Berita & Analisis
Saham SUPR: Profil PT Solusi Tunas Pratama, Kinerja & Delisting 2026

Saham SUPR adalah saham yang mewakili kepemilikan publik di PT Solusi Tunas Pratama Tbk, sebuah perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang berdiri sejak 27 September 2006 dan berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah. PT Solusi Tunas Pratama adalah entitas anak dari PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), yang merupakan bagian dari ekosistem bisnis Grup Djarum.
Di IDX, saham ini diperdagangkan dengan kode ticker SUPR, atau sering ditulis SUPR IDX untuk membedakannya dari pasar lain. Perusahaan mengelola dua kategori utama menara:
Segmen bisnis PT Solusi Tunas Pratama Tbk terdiri dari dua bagian: Tower Rental (penyewaan menara) dan Other Services (layanan lain termasuk perdagangan peralatan telekomunikasi, konstruksi, dan konsultasi manajemen). Penyewa utama menara SUPR adalah operator-operator besar seperti PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), dan PT Smartfren Telecom.
Berikut ringkasan profil PT Solusi Tunas Pratama Tbk yang perlu kamu ketahui sebelum menganalisis saham SUPR:
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Nama Perusahaan | PT Solusi Tunas Pratama Tbk |
| Kode Saham | SUPR (IDX) |
| Tahun Berdiri | 2006 |
| Kantor Pusat | Kudus, Jawa Tengah, Indonesia |
| Pemegang Saham Pengendali | PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) — Grup Djarum |
| Bidang Usaha | Penyewaan & pengelolaan menara telekomunikasi (BTS) |
| Jumlah Karyawan (2026) | ± 147 orang |
| Total Aset (2024) | Rp 9,8 triliun |
| Market Cap | ±Rp 49,88 triliun |
| Saham Beredar | ±1,14 miliar lembar |
Model bisnis PT Solusi Tunas Pratama Tbk sangat mirip dengan sesama emiten infrastruktur menara seperti TBIG dan TOWR. Perusahaan membangun atau mengakuisisi menara, lalu menyewakan "slot" di menara tersebut kepada operator telekomunikasi melalui kontrak jangka panjang.
Keunggulan utama model ini adalah pendapatan yang stabil dan berulang (recurring revenue). Kontrak sewa menara umumnya berdurasi 10–15 tahun dengan kenaikan tarif sewa berkala. Semakin banyak operator yang berbagi satu menara (tenancy ratio tinggi), semakin efisien biaya dan semakin tebal margin keuntungannya.
SUPR mencatat margin EBITDA yang sangat tinggi, yakni sekitar 84–85% — angka yang lazim dalam industri menara berkat sifat bisnisnya yang asset-heavy namun operationally lean. Hal ini tercermin dari EBITDA PT Solusi Tunas Pratama Tbk yang mencapai sekitar Rp 1,6 triliun.
Sebelum mengambil keputusan investasi, memahami laporan keuangan SUPR adalah langkah dasar dari analisa fundamental. Berikut data kinerja keuangan PT Solusi Tunas Pratama Tbk:
| Indikator | Nilai (Data Terakhir Tersedia) |
|---|---|
| Pendapatan (Revenue) 2025 | Rp 1,91 triliun (+5,13% YoY) |
| Pendapatan (Revenue) 2024 | Rp 1,81 triliun (-3,95% YoY) |
| Laba Bersih 2024 | Rp 974,31 miliar (-13,65% YoY dari Rp 1,12 triliun di 2023) |
| EBITDA | ±Rp 1,62 triliun (margin 84–85%) |
| Total Aset 2024 | Rp 9,8 triliun |
| Return on Equity (ROE) | 16,63% |
| Debt to Equity Ratio (DER) | 0,23x (tergolong rendah) |
| PER (Price to Earnings Ratio) | ±46,33x |
| EPS (Earnings Per Share) | ±Rp 946,48 |
| Free Cash Flow | ±Rp 770,44 miliar |
| Beta Saham | -1,05 (volatilitas lebih rendah dari rata-rata pasar) |
Catatan penting: Kinerja 2024 mengalami tekanan karena penurunan pendapatan dari pelanggan utama, dibarengi kenaikan beban pokok. Kontributor pendapatan terbesar adalah EXCL (Rp 677 miliar), ISAT (Rp 595 miliar), Telkomsel (Rp 343 miliar), dan Smartfren (Rp 195 miliar).
Namun, pada 2025, pendapatan kembali tumbuh 5,13% — bahkan pertumbuhan mencapai 35,94% secara kumulatif sepanjang 2025 — menunjukkan ada pemulihan operasional yang signifikan sebelum perusahaan memutuskan untuk meninggalkan status publik.
Saham SUPR IDX memiliki riwayat pergerakan harga yang cukup lebar. Beberapa titik penting yang perlu dicatat:
Selama 52 minggu sebelum suspensi, harga saham SUPR sudah naik sekitar +9,90%. Beta saham SUPR yang negatif (-1,05) menunjukkan pergerakannya cenderung berlawanan arah dengan IHSG, menjadikannya instrumen yang berpotensi berfungsi sebagai alat diversifikasi portofolio dalam kondisi pasar tertentu.
Perkembangan terpenting terkait saham SUPR pada 2026 adalah rencana go private dan delisting dari Bursa Efek Indonesia.
Direktur Utama SUPR Juliawati Gunawan Halim menjelaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap strategi bisnis jangka panjang grup dalam pengelolaan aset dan operasional yang lebih efisien. Salah satu pertimbangannya adalah perlunya restrukturisasi kepemilikan saham di dalam Grup Protelindo, termasuk meninjau ulang kepemilikan saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) di beberapa anak perusahaan.
Selain itu, kondisi free float yang tidak terpenuhi juga menjadi pendorong utama. Ketentuan BEI mensyaratkan minimum 15% dari total saham beredar berada di tangan publik (free float), dan SUPR tidak dapat memenuhi syarat ini meski berbagai upaya telah dilakukan.
Protelindo menetapkan harga pembelian saham publik (VTO) sebesar Rp 45.000 per saham. Harga ini lebih tinggi dari rata-rata harga tertinggi perdagangan harian di BEI dalam 12 bulan terakhir sebelum suspensi, yakni Rp 42.295 per saham — sehingga memberikan premi sekitar +6,4% bagi pemegang saham publik.
Penetapan harga ini mengacu pada formula Pasal 36 huruf (b) juncto Pasal 39 huruf (a) POJK 45/2024, yang berlaku untuk saham yang telah disuspensi minimal 90 hari sebelum pengumuman RUPSLB.
Rencana delisting saham SUPR membawa sejumlah implikasi penting bagi pemegang saham publik:
Selama periode VTO (15 Juni – 14 Juli 2026), pemegang saham SUPR dapat menjual kepemilikannya kepada Protelindo di harga Rp 45.000 per saham. Ini adalah mekanisme exit resmi yang disediakan bagi investor publik. Bagi yang membeli di harga rata-rata di bawah Rp 45.000, ini berarti meraih capital gain.
Setelah delisting efektif, saham SUPR tidak lagi diperdagangkan di BEI. Pemegang saham yang tidak memanfaatkan VTO akan menghadapi risiko likuiditas yang sangat rendah — saham menjadi sangat sulit untuk dijual karena tidak ada pasar terorganisir yang memfasilitasi transaksinya.
Selama berstatus perusahaan terbuka pun, SUPR tidak membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya. Setelah menjadi perusahaan tertutup, tentu tidak ada lagi kewajiban distribusi dividen kepada publik.
Setelah proses selesai, PT Solusi Tunas Pratama Tbk akan berubah dari perusahaan terbuka (Tbk.) menjadi perusahaan tertutup (PT). Seluruh kewajiban keterbukaan informasi, pelaporan ke BEI, dan pengawasan OJK dalam kapasitas perusahaan publik pun akan berakhir.
Sebelum maupun selama proses delisting berlangsung, ada beberapa risiko yang relevan untuk dipahami investor terkait saham SUPR:
Memahami profil risiko secara menyeluruh adalah bagian penting dari analisa fundamental setiap instrumen investasi. Gunakan juga analisa teknikal untuk memahami pola harga historis sebelum mengambil keputusan.
Industri menara telekomunikasi Indonesia memiliki beberapa emiten utama. Berikut perbandingan sederhana PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) dengan sesama pemain sektor ini:
| Emiten | Kode | Induk Grup | Status 2026 |
|---|---|---|---|
| Sarana Menara Nusantara | TOWR | Grup Djarum | Aktif di BEI |
| Tower Bersama Infrastructure | TBIG | - | Aktif di BEI |
| PT Solusi Tunas Pratama Tbk | SUPR | Protelindo / Grup Djarum | Proses Go Private / Delisting |
| Bali Towerindo Sentra | BALI | - | Aktif di BEI |
Menariknya, baik SUPR maupun TOWR sama-sama berada di bawah Grup Djarum / Protelindo. Langkah go private SUPR disebut-sebut berkaitan erat dengan restrukturisasi internal grup tersebut, di mana TOWR memiliki kepemilikan saham di beberapa anak perusahaan yang perlu ditata ulang.
Meski saham SUPR saat ini sedang dalam proses delisting, pasar saham Indonesia (IDX) masih dipenuhi ribuan pilihan saham dari berbagai sektor yang dapat kamu jelajahi. Pluang hadir sebagai platform investasi multi-aset yang memudahkan kamu berinvestasi di saham Indonesia dengan cara yang mudah dan terpercaya.
Melalui Pluang, kamu bisa:
Sebelum berinvestasi, pastikan kamu sudah melakukan riset mendalam — pahami book value, net profit margin, market cap, dan metrik fundamental lainnya dari setiap saham yang kamu incar.
Saham SUPR adalah kode saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk, perusahaan penyewaan menara telekomunikasi (BTS) terbesar di Indonesia milik Grup Djarum. Saham ini tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan ticker SUPR.
Per 6 April 2026, BEI telah menghentikan perdagangan saham SUPR di seluruh pasar menyusul pengumuman rencana go private dan delisting. Saham ini tidak lagi dapat diperdagangkan secara normal di BEI.
Protelindo menawarkan harga Rp 45.000 per saham kepada pemegang saham publik dalam skema Penawaran Tender Sukarela (VTO), yang berlangsung 15 Juni – 14 Juli 2026.
Tidak. PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) tidak membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya selama menjadi perusahaan terbuka.
Jika melewatkan masa VTO, pemegang saham akan tetap memiliki saham SUPR, namun saham tersebut tidak lagi diperdagangkan di BEI setelah proses delisting selesai. Ini berisiko mengakibatkan likuiditas sangat rendah karena tidak ada mekanisme jual-beli yang terorganisir.
BEI diproyeksikan membatalkan pencatatan saham SUPR secara resmi pada sekitar 10 Maret 2027, bersamaan dengan pembatalan penitipan kolektif oleh KSEI. Proses ini masih bergantung pada persetujuan OJK, BEI, dan instansi terkait.
Delisting sukarela (voluntary) dilakukan atas permintaan perusahaan sendiri, biasanya disertai mekanisme buyback atau tender offer untuk menjaga kepentingan pemegang saham publik. Sebaliknya, forced delisting terjadi karena sanksi BEI dan tidak selalu disertai mekanisme exit yang memadai — berpotensi merugikan investor jauh lebih besar. Kasus SUPR termasuk kategori voluntary delisting.
Saham SUPR (PT Solusi Tunas Pratama Tbk) adalah salah satu emiten infrastruktur menara telekomunikasi terbesar Indonesia yang didukung kinerja pendapatan berulang yang stabil dan margin EBITDA tinggi. Namun, perkembangan terbesar pada 2026 adalah rencana go private dan delisting dari BEI, dengan harga penawaran tender offer Rp 45.000 per saham kepada pemegang saham publik.
Bagi investor yang memegang saham SUPR, periode Voluntary Tender Offer (VTO) dari 15 Juni hingga 14 Juli 2026 adalah jendela penting untuk mempertimbangkan apakah ingin memanfaatkan harga buyback dari Protelindo atau mempertahankan kepemilikan — dengan konsekuensi kehilangan akses likuiditas setelah delisting efektif.
Untuk kamu yang ingin terus berinvestasi di saham-saham Indonesia yang masih aktif dan likuid, gunakan Pluang sebagai platform investasi multi-aset yang telah dipercaya jutaan pengguna di Indonesia. Selalu lakukan analisa fundamental dan analisa teknikal sebelum mengambil keputusan investasi.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


