Berita & Analisis
Right Issue Saham: Dampak ke Investor, Risiko, dan Aturan OJK 2026

Right issue adalah aksi korporasi berupa penawaran umum terbatas, di mana perusahaan menerbitkan saham baru dan menawarkannya lebih dulu kepada pemegang saham yang sudah tercatat sebelum ditawarkan ke publik luas. Istilah resminya di Indonesia adalah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Setiap pemegang saham lama mendapat "hak" untuk membeli saham baru dalam rasio tertentu — misalnya rasio 3:1 berarti setiap 1 lembar saham lama memberi hak membeli 3 lembar saham baru.
Mekanisme ini berbeda dari IPO karena bukan penawaran ke publik baru, melainkan penawaran tambahan khusus untuk pemegang saham existing. Perusahaan biasanya melakukan right issue untuk menghimpun dana segar tanpa harus berutang — misalnya untuk ekspansi bisnis, membayar utang, atau memperkuat modal kerja.
Proses right issue umumnya berjalan melalui beberapa tahap berikut:
Bagi pemegang saham lama, right issue membawa dua dampak yang saling bertolak belakang, tergantung keputusan yang diambil:
Sementara itu, bagi investor yang belum memegang saham perusahaan sebelum recording date, right issue tidak memberikan hak apa pun secara otomatis. Ada dua cara tidak langsung bagi calon investor untuk tetap terlibat: pertama, membeli saham sebelum cum date — jika investor membeli saham sebelum tanggal cum date, ia otomatis ikut mendapatkan HMETD sesuai jumlah saham yang dimiliki; kedua, membeli HMETD di pasar — selama periode perdagangan HMETD berlangsung, hak tersebut bisa diperjualbelikan secara terpisah di bursa, sehingga investor baru pun bisa membeli HMETD untuk kemudian dieksekusi menjadi saham baru dengan harga diskon.
Yang perlu diperhatikan calon investor: harga saham biasanya menyesuaikan turun secara teoritis setelah ex-date right issue karena jumlah saham beredar bertambah — ini bukan tanda perusahaan sedang bermasalah, melainkan penyesuaian matematis akibat penambahan saham baru yang dikenal sebagai efek dilusi harga teoritis.
Saat HMETD masuk ke portofolio, setiap investor punya tiga opsi berbeda dengan konsekuensi masing-masing.
Investor membayar harga pelaksanaan untuk membeli saham baru sesuai rasio yang dimiliki. Opsi ini cocok jika investor percaya pada prospek jangka panjang perusahaan dan ingin mempertahankan persentase kepemilikannya tanpa terdilusi. Konsekuensinya, investor perlu menyiapkan dana tambahan di luar modal awal.
Jika investor tidak ingin menambah dana namun tetap ingin mendapat kompensasi, HMETD bisa dijual selama periode perdagangannya berlangsung. Investor memperoleh dana tunai dari penjualan hak tersebut, namun tetap mengalami dilusi kepemilikan karena tidak menambah saham baru.
Opsi ini adalah yang paling merugikan secara finansial karena investor tidak mendapatkan apa pun — baik saham baru maupun dana kompensasi — sementara kepemilikannya tetap terdilusi. HMETD yang tidak dieksekusi maupun dijual hingga batas waktu akan hangus tanpa nilai.
Misalnya, Sobat Cuan memiliki 1.000 lembar saham PT Contoh Tbk dengan harga pasar Rp2.000 per lembar. Perusahaan mengumumkan right issue dengan rasio 1:2 pada harga pelaksanaan Rp1.000 per lembar.
Contoh ini menunjukkan mengapa memahami TERP penting sebelum memutuskan opsi mana yang akan diambil saat right issue diumumkan.
Ada beberapa alasan strategis yang mendorong perusahaan menerbitkan right issue, dan memahami alasan ini penting bagi investor sebelum menentukan sikap terhadap haknya:
Investor yang jeli membaca alasan di balik right issue — apakah untuk pertumbuhan produktif atau sekadar menambal kondisi keuangan yang lemah — akan lebih siap menilai apakah melaksanakan haknya sepadan dengan risiko dilusi yang harus ditanggung.
Right issue bukan tanpa risiko bagi investor. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan:
Investasi saham, termasuk saat menyikapi right issue, tetap mengandung risiko fluktuasi harga. Sobat Cuan disarankan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren pasar atau ikut-ikutan investor lain tanpa memahami rencana penggunaan dananya.
Sebagai langkah kehati-hatian tambahan, ada baiknya investor membandingkan valuasi perusahaan sebelum dan sesudah right issue menggunakan rasio seperti PBV (Price to Book Value) dan PER / PE Ratio. Jika valuasi pasca right issue menjadi jauh lebih murah dibanding rata-rata sektor sejenis tanpa alasan fundamental yang jelas, itu bisa menjadi sinyal bahwa pasar meragukan efektivitas penggunaan dana hasil right issue tersebut.
Di Indonesia, right issue diatur secara ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK Nomor 32 Tahun 2015 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Aturan ini mewajibkan perusahaan terbuka untuk:
Selain itu, seluruh jadwal dan mekanisme perdagangan HMETD berlangsung melalui sistem resmi Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX), sehingga transparansi harga dan proses pelaksanaannya dapat dipantau publik secara real-time.
Untuk investor yang ingin memantau pengumuman corporate action seperti right issue secara langsung, Pluang menyediakan akses ke 950+ saham Indonesia dalam satu ekosistem multi-aset yang sama dengan saham AS, crypto, emas digital, dan reksa dana. Berikut langkah praktis menyikapi right issue di Pluang:
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tidak. Right issue bersifat opsional — investor bebas memilih untuk melaksanakan hak, menjual hak, atau membiarkannya kedaluwarsa. Namun perlu diingat bahwa membiarkan hak kedaluwarsa berarti kehilangan potensi kompensasi sekaligus tetap mengalami dilusi kepemilikan.
Stock split memecah saham yang sudah ada menjadi jumlah lembar lebih banyak tanpa menambah modal perusahaan, sehingga tidak ada dana baru yang masuk. Right issue justru menerbitkan saham baru dan menghimpun dana segar dari investor yang melaksanakan haknya.
Penurunan harga secara teoritis terjadi karena jumlah saham beredar bertambah sementara nilai perusahaan (secara proporsional) terbagi ke lebih banyak lembar saham. Ini dihitung melalui mekanisme TERP dan bukan berarti fundamental perusahaan memburuk.
Umumnya periode perdagangan HMETD berlangsung sekitar 5 hingga 10 hari bursa, sesuai jadwal yang diumumkan dalam prospektus masing-masing perusahaan. Jadwal pasti dapat dicek melalui keterbukaan informasi di BEI.
Bisa. Investor dapat membagi haknya — misalnya melaksanakan sebagian HMETD untuk menambah saham, dan menjual sisanya di pasar untuk memperoleh dana tunai, selama masih dalam periode perdagangan yang ditentukan.
Right issue yang berulang tanpa disertai perbaikan kinerja bisa menjadi sinyal peringatan bagi investor, karena berpotensi menandakan perusahaan terus membutuhkan modal segar dari pasar. Investor disarankan meninjau riwayat corporate action dan laporan keuangan perusahaan sebelum memutuskan.
Keputusan pembagian dividen tetap ditentukan melalui RUPS dan tidak otomatis terhenti karena right issue. Namun, karena jumlah saham beredar bertambah, nilai dividen per lembar berpotensi lebih kecil dibanding sebelum right issue jika total dividen yang dibagikan tidak meningkat proporsional.
Secara teori tidak wajar, karena nilai HMETD idealnya mencerminkan selisih antara harga pasar saham dan harga pelaksanaan right issue. Namun dalam kondisi pasar yang kurang likuid atau spekulatif, harga HMETD di pasar sekunder tetap bisa bergerak tidak proporsional dalam jangka pendek, sehingga investor perlu berhati-hati sebelum membeli HMETD hanya berdasarkan pergerakan harga sesaat.
Right issue adalah aksi korporasi yang memberi peluang sekaligus risiko bagi investor: peluang menambah saham dengan harga diskon, namun risiko dilusi kepemilikan jika hak tidak dimanfaatkan. Kunci menyikapi right issue dengan tepat adalah memahami rasio, menghitung TERP, membaca rencana penggunaan dana dalam prospektus, dan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko serta tujuan investasi jangka panjang — bukan sekadar bereaksi terhadap pergerakan harga jangka pendek.
Bagi investor pemula, langkah paling aman adalah tidak terburu-buru mengambil keputusan begitu notifikasi right issue muncul. Luangkan waktu membaca prospektus resmi, bandingkan rasio dan harga pelaksanaan dengan harga pasar terkini, lalu diskusikan dengan penasihat keuangan berlisensi jika ragu. Dengan pemahaman yang matang, right issue bisa menjadi peluang menambah portofolio dengan biaya lebih efisien, bukan sekadar sumber kebingungan saat notifikasi masuk ke akun sekuritas.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


