pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Pluang Insight: Sahamnya Terus Longsor, Ada Apa dengan Facebook?

Meta Platforms, induk usaha media sosial Facebook dan Instagram, tengah tertimpa nasib buruk. Nilai sahamnya ambruk 32,84% sejak pekan lalu dan bahkan menjadi batu sandungan bagi indeks Nasdaq dan S&P 500 untuk melaju lebih kencang. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Meta? Simak ulasannya di Pluang Insight berikut!

Laporan Keuangan Remuk, Awal Mula Nasib Apes Facebook

Dalam satu dekade terakhir, investor telah melihat sosok pemilik dan pendiri Meta Platforms Mark Zuckerberg sebagai pentolan sektor teknologi dengan pamor paling bersinar dibanding lainnya.

Namun, pandangan mereka berubah pada Rabu (2/7) ketika Facebook merilis laporan keuangannya pada kuartal IV 2021. Sejak saat itu, mereka berpandangan bahwa Meta Platforms nampaknya akan menjadi jongos di antara jajaran raksasa Silicon Valley.

Betapa tidak, sesuai laporan keuangan perseroan, laba per saham Meta sebesar US$3,7 per saham di kuartal IV 2021 ternyata lebih rendah dibanding ekspektasi analis US$3,84 per saham. Lebih ngenesnya lagi, angka tersebut ternyata amblas 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Perseroan punya segudang alasan demi menjelaskan kinerja yang memble tersebut. Mereka menyalahkan pertumbuhan pengguna yang stagnan, regulasi kebijakan data pribadi Apple, hingga persaingan yang ketat dengan aplikasi media sosial berbasis video TikTok. Apalagi, TikTok pun telah menggelontorkan dana miliaran Dolar AS untuk berekspansi di dunia digital.

Pelaku pasar bereaksi keras terhadap laporan keuangan Meta, terbukti dari nilai sahamnya yang terjun bebas 20% setelah perilisan laporan tersebut.

Tapi, wajar saja jika investor agak khawatir dengan laporan itu. Pasalnya, laporan tersebut mengindikasikan satu masalah perusahaan yang lebih besar: Facebook akan memasuki masa senjakalanya.

Ketakutan investor bukan tanpa alasan. Melihat sejarah perkembangan media sosial di AS, kebanyakan platform media sosial yang bisnisnya sukar bertumbuh memang lambat laun akan menemui ajalnya. Tengok saja nasib MySpace atau mungkin Friendster. Oleh karenanya, tak heran jika kini investor punya pandangan yang sama terhadap Facebook.

Baca juga: Pluang Insight: Metaverse Belum Naik Daun, Laba Facebook Jadi Culun

Pekan Baru, Drama Facebook Makin Seru

Ketika perkara laporan keuangannya yang amburadul masih hangat diperbincangkan investor, Meta kembali hadir membawa kabar kurang sedap.

Pada Senin (7/2), salah satu investor utama perusahaan Peter Thiel secara mengejutkan mengumumkan akan hengkang dari perusahaan. Rencananya, ia akan angkat kaki dari perusahaan setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Meta yang sedianya dihelat Mei mendatang.

Sontak, kabar tersebut bikin investor berspekulasi liar. Mereka langsung mengaitkan wacana undur diri Thiel dengan prospek bisnis Meta yang, sepertinya, memang sudah tidak ada harapan lagi untuk bertumbuh.

Spekulasi tersebut lumrah saja berada di benak investor mengingat Thiel adalah sosok penting bagi perusahaan. Terlebih, ia sudah mendampingi Zuckerberg selama dua dekade terakhir. Tapi, apa daya, nasib Facebook ibarat peribahasa 'sudah jatuh tertimpa tangga'. Nilai sahamnya pun longsor 5% pada hari itu.

Seolah tak cukup bikin polemik, Meta pun hadir membawa drama lainnya. Kali ini, mereka  punya nyali untuk mengajak Uni Eropa untuk berseteru.

Meta mengancam akan menghentikan operasi Facebook dan Instagram di Eropa lantaran perusahaan keberatan atas Undang-Undang baru yang berpeluang menghalangi mekanisme transfer data warga Uni Eropa ke Amerika Serikat. Adapun beleid tersebut merupakan imbas dari penolakan pengadilan Uni Eropa atas permintaan data translantik AS pada 2020.

Hanya saja, Uni Eropa merespons gertak sambal tersebut dengan santai. Bahkan, legislator Uni Eropa sesumbar bahwa hengkangnya Meta dari benua biru tersebut justru akan jadi kerugian perusahaan.

Baca juga: Facebook dan Apple tengah Berseteru. Ada Apa?

Apakah Facebook Akan Terus Bernasib Sial?

Rentetan drama tersebut sukses bikin nilai saham Meta terus terpuruk. Bahkan, sejak awal tahun hingga Rabu (9/2), nilai kapitalisasi pasar Meta telah susut US$300 miliar.

Melihat kondisi tersebut, investor punya satu pertanyaan besar terkait Meta: Apakah nasib apes Meta akan berlanjut?

Di satu sisi, memang performa saham-saham teknologi sedang dalam tekanan pekan ini. Penyebabnya, apalagi kalau bukan antisipasi investor atas data inflasi AS untuk bulan Januari. Jika inflasi terbukti kian meradang, maka bukan tidak mungkin bank sentral AS akan semakin agresif mengetatkan kebijakan moneternya.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed memang menjadi musuh sengit saham raksasa teknologi yang berkategori growth stocks. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan akan mengerek suku bunga kredit dan ujungnya bisa menahan laju konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, kinerja saham growth stocks justru bakal moncer kalau pertumbuhan ekonomi tokcer.

Tapi di sisi lain, hanya saham Meta saja yang tampak susah rebound meski sektor teknologi berada di bawah tekanan. Imbasnya, terdapat 40 analis yang menurunkan target harga saham Meta. Salah satunya adalah JPMorgan Chase & Co. yang untuk pertama kalinya menurunkan rating saham Facebook sejak perusahaan tersebut melantai pada 2012 silam.

Di samping itu, lompatnya nilai dua saham media sosial Snap dan Pinterest pasca keduanya melaporkan laporan keuangan kian menegaskan bahwa bisnis media sosial sejatinya belum akan terbenam. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa anjloknya nilai saham Meta bukan karena kondisi sektornya yang bergejolak, namun karena masalah internalnya sendiri.

Pluang berpandangan bahwa kinerja bisnis Facebook mungkin masih akan bergejolak dalam jangka pendek seiring ketatnya persaingan dan hilangnya pangsa pasar yang besar jika mereka benar-benar akan angkat kaki dari Eropa.

Selain itu, valuasi Meta kini menjadi yang paling murah dibandingkan geng FAANG stocks lainnya, bahkan juga jauh lebih rendah dibanding indeks Nasdaq 100. Tapi, fakta tersebut sepertinya tak serta merta bikin investor kepincut dengan saham Meta. Mereka mungkin akan lebih memilih saham raksasa teknologi lain yang punya kinerja keuangan lebih cemerlang.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES