Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Kamus

Apa itu RSI dan Bagaimana Kegunaannya dalam Trading?
shareIcon

Apa itu RSI dan Bagaimana Kegunaannya dalam Trading?

20080  dilihat·Waktu baca: 9 menit
shareIcon
RSI adalah

Poin Utama:

  • Relative Strength Index (RSI) oscillator momentum yang digunakan dalam analisis teknikal untuk mengukur kekuatan dan kelemahan pergerakan harga aset berdasarkan kenaikan dan penurunan harga terakhirnya.
  • Nilai RSI berkisar antara 0 hingga 100, di mana skor di atas 70 menunjukkan kondisi overbought sementara skor di bawah 30 menunjukkan kondisi oversold.
  • Trader menggunakan RSI untuk mengidentifikasi potensi pembalikan tren (reversal), menghasilkan trading signals, dan mengkonfirmasi arah tren harga.
  • RSI dapat dikombinasikan dengan indikator teknikal lainnya, seperti support dan resistance, Moving Average, Bollinger Bands, konfirmasi tren, dan divergensi, untuk memperbaiki strategi trading.

Apa Itu RSI dan Bagaimana Kegunaannya dalam Trading?

Relative Strength Index (RSI) adalah momentum indicator yang populer digunakan dalam analisis teknikal. Indikator ini membandingkan besarnya kenaikan harga aset dengan kerugian harga terbaru dalam satu periode tertentu, umumnya 14 hari.

Seperti indikator stochastic oscillator lainnya, nilai RSI berkisar dari 0 hingga 100, di mana nilai yang lebih tinggi menunjukkan momentum harga yang lebih kuat sementara nilai yang lebih rendah menunjukkan momentum yang lebih lemah.

Trader biasanya memanfaatkan RSI untuk:

  1. Mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold: Nilai RSI di atas 70 menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought), yang berpotensi menandakan koreksi harga atau pembalikan harga. Sebaliknya, nilai RSI di bawah 30 menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold), yang berpotensi menunjukkan peluang aksi beli.
  2. Menghasilkan trading signals: Trader mencari lintas RSI dari level tertentu, seperti 50, sebagai potensi titik masuk atau keluar ke pasar. Misalnya, lintasan RSI di atas 50 dapat menunjukkan potensi tren kenaikan harga, sedangkan lintasan di bawah 50 mungkin menunjukkan potensi tren penurunan harga.
  3. Mengonfirmasi tren harga aset: RSI dapat digunakan untuk memvalidasi kekuatan tren yang berlaku. Skor RSI di atas 50 biasanya menunjukkan tren kenaikan harga, sedangkan pembacaan di bawah 50 menunjukkan tren penurunan harga.
  4. Mengidentifikasi divergensi: Divergensi RSI terjadi ketika arah indikator RSI tidak sejalan dengan aksi harga. Bullish Divergence terjadi ketika harga membentuk titik terendah yang lebih rendah, tetapi RSI membentuk titik terendah yang lebih tinggi, sehingga menunjukkan potensi pembalikan harga aset ke atas. Sementara itu, Bearish Divergence terjadi ketika harga membentuk puncak yang lebih tinggi, tetapi RSI membentuk puncak yang lebih rendah yang menunjukkan potensi pembalikan harga ke bawah.

Cara Menghitung dan Menginterpretasikan RSI

Berikut adalah langkah dalam mengkalkulasi RSI:

Langkah 1: Kumpulkan data harga penutupan aset dalam satu rentang waktu tertentu (misalnya dalam 14 hari terakhir)

Langkah 2: Hitung perubahan harga untuk setiap hari dengan mengurangi harga penutupan di hari sebelumnya dengan harga penutupan di hari ini.

Langkah 3: Pisahkan perubahan harga ke dalam dua kategori: kenaikan harga (perubahan positif) dan kerugian (perubahan negatif).

Langkah 4: Hitung rata-rata kenaikan harga dan rata-rata kerugian dalam jangka waktu yang telah dipilih.

Langkah 5: Hitung RSI dengan membagi rata-rata kenaikan harga dengan rata-rata kerugian.

Langkah 6: Hitung RSI menggunakan formula berikut

Rumus RSI

RS = Kenaikan Rata-rata Harga Aset / Kerugian Rata-rata Harga Aset

 

Interpretasi nilai RSI:

  1. Nilai RSI di atas 70 menunjukkan kondisi overbought.
  2. Nilai RSI di bawah 30 menunjukkan kondisi oversold.
  3. Nilai RSI antara 30 dan 70 menunjukkan pasar netral atau sideways.

Contoh Perhitungan RSI

Berikut adalah contoh perhitungan RSI dengan menggunakan 10 harga penutupan atas aset fiktif:

Langkah 1: Kumpulkan data harga penutupan aset selama periode waktu yang dipilih (misalnya, 10 hari).

Langkah Pertama RSI

Langkah 2: Hitung perubahan harga setiap hari.

Langkah Dua RSI

Langkah 3: Pisahkan perubahan harga menjadi dua kategori: keuntungan dan kerugian.

  1. Keuntungan: US$2, US$5, US$2, US$6, US$3
  2. Kerugian: -US$4, -US$4, -US$5, -US$4

Langkah 4: Hitung rata-rata keuntungan dan rata-rata kerugian.

  1. Rata-rata Keuntungan: (US$2 +US$ 5 + US$2 + US$6 + US$3) / 5 = 3,6
  2. Rata-rata Kerugian: (-US$4 -US$4 -US$5 - US$4) / 4 = -4,25

Langkah 5: Hitung Relative Strength (RS).

RS = 3,6 / 4,25 ≈ 0,847

Langkah 6: Hitung RSI.

RSI = 100 - (100 / (1 + 0,847)) = 45,87

Sehingga, nilai RSI yang dihitung untuk contoh ini adalah sekitar 45,87, yang menunjukkan kondisi pasar netral atau sideways.

Kapan RSI Menunjukkan Kondisi Overbought dan Oversold?

RSI berfungsi sebagai indikator yang sangat baik untuk mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold di pasar. 

Ketika nilai RSI melampaui 70, ini menunjukkan bahwa aset tersebut memasuki area overbought, yang mengimplikasikan bahwa harga aset telah naik terlalu cepat dan koreksi mungkin akan terjadi. Sebaliknya, ketika nilai RSI jatuh di bawah 30, ini menunjukkan bahwa harga aset terjun dengan cepat dan akan memantul sesegera mungkin.

Hanya saja, penting untuk diketahui bahwa efektivitas RSI berbeda-beda di setiap kondisi, tergantung dengan kondisi pasar.

Pada pasar uptrend, RSI bisa terus berada di teritori overbought untuk waktu yang lama. Sementara itu, pada pasar yang sedang downtrend, RSI bisa berada di teritori oversold untuk waktu yang lama.

Oleh karenanya, trader perlu mempertimbangkan kondisi tren harga aset saat ini ketika menginterpretasikan sinyal RSI.

Bagaimana Menggunakan RSI dengan Indikator Teknikal Lainnya?

Seperti semua indikator teknikal, keandalan RSI akan lebih akurat jika dikombinasikan dengan analisis teknikal dan indikator lainnya

1. Support dan Resistance

Level support dan resistance merupakan tingkat harga yang penting, di mana aset cenderung memantul dalam arah tertentu. Mengombinasikan RSI dengan level support dan resistance dapat memperjelas trading signals dan membantu mengidentifikasi potensi titik pembalikan harga.

Ketika harga aset mendekati level support yang kuat sementara RSI menunjukkan kondisi oversold, maka hal ini bisa menjadi momentum tepat bagi trader untuk mempertimbangkan posisi beli. Sebaliknya, ketika harga mendekati level resistance yang signifikan dan RSI menunjukkan kondisi overbought, maka itu bisa jadi saat yang tepat untuk mempertimbangkan posisi jual.

2. Bollinger Bands

Bollinger Bands terdiri dari dua pita yang terdiri dari pita tengah (atau Moving Average dalam 20 hari terakhir) dan dua pita luar yang mewakili standar deviasi dari pita tengah tersebut.

RSI dapat digunakan bersama-sama dengan Bollinger Bands untuk mengidentifikasi kondisi overbought atau oversold potensial. Ketika RSI mencapai level ekstrem dan harga menyentuh atau bergerak melampaui garis Bollinger atas atau bawah, ini mungkin menandakan kondisi overbought atau oversold.

3. Konfirmasi Tren

Seperti yang disinggung sebelumnya, RSI dapat digunakan untuk mengonfirmasi kekuatan tren yang sedang berlangsung. 

Dalam uptrend, nilai RSI cenderung berada di kisaran yang lebih tinggi, biasanya di atas 50. Sementara dalam downtrend, RSI cenderung tetap di kisaran yang lebih rendah, biasanya di bawah 50. 

Trader dapat menggunakan informasi ini untuk memvalidasi tren yang sedang berlangsung sebelum mengambil keputusan trading.

4. Divergensi dan Pembalikan Harga

Divergensi RSI terjadi ketika indikator RSI tidak mengonfirmasi arah pergerakan harga.

Bullish Divergence terjadi ketika harga membentuk titik terendah yang lebih rendah, tetapi RSI membentuk titik terendah yang lebih tinggi. Hal ini mengisyaratkan potensi pembalikan harga ke atas.

Sementara Bearish Divergence terjadi ketika harga aset membentuk titik tertinggi yang lebih tinggi, tetapi RSI membentuk titik tertinggi yang lebih rendah. Ini menunjukkan potensi pembalikan harga ke bawah. 

Mengidentifikasi divergensi dapat memberi trader sinyal berharga untuk mengantisipasi potensi perubahan tren dan menyesuaikan strategi mereka.

Berapa Jangka Waktu yang Optimal dalam Menghitung RSI?

Pilihan jangka waktu periode dalam kalkulasi RSI dapat mempengaruhi sensitivitas dan efektivitas indikator tersebut.

Pemilihan jangka waktu yang lebih pendek, seperti tujuh dan sembilan hari, mungkin menyediakan sinyal yang lebih relevan namun juga bisa menghasilkan lebih banyak sinyal palsu.

Di sisi lain, pemilihan periode jangka waktu yang lebih panjang, seperti 14 atau 21 hari, mungkin memberikan sinyal yang lebih “halus” tetapi lebih lambat dalam merespons perubahan harga.

Untuk menentukan periode jangka waktu yang optimal untuk perhitungan RSI, trader dapat bereksperimen dengan kerangka waktu yang berbeda dan mengamati efektivitas sinyal yang dihasilkan. 

Kondisi pasar, volatilitas aset, dan toleransi risiko pedagang juga harus dipertimbangkan saat memilih periode jangka waktu RSI yang ideal.

Keterbatasan RSI sebagai Indikator

Meskipun RSI adalah indikator yang banyak digunakan dan berharga, ada keterbatasannya yang harus diketahui oleh trader:

  • Sinyal Palsu: RSI dapat menghasilkan sinyal palsu, terutama selama pasar yang bergejolak atau berada dalam satu rentang harga tertentu. Dalam kondisi seperti itu, RSI mungkin seringkali melintasi ambang batas overbought atau oversold yang mengakibatkan kebingungan bagi pedagang.
  • Pasar Trending: Dalam pasar yang memiliki tren kuat, RSI dapat bertahan di wilayah overbought atau oversold untuk periode yang lama, membuatnya kurang efektif sebagai indikator mandiri.
  • Indikator Lagging: RSI adalah indikator keterlambatan atau lagging, yang berarti ia bergantung pada data harga masa lalu. Sebagai hasilnya, RSI mungkin tidak memberikan sinyal yang tepat di tengah perubahan pasar yang cepat.
  • Pasar Volatil: Dalam pasar yang sangat bergejolak, sinyal RSI mungkin kurang dapat diandalkan. Hal ini lantaran lonjakan harga ekstrem dapat mendistorsi bacaan indikator.
  • Whipsaw: RSI mungkin menghasilkan sinyal whipsaw, di mana indikator dapat berubah arah yang mengakibatkan peluang trading palsu.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para trader dianjurkan untuk menggunakan RSI bersama dengan indikator teknikal lainnya, pola grafik, dan analisis fundamental untuk strategi trading yang lebih komprehensif.

Tanya Jawab Mengenai RSI

Apa Itu RSI dalam Trading?

RSI adalah momentum indicator yang digunakan dalam analisis teknikal untuk mengukur kekuatan dan kelemahan pergerakan harga aset berdasarkan kenaikan dan penurunan harga terakhirnya.

Apa Fungsi RSI?

Trader menggunakan RSI untuk mengidentifikasi potensi pembalikan tren (reversal), menghasilkan trading signals, dan mengkonfirmasi arah tren harga.

Bagaimana perbandingan RSI dengan indikator teknikal lain seperti MACD?

Moving Average Convergence Divergence (MACD) dan RSI keduanya adalah momentum indicator yang populer di kalangan trader. Walau keduanya menilai pergerakan harga, namun masing-masing dari keduanya menggunakan metode berbeda dalam mengukurnya.

Di satu sisi, RSI mengukur kekuatan internal dari pergerakan harga aset dan mengindikasikan kondisi overbought dan oversold.

Di sisi lain, MACD membandingkan dua garis Moving Average untuk mengidentifikasi kemungkinan perubahan tren. MACD sendiri terdiri dari dua garis, yakni garis MACD dan garis sinyal, di mana persilangan antara keduanya memberikan trading signals.

Kedua indikator ini dapat digunakan bersamaan untuk melengkapi kelebihan masing-masing. Trader sering mencari titik pertemuan antara sinyal RSI dan MACD untuk meningkatkan keandalan keputusan trading mereka.

Sebagai contoh, jika indikator RSI mengindikasikan kondisi oversold sementara MACD menunjukkan perlintasan bullish, maka hal itu bisa menjadi sinyal kuat bagi potensi pembalikan harga ke arah uptrend.

Bagaimana RSI Dapat Digunakan di Pasar yang Volatil?

Di pasar yang bergejolak, sinyal RSI mungkin kurang dapat diandalkan karena pergerakan harga yang tidak menentu. 

Namun, trader dapat menyesuaikan parameter RSI untuk menjadikannya lebih sesuai dengan kondisi yang volatil. Memendekkan periode jangka waktu atau melebarkan ambang batas overbought dan oversold dapat membantu mengurangi sinyal palsu di pasar yang sangat volatil.

Bisakah RSI Digunakan untuk Investasi Jangka Panjang?

RSI adalah indikator trading jangka pendek hingga menengah dan mungkin tidak efektif untuk investasi jangka panjang. Investor jangka panjang biasanya fokus pada analisis fundamental dan tren ekonomi daripada pergerakan harga jangka pendek.

Kendati demikian, RSI bisa digunakan secara bersamaan dengan indikator lain untuk melancarkan strategi investasi jangka panjang. Namun, patut dicatat, RSI bukanlah indikator tunggal dalam menentukan keputusan investasi jangka panjang.

Dapatkah RSI Digunakan di Pasar Keuangan Apa Pun?

Ya, RSI dapat digunakan di pasar keuangan apa pun, termasuk saham, valuta asing, komoditas, dan kripto. 

Namun, trader harus menyadari bahwa kondisi pasar dan perilaku aset yang berbeda dapat mempengaruhi efektivitas RSI.

Apakah Perlu Menggunakan RSI Bersama dengan Indikator Teknikal Lainnya?

Walaupun RSI adalah indikator yang kuat, menggunakannya bersama dengan indikator teknikal lainnya dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kondisi pasar saat ini.

Mengombinasikan RSI dengan indikator lain seperti Moving Average, Bollinger Bands, atau MACD dapat mengonfirmasi sinyal, mengurangi sinyal palsu, dan meningkatkan akurasi atas keputusan tradings ecara keseluruhan.

Namun, pilihan indikator tambahan tersebut harus sesuai dengan strategi dan toleransi risiko sang trader.

Bagaimana Cara Membaca Indikator RSI?

Sebagai 'aturan umum', RSI di bawah 30 biasanya berarti saham telah terjual habis, sementara RSI di atas 70 menunjukkan kondisi jenuh beli.

Apa rumus RSI?

Rumus RSI

Apabila kamu ingin mengetahui bagaimana RSI berbasis 14 periode terakhir, atau RSI 14, berubah seiring waktu, maka kamu bisa menggunakan rumus berikut:

Rumus RSI Dua

Berapa Settingan RSI yang Optimal?

Untuk menyesuaikan RSI untuk trading harian atau trading intrahari, trader dapat menggunakan rentang waktu candlestick yang lebih pendek dan/atau mengubah periode jangka waktu yang digunakan.

Sebagai contoh, trader intrahari lebih tertarik untuk menggunakan chart candlestick dengan periode lima hingga 15 menit lalu menggunakan candlestick harian.

Selain itu, trader juga mengubah rentang waktu RSI yang digunakan.Sebagai contoh, anggap saja kamu mengevaluasi RSI 14 dalam chart candlestick berdurasi 15 menit. Maka, indikator RSI akan menyerap informasi yang terjadi dalam 3,5 jam terakhir (14 periode x 15 menit = 210 menit atau 3,5 jam).

Secara umum:

  1. Trader jangka pendek sering menggunakan pengaturan periode RSI yang lebih rendah di rentang 9-11 periode.
  2. Swing trader jangka menengah kerap menggunakan periode RSI umum, yakni 14 periode.
  3. Trader jangka panjang menggunakan periode RSI lebih tinggi, yakni di kisaran 20-30 periode.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Turnover

Right baner
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1