Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Membedah Aspek Keuangan dan Prospek Bank of America
shareIcon

Membedah Aspek Keuangan dan Prospek Bank of America

18 Jul 2023, 4:47 AM·Waktu baca: 9 menit
shareIcon
Kategori
Bank of America

Bank of America dikenal sebagai salah satu "raja" keuangan di AS. Lantas, seperti apa keuangan dan prospek sahamnya ke depan?

Profil Bank of America

Bank of America (BofA/$BAC) adalah salah satu lembaga keuangan terkemuka di dunia yang melayani jasa intermediasi ke konsumen perorangan, bisnis kecil dan menengah, serta perusahaan besar. Selain itu, perusahaan juga menyediakan berbagai produk dan layanan perbankan, investasi, pengelolaan aset, hingga manajemen risiko. 

Perusahaan ini melayani sekitar 68 juta konsumen di lebih dari 35 negara dan memiliki 15.000 mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Perusahaan juga melayani perbankan digital yang telah mendapatkan penghargaan dengan sekitar 56 juta pengguna digital terverifikasi.

Deposit Bank of America
Rata-rata Deposit Bank of America di berbagai lini bisnis, Sumber: Bank of America (2023)

Bank of America memiliki delapan segmen bisnis utama, yakni:

  1. Consumer Banking: Meliputi bisnis Deposito dan Pemberian Kredit Konsumen, menyediakan berbagai produk dan layanan kredit, perbankan, dan investasi kepada konsumen dan bisnis.
  2. Global Wealth & Investment Management: Terdiri dari Merrill Lynch Global Wealth Management dan U.S. Trust, Bank of America Private Wealth Management, menawarkan struktur kekayaan, manajemen investasi, trust dan kebutuhan perbankan, serta layanan manajemen aset khusus.
  3. Global Banking: Termasuk Global Corporate Banking, Global Commercial Banking, Business Banking, dan Global Investment Banking, menyediakan produk dan layanan terkait pinjaman, manajemen modal kerja terintegrasi, solusi keuangan dan perbendaharaan, serta layanan penjaminan dan penasehatan.
  4. Global Markets: Menawarkan penjualan dan perdagangan, market-making, pembiayaan, penyelesaian dan penitipan efek, serta layanan manajemen risiko secara global.
  5. Other: Meliputi aktivitas ALM (Asset and Liability Management), investasi ekuitas, bisnis kartu konsumen internasional, bisnis yang sedang dilikuidasi, alokasi biaya residual, dan lainnya.

Baca Juga: Pluang Insight: Meski Lalui Jalan Berduri, Grab Yakin Cetak Laba Tahun Ini

Tesis Investasi

BAC Punya Posisi Neraca Keuangan Kuat, Lebih Aman dibandingkan Bank Lainnya

Di tengah krisis likuiditas yang melanda bank-bank AS sejak awal tahun, banyak investor cenderung menjauhi saham-saham perbankan.

Namun, tidak demikian dengan Bank of America yang memiliki fundamental kuat. Salah satu alasan atas hal tersebut adalah posisi likuiditas yang mantap. 

Per kuartal I 2023, bank ini memiliki komposisi aset US$376 miliar dalam bentuk uang tunai dan setara kas, US$172 miliar dalam surat berharga nilai wajar, US$525 miliar dalam surat berharga yang dipegang hingga jatuh tempo (HTM) ketika disesuaikan dengan nilai wajar. Aset tersebut memiliki total nilai US$1.073 triliun atau 56% dari total simpanan BAC sekitar US$1,9 triliun.

Kondisi aset tersebut sejatinya masih lebih baik dibanding pesaing terdekatnya, JPMorgan Chase & Co. Adapun aset kas dan surat berharga JPM mengambil porsi 55,9% dari total depositnya yakni US$2.561 triliun. Oleh karenanya, Bank of America sebenarnya mengalahkan nama yang dianggap "paling aman" dalam industri perbankan AS dari segi likuiditas.

Aset Likuid Bank of America
Perbandingan  Liquid Asset BofA dan JPMorgan (Dalam US$ miliar), Sumber: SeekingAlpha (2023)

Selain itu, posisi kas Bank of America cukup untuk menghadapi penarikan sebesar US$376 miliar, aliss sekitar 20% dari total deposit bank yang dapat dibayar tanpa harus melakukan penjualan surat berharga. 

Jadi, Bank of America terlihat relatif aman dari perspektif dapat bertahan dari penarikan dana besar-besaran (bank run) dan diharapkan tidak akan bernasib malang seperti SVB Financial (NASDAQ: SIVB) atau Signature Bank (NASDAQ: SBNY).

Kendati punya likuiditas mumpuni, Bank of America sebenarnya juga tengah mendapat ancaman dari kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bank of America secara agresif menginvestasikan deposito berlebih ke dalam surat berharga yang didukung oleh hipotek (mortgage-backed securities) serta obligasi pemerintah AS. Namun, gara-gara kenaikan suku bunga The Fed, Bank of America pasrah mengalami kerugian belum terealisasi dari investasi instrumen pendapatan tetap dengan nilai lebih dari US$100 miliar. Sialnya, kerugian ini pun terbilang lebih besar dibanding bank-bank lainnya.

Investor mulai memusatkan perhatian pada hal tersebut sejak Silicon Valley Bank dinyatakan gagal pada Maret 2023. Terlebih, salah satu penyebab kegagalan bank tersebut adalah penjualan surat berharganya untuk memenuhi permintaan penarikan dana. 

Untungnya, Bank of America tidak mengalami penarikan tidak biasa pada kuartal I 2023 dan karena itu tidak mungkin melaporkan tren deposito yang abnormal pada kuartal berikutnya. Sehingga, Bank of America tidak perlu menjual obligasi HTM lantaran punya likuiditas yang lebih dari cukup. 

Kerugian Belum Terealisasi Bank of America
Keuntungan/(Kerugian) tidak terealisasi portofolio obligasi perbankan AS (2008-22), Sumber: SeekingAlpha (2023)

Selain itu, Bank of America baru saja lolos uji tekanan (Stress Test) The Fed, yang berarti bank tersebut dinilai regulator memiliki modal cukup dalam menghadapi potensi resesi parah.

Dengan kata lain, Bank of America tidak memiliki alasan apa pun pada kuartal II 2023 untuk melikuidasi sebagian dari portofolio obligasinya yang berujung pada kerugian penilaian.

Pertumbuhan Dividen Konsisten

Stress Test tahunan yang dilakukan The Fed menunjukkan bahwa lembaga keuangan terbesar, termasuk Bank of America, memiliki modal cukup untuk menghadapi kemerosotan ekonomi yang tajam. Ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk melakukan pembelian kembali saham dan tetap bisa menyalurkan dividen kepada pemegang saham. 

Bahkan, Bank of America nampaknya optimistis untuk membagikan dividen lebih besar. Pasalnya, di 2023, perusahaan mengumumkan rencana untuk meningkatkan dividen saham biasa per kuartal mulai dari kuartal III 2023, dari US$0,22 per saham menjadi US$0,24 per saham. Meski memang, pengumuman ini agak tertunda dibanding bank lainnya karena perusahaan masih perlu berdiskusi dengan The Fed untuk memahami perbedaan hasil Stress Test bank sentral dan hasil uji tekanan perusahaan secara mandiri.

Namun, dengan dividen tahunan baru sebesar US$0,96 per saham, atau US$0,24 per kuartal, maka artinya perusahaan sukses menggembungkan pembagian dividennya secara konsisten dalam sembilan tahun terakhir.

Pada 2014, Bank of America menyalurkan dividen tahunan US$0,12 per lembar. Jika memang dividen perusahaan menyentuh US$0,96 per lembar di tahun ini, maka artinya nilai dividen tersebut telah mekar tujuh kali lipat dalam kurun sembilan tahun terakhir.

Pertumbuhan Dividen Bank of America
Pertumbuhan Dividen Bank of America

Di samping itu, angka dividen tahunan sebesar US$0,96 tersebut akan membuat investor mendapatkan dividen dengan rasio imbal hasil saham, atau rasio antara dividen per harga saham, sebesar 3,36% atau jauh lebih tinggi dibanding milik pesaingnya JPMorgan yakni 2,9% dan Wells Fargo & Company (WFC) sebesar 3,27%. Menariknya, angka rasio imbal hasil tersebut adalah angka tertinggi yang ditorehkan perusahaan setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Kendati demikian, tetap saja ada hal yang perlu dikritisi dari aspek dividen yang dibagikan perusahaan sejauh ini.

Apabila dilihat dari sisi dividend payout ratio, BAC rupanya membagikan dividen sebesar 26,3% dari laba bersih pada kuartal I 2023, atau lebih rendah dari rata-rata pelaku industri perbankan lainnya, seperti yang terlihat dari gambar berikut:

Pembagian Dividen Bank of America
Perbandingan dividend payout ratio BAC, sumber: fullratio.com (2023)

Di samping itu, tingkat pertumbuhan dividen yang dibagikan perusahaan juga menurun dari waktu ke waktu. Meski demikian, Bank of America masih bisa membukukan rata-rata pertumbuhan dividen sebesar 11,4% dalam lima tahun terakhir atau lebih baik dari median sektornya yakni 7,39%.

Sumber Dana Pihak Ketiga yang Terdiversifikasi

Tidak seperti bank-bank yang terjerumus ke krisis likuiditas di awal tahun ini, Bank of America memiliki basis Dana Pihak Ketiga (DPK( yang sangat terdiversifikasi di seluruh dunia. 

Sebagai buktinya, perusahaan bertanggung jawab atas 36 juta rekening cek dengan nilai simpanan lebih dari US$600 miliar. Tak ketinggalan, Bank of America juga menyimpan simpanan bernilai miliaran yang bersumber dari perusahaan-perusahaan dan industri besar di sejumlah negara.

DPK Bank of America
Diversifikasi deposito Bank of America, Sumber: Bank of America

Hanya saja, angka DPK Bank of America kemungkinan akan tertekan di kuartal II 2023. Namun, investor sepatutnya memandang hal ini sebagai isu jangka pendek semata. Pasalnya, dengan memiliki sumber DPK yang terdiversifikasi, Bank of America memiliki likuiditas yang sangat kokoh untuk menjalankan fungsi intermediasinya.

Tren Deposit Bank of America
Tren deposito Bank of America, Sumber: Bank of America

Rencana Ekspansi Bank of America

Rencana Ekspansi bank of America
Kehadiran Pusat Keuangann Bank of America di AS, sumber: Bank of America (2023)

Bank of America telah mengumumkan rencana ekspansi ambisiusnya untuk membuka jaringan pusat keuangan baik di pasar baru maupun pasar yang sudah dijamah sebelumnya. Melalui ekspansi ini, perusahaan berniat memberikan layanan dan solusi perbankan, investasi, pensiun, pinjaman, dan bisnis kecil kepada lebih banyak klien dan komunitas. 

Sebagai contohnya. Di 2023, perusahaan akan memulai ekspansi ritel di negara bagian Nebraska, Wisconsin, Alabama, dan Louisiana. Alasannya, nasabah yang terdapat di negara-negara bagian tersebut masih mengunjungi pusat-pusat keuangan untuk mendapatkan pelayanan jasa keuangan secara tatap muka. 

Rencana ini menguatkan komitmen Bank of America untuk menyesuaikan jasa perbankannya sesuai dengan kebutuhan pelanggan di wilayah-wilayah tersebut. 

Baca Juga: Pluang Insight: Bisnis Lesu di Kuartal Lalu, Alibaba Siap Buat Gebrakan Baru!

Mengulas Aspek Finansial BAC

Pendapatan

Secara historis, Bank of America berhasil membukukan rata-rata pertumbuhan pendapatan sebesar 1,68% secara tahunan selama lima tahun terakhir. Bahkan, perusahaan sukses membukukan pendapatan US$94,93 miliar di 2022 atau tumbuh 6,46% dibanding tahun sebelumnya.

Pertumbuhan cemerlang ini didorong oleh meningkatnya pendapatan bunga bersih perusahaan (NII) dari US$9,5 miliar di 2021 menjadi US$52,5 miliar di 2022. Maklum, dalam kurun waktu tersebut, The Fed sedang mengerek tingkat suku bunga acuannya dengan agresif sehingga perusahaan pun mampu membukukan pendapatan bunga yang lebih berkilau.

Pertumbuhan pendapatan bank of America
Pendapatan Bank of America

Selain meraup pendapatan dari bunga pinjaman, Bank of America juga meraih pendapatan dari berbagai aktivitas seperti investment banking, biaya layanan, market making, layanan investasi dan lain-lainnya.

Kendati begitu, Bank of America masih memiliki margin bunga bersih sebesar 2,53% di kuartal I 2023, atau lebih kecil dibanding bank-bank lainnya dengan aset di bawah US$1 Triliun.

Margin Bunga Bersih Bank of America
Margin Bunga Bersih Bank of America

Laba Bersih

Bank of America boleh berbangga diri lantaran mencetak pertumbuhan pendapatan mumpuni. Namun, kondisi serupa nyatanya tidak terjadi di aspek labanya.

Pada 2022, perusahaan menorehkan laba US$26,95 miliar alias melorot 12,3% dari rekor tertingginya di 2021 akibat peningkatan biaya kredit.

Laba Bank of America
Laba Bank of America

Valuasi dan Prospek Perusahaan

Prospek Perusahaan

Di 2023, pertumbuhan pendapatan Bank of America diprediksi akan menurun 6,03% ke US$100.66 miliar dan akan sedikit membaik di 2024. Proyeksi itu muncul setelah penyaluran kredit perusahaan diramal akan terus tiarap hingga Juni 2024 lantaran meningkatnya suku bunga kredit, sehingga penerimaan bunga yang diterima perusahaan pun akan menyusut.

Proyeksi Bank of America
Proyeksi Bank of America

Kemudian, perusahaan juga diramal akan mencetak laba US$25,64 miliar di 2024 atau turun dari estimasi 2023 yakni US$27,18 miliar di 2023. Adapun biang keladinya adalah meningkatnya biaya dana seiring ketatnya kompetisi di antara pelaku sektor perbankan untuk menggaet sumber pendanaan dari DPK.

Valuasi

Data Bloomberg menunjukkan bahwa valuasi perusahaan dari segi rasio harga saham terhadap buku (P/B) per 12 Juli 2023 berada di 0,9x, alias lebih rendah dari reratanya selama lima tahun terakhir di 1,2x. Dengan demikian, valuasi Bank of America sejatinya masih lebih “murah”  11% dibanding rata-rata industri.

Sementara itu, analis sendiri menganggap bahwa valuasi wajar Bank of America berada di 1,17x, sehingga mereka pun mengganjar saham perusahaan dengan rating BUY lantaran terdapat potensi keuntungan sebesar 23,1%.

Baca Juga: Pluang Insight: Tinggal Sejengkal Lagi, Grab Siap Lolos dari Jeratan Rugi

Risiko Bank of America

Bank of America adalah perusahaan jasa keuangan terbesar kedua di AS. Namun, terdapat beberapa risiko yang semestinya patut menjadi perhatian investor ketika ingin membenamkan dana di saham perusahaan.

1. Pengaruh Kebijakan The Fed

Sejak 2022, The Fed terus mengerek suku bunga acuannya demi meredam inflasi AS yang semakin liar. Bahkan, kebijakan itu diramal akan berlanjut di 2023 setelah The Fed memberi sinyal akan mengerek suku bunga acuan sebanyak dua kali lagi.

Hanya saja, kenaikan suku bunga acuan dapat menurunkan nilai instrumen berpendapatan tetap, utamanya obligasi pemerintah. Pasalnya, The Fed tentu akan melakukan penjualan surat berharga agar bisa mengerek suku bunga acuannya.

Implikasinya, jika nilai instrumen berpendapatan tetap yang dimiliki Bank of America menurun, maka likuiditas bank juga akan terpengaruh.

2. Profitabilitas yang Lebih Rendah

Laporan Bank of America pada kuartal I 2023 menunjukkan peningkatan signifikan dalam posisi kas setelah menjual surat berharganya. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan diri untuk kemunculan potensi penarikan simpanan lebih lanjut.

Di satu sisi, peningkatan posisi kas ini adalah hal yang positif dari segi pengelolaan risiko. Namun di sisi lain, hal ini juga mengindikasikan bahwa Bank of America punya lebih sedikit uang tunai yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan kata lain, Bank of America sedang melakukan mitigasi risiko yang sayangnya harus mengorbankan profitabilitas jangka pendeknya.

Hanya saja, Bank of America selama ini memang dikenal sebagai bank yang konservatif, sehingga investor harusnya menganggap wajar langkah tersebut. 

Sementara itu, upaya ini semestinya juga dianggap positif dari perspektif investasi jangka panjang meski harga saham perusahaan bisa tertahan di tahun ini.

3. Kasus Krisis Likuiditas Perbankan AS yang Semakin Parah

Jika lebih banyak bank regional mengalami kegagalan, maka kemungkinan harga saham BAC akan menurun dalam jangka pendek. Setiap kejadian kegagalan bank besar tahun ini berkorelasi dengan penurunan harga saham bank-bank besar.

4. Risiko Kredit

Risiko kredit muncul ketika peminjam gagal membayar pinjaman mereka. Peningkatan kredit macet dapat berdampak negatif pada keuangan Bank of America dan nilai sahamnya ke depan.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
pluang insight
Pluang Insight: Lahan Virtual, Proyek Menggiurkan atau Bakal Gagal Total?
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1