Stock Split
Apa itu Stock Split?
Stock split adalah pemecahan nilai nominal saham oleh perusahaan sehingga jumlah lembar saham beredar bertambah dengan harga per lembar yang lebih murah secara proporsional. Aksi korporasi ini dilakukan dalam rasio tertentu (misalnya 1:2, 1:4, atau 1:5) dan tidak melibatkan transaksi jual beli, sehingga total nilai investasi pemegang saham tetap sama persis setelah pemecahan dilakukan.
Analogi sederhananya: menukar satu lembar uang Rp100.000 dengan sepuluh lembar Rp10.000 — nilai kekayaan tidak berubah, hanya pecahannya menjadi lebih kecil dan lebih mudah dijangkau.
Rumus dan Cara Menghitung Harga Saham Setelah Stock Split
Harga Baru = Harga Saham Lama ÷ Rasio Split
Jumlah Saham Baru = Jumlah Saham Lama × Rasio Split
Contoh: Investor memiliki 100 lembar saham PT XYZ seharga Rp10.000 per lembar. Perusahaan melakukan stock split dengan rasio 1:5, maka:
Harga baru: Rp10.000 ÷ 5 = Rp2.000 per lembar
Jumlah saham baru: 100 × 5 = 500 lembar
Contoh lain dengan rasio 1:4: saham seharga Rp20.000 per lembar akan menjadi Rp5.000 per lembar, dan investor yang memiliki 10 lot (1.000 lembar) akan memiliki 40 lot (4.000 lembar) setelah split.
Mengapa Perusahaan Melakukan Stock Split?
Stock split umumnya dilakukan oleh perusahaan dengan fundamental bagus namun harga sahamnya sudah terlalu tinggi sehingga kurang likuid dan sulit dijangkau investor ritel. Tujuan utamanya meliputi:
Meningkatkan likuiditas — harga saham yang lebih rendah mendorong volume transaksi yang lebih aktif.
Menurunkan harga saham — menghindari harga yang terlalu tinggi bagi investor publik.
Menarik lebih banyak investor — membuka peluang bagi investor bermodal terbatas untuk ikut memiliki saham.
Mendukung diversifikasi — harga saham yang lebih rendah memungkinkan investor mengalokasikan modal ke lebih banyak emiten sekaligus.
Mengubah odd lot menjadi round lot — memudahkan investor membeli saham dalam kelipatan 1 lot (100 lembar).
Contoh Stock Split di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Sejumlah emiten besar di BEI melakukan stock split untuk menjaga harga saham tetap terjangkau investor ritel, di antaranya:
BBRI (Bank Rakyat Indonesia) — split 1:5 pada 2017.
BBCA (Bank Central Asia) — split 1:5 pada 2021.
BBNI (Bank Negara Indonesia) — split 1:2 pada 2023.
Dampak Stock Split Bagi Investor Ritel
Stock split umumnya dipandang sebagai sinyal positif karena beberapa alasan:
Peningkatan likuiditas — harga yang lebih murah membuat lebih banyak investor mampu membeli minimal 1 lot.
Psikologi pasar — harga yang "terasa" murah kerap memicu minat beli baru yang secara historis bisa mendorong harga merangkak naik pasca-split.
Inklusivitas — memberi kesempatan bagi investor bermodal kecil untuk memiliki saham blue chip berkualitas.
Meski begitu, stock split tidak selalu berdampak positif terhadap harga saham. Rendahnya harga setelah split memang bisa memicu masuknya investor ritel, namun aktivitas pemodal kecil ini terkadang justru menahan laju kenaikan harga. Fundamental perusahaan, tren sektor, dan kondisi pasar tetap menjadi faktor penentu utama pergerakan harga saham ke depannya — stock split sendiri tidak mengubah nilai fundamental perusahaan.
Stock Split vs Reverse Stock Split
Fitur | Stock Split | Reverse Stock Split |
Aksi | Memecah saham (1 jadi banyak) | Menggabungkan saham (banyak jadi 1) |
Harga saham | Menjadi lebih murah | Menjadi lebih mahal |
Tujuan umum | Meningkatkan likuiditas | Menghindari delisting atau harga terlalu rendah |
Sentimen | Biasanya positif | Seringkali negatif |
FAQ
Apa itu stock split? Stock split adalah pemecahan nilai nominal saham oleh perusahaan sehingga jumlah lembar saham beredar bertambah dengan harga per lembar yang lebih murah secara proporsional, tanpa mengubah total nilai investasi.
Bagaimana cara menghitung harga saham setelah stock split?
Harga baru dihitung dengan membagi harga saham lama dengan rasio split, sementara jumlah saham baru dihitung dengan mengalikan jumlah saham lama dengan rasio split.
Apakah stock split menguntungkan investor?
Stock split tidak mengubah nilai total investasi secara langsung, namun dapat meningkatkan likuiditas dan menarik minat beli baru yang berpotensi mendorong harga naik, meski hal ini tidak selalu terjadi.
Apa beda stock split dan reverse stock split?
Stock split memecah saham menjadi lebih banyak lembar dengan harga lebih murah, sedangkan reverse stock split menggabungkan saham menjadi lebih sedikit lembar dengan harga lebih mahal, biasanya untuk menghindari delisting.
Apa contoh emiten BEI yang pernah melakukan stock split?
BBRI melakukan split 1:5 pada 2017, BBCA split 1:5 pada 2021, dan BBNI split 1:2 pada 2023.
Apakah stock split mengubah nilai fundamental perusahaan?
Tidak. Stock split hanya mengubah jumlah lembar dan harga per lembar saham secara administratif, tanpa memengaruhi nilai fundamental atau kinerja perusahaan.





