Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Pasar Sepekan: Inflasi AS Bawa Berkah, Kripto hingga Saham AS Semringah!

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Investor sepertinya sedang ketiban durian runtuh setelah saham AS, IHSG, dan kripto kompak melaju berkat dukungan sentimen makroekonomi. Seperti apa lengkapnya? Simak ulasannya di Rangkuman Pasar berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Investor kripto kembali tersenyum berseri-seri memasuki akhir pekan. Pasalnya, setelah tersungkur ke zona merah pada pekan lalu, aset kripto akhirnya kembali melaju ke teritori positif di pekan ini.

Sepanjang pekan ini, perilisan data inflasi AS rupanya jadi "obat kuat" paling mujarab bagi keperkasaan aset-aset kripto.

Pada Rabu (10/8), Departemen Ketenagakerjaan AS mengumumkan bahwa negara Paman Sam tersebut mencetak tingkat inflasi tahunan sebesar 8,5% di Juli. Ternyata, angka tersebut lebih rendah dibanding estimasi analis 8,7%. Lebih hepinya lagi, inflasi tersebut ternyata melandai dari level 9,1% sebulan sebelumnya.

Wajar saja jika pelaku pasar semringah. Pasalnya, inflasi yang melandai bisa membuat bank sentral AS, The Fed, mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneternya. Hal itu, tentu saja, akan meningkatkan selera risiko investor untuk terus berkubang di pasar aset berisiko.

Sayangnya, pergerakan harga aset kripto perlahan berbalik arah menjelang akhir pekan menyusul penguatan nilai Dolar AS. Peristiwa tersebut menjadi indikasi bahwa pelaku pasar buru-buru melakukan priced-in atas data inflasi AS.

Lebih lanjut, jika Sobat Cuan menengok tabel di atas, maka kamu menemukan bahwa Avalanche (AVAX) dan Ethereum (ETH) keluar sebagai juara utamanya.

Nilai AVAX meroket setelah jaringan mencatat kenaikan volume trading Non-Fungible Token (NFT) sebesar 35% sepanjang pekan ini.

Sementara itu, nilai ETH menguat selepas pengembang Ethereum mengumumkan kesuksesannya memperbarui jaringan uji cobanya bernama Goerli pada Rabu lalu. Jika uji coba ini berjalan lancar, maka mereka akan langsung melakukan pembaruan, yang umum dikenal The Merge, di jaringan utama Ethereum.

Pengembang tadinya menjadwalkan The Merge pada 19 September. Namun belakangan, mereka mempercepat rencana itu ke 15 September.

Analisis Teknikal BTC

Apabila melihat dari sisi teknikal, BTC sebenarnya berhasil breakout dengan volume di atas rata-rata selama 21 hari terakhir. Namun, karena BTC gagal menembus level resistance-nya di US$24.700, pelaku pasar ternyata ngebet melakukan aksi ambil untung.

Untuk saat ini, Pluang melihat BTC sebenarnya punya potensi menguat sampai ke level US$25.964 jika berhasil melewati level resistance. Namun, jika BTC gagal menembus tingkat tersebut, maka titik support harian terdekat BTC berada di level US$22.530 dan US$21.317.

Pasar AS Sepekan

Setali tiga uang, indeks saham AS juga mengalami pekan yang penuh sukacita. Tengok saja, nilai indeks Dow Jones Industrial Average menguat 2,93%, sementara indeks S&P 500 dan Nasdaq tumbuh lebih heboh masing-masing 3,26% dan 3,08% dari pekan lalu.

Sama seperti yang terjadi di pasar kripto, luruhnya inflasi AS juga menjadi "pupuk" bagi pertumbuhan indeks Wall Street. Tak heran, sebab turunnya inflasi akan menopang daya beli masyarakat dan menurunkan biaya bahan baku produksi, dua kunci utama pendorong kinerja keuangan emiten ke depan.

Di samping itu, inflasi yang melandai juga diharapkan membuat The Fed bersikap lunak terhadap kebijakan suku bunga acuannya. Ekspektasi tersebut pun tercermin dari anjloknya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS selepas perilisan data inflasi tersebut.

Nah, kondisi itu pun menjadi ajang "aji mumpung" bagi pelaku pasar untuk merangsek masuk saham-saham teknologi. Hal ini wajar saja mengingat tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS punya korelasi negatif dengan return saham-saham teknologi berkategori growth stocks. Imbasnya, saham sektor teknologi pun mencuat 2% sepanjang pekan ini.

Tak ketinggalan, biang optimisme pelaku pasar pekan ini juga muncul dari keputusan Kongres AS yang setuju untuk meneruskan proses pengesahan rancangan undang-undang (RUU) penurunan inflasi. Melalui beleid yang diajukan fraksi Partai Demokrat di dewan legislatif tersebut, pemerintah AS berniat menganggarkan US$440 miliar untuk meredam inflasi dan menanggulangi krisis lingkungan.

Hanya saja, Pluang justru beranggapan bahwa reli kencang saham AS pekan ini justru bertentangan dengan keinginan The Fed.

Pasalnya, jika saham AS bergerak terlalu keceplosan, maka kegiatan ekonomi akan semakin bergeliat sebelum waktunya dan ujungnya malah memperparah inflasi. Sehingga, The Fed bisa saja memutuskan semakin mengetatkan kebijakan moneternya alih-alih melonggarkannya.

Analisis Teknikal Saham AS

Dari sisi teknikal, terlihat bahwa indeks Nasdaq sudah menyentuh level resistance psikologisnya yakni 13.000 setelah berhasil menembus level resistance kuat sebelumnya di 12.600.

Berkaca dari hal tersebut, Pluang menaksir bahwa indeks Wall Street akan terkoreksi tipis pada pekan depan lantaran reli pekan ini terbilang cukup fantastis. Namun, pelaku pasar bisa menjadikan koreksi tersebut sebagai momentum untuk mengoleksi saham-saham AS.

Pasar Emas Sepekan

Meski melalui pekan yang volatil, sang logam mulia untungnya masih dapat bertahan. Harga emas di pasar spot bertengger di US$1.802 per ons pada akhir pekan, ngebut 1,52% dibanding sepekan sebelumnya US$1.775 per ons.

Di awal pekan ini, pelaku pasar terlihat menahan diri menanti perilisan data inflasi AS.

Namun, mereka kemudian langsung memborong emas setelah realisasi inflasi AS di Juli ternyata lebih rendah dari estimasi. Saking gembiranya, mereka bahkan sempat membawa harga emas menembus level psikologis US$1.800 per ons pasca perilisan data tersebut.

Euforia tersebut sejatinya dapat dimaklumi. Jika inflasi melandai, maka The Fed kemungkinan bakal pikir-pikir ulang untuk mengerek suku bunga acuannya. Kondisi tersebut tentu akan menyurutkan tingkat imbal hasil obligasi AS dan meningkatkan daya tarik emas.

Sayangnya, keceriaan itu ternyata hanya bertahan seumur jagung. Sebab, harga emas kemudian ambles lagi ke kisaran US$1.700 per ons di waktu yang sama.

Usut punya usut, harga emas lunglai setelah dua pejabat The Fed ngotot bahwa bank sentral AS tersebut harus terus melancarkan kebijakan moneter yang ketat.

Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, misalnya, mengatakan The Fed masih harus mengerek suku bunga acuannya hingga 3,9% di akhir 2022 demi meredam inflasi yang meradang.

Untungnya, pelemahan tingkat imbal hasil obligasi AS sukses kembali membuat emas menjadi jagoan di akhir pekan. Asal tahu saja, pelemahan tingkat imbal hasil obligasi AS akan menurunkan opportunity cost investor dalam menggenggam sang logam mulia.

Baca Juga: Pluang Insight: Mengenal Volatilitas, Apakah Selalu Jadi Musibah bagi Investor?

Pasar Domestik Sepekan

Investor saham domestik bisa melenggang manis di akhir pekan ini. Maklum, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup diri di level 7.129,28 poin alias melesat 0,63% dibanding pekan lalu.

Gerak sang indeks domestik semakin lincah setelah pelaku pasar dalam negeri menyambut baik luluhnya inflasi AS pada bulan lalu.

Di samping itu, kinerja prima saham-saham pertambangan pun ikut menopang laju IHSG sepanjang pekan ini.

Asal tahu saja, performa saham sektor tersebut kian moncer setelah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengklaim bahwa produsen mobil listrik Tesla sudah meneken kerja sama dengan dua produsen pengolahan nikel tanah air dengan nilai kontrak US$5 miliar.

Kendati dihujani sentimen manis, tetap saja ada kabar pahit yang menggoyahkan kepercayaan diri investor.

Salah satunya datang dari laporan Bank Indonesia (BI) yang mengumumkan skor Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 123,2 pada Juli 2022 atau nyungsep dari 128,2 di bulan sebelumnya. Data itu mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia semakin pesimistis dalam memandang geliat ekonomi ke depan.

Pluang beranggapan, lesunya optimisme tersebut sejatinya bisa berdampak baik bagi proyeksi inflasi Indonesia ke depan. Sebab, masyarakat tentu akan mengerem konsumsinya jika prospek ekonomi diramal mendung. Nah, melambatnya konsumsi tentu akan berimbas ke perlambatan inflasi dalam negeri.

Analisis Teknikal IHSG

Apabila ditengok dari sisi teknikal, IHSG sebenarnya ditutup sedikit di bawah level support-nya, seperti yang terlihat dari grafik di bawah.

Melihat kondisi di atas, Pluang menyarankan Sobat Cuan untuk waspada. Pasalnya, IHSG sudah mengalami reli 8% selama sebulan terakhir, sebuah kondisi yang kemungkinan bakal dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung.

Sehingga, jika Sobat Cuan berinvestasi di reksa dana yang berbasis saham domestik, maka tak ada salahnya kamu juga melakukan ambil untung. Asal, kamu memang merasa bahwa nilai kenaikannya sudah sesuai dengan keinginanmu.

Sementara itu, Sobat Cuan bertipe investor jangka panjang juga bisa memanfaatkan momentum ini untuk mengoleksi saham-saham komoditas. Alasannya, harga komoditas yang seolah ogah melandai sepertinya masih bakal menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan ini.

Baca Juga: Kabar Sepekan: Harga Mi Instan Diramal Melejit, Daging Babi Bikin China Menjerit

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait