pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

1204

Rangkuman Kabar: Tarif Tol Bakal Naik, Laju Kredit AS Bikin Panik

Rangkuman kabar, Rabu (9/2), mengurai perkembangan domestik dan mancanegara, di antaranya ada Amerika Serikat (AS) yang cetak rekor defisit neraca dagang dan tarif tol yang mau naik! Penasaran, yuk simak selengkapnya di sini!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Siap-Siap, Tarif Tol Mau Naik!

Operator jalan tol pelat merah, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, mengumumkan kenaikan tarif sejumlah ruas tol di Indonesia.

Melalui akun Twitter-nya, perseroan mengatakan bahwa penyesuaian tarif tol yang bakal berlaku dalam waktu dekat adalah penyesuaian reguler mengikuti laju inflasi, yakni sebesar 3,03% dari tarif yang berlaku saat ini. Makanya, penyesuaian tarif tersebut menghitung agregat inflasi dalam dua tahun terakhir dan akan berlaku ke seluruh golongan kendaraan, termasuk angkutan logistik.

Apa Implikasinya?

Kenaikan tarif tol akan mengerek biaya logistik menjadi semakin mahal. Meski kisaran kenaikan dianggap hanya menyesuaikan tingkat inflasi, namun efeknya justru bikin laju inflasi kian ngebut bak berkemudi di jalan tol.

Akibatnya, masyarakat bisa menanggung biaya barang dan jasa lebih mahal, sehingga berpengaruh ke daya beli masyarakat. Namun, kondisi tersebut juga bisa menjadi kesempatan perusahaan ekspedisi untuk mendulang cuan lebih baik tahun ini.

2. Pulihkan Pariwisata, Pemerintah Siapkan Rp4,5 T

Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp4,5 triliun untuk memacu pemulihan ekonomi di sektor pariwisata. Dana ini diperuntukkan guna menunjang kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif seperti penyelengaraan event G-20, dan World Super Bike Mandalika.

Selain melalui gelaran event berskala internasional, pemerintah juga mengujicobakan kebijakan travel bubble dengan sejumlah negara yang dianggap sukses menghadapi pandemi covid 19.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto berharap pelaku industri turut menyukseskan upaya ini dengan memenuhi standar keberlanjutan CHSE dan patuh protokol kesehatan.

Apa Implikasinya?

Industri pariwisata berkontribusi signifikan bagi pundi cadangan devisa negara. Jika upaya pemulihan industri ini berhasil, tentu dapat membuat cadangan devisa naik lagi sekaligus menggeliatkan kembali perekonomian di kawasan pariwisata.

Cadangan devisa adalah amunisi Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar Rupiah. Hal ini sangat penting bagi Indonesia, utamanya ketika capital outflow mengancam di tengah kebijakan moneter agresif The Fed.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Devisa RI Susut, Facebook Lagi Doyan Ngajak Ribut

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Defisit Perdagangan AS Rekor Sepanjang Masa!

Departemen Perdagangan Amerika Serikat mencatat defisit neraca perdagangan AS terbilang US$859,1 miliar pada 2021, alias melonjak 27% dibanding tahun sebelumnya. Dengan demikian, maka defisit neraca dagang AS menembus level tertingginya sepanjang masa!

Sumber utama defisit neraca perdagangan berasal dari impor barang yang juga berada di level tertingginya yakni US$1,8 triliun, tumbuh 18,2% dari US$1,1 triliun di tahun sebelumnya.

Kondisi ini cukup ironis mengingat kinerja ekspor AS juga rekor sepanjang masa. Sepanjang 2021, AS mencetak ekspor US$1,8 triliun atau menanjak 23,2% dibanding tahun lalu.

Capaian tersebut meningkatkan gap perdagangan AS dari 3,2% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 3,7%. Para ekonom berspekulasi tren ini tidak akan susut dalam waktu dekat sampai masyarakat kembali pada era 'normal'.

Apa Implikasinya?

Tren volume impor yang tinggi merupakan peluang bagi negara mitra dagang seperti Indonesia untuk memacu kinerja ekspornya ke negara Paman Sam. Ini akan berdampak positif pada cadangan devisa hingga penciptaan lapangan kerja dari industri berorientasi ekspor yang ketiban cuan dari pola konsumsi masyarakat AS.

2. Kredit Konsumtif AS Melonjak Tahun Lalu

Penyaluran kredit konsumsi di Amerika Serikat mencapai US$1 triliun sepanjang tahun 2021, tertinggi sejak 2007. Akibatnya, terjadi peningkatan agregat hipotek dan kredit kendaraan yang turut menyumbang kenaikan harga properti dan mobil.

Lebih dari $4,5 triliun hipotek baru dibuka tahun 2021, menjadikan tahun lalu salah satu tahun bersejarah dalam dunia properti. Demikian pula jumlah aplikasi baru kredit kendaraan yang telah kembali pada level pra pandeminya. Secara nominal, agregat nilai kredit kendaraan ini meningkat lantaran naiknya harga jual kendaraan.

Apa Implikasinya?

Para debitur kredit konsumtif di Amerika Serikat akan menemui risiko tinggi tahun ini. Sebab, mereka akan kenaikan bunga kredit akibat kebijakan moneter agresif The Fed tahun ini. Jika itu terjadi, maka ada risiko gelombang kredit macet di AS yang mengancam.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: CNBC, Reuters, CNBC Indonesia

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES