Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Pasar Sepekan: Isu Perang & The Fed Bikin Saham Hingga Kripto 'Lecet-Lecet'
shareIcon

Pasar Sepekan: Isu Perang & The Fed Bikin Saham Hingga Kripto 'Lecet-Lecet'

19 Feb 2022, 3:03 AM·Waktu baca: 7 menit
shareIcon
Kategori
Pasar Sepekan: Isu Perang & The Fed Bikin Saham Hingga Kripto 'Lecet-Lecet'

Kabar tensi yang memanas dari Rusia dan Ukraina pun membuat para pelaku pasar finansial panas dingin. Selain dari tensi tersebut, sebenarnya apa sih yang membuat pasar makin lesu? Yuk, simak ulasannya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Beberapa aset kripto bisa melenggang manis di akhir pekan karena membukukan pertumbuhan pekan ini. Namun, mayoritas aset kripto lainnya pasrah tak berdaya dengan mendekam di zona merah di waktu yang sama. Sobat Cuan bisa melihat ringkasannya dalam tabel berikut!

Sentimen negatif sejatinya sudah menyergap aset kripto sejak awal pekan. Biang keladi utamanya adalah tarik-ulur ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang ikut melibatkan Amerika Serikat (AS) sebagai pihak ketiga.

Awal pekan ini, Rusia dikabarkan telah memarkirkan 100.000 pasukannya di perbatasan Ukraina, membuat spekulasi bahwa negara beruang merah tersebut akan segera menginvasi negara tetangganya tersebut. 

Hanya saja, di pertengahan pekan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan telah menarik mundur pasukannya seraya mengatakan bahwa negaranya sama sekali tak mau ngajak ribut Ukraina. Kabar tersebut seolah-olah mengindikasikan ketegangan di antara keduanya mungkin telah surut.

Namun, babak baru drama Eropa kembali muncul di akhir pekan setelah AS menuduh Rusia belum benar-benar menarik pasukannya dari perbatasan Ukraina. Bahkan, AS pun yakin bahwa Rusia bisa menyerang Ukraina "kapan saja" dan bahkan segera melancarkan serangannya dalam waktu dekat.

Kabar tersebut sontak membuat emosi pelaku pasar maju-mundur masuk ke pasar kripto. Pasalnya, ketidakpastian geopolitik tentu bikin prospek ekonomi ke depan menjadi tidak pasti. Nah, pada saat-saat tersebut, pelaku pasar tentu memilih hijrah dari pasar aset berisiko seperti kripto menuju aset yang lebih aman.

Kondisi tersebut sejatinya mirip dengan situasi di pasar modal AS. Bahkan, jika dianalisis secara lebih dalam, kini pergerakan aset kripto punya perbandingan  1:1 dengan pergerakan indeks saham AS. Dengan kata lain, aset kripto pasti bakal terkoreksi jika performa saham AS terlihat amburadul.

Selain itu, faktor lain yang bikin pelaku pasar social distancing dengan pasar kripto adalah ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS The Fed. Maklum, ketika suku bunga acuan naik, maka pelaku pasar tentu memilih instrumen yang lebih "pasti-pasti saja".

Minggatnya pelaku pasar dari pasar kripto tercermin dari analisis Glassnodes yang dirilis pekan ini yang menunjukkan bahwa rasio open interest di pasar derivatif BTC terus melorot.

Sekadar informasi, rasio open interest merupakan perbandingan antara open interest BTC di pasar derivatif terhadap kapitalisasi pasar kripto. Jika angka rasio tersebut turun, maka pelaku pasar terindikasi tidak sedang selera bermain-main di pasar kripto, begitu pun sebaliknya.

Kendati demikian, tak semua aset kripto tumbang. Buktinya, nilai XRP masih bisa melonjak 3,69% sepanjang pekan ini.

Sekadar informasi, nilai XRP melesat setelah gugatan Otoritas Pasar Modal AS (US Securities Exchange Commission) dengan Ripple mulai menemui titik terang.

Pada 2020 lalu, SEC menggugat Ripple karena dituduh menawarkan instrumen investasi ilegal selama setahun senilai US$1,3 miliar dalam mata bentuk XRP. Kemudian, di dalam persidangan, SEC meminta izin kepada hakim melalui legal memo untuk melakukan motion to strike, yakni upaya hukum untuk mengurangi satu atau beberapa barang bukti di pengadilan.

Namun, Ripple kini telah mengajukan mosi baru yang meminta SEC untuk menyerahkan notulensi pertemuan antara bosnya, Brad Garlinghouse dan mantan komisaris SEC pada 2018 lalu.

Tim kuasa hukum Ripple juga berpendapat bahwa SEC tidak boleh melakukan motion to strike karena barang bukti yang ingin "disingkirkan" SEC merupakan hasil pertemuan SEC dengan pihak ketiga dan bukanlah dokumen internal.

Analisis Teknikal BTC

Dari sisi teknikal, pergerakan harga BTC sejatinya telah tertahan di level resistance-nya yakni US$44.751. Sehingga, Pluang berpandangan bahwa pelemahan harga BTC dalam pekan ini cukup wajar lantaran kenaikan nilai BTC sangat tinggi di Selasa meski sang raja aset kripto tersebut masih berada di downtrend channel-nya.

Selain itu, penurunan harga BTC saat ini sebenarnya masih terbilang normal mengingat BTC tertahan di area support-nya US$39.800 hingga US$40.500. Tetapi, harga BTC berpotensi amblas ke level US$37.600 jika ia terus melorot ke bawah level support tersebut. Sehingga, BTC membutuhkan "bensin" berupa volume transaksi yang jumbo agar keluar dari jalur downtrend tersebut.

Pasar AS Sepekan

Trio indeks saham AS harus memasuki akhir pekan dengan sendu setelah kinerjanya lanjut memble pada pekan ini. Nilai Nasdaq terlihat melorot -1,76%, sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan S&P 500 masing-masing ambyar -1,90% dan 1,58%.

Saham-saham AS pasrah berguguran setelah tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun melanjutkan keperkasaannya, bahkan menyentuh 1,9%, di tengah tensi yang mendidih antara Ukraina dan Rusia.

Namun, investor AS paling dibuat pusing oleh sikap moneter The Fed yang masih abu-abu ke depan.

Dalam risalah rapatnya (Minutes of Meeting) yang dirilis Rabu lalu, The Fed mengatakan untuk tetap memutuskan kebijakan secara hati-hati tapi tetap bisa bersikap agresif setiap saat. Komentar tersebut sontak bikin investor kelimpungan untuk menentukan posisi mereka di pasar saham. 

Di akhir pekan, pergerakan pasar saham AS terbilang mengayun cukup volatil pada Jumat mengingat pasar modal AS akan libur pada Senin mendatang. Dari sisi teknikal, Nasdaq pun tumbang menjadi “Death Cross” karena tersungkur terlalu dalam.

Saham Apa Saja yang Kinclong Pekan Ini?

Sepanjang pekan lalu, pelaku pasar sepertinya melanjutkan hasratnya untuk mengoleksi saham yang berbau old-economy seperti Walmart, Marriott International dan juga Procter and Gamble. Di sisi lain, tekanan inflasi dan potensi "Perang Dunia III" bikin mereka meninggalkan saham teknologi seperti Meta Platforms, Adobe dan International Business Machines.

Hal ini memang sesuai ekspektasi. Jika dilihat dari sisi makroekonomi, maka saham sektor teknologi memiliki tingkat volatilitas yang tinggi jika terjadi kerusuhan atau ketidakpastian di pasar.

Namun, apakah hal ini akan berdampak negatif untuk Sobat Cuan? Jika Sobat Cuan cerna lebih jauh, maka ini adalah momentum yang tepat untuk menyerok beberapa saham teknologi yang memiliki kondisi fundamental yang kuat seperti Apple ataupun Alphabet, induk usaha Google.

Saham Apple sendiri sekarang berada di posisi support-nya yakni area US$167. Adapun support terdekat Apple saat ini berada di US$162.4, sebuah area yang sangat menarik bagi kamu untuk memulai mengoleksi sahamnya.

Jika saham Apple dapat bertahan di level $162.4, maka ini bisa menjadi tanda bahwa saham perseroan siap untuk membentuk formasi bullish-nya dan membentuk pola Higher-High Higher-Low atau titik high dan low baru yang posisinya lebih tinggi dari titik high dan low sebelumnya.

Namun, Sobat Cuan tetap perlu waspada jika harga saham Apple bakal ikutan jebol pada Selasa mendatang.

Baca juga: Pluang Insight: Produk Makin Apik, Pendapatan Apple Kian Ciamik!

Pasar Emas Sepekan

Harga emas terbilang sedang jaya-jayanya pada pekan ini. Nilainya bertengger di Rp892.176 per gram pada Sabtu (19/2) pukul 08.35 WIB alias meningkat 1,53% dibanding pekan lalu.

Nilai sang logam mulia kian berkilau setelah pamornya sebagai aset safe haven mulai meningkat seiring ketegangan geopolitik Eropa kian memanas. Maklum, kondisi dunia yang sedang tidak akur bikin prospek ekonomi ke depan jadi tidak pasti, sehingga mereka memilih untuk membenamkan dana di aset yang lebih aman.

Namun di samping itu, harga emas juga makin menawan berkat aksi pelaku pasar yang memborong emas demi melindungi kekayaannya dari inflasi.

Belakangan ini, pelaku pasar memang ketar-ketir terhadap inflasi, utamanya setelah AS mencetak rekor inflasi tertingginya dalam 40 tahun terakhir pada Januari lalu serta kenaikan harga komoditas energi.

Pada pekan depan, pergerakan harga emas nampaknya masih akan dipengaruhi oleh dua sentimen di atas. Tetapi, selain itu, gerak-gerik The Fed dalam menentukan kebijakan moneter selanjutnya akan ikut mempengaruhi tindak-tanduk sang logam mulia.

Memang, dalam risalah rapat yang dirilis Rabu (16/2), The Fed berjanji hanya mau hawkish jika inflasi tidak kunjung melandai. Namun, analis dan pelaku pasar justru yakin bahwa The Fed bakal memasang sikap tersebut sesegera mungkin pada Maret setelah indikator-indikator inflasi tidak mengarah ke jalur lambat.

Jika The Fed ngebet mengerek suku bunga acuannya, maka bukan tidak mungkin investor akan melepas emas demi aset lain seperti obligasi pemerintah AS.

Baca juga: Prediksi Harga Emas Di Tahun 2030

Pasar Domestik Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nampaknya bisa tersenyum manis bersama aset emas di pekan ini. Betapa tidak, IHSG sukses menutup sesi perdagangan Jumat (11/2) di level 6.892,92 poin alias menguat 1,13% dibanding sepekan sebelumnya.

Bahkan, nilai IHSG pun sempat menyentuh rekor terbarunya sepanjang masa di level 6.899,41 poin kemarin.

Kendati demikian, pergerakan IHSG pada pekan ini sejatinya cukup volatil mengikuti reaksi pelaku pasar atas kabar potensi perang di Rusia dan Ukraina.

Memang, tensi geopolitik yang memanas bakal bikin situasi ekonomi ke depan dipenuhi ketidakpastian. Sehingga, wajar saja jika pelaku pasar terkesan plinplan dalam sepekan terakhir.

Namun, Sobat Cuan perlu ingat bahwa ketegangan antar negara biasanya membuat harga komoditas terbang. Nah, Indonesia pun bakal kecipratan berkahnya mengingat posisinya sebagai salah satu negara eksportir hasil Sumber Daya Alam (SDA) utama di dunia. 

Selain itu, pelaku pasar juga diterpa berita-berita positif dari dalam negeri. Salah satunya adalah laporan Bank Indonesia (BI) yang mencatat bahwa neraca pembayaran dan neraca transaksi berjalan kompak surplus masing-masing US$13,5 miliar dan US$3,3 miliar di tahun lalu.

Rentetan sentimen positif tersebut pun bikin investor asing kian getol membenamkan uang di pasar modal. Buktinya, mereka terlihat memborong saham domestik hingga Rp3,79 triliun sepanjang pekan ini.

Investor asing nampak melahap saham big cap seperti saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Astra International Tbk (ASII).

Di sisi lain, mereka justru berbondong-bondong melepas saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dan PT Timah Tbk (TINS).

Analisis Teknikal IHSG

Secara teknikal, IHSG sudah berhasil memecahkan level resistance-nya lagi di 6.890 pada pekan ini. Sementara itu, support terdekat IHSG sendiri jatuh di level 6.890 dan 6.800. Berkaca pada hal ini, Pluang berpandangan bahwa pergerakan IHSG seharusnya bisa terus reli ke level 7.000 pekan depan.

Namun, Sobat Cuan jangan keburu puas diri dulu. Sebab, kamu juga harus waspada terhadap potensi bahwa IHSG tak kuat melanjutkan penguatannya pada Senin pekan depan akibat nilai penutupan IHSG kemarin nyaris mendekati level resistance-nya.

Kendati demikian, IHSG seharusnya tidak punya masalah berat untuk terus melaju kencang di pekan depan. Apalagi, harga komoditas terus menunjukkan taringnya.

Sementara itu, dari sisi sektoral, Sobat Cuan perlu lanjut memantau saham sektor komoditas seperti emas, minyak, batu baru ataupun perkebunan.

Sebab, bila melihat dari data historisnya, harga komoditas memang selalu diuntungkan dengan isu perang atau ketidakpastian yang mengganggu rantai pasok. Nah, siapa tahu, kamu juga bisa ketiban cuan dengan fokus ke saham-saham tersebut!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
pasar sepekan
Pasar Sepekan: Market 'Mencla-Mencle' di Tengah Sentimen Bertele-tele
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1