ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Berita & Analisis
Right Issue Saham: Dampak ke Investor, Risiko, dan Aturan OJK 2026
shareIcon

Right Issue Saham: Dampak ke Investor, Risiko, dan Aturan OJK 2026

10 Jul 2026, 2:53 PM
·
Waktu baca: 8 menit
shareIcon
right-issue-saham-dampak-investor
Right issue adalah aksi korporasi di mana perusahaan menawarkan saham baru kepada pemegang saham lama dengan harga diskon, secara proporsional sesuai jumlah saham yang sudah dimiliki. Bagi investor, dampak paling langsung dari right issue adalah potensi dilusi kepemilikan jika hak tersebut tidak digunakan, di samping peluang menambah saham dengan harga lebih murah dari pasar. Artikel ini membahas cara kerja right issue, tiga pilihan yang tersedia bagi investor, cara menghitung dampaknya terhadap portofolio, serta aturan OJK yang mengaturnya di Indonesia.

Apa Itu Right Issue?

Right issue adalah aksi korporasi berupa penawaran umum terbatas, di mana perusahaan menerbitkan saham baru dan menawarkannya lebih dulu kepada pemegang saham yang sudah tercatat sebelum ditawarkan ke publik luas. Istilah resminya di Indonesia adalah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Setiap pemegang saham lama mendapat "hak" untuk membeli saham baru dalam rasio tertentu — misalnya rasio 3:1 berarti setiap 1 lembar saham lama memberi hak membeli 3 lembar saham baru.

Mekanisme ini berbeda dari IPO karena bukan penawaran ke publik baru, melainkan penawaran tambahan khusus untuk pemegang saham existing. Perusahaan biasanya melakukan right issue untuk menghimpun dana segar tanpa harus berutang — misalnya untuk ekspansi bisnis, membayar utang, atau memperkuat modal kerja.

Bagaimana Mekanisme Right Issue Bekerja?

Proses right issue umumnya berjalan melalui beberapa tahap berikut:

  1. Pengumuman rencana: Perusahaan mengumumkan rencana right issue melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk rasio, harga pelaksanaan, dan jadwal.
  2. Cum Date: Tanggal terakhir investor bisa membeli saham dan tetap berhak mendapatkan HMETD.
  3. Recording Date: Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima HMETD.
  4. Periode perdagangan HMETD: HMETD masuk ke portofolio investor dan bisa dieksekusi (dibeli) atau dijual di pasar selama periode tertentu, biasanya 5-10 hari bursa.
  5. Pelaksanaan (exercise): Investor yang memilih menggunakan haknya membayar harga pelaksanaan untuk mendapatkan saham baru.
  6. Pencatatan saham baru: Saham baru hasil right issue masuk ke portofolio dan mulai diperdagangkan di pasar reguler.

Apa Dampak Right Issue bagi Investor Lama dan Calon Investor?

Bagi pemegang saham lama, right issue membawa dua dampak yang saling bertolak belakang, tergantung keputusan yang diambil:

  • Jika hak digunakan (exercise): Investor menambah jumlah saham dengan harga di bawah harga pasar, sehingga rata-rata harga beli (average cost) portofolionya bisa turun. Persentase kepemilikan terhadap total saham beredar tetap terjaga, dan investor berpeluang menambah posisi tanpa harus membeli di harga pasar penuh.
  • Jika hak diabaikan atau tidak dieksekusi penuh: Jumlah saham beredar perusahaan bertambah tanpa penambahan saham di sisi investor tersebut, sehingga persentase kepemilikannya terdilusi. Nilai market cap per lembar saham juga menyesuaikan turun secara teoritis pasca right issue, sebuah efek yang dikenal sebagai dilusi saham. Semakin besar rasio right issue, semakin signifikan pula potensi dilusi bagi investor yang tidak berpartisipasi.
  • Jika hak dijual: Investor bisa memperoleh capital gain dari selisih harga HMETD di pasar, sekaligus tetap mengalami dilusi kepemilikan karena tidak menambah saham baru. Strategi ini sering dipilih investor yang tidak memiliki dana tambahan namun tetap ingin memperoleh kompensasi atas haknya.

Sementara itu, bagi investor yang belum memegang saham perusahaan sebelum recording date, right issue tidak memberikan hak apa pun secara otomatis. Ada dua cara tidak langsung bagi calon investor untuk tetap terlibat: pertama, membeli saham sebelum cum date — jika investor membeli saham sebelum tanggal cum date, ia otomatis ikut mendapatkan HMETD sesuai jumlah saham yang dimiliki; kedua, membeli HMETD di pasar — selama periode perdagangan HMETD berlangsung, hak tersebut bisa diperjualbelikan secara terpisah di bursa, sehingga investor baru pun bisa membeli HMETD untuk kemudian dieksekusi menjadi saham baru dengan harga diskon.

Yang perlu diperhatikan calon investor: harga saham biasanya menyesuaikan turun secara teoritis setelah ex-date right issue karena jumlah saham beredar bertambah — ini bukan tanda perusahaan sedang bermasalah, melainkan penyesuaian matematis akibat penambahan saham baru yang dikenal sebagai efek dilusi harga teoritis.

Tiga Pilihan Investor Saat Menerima Right Issue

Saat HMETD masuk ke portofolio, setiap investor punya tiga opsi berbeda dengan konsekuensi masing-masing.

1. Melaksanakan Hak (Exercise)

Investor membayar harga pelaksanaan untuk membeli saham baru sesuai rasio yang dimiliki. Opsi ini cocok jika investor percaya pada prospek jangka panjang perusahaan dan ingin mempertahankan persentase kepemilikannya tanpa terdilusi. Konsekuensinya, investor perlu menyiapkan dana tambahan di luar modal awal.

2. Menjual Hak di Pasar

Jika investor tidak ingin menambah dana namun tetap ingin mendapat kompensasi, HMETD bisa dijual selama periode perdagangannya berlangsung. Investor memperoleh dana tunai dari penjualan hak tersebut, namun tetap mengalami dilusi kepemilikan karena tidak menambah saham baru.

3. Membiarkan Hak Kedaluwarsa

Opsi ini adalah yang paling merugikan secara finansial karena investor tidak mendapatkan apa pun — baik saham baru maupun dana kompensasi — sementara kepemilikannya tetap terdilusi. HMETD yang tidak dieksekusi maupun dijual hingga batas waktu akan hangus tanpa nilai.

Contoh Perhitungan dan Alasan Perusahaan Melakukan Right Issue

Misalnya, Sobat Cuan memiliki 1.000 lembar saham PT Contoh Tbk dengan harga pasar Rp2.000 per lembar. Perusahaan mengumumkan right issue dengan rasio 1:2 pada harga pelaksanaan Rp1.000 per lembar.

  • Sobat Cuan berhak membeli 2.000 lembar saham baru seharga Rp1.000/lembar = Rp2.000.000.
  • Harga teoritis pasca right issue (Theoretical Ex-Rights Price/TERP) dihitung dari rata-rata tertimbang harga lama dan harga baru: ((1.000 x Rp2.000) + (2.000 x Rp1.000)) / 3.000 = Rp1.333 per lembar.
  • Jika Sobat Cuan melaksanakan haknya, total kepemilikan menjadi 3.000 lembar dengan rata-rata harga beli yang lebih rendah, dan persentase kepemilikan tetap terjaga.
  • Jika Sobat Cuan tidak melaksanakan haknya, kepemilikan tetap 1.000 lembar, namun nilai per lembar secara teoritis turun ke Rp1.333 mengikuti TERP, sehingga persentase kepemilikan terhadap total saham beredar mengecil.

Contoh ini menunjukkan mengapa memahami TERP penting sebelum memutuskan opsi mana yang akan diambil saat right issue diumumkan.

Kenapa Perusahaan Melakukan Right Issue?

Ada beberapa alasan strategis yang mendorong perusahaan menerbitkan right issue, dan memahami alasan ini penting bagi investor sebelum menentukan sikap terhadap haknya:

  • Ekspansi bisnis: Dana segar digunakan untuk membuka lini bisnis baru, menambah kapasitas produksi, atau melakukan akuisisi strategis.
  • Restrukturisasi utang: Perusahaan dengan beban utang tinggi bisa menggunakan dana right issue untuk memperbaiki rasio Debt to Equity Ratio (DER) dan menurunkan biaya bunga.
  • Memenuhi ketentuan modal minimum: Beberapa sektor seperti perbankan diwajibkan regulator untuk menjaga rasio kecukupan modal tertentu, dan right issue menjadi salah satu cara tercepat memenuhinya.
  • Menghindari beban bunga pinjaman baru: Dibandingkan menerbitkan obligasi atau mengambil pinjaman bank, right issue tidak membebani perusahaan dengan kewajiban bunga tetap di masa depan.

Investor yang jeli membaca alasan di balik right issue — apakah untuk pertumbuhan produktif atau sekadar menambal kondisi keuangan yang lemah — akan lebih siap menilai apakah melaksanakan haknya sepadan dengan risiko dilusi yang harus ditanggung.

Apa Risiko Right Issue yang Perlu Diwaspadai?

Right issue bukan tanpa risiko bagi investor. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan:

  • Risiko dilusi berkelanjutan: Jika perusahaan sering melakukan right issue tanpa perbaikan kinerja signifikan, kepemilikan investor yang tidak selalu ikut serta akan terus terdilusi dari waktu ke waktu.
  • Risiko penggunaan dana: Investor perlu meninjau prospektus untuk memahami rencana penggunaan dana hasil right issue — apakah untuk ekspansi produktif atau sekadar menutup kewajiban utang.
  • Risiko harga pasar setelah right issue: Harga saham bisa terus bergerak di bawah TERP jika sentimen pasar terhadap rencana perusahaan negatif, sehingga investor yang melaksanakan haknya berpotensi mengalami kerugian di atas kertas dalam jangka pendek.
  • Fluktuasi harga HMETD: Harga HMETD di pasar bisa sangat fluktuatif dan kurang likuid dibanding saham utamanya, sehingga menjual hak tidak selalu mendapat harga optimal.

Investasi saham, termasuk saat menyikapi right issue, tetap mengandung risiko fluktuasi harga. Sobat Cuan disarankan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren pasar atau ikut-ikutan investor lain tanpa memahami rencana penggunaan dananya.

Sebagai langkah kehati-hatian tambahan, ada baiknya investor membandingkan valuasi perusahaan sebelum dan sesudah right issue menggunakan rasio seperti PBV (Price to Book Value) dan PER / PE Ratio. Jika valuasi pasca right issue menjadi jauh lebih murah dibanding rata-rata sektor sejenis tanpa alasan fundamental yang jelas, itu bisa menjadi sinyal bahwa pasar meragukan efektivitas penggunaan dana hasil right issue tersebut.

Bagaimana Regulasi Right Issue di Indonesia?

Di Indonesia, right issue diatur secara ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Peraturan OJK Nomor 32 Tahun 2015 tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Aturan ini mewajibkan perusahaan terbuka untuk:

  • Mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebelum melaksanakan right issue.
  • Mempublikasikan prospektus lengkap yang menjelaskan rasio, harga pelaksanaan, jadwal, dan rencana penggunaan dana.
  • Memberikan periode yang cukup bagi pemegang saham lama untuk memutuskan opsi yang akan diambil.

Selain itu, seluruh jadwal dan mekanisme perdagangan HMETD berlangsung melalui sistem resmi Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX), sehingga transparansi harga dan proses pelaksanaannya dapat dipantau publik secara real-time.

Cara Memantau dan Menyikapi Right Issue di Pluang

Untuk investor yang ingin memantau pengumuman corporate action seperti right issue secara langsung, Pluang menyediakan akses ke 950+ saham Indonesia dalam satu ekosistem multi-aset yang sama dengan saham AS, crypto, emas digital, dan reksa dana. Berikut langkah praktis menyikapi right issue di Pluang:

  1. Pantau notifikasi corporate action pada saham yang Sobat Cuan miliki melalui aplikasi Pluang.
  2. Baca ringkasan prospektus right issue, termasuk rasio dan harga pelaksanaan.
  3. Hitung dampak dilusi dan TERP menggunakan contoh perhitungan seperti di atas.
  4. Tentukan pilihan — melaksanakan hak, menjual hak, atau membiarkannya — sebelum periode HMETD berakhir.
  5. Pantau pergerakan harga saham pasca right issue melalui fitur charting dan Screeners di Pluang untuk mengevaluasi kinerja portofolio.

Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah investor wajib mengikuti right issue?

Tidak. Right issue bersifat opsional — investor bebas memilih untuk melaksanakan hak, menjual hak, atau membiarkannya kedaluwarsa. Namun perlu diingat bahwa membiarkan hak kedaluwarsa berarti kehilangan potensi kompensasi sekaligus tetap mengalami dilusi kepemilikan.

Apa bedanya right issue dengan stock split?

Stock split memecah saham yang sudah ada menjadi jumlah lembar lebih banyak tanpa menambah modal perusahaan, sehingga tidak ada dana baru yang masuk. Right issue justru menerbitkan saham baru dan menghimpun dana segar dari investor yang melaksanakan haknya.

Kenapa harga saham biasanya turun setelah right issue?

Penurunan harga secara teoritis terjadi karena jumlah saham beredar bertambah sementara nilai perusahaan (secara proporsional) terbagi ke lebih banyak lembar saham. Ini dihitung melalui mekanisme TERP dan bukan berarti fundamental perusahaan memburuk.

Berapa lama periode perdagangan HMETD berlangsung?

Umumnya periode perdagangan HMETD berlangsung sekitar 5 hingga 10 hari bursa, sesuai jadwal yang diumumkan dalam prospektus masing-masing perusahaan. Jadwal pasti dapat dicek melalui keterbukaan informasi di BEI.

Apakah HMETD bisa dijual sebagian dan dilaksanakan sebagian?

Bisa. Investor dapat membagi haknya — misalnya melaksanakan sebagian HMETD untuk menambah saham, dan menjual sisanya di pasar untuk memperoleh dana tunai, selama masih dalam periode perdagangan yang ditentukan.

Apa yang terjadi jika perusahaan melakukan right issue berulang kali?

Right issue yang berulang tanpa disertai perbaikan kinerja bisa menjadi sinyal peringatan bagi investor, karena berpotensi menandakan perusahaan terus membutuhkan modal segar dari pasar. Investor disarankan meninjau riwayat corporate action dan laporan keuangan perusahaan sebelum memutuskan.

Apakah dividen tetap dibagikan setelah right issue?

Keputusan pembagian dividen tetap ditentukan melalui RUPS dan tidak otomatis terhenti karena right issue. Namun, karena jumlah saham beredar bertambah, nilai dividen per lembar berpotensi lebih kecil dibanding sebelum right issue jika total dividen yang dibagikan tidak meningkat proporsional.

Apakah harga HMETD bisa lebih mahal dari saham induknya?

Secara teori tidak wajar, karena nilai HMETD idealnya mencerminkan selisih antara harga pasar saham dan harga pelaksanaan right issue. Namun dalam kondisi pasar yang kurang likuid atau spekulatif, harga HMETD di pasar sekunder tetap bisa bergerak tidak proporsional dalam jangka pendek, sehingga investor perlu berhati-hati sebelum membeli HMETD hanya berdasarkan pergerakan harga sesaat.

Kesimpulan

Right issue adalah aksi korporasi yang memberi peluang sekaligus risiko bagi investor: peluang menambah saham dengan harga diskon, namun risiko dilusi kepemilikan jika hak tidak dimanfaatkan. Kunci menyikapi right issue dengan tepat adalah memahami rasio, menghitung TERP, membaca rencana penggunaan dana dalam prospektus, dan menyesuaikan keputusan dengan profil risiko serta tujuan investasi jangka panjang — bukan sekadar bereaksi terhadap pergerakan harga jangka pendek.

Bagi investor pemula, langkah paling aman adalah tidak terburu-buru mengambil keputusan begitu notifikasi right issue muncul. Luangkan waktu membaca prospektus resmi, bandingkan rasio dan harga pelaksanaan dengan harga pasar terkini, lalu diskusikan dengan penasihat keuangan berlisensi jika ragu. Dengan pemahaman yang matang, right issue bisa menjadi peluang menambah portofolio dengan biaya lebih efisien, bukan sekadar sumber kebingungan saat notifikasi masuk ke akun sekuritas.

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1