut membuat pasar finansial negara berkembang jadi tidak stabil. Nilai tukar mata uang negara-negara tersebut babak belur dihantam Dolar AS.

Apakah Ekonomi Dunia Bakal Memasuki Resesi?

Perbincangan mengenai resesi mencuat ketika The Fed mengumumkan niatnya untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis poin di setiap rapat bulanannya sepanjang tahun ini.

Hingga saat ini, analis sendiri masih belum tahu seberapa banyak otoritas moneter AS tersebut akan mengerek suku bunga acuannya di angka tersebut. Namun, analis menaksir The Fed akan menaikkannya sebanyak empat kali hingga akhir tahun ini. The Fed sendiri diketahui sudah mendongkrak bunga acuannya sebesar 75 basis poin.

The Fed menempuh langkah tersebut karena ingin mengekang inflasi yang sudah terlampau tinggi. Per April saja, tingkat inflasi tahunan AS berada di 8,3% alias mendekati level tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Sehingga, terang saja jika The Fed akan menumpasnya dengan terus menaikkan suku bunga acuannya.

Hanya saja, sesuai keterangan sebelumnya, kenaikan suku bunga acuan yang terlampau kencang malah akan menghambat penyaluran kredit konsumsi dan investasi, dua motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi.

Nah, inilah pangkal kekhawatiran pelaku pasar atas resesi di AS. Terlebih, PDB AS pun yang turun 1,4% secara tahunan di kuartal I pun diramal tidak akan lebih baik di kuartal II. Apalagi, tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang masih belum menemui titik terang diramal juga akan membebani ekonomi ke depan.

Kendati demikian, beberapa ekonom menyebut, ekonomi AS tampaknya bakal menghadapi fase resesi mulai tahun depan. Meski memang, beberapa indikator ekonomi AS, misalnya lapangan pekerjaan dan pengeluaran masyarakat, terlihat cukup kokoh.

Jika melihat dari harga saham AS dan nilai aset kripto, maka kepanikan itu sejatiunya sudah mulai terasa. Tengok saja, nilai indeks S&P500 sudah turun sebesar 17,7% sejak awal tahun sementara BTC sudah amblas sebesar 38,7% di periode yang sama.

Lebih lanjut, perlambatan daya beli pun sudah mulai kentara, yang tercermin dari buruknya kinerja keuangan emiten ritel AS. Diketahui, perusahaan ritel raksasa AS seperti Target dan Lowe melaporkan realisasi penjualan yang di bawah estimasi pasar karena lemahnya daya konsumsi masyarakat akibat inflasi yang ngamuk. Realisasi penjualan Target di kuartal I 2022 saja sampai amblas 52% dibanding kuartal sebelumnya.

Bagaimana Cara Menghadapi Resesi?

Resesi adalah bagian dari siklus ekonomi. Sehingga, sebagai pelaku pasar, Sobat Cuan harus bisa menghadapinya dengan jitu.

Salah satu langkah memitigasi risiko resesi adalah alokasi portofolio. Mungkin, kini saatnya Sobat Cuan mengurangi keterpaparan portofolio dari pasar aset berisiko, seperti saham dan aset kripto, dan meningkatkan porsi portofolio di aset-aset yang lebih aman.

Pilihan pertama bagi Sobat Cuan yang tetap ingin mendapatkan pertumbuhan aset sebaiknya memilih reksa dana pendapatan tetap. Memang, pilihan ini tak akan memberikanmu imbal hasil yang fantastis. Namun, dengan risiko yang tengah memuncak, maka akan lebih bijak jika kamu memilih aset yang lebih aman dibandingkan melihat nilai portofoliomu hancur lebur.

Sebagai pilihan kedua, mungkin Sobat Cuan bisa melirik saham-saham AS yang memberikan dividen yang stabil dan berkembang. Sebab, dengan mengambil langkah ini, maka kamu akan menurunkan tingkat risikomu dalam berinvestasi saham. Nah, sebagai contoh, kamu bisa mulai mencicil untuk membeli saham yang sudah terkoreksi tajam namun tetap punya fundamental kuat seperti Alibaba (BABA) dan Apple (AAPL).

Jadi, kalau pun bakal ada resesi, apakah Sobat Cuan sudah siap menghadapinya?

Baca juga: Mengapa Makroekonomi Mempengaruhi Pasar?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES