Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Pelajari

Mengenal Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin
shareIcon

Mengenal Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin

0 dilihat·Waktu baca: 5 menit
shareIcon
Mengenal Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin

Jenis cryptocurrency terbilang banyak. Berdasarkan data Coinmarketcap per 3 Agustus 2021, terdapat hampir 6.000 aset kripto yang terdapat di dunia ini.

Namun, terdapat tiga jenis cryptocurrency yang Sobat Cuan perlu pahami ketika mempelajari jagat kripto: Bitcoin, Ethereum, dan koin alternatif yang disebut Altcoin.

Bitcoin (BTC)

Bitcoin adalah cryptocurrency pertama dan pelopor inovasi dari segala macam aset kripto yang hadir setelahnya. Berikut adalah fitur-fitur inti yang dimiliki Bitcoin.

  1. Persediaan terbatas, hanya 21 juta keping. Tidak seperti uang fiat, misalnya Dolar AS yang bisa dicetak oleh bank sentral AS The Fed, persediaan Bitcoin terbilang tetap berkat algoritma yang dimilikinya. Imbalan bagi penambang Bitcoin (block rewards) pun ikut merosot setengah setelah mereka selesai menambang 210.000 blok transaksi, yang biasanya terjadi setiap empat tahun sekali, dalam fenomena yang disebut sebagai halvening. Sejauh ini, sudah terdapat empat kali halvening sejak Bitcoin diluncurkan 2009 silam.
  2. Aman. Sejauh ini, tidak ada seorang pun yang mampu meretas jaringan blockchain Bitcoin. Untuk bisa meretasnya, sang peretas perlu mengumpulkan 51% dari seluruh kekuatan hash di jaringan blockchain atau dikenal dengan nama serangan Sybil (Sybil Attack). Jika peretas sukses melakukan serangan tersebut, maka mereka bisa memvalidasi transaksi ilegal mereka di teknologi blockchain.
    Namun, kini risiko serangan tersebut hampir tidak mungkin terjadi mengingat keping-keping Bitcoin telah terdistribusi secara luas. Hal ini merupakan contoh dari efek jaringan (network effect), di mana kualitas sebuah produk akan semakin baik seiring banyaknya orang mengadopsi produk tersebut.
  3. Punya likuiditas dan kapitalisasi pasar terbesar di antara seluruh cryptocurrency. Sebagai aset kripto pertama dan populer, tak heran jika Bitcoin punya kapitalisasi pasar terbesar di jagat kripto. Kapitalisasi pasar Bitcoin sempat menyentuh di atas US$1 triliun dan selalu mengambil porsi 30% dari seluruh kapitalisasi pasar cryptocurrency. Biasanya, kondisi tersebut menandakan bahwa Bitcoin adalah koin yang sering berpindah tangan (likuid) dan memiliki fluktuasi harga lebih rendah dibanding aset kripto lainnya.
    Karena karakteristik tersebut, Bitcoin bisa diturunkan ke dalam produk derivatif misalnya kontrak opsi, kontrak berjangka, dan produk lainnya. Bitcoin juga bisa disebut sebagai aset yang gampang dipertukarkan (reserve asset) di golongan aset kripto. Contohnya, investor hanya perlu menempatkan uang di Bitcoin hanya untuk mendapatkan eksposur dari keseluruhan pasar aset kripto.

Namun, Bitcoin juga punya beberapa kelemahan, di antaranya:

  1. Skalabilitas transaksi rendah. Teknologi blockchain Bitcoin hanya bisa memproses 4,6 transaksi per detik, sementara perusahaan pembayaran VISA bisa memproses lebih dari 1.700 transaksi di rentang waktu yang sama. Kondisi tersebut membuat Bitcoin sulit dijadikan sebagai medium pembayaran.
  2. Tidak dilengkapi fitur smart contract. Sebagai pelopor cryptocurrency, teknologi blockchain Bitcoin hanya mampu digunakan untuk transfer nilai. Sehingga, ia tidak punya fungsi lain yang dibutuhkan pengguna agar bisa mengeksekusi smart contract.
  3. Boros energi. Di dalam operasinya, blockchain Bitcoin menggunakan algoritma konsensus yang disebut Proof-of-Work, di mana masing-masing penambang saling berkompetisi untuk memecahkan teka-teki kriptografi atau soal matematika demi memvalidasi transaksi dan mendapatkan imbalan berupa kepingan Bitcoin. Sayangnya, kegiatan itu membutuhkan energi listrik yang besar, bahkan jumlahnya setara dengan kebutuhan listrik Finlandia setiap tahunnya.

Ethereum

Bitcoin boleh saja didapuk sebagai pionir cryptocurrency dan menyandang status sebagai koin terpopuler. Namun, tetap saja teknologinya masih memiliki beberapa kekurangan. Untuk menutup kekurangan tersebut, Vitalik Buterin menciptakan teknologi Ethereum pada 2013 silam.

Dikutip dari whitepaper-nya, Ethereum bertujuan untuk membangun sebuah “Kontrak Pintar bagi Generasi Mendatang dan Menjadi Platform Aplikasi Desentralisasi“.

Beberapa manfaat Ethereum antara lain:

  1. Menekankan posisi sebagai platform. Ketika Bitcoin bertujuan menjadi mata uang yang bisa digunakan sebagai medium pembayaran, Ethereum memilih untuk menjadi platform yang dapat mengatur smart contract, sebuah fitur yang mampu meningkatkan kegunaan teknologi blockchain. Sebagai analoginya, Sobat Cuan bisa membayangkan bahwa Ethereum adalah platform blockchain yang berfungsi layaknya App Store atau Android App Store, sementara Bitcoin memiliki karakteristik layaknya komoditas seperti emas atau aset penyimpan nilai lainnya. Untuk penjelasan lebih mudahnya lagi, Sobat Cuan juga bisa menyimak contoh berikut. Anggap saja kamu ingin menciptakan aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk bertaruh mengenai hasil pertandingan olahraga, misalnya final liga basket NBA. Kamu tidak bisa membuat aplikasi itu di atas jaringan Bitcoin. Namun, dengan menggunakan Ethereum, kamu bisa menciptakan aplikasi berbasis smart contract, di mana penggunanya bisa bertaruh sebelum pertandingan itu dimulai. Ketika pertandingan itu selesai, smart contract kemudian akan memanfaatkan teknologi bernama oracle, seperti Chainlink (LINK), untuk memindai situs yang menamplikan hasil pertandingan final NBA, misalnya ESPN.com, dalam mencari pemenang liga tersebut. Setelah hasil pertandingan tersebut diverifikasi, teknologi smart contract kemudian akan memberikan hadiah kepada pengguna yang telah menebak pemenang final liga NBA dengan jitu.Karena karakteristik tersebut, Ethereum bisa menciptakan ekosistem aplikasi, di mana masing-masing aplikasi tersebut punya cryptocurrency-nya tersendiri dan seluruhnya berjalan di atas teknologi Ethereum.
  2. Menekankan pada kecepatan transaksi. Teknologi blockchain Bitcoin menekankan pada keamanan ketimbang kecepatan transaksi. Ethereum mampu memproses banyak transaksi kurang dari 20 detik (dengan asumsi tanpa ada hambatan), sementara Bitcoin membutuhkan 10 menit untuk melakukan hal serupa.
  3. Persediaan koin tidak terbatas. Jumlah Bitcoin di dunia ini terbatas hanya 21 juta keping saja. Di sisi lain, jumlah pasokan Ethereum tidak dibatasi sama sekali. Meski demikian, laju produksi keping-keping ETH baru terus menurun antar periode.

Karena kegunaan dan manfaatnya, pengguna jaringan Ethereum dan jaringan ERC-20 telah meningkat drastis antar tahun. Bahkan, di 2021, jumlah penggunanya telah melebihi rekor yang dicetak sebelumnya pada 2018.

 

Namun kini, Ethereum tengah mengalami masalah yang disebut dengan kemacetan jaringan (network congestion) dan ongkos transaksi yang kian mahal. Karena biaya penggunaan jaringan Ethereum (yang dikenal dengan gas fees) dibayar menggunakan ETH, maka kenaikan harga koin itu secara otomatis juga akan mengerek biaya transaksi di jaringan tersebut. Seluruh masalah tersebut akan terselesaikan jika nanti organisasi Ethereum telah memperbarui jaringan menjadi Ethereum 2.0.

Altcoins

Perilisan Ethereum telah menginspirasi komunitas kripto untuk merilis koin dan token lainnya. Seluruh aset digital ini kemudian dianggap sebagai alternatif dari cryptocurrency pertama, yakni Bitcoin, sehingga mereka kemudian dinamakan sebagai altcoins. Karena altcoins adalah koin selain Bitcoin, maka Ethereum pun secara otomatis juga masuk ke dalam golongan altcoins.

Altcoin hadir dalam berbagai bentuk dan menyediakan banyak fungsi. Beberapa koin memiliki ambisi besar seperti Ethereum, sementara koin lainnya memiliki fungsi khusus. Bahkan, beberapa koin malah memanfaatkan infrastruktur yang disediakan oleh koin lainnya. Sebagai contoh, platform tukar-menukar cryptocurrency terdesentralisasi seperti Uniswap memanfaatkan blockchain ERC-20 milik Ethereum dan bertindak selayaknya aplikasi di atas jaringan Ethereum. Kondisi ini mirip seperti sebuah aplikasi Android yang berada di atas Google Playstore.

Meski tidak ada cara yang baku untuk mengkategorikannya, jenis-jenis altcoin bisa dikelompokkan sesuai fungsi dan ekosistemnya. Sobat Cuan bisa menuju tautan berikut untuk mengenal lebih jauh 29 Altcoins yang ada di aplikasi Pluang.

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
1.

Apakah Aset Kripto Legal di Indonesia?

card-image
2.

Blockchain, Bitcoin, dan Aset Kripto Lainnya

card-image
3.

Mengenal 29 Jenis Altcoin di Pluang

card-image
4.

Kinerja Kripto Sebagai Kelas Aset

card-image
5.

Alasan & Risiko Berinvestasi Aset Kripto

card-image
6.

7 Faktor yang Mempengaruhi Harga Aset Kripto

card-image
7.

2 Strategi Utama Investasi Aset Kripto

card-image
8.

Mengenal Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin

card-image

Pelajari Materi Lainnya

cards
Pemula
Diversifikasi 101

Salah satu konsep penting dalam investasi adalah...

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1