Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Tips Membaca Indikator MACD Untuk Beli-Jual Saat Trading!

MACD adalah indikator penting untuk tentukan masuk-keluar pasar. Namun, bagaimana cara baca indikator MACD yang benar? Simak di sini!

Apa Itu MACD?

Secara singkat, Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah salah satu indikator dalam analisis teknikal yang berbentuk satu garis. Garis tersebut menggambarkan momentum tren pergerakan harga aset berdasarkan hubungan antara dua garis Exponential Moving Average (EMA).

Sekadar informasi, EMA adalah garis indikator teknikal yang mewakili rerata pergerakan harga aset sesuai pembobotannya. Sementara itu, garis MACD adalah garis turunan dari hubungan antara dua garis EMA, yakni EMA dalam kurun 12 sesi terakhir (12-periods) sementara satunya lagi mewakili EMA dalam rentang 26 sesi terakhir (26-periods).

Selain itu, indikator ini juga memiliki satu garis lain yang melintang di atas garis MACD. Garis tersebut kerap disebut sebagai garis sinyal, yakni garis EMA dalam rentang sembilan periode terakhir (9-periods).

Nah, trader umumnya melihat interaksi antara garis MACD dan garis sinyal untuk menentukan keputusan di pasar.

Jika garis MACD melintas ke atas garis sinyal, maka ada kemungkinan tren harga aset akan bergerak bullish. Pasalnya, hal ini menunjukkan bahwa tren rerata harga aset dalam jangka panjang lebih kuat dalam jangka pendek, sehingga ada indikasi bahwa pelaku pasar tengah melakukan aksi akumulasi. Oleh karenanya, trader biasanya memanfaatkan peristiwa tersebut sebagai sinyal beli.

Begitu pun sebaliknya. Tren harga aset kemungkinan akan bergerak downtrend jika garis MACD yang menurun berpapasan dengan garis sinyal dan terus melandai setelahnya. Trader biasanya menangkap situasi ini sebagai aba-aba untuk melakukan aksi jual.

Sobat Cuan bisa melihat ilustrasinya di bawah berikut, di mana garis biru mewakili garis MACD sementara garis oranye merepresentasikan garis sinyal.

MACD
Contoh Garis MACD dan Garis Sinyal. Sumber: Investopedia

Baca Juga: Apa Artinya Reversal dan Seperti Apa Sinyalnya?

Bagaimana Menginterpretasikan MACD dalam Trading?

Memanfaatkan indikator MACD memang terlihat mudah diaplikasikan secara kasat mata. Namun, apakah Sobat Cuan tahu bahwa terdapat berbagai langkah untuk menginterpretasikan indikator satu ini?

Ya, trader biasanya tidak hanya menginterpretasikan garis MACD dari satu sudut pandang saja. Mereka biasanya melakukan pengujian kembali atas hasil satu analisis MACD melalui tes lainnya untuk mengonfirmasi apakah tren harga aset tersebut tengah menguat atau justru melemah.

Lantas, seperti apa langkah pengujian indikator MACD yang biasanya dilakukan trader?

1. Crossover

Crossover adalah situasi di mana trader biasanya melihat indikasi awal tren bullish atau bearish atas suatu harga aset.

Cara membaca kondisi ini mirip seperti yang disebutkan sebelumnya. Sinyal beli terjadi jika garis MACD menanjak melintasi garis sinyal. Sementara itu, sinyal jual muncul ketika garis MACD melandai dan melewati garis sinyal.

MACD
Contoh Crossover Bullish. Sumber: Investopedia
MACD
Contoh Crossover Bearish. Sumber: Investopedia

Sebagian trader umumnya baru melakukan aksi jual atau beli setelah setelah garis MACD terlihat melintasi garis sinyal. Pasalnya, garis MACD yang melandai atau menanjak mendekati garis sinyal terkadang memberikan aba-aba "palsu" bagi trader. Sehingga, mereka memilih melancarkan aksi trading ketika garis MACD benar-benar melintasi garis sinyal.

Di samping itu, hasil yang ditampilkan situasi Crossover dianggap akan lebih valid jika pergerakan garis MACD sesuai dengan pergerakan tren harga aset. Sebagai contoh, jika harga aset terkoreksi singkat namun tren harga aset terus menanjak sementara indikator MACD terlihat melintas ke atas garis harga, maka hal itu bisa dianggap sebagai konfirmasi bullish.

2. Divergence

Kemudian, trader mengonfirmasi hasil yang terjadi pada kondisi Crossover di dalam peristiwa yang disebut sebagai Divergence.

Divergence terjadi ketika garis MACD membentuk titik tertinggi atau terendah baru yang mengalahkan level sebelumnya. Namun, pergerakan tersebut sebenarnya bertolak belakang dengan tren harganya.

Sebagai contoh, Bullish Divergence terjadi ketika garis MACD membentuk titik terendah terbaru yang lebih tinggi dari titik terendah sebelumnya. Tetapi, di saat bersamaan, harga aset membentuk titik terendah baru yang lebih rendah dari sebelumnya.

Nah, trader biasanya menangkap peristiwa tersebut sebagai sinyal bullish. Hanya saja, sinyal bullish dikatakan valid jika tren jangka panjangnya masih positif.

MACD
Contoh Bullish Divergence. Sumber: Investopedia

Sebaliknya, ketika harga aset membentuk titik tertinggi baru yang lebih tinggi dari sebelumnya sementara garis MACD menciptakan titik tertinggi baru yang lebih rendah dari titik sebelumnya, maka hal itu bisa dikatakan sebagai sinyal bearish.

MACD
Contoh Bearish Divergence. Sumber: Investopedia

3. Rapid Rise or Falls

Kemudian, trader bisa mengonfirmasi penguatan atau pelemahan tren harga menggunakan MACD melalui situasi yang disebut Rapid Rise or Fall. Yakni, sebuah kondisi di mana garis MACD tiba-tiba menanjak atau terkoreksi dengan curam.

Trader mengartikan situasi tersebut sebagai kondisi jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold) di pasar. Oleh karenanya, trader mengombinasikan hasil analisis tersebut dengan Relative Strength Index (RSI) untuk memverifikasi sinyal yang ditunjukkan garis MACD.

Rapid Rise or Fall. Sumber: Investopedia

Mengenal Konfirmasi Lain Sinyal MACD

Pada dasarnya, keunggulan indikator ini terletak pada akurasinya membaca pergerakan harga jangka pendek dengan memberi akurasi momentum. Selain itu, trader juga menggunakan MACD untuk membaca kekuatan tren.

Namun, selain melakukan langkah konfirmasi di atas, trader juga dapat mengetahui momentum dan kekuatan tren harga aset melalui sarana lain seperti di bawah ini. Hal ini nantinya akan memperkuat keputusan trader untuk memasang posisi beli ataupun jual di pasar.

1. Analisa Histogram

Trader dapat pula melakukan analisis histogram. Jika bar histogram negatif mulai tipis dan mulai membentuk histogram positif, dapat diartikan harga mungkin akan bergerak naik. Begitu pula sebaliknya.

2. Kombinasi Histogram dan MACD Line

Kombinasi histogram dan MACD line memberi konfirmasi yang lebih baik dalam melihat momentum jual dan beli. Saat MACD line saling memotong ke atas yang merupakan sinyal beli lalu diikuti dengan histogram mulai positif, maka akurasi sinyal beli yang muncul akan lebih besar.

Baca Juga: Apa Saja Indikator Buy & Sell dalam Trading?

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber : Investopedia

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait