Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: RI Cari Celah Cuan Batu Bara, Ekonomi Inggris Membara!

Rangkuman kabar, Jumat (11/2) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara di antaranya capaian inflasi AS yang ogah jinak.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Moody's Pertahankan Peringkat Utang RI

Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan peringkat utang Indonesia di Baa2 dengan outlook stabil. Moody's berpandangan ketahanan ekonomi Indonesia cukup baik didukung oleh efektivitas kebijakan moneter dan makroekonomi dalam menghadapi pandemi.

Dalam keterangan tertulis tertanggal 10 Februari 2022, Moody's memperkirakan efektivitas kebijakan moneter dan makroekonomi Indonesia akan terjaga, yang akan menjadi modal besar bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan tren kenaikan suku bunga global.

Di samping itu, strategi pemerintah dengan melakukan reformasi ekonomi struktural yang mendukung pertumbuhan investasi dan meningkatkan daya saing ekspor akan membatasi dampak pandemi. Sehingga, ekonomi Indonesia diperkirakan dapat kembali tumbuh 5% dalam dua tahun ke depan.

Namun, Moody's juga memperkirakan beban utang pemerintah masih terus tumbuh ke level 42,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023. Level ini jauh lebih rendah dibanding negara dengan peringkat Baa, yaitu 64% PDB.

Apa Implikasinya?

Peringkat utang yang stabil bisa menjaga selera investor terhadap surat utang Indonesia. Hal ini bisa menjadi modal utama Indonesia dalam menjaga daya tarik obligasi pemerintah di tengah ancaman yield obligasi pemerintah negara maju akibat rencana kenaikan suku bunga acuannya masing-masing.

2. Royalti Batu Bara Bakal Naik, Lho!

Pemerintah berencana mengubah ketentuan royalti bagi penambang batu bara yang mengantongo Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) menjadi bersifat progresif.

Dengan kata lain, jika semula royalti dipatok secara persentase yakni 13,5% hingga 14%. maka royalti batu bara nantinya akan diberlakukan berjenjang tergantung dengan nilai jual batu bara global. Besaran tarif progresif ini masih dibicarakan, namun kabarnya dapat mencapai 24% jika harga jual batu bara tembus US$100 per ton.

Pengubahan mekanisme royalti ini bertujuan untuk meredistribusi keuntungan penjualan batu bara yang selama ini dianggap hanya dirasakan oleh perusahaan.

Apa Implikasinya?

Pengubahan mekanisme royalti bisa berimplikasi pada makin tebalnya cuan negara dari tren kenaikan harga batu bara. Namun, besarnya royalti yang harus dibagi kepada negara bisa menjadi disinsentif bagi perusahaan untuk memacu ekspor batu bara yang selama ini mendominasi surplus neraca dagang RI.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Harga Minyak Jadi Ancaman, BI Tahan Bunga Acuan

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Inflasi AS Terus Nanjak

Biro Statistik dan Tenaga Kerja Amerika Serikat mencatat bahwa indeks harga konsumen AS melonjak 7,5% secara tahunan pada Januari lalu. Tingkat inflasi ini merupakan yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Inflasi didorong oleh kenaikan harga bahan makanan, energi dan sewa rumah yang disebabkan oleh lonjakan permintaan yang tidak diimbangi dengan suplai yang memadai.

Bahkan, inflasi inti yang mengecualikan harga bahan makanan dan energi tetap terbilang tinggi yakni 6% secara tahunan. Bagaimana tidak, harga mobil bekas saja melambung 40,5% secara tahunan!

Apa Implikasinya?

Tingkat inflasi yang terus nanjak bakal bikin The Fed makin yakin untuk lebih agresif menerapkan kebijakan-kebijakan hawkish yang dianggap manjur menjinakkan inflasi. Bagi Indonesia, hal ini bisa menyebabkan arus modal keluar dan membuat pasar keuangan dan nilai tukar Rupiah terancam terombang-ambing.

2. Ekonomi Inggris Tumbuh Manis!

Inggris mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5% pada tahun 2021, tertinggi sejak perang dunia kedua! Ini terjadi setelah Inggris mengalami kontraksi pertumbuhan hingga -9,4% di tahun 2020.

Kendati demikian, kinerja ekonomi yang cemerlang itu belum mampu membuat Inggris kembali ke level pra pandeminya. Salah satu penyebabnya ialah penyebaran COVID-19 omicron yang membuat ekonomi Desember kembali minus 0,2%.

Para ekonom berpandangan bahwa kinerja ekonomi yang moncer ini tidak terlepas dari gelontoran stimulus dan kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi. Kebijakan tersebut dipandang efektif membuat Inggris lepas dari belenggu kontraksi pertumbuhan.

Apa Implikasinya?

Kinerja ekonomi Inggris yang cemerlang berkat stimulus dan kebijakan pandemi membuktikan bahwa kebijakan tersebut efektif membuat Inggris keluar dari resesi. Namun, capaikan pertumbuhan ekonomi bulan Desember membuktikan bahwa ekonomi Inggris belum sepenuhnya memiliki kekebalan terhadap COVID-19.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait