pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Harga Minyak Jadi Ancaman, BI Tahan Bunga Acuan

Rangkuman kabar, Kamis (10/2) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara, diantaranya kenaikan rasio pajak tahun lalu yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Naik Sih, Tapi Rasio Pajak Masih Satu Digit

Kementerian Keuangan melaporkan rasio penerimaan perpajakan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) alias tax ratio Indonesia pada tahun 2021 baru mencapai 9,11%.

Rasio tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan 2020 yakni 8,33%, bahkan melampaui target pemerintah yakni 8,6%. Namun, angka tersebut belum mencapai level pra-pandemi yaitu 9,76%.

Apa Implikasinya?

Kenakan tax ratio sejalan dengan kenaikan PDB tahun lalu. Ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pemerintah memulihkan ekonomi dari dampak pandemi, sekaligus meningkatkan kemampuan bayar utang pemerintah Indonesia.

Selain itu, kenaikan tax ratio juga berimplikasi terhadap pemasukan negara dari perpajakan. Jika basis pajaknya meningkat, RI bakal semakin mandiri dari ketergantungan utang dalam membiayai pembangunannya.

2. BI Masih Setia Tahan Bunga Acuan 3,5%

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) memutuskan untuk kembali menahan bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 3,5%. Suku bunga deposit facility dan lending facility pun tetap ditahan di level 2,75% dan 4,25%.

Dengan demikian, maka sudah genap setahun BI menahan bunga acuannya di level 3,5%, yang menjadi suku bunga terendah sejak Indonesia merdeka.

Apa Implikasinya?

Kebijakan bunga rendah akan berpengaruh pada biaya pinjaman dan biaya dana yang rendah. Sehingga masyarakat lebih terpacu untuk mengambil kredit dan melakukan ekspansi usaha. Kebijakan ini berimplikasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Tarif Tol Bakal Naik, Laju Kredit AS Bikin Panik

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Harga Minyak Bisa Tembus US$120

JPMorgan memproyeksikan harga minyak dunia bisa makin ngamuk hingga US$120 per barel jika kondisi geopolitik antara Rusia dan Ukraina terus memanas.

Bahkan, kalau Rusia berhenti mengekspor separuh dari total suplai minyaknya saat ini, harga Brent bisa to the moon sampai US$150 per barel. Mengapa demikian?

Rusia merupakan pemasok minyak dan gas terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Sehingga, konflik Rusia dengan Ukraina berisiko mengganggu pasokan minyak dunia kalau sampai terjadi perang yang merusak infrastruktur energi di negara tersebut.

Belum lagi, kalau sampai Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan posisinya sebagai pemasok gas alam di Eropa sebagai senjata dengan menaikkan harga, tentu harga minyak bakal ikut terkerek.

Saat ini, harga minyak dunia telah menembus US$91 hingga US$92 per barel, level tertingginya dalam tujuh tahun terakhir.

Apa Implikasinya?

Kenaikan harga minyak dunia akan memperparah tingkat inflasi yang sudah melonjak tajam akibat biaya energi. Inflasi yang terjadi tidak lagi sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi, sehingga terjadi fenomena 'stagflasi'. Namun, fenomena tersebut dapat semakin memprovokasi bank sentral untuk menerapkan kebijakan yang hawkish.

2. Gegara Bitcoin, Fitch Turunkan Rating El Salvador

Fitch Ratings menurunkan peringkat surat utang El Salvador dari B- menjadi CCC. Lembaga pemeringkat tersebut berdalih, langkah El Salvador mengadopsi Bitcoin sebagai legal tender dianggap berisiko dan bikin negara tersebut makin kecanduan utang jangka pendek.

Selain itu, Fitch juga menggarisbawahi utang dalam bentuk obligasi global senilai US$800 juta yang jatuh tempo Januari tahun depan lantaran potensi gagal bayarnya cukup tinggi. Meski demikian, Menteri Keuangan El Salvador Alejandro Zelaya memastikan bahwa pemerintah pasti dapat memenuhi kewajiban utang tersebut.

Kepemimpinan Nayib Bukele yang nyentrik membuat kondisi politik di sana sulit diprediksi. Pertumbuhan ekonomi El Salvador diproyeksikan bakal melambat drastis dari 10,5% tahun lalu menjadi 3,5%.

Apa Implikasinya?

Laporan ini akan membuat beberapa negara urung mengadopsi Bitcoin sebagai alat tukar resmi. Nah, selera adopsi yang kian pudar tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi harga BTC ke depan.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: CNBC Indonesia, CNN, CNN Indonesia, Bloomberg

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES