pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 7 menit

View

0

Pasar Sepekan: Setelah Lelah Terbenam, Market Mulai Mencoba 'Balas Dendam'!

Sobat Cuan tampaknya harus kembali memasuki akhir pekan yang gak banget. Tengok saja, pasar saham AS dan kripto terpantau lesu sepanjang minggu ini. Untungnya, emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bangkit dan bahkan balas dendam sepanjang pekan ini! Simak ulasannya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Investor kripto lagi-lagi harus memasuki akhir pekan dengan gigit jari. Betapa tidak, 10 aset kripto utama masih terbenam di zona merah dalam sepekan terakhir. Meski memang, pelemahan kali ini tidak begitu parah jika dibanding pekan lalu. Bahkan, nilai Binance Coin (BNB) berhasil melaju ke zona hijau.

Sebenarnya, pada awal pekan ini, aset kripto bergerak pada area sideways di mana Bitcoin (BTC), misalnya, bergerak di rentang US$29.000 hingga US$31.000 per keping. Kemudian, pasar kripto perlahan "balas dendam" di pertengahan pekan setelah pelaku pasar menyadari bahwa beberapa aset kripto sudah terlalu lama berada di area jenuh jual (oversold).

Sayangnya, aksi jual memang masih jadi kekuatan yang mendominasi di pasar kripto ketimbang aksi akumulasi.

Pelaku pasar tampaknya masih kurang pede untuk menginjakkan kaki di pasar kripto karena memang situasinya sedang kurang kondusif untuk bergumul di pasar aset berisiko. Sebagai buktinya, pelaku pasar bukan hanya menjauhi pasar kripto, namun juga pasar saham AS. Bahkan, menilik data historisnya, pergerakan aset kripto pun sebenarnya sudah 80% mirip dengan laju indeks Nasdaq.

Pangkal kekhawatiran pelaku pasar pun kurang lebih masih sama seperti pekan lalu, yakni situasi makroekonomi yang serba tidak pasti. Di tengah kondisi inflasi tinggi, sikap moneter agresif bank sentral AS The Fed, dan ancaman resesi, pelaku pasar tentu memilih melarikan dananya ke pasar aset lain yang lebih aman.

Aset kripto kemudian mendapat tekanan baru di akhir pekan, utamanya dari aspek regulasi. Pelaku pasar seolah kelabakan setelah Kongres AS memperkenalkan 50 resolusi mengenai regulasi kripto, blockchain, dan mata uang resmi digital (CBDCs).

Mereka memperkenalkan proposal tersebut setelah merasa bahwa legalitas aset digital yang ambigu adalah salah satu fokus utama pelaku ekonomi global. Peristiwa pemicunya, apalagi kalau bukan runtuhnya nilai LUNA akibat stablecoin UST dan guncangnya ekonomi El Salvador pasca mengadopsi BTC sebagai alat tukar resminya.

Selain itu, para petinggi tujuh negara maju dunia (G7) juga terpanggil untuk membuat regulasi aset kripto gara-gara kasus stablecoin UST pekan lalu.

Analisis BTC Pekan Ini

Jika kita melihat dari sisi teknikal dengan time frame daily, maka BTC sendiri memiliki pertahanan terakhir di level US$29.000 per keping. Sedihnya, BTC punya potensi untuk jatuh hingga ke arah US$26.000 pada Senin mendatang jika benar-benar mondar-mandir di bawah US$29.000 per keping.

Namun, jangan kepalang sedih, Sobat Cuan. Sebab, BTC masih punya kemungkinan rebound ke level US$30.800 per keping jika ada sentimen positif yang jadi angin segar bagi aset kripto.

Untuk saat ini, Pluang melihat bahwa tekanan untuk harga aset kripto masih terbilang besar sampai pekan mendatang. Alhasil, lebih baik jika Sobat Cuan menyisihkan sebagian uangmu untuk memulai dollar cost averaging (DCA) jika terjadi hal yang tidak diinginkan ke depan.

Pasar AS Sepekan

Jika pasar kripto bisa berjibaku pada pekan ini, maka hal serupa sepertinya susah dilakukan oleh trio indeks saham AS. Bukannya pulih, nilai indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) malah amblas 2,9%, diikuti oleh pelemahan S&P500 sebesar 3,1% dan Nasdaq sebesar 3,8% di waktu yang sama.

Dengan demikian, maka indeks Wall Street sudah melemah selama tujuh pekan berturut-turut. Hal ini mengonfirmasi bahwa pasar saham AS sedang dalam fase bearish dan memasuki periode terburuknya sejak dotcom bubble 1998-2000 lalu.

Pekan ini, trader memang memborong saham-saham, utamanya saham teknologi, mumpung harganya sedang murah (buy the dip). Namun, di saat yang sama, mereka juga melakukan aksi sell the rally. Makanya, laju indeks Wall Street terlihat gitu-gitu aja.

Lebih lanjut, para investor pun lagi-lagi masih berkutat dengan kekhawatiran atas ancaman resesi ekonomi akibat prospek pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Ketakutan mereka atas anjloknya ekonomi kian kentara setelah saham sektor ritel berguguran pada Kamis (19/5) gara-gara membukukan kinerja keuangan yang mengecewakan. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat masih tertekan sehingga pertumbuhan konsumsi nampaknya tak bisa diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi AS di kuartal II 2022.

Pluang menganggap, tidak menutup kemungkinan bahwa pasar AS masih berada pada fase bear market pekan depan gara-gara kondisi makroekonomi yang sedang tidak pasti. Selain itu, para analis AS pun belum merevisi estimasi pendapatan emiten-emiten AS.

Nah, ketika terdapat perilisan data ekonomi lebih lanjut, maka pasar AS bisa terancam jatuh lebih dalam karena para analis berbondong-bondong merevisi proyeksi kinerja keuangan mereka.

Terlebih, inflasi bakal masih terus jadi momok ekonomi negara Paman Sam tersebut, di mana ketua The Fed Jerome Powell berkomitmen untuk terus mengerek suku bunga acuan sampai inflasi tersebut benar-benar padam.

Untuk saat ini, pasar telah priced in dengan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin yang kemungkinan terjadi pada Juni dan Juli mendatang. Namun, jika data inflasi tak kunjung turun, The Fed kemungkinan akan mengerek suku bunga hingga 75 basis poin yang akan berdampak buruk untuk pasar, terutama untuk sektor teknologi.

Pasar Emas Sepekan

Harga emas di pasar spot bertengger di US$1.847,82 per ons di akhir pekan alias tumbuh US$1.811,17 per ons pada sepekan sebelumnya.

Nilai sang logam mulia kembali menanjak seiring sikap pelaku pasar yang mulai mengakumulasi emas. Maklum, kini mereka kembali diliputi kekhawatiran soal potensi resesi ekonomi AS.

Kecemasan mereka berhulu dari terjunnya saham-saham ritel akibat kinerja keuangan kuartalan mereka yang tak sesuai ekspektasi, sebuah indikasi bahwa daya beli masyarakat masih porak poranda akibat inflasi. Kondisi itu cukup ironis mengingat Departemen Perdagangan AS pekan ini malah merilis kenaikan penjualan ritel di April.

Imbasnya, pelaku pasar pun akhirnya marak mengoleksi emas, sebuah aset yang dianggap sebagai suaka kala prospek ekonomi diramal mendung.

Di samping itu, keoknya dua musuh sengit emas, nilai Dolar AS dan tingkat imbal hasil obligasi AS, juga mendorong laju harga sang logam mulia pada pekan ini.

Sekadar informasi, pelemahan nilai Dolar AS akan membuat harga emas jadi relatif lebih murah bagi mereka yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Sementara itu, tingkat imbal hasil obligasi AS yang melandai juga akan menurunkan opportunity cost dalam menggenggam emas.

Baca juga: Pluang Insight: Katanya Dunia di Ambang Resesi. Apa Sih Arti Resesi Ekonomi?

Pasar Domestik Sepekan

Gerak lincah serupa juga ditunjukkan oleh IHSG. Setelah longsor di pekan lalu, sang indeks domestik akhirnya berhasil balas dendam pekan ini dengan berakhir di level 6.918,14 atau tumbuh 4,82% dibanding sepekan sebelumnya.

Pluang beranggapan, kinerja IHSG pekan ini sebenarnya lebih didorong oleh aspek technical rebound. Pelaku pasar menilai, aksi beli memang tepat dilakukan saat ini lantaran nilai kenaikan IHSG sejak awal tahun (year-to-date) sudah pupus di pekan lalu akibat aksi jual gede-gedean.

Terlebih, mereka juga menganggap bahwa anjloknya IHSG pekan lalu adalah sebuah anomali. Pasalnya, sebagai negara eksportir sumber daya alam dan punya pertumbuhan ekonomi kokoh, harusnya sang indeks domestik tidak harus mengalami nasib nahas tersebut. Oleh karenanya, trader pun memanfaatkan momentum tersebut untuk mengembalikan IHSG ke "jalur yang benar".

Lebih lanjut, jika ditilik dari sisi emiten, maka IHSG harus berterima kasih kepada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang nilainya meroket 46,15% dalam sepekan terakhir. Dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp360 triliun, sontak gerak lincah GOTO pun menjadi angin segar yang mendorong laju sang indeks domestik tersebut.

Salah satu sentimen penggerak saham GOTO adalah hasil laporan keuangan rivalnya, Grab, yang sangat kinclong. Berkaca pada peristiwa tersebut, para spekulan beranggapan bahwa ekonomi di Asia Tenggara sudah membaik. Sehingga, laporan keuangan GOTO pun diramal juga akan ikut membaik pada masa mendatang.

Hanya saja, performa apik IHSG pekan ini bisa saja menuntun investor asing untuk melancarkan aksi ambil untung (profit taking) dan mulai mencicil saham di bursa internasional. Imbasnya, laju IHSG kemungkinan bisa terkoreksi dalam jangka waktu dekat.

Hal tersebut sejatinya sudah terbaca pada pekan ini, di mana investor asing marak melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai tak tanggung-tanggung Rp2,44 triliun. Jika dirinci lebih detil, investor asing melego Rp1,25 triliun saham domestik di pasar reguler dan Rp1,19 Triliun di pasar negosiasi.

Tak perlu ditanya, sasaran utama aksi jual mereka adalah saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo. Beberapa saham yang dilepas asing antara lain adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Kendati begitu, asing masih memborong saham-saham lainnnya mumpung sedang murah. Misalnya, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Sentimen Makroekonomi Ikut Dorong Laju IHSG

Di samping itu, dapat dipungkiri bahwa sentimen makroekonomi yang positif juga mendorong optimisme pelaku pasar untuk nyemplung di bursa domestik pekan ini.

Sebagai contoh, di awal pekan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan surplus neraca dagang yang ternyata mencatat rekor sepanjang masa. Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga mengatakan, Indonesia mencatat surplus neraca transaksi berjalan sepanjang kuartal I 2022.

Selain itu, kurs Rupiah terhadap Dolar AS juga berhasil bangkit pada pekan ini. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI menunjukkan, nilai tukar Rupiah berhasil menguat 70 poin atau 0,48% ke level Rp14.661 per Dolar AS.

Kabar lainnya, Presiden Joko Widodo juga mengumumkan bahwa pemerintah akan kembali membuka keran ekspor minyak goreng mulai 23 Mei mendatang. Nah, seluruh sentimen di atas diharapkan mampu mendorong ekonomi Indonesia di kuartal ini melaju kencang, seperti yang terjadi pada triwulan lalu.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES