Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Apa Saja Indikator Buy & Sell dalam Trading?

Memahami sinyal buy dan sell dalam trading dapat memudahkan kamu buat cuan dan meminimalisasi risiko ciong loh, Sobat Cuan. Yuk, ketahui cara mengetahui kedua sinyal itu di sini!

Apa Itu Sinyal Buy dan Sell dalam Trading?

Siapa sih trader yang tidak mau cuan dan membatasi kerugian dalam melakukan trading? Oleh karenanya, trader harus memahami sinyal-sinyal yang menunjukkan kapan harus membeli (buy) atau menjual (sell) aset yang mereka.

Secara spesifik, sinyal buy adalah kondisi yang ditentukan oleh trader atau investor sebagai pengingat untuk masuk ke market atau menempatkan posisi beli terhadap suatu aset. Sebaliknya, sinyal sell merupakan pengingat atau "wangsit" yang ditentukan untuk menempatkan posisi jual terhadap suatu aset.

Namun, dua sinyal tersebut tidak datang dari langit, Sobat Cuan. Trader biasanya menentukan sinyal jual dan beli berdasarkan analisis, gaya investasi, dan selera risiko mereka masing-masing. Singkatnya, sinyal buy dan sell merupakan sistem yang trader bangun agar eksekusi trading-nya lebih terukur dan terarah.

Sebagai contoh, investor contrarian melihat kinerja pasar yang longsor drastis dan titik jenuh jual sebagai sinyal untuk memborong aset. Sementara itu, gaya investasi berbasis analisis fundamental lebih berpatokan pada nilai aset. Sehingga, mereka menganggap sinyal beli ketika harga aset berada di bawah nilai aset bersih (net asset value).

Apa Gunanya Memahami Sinyal Buy dan Sell?

Memahami sinyal buy dan sell sangat bermanfaat bagi semua kalangan trader maupun investor. Sesuai namanya, sinyal beli dan jual menandai momentum tertentu dalam pergerakan harga suatu aset. "Pencerahan" ini kemudian dapat mengarahkan trader untuk mengambil keputusan dalam trading.

Dengan memahami kedua sinyal tersebut, trader dapat memaksimalkan cuannya. Di saat yang bersamaan, ia juga bisa menghindari diri dari kerugian trading yang teramat dalam.

Lebih lanjut, agar bisa menentukan posisi buy dan sell, kamu sebelumnya harus menentukan pola trading-mu terlebih dulu. Pola ini nantinya harus terimplementasi pada sistem sinyal 'buy' dan 'sell' yang kamu buat.

Di samping itu, sinyal buy dan sell juga dapat diperoleh dengan menggunakan analisis teknikal dan fundamental. Karenanya, kamu perlu juga memahami indikator teknikal dan fundamental untuk membuat sinyal buy dan sell yang tepat dengan gaya investasi kamu ya, Sobat Cuan.

Lantas, seperti apa sih indikator utama yang digunakan trader untuk melihat sinyal beli dan jual? Nah, berikut ini adalah indikator yang lazim digunakan para trader untuk membuat sinyal buy dan sell, tentunya dengan mempertimbangkan gaya investasi masing-masing individu.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menggunakan Sinyal Stochastic dalam Trading?

Indikator yang Bisa Digunakan demi Melihat Sinyal Buy dan Sell

1. Chart Patterns

Chart patterns alias pola dalam grafik harga aset kerap menunjukkan pola tertentu yang mengisyaratkan pergerakan harga. Seperti apa contohnya?

Untuk melihat sinyal buy, trader biasanya menggunakan pola ascending triangle pattern. Yakni, pola yang menggambarkan bahwa harga aset akan menembus level resistence-nya dan akan terus menanjak secara berkelanjutan.

Pola ini umumnya terbentuk setelah pergerakan harga aset membentuk dua titik tinggi dan dua titik terendah. Namun, di saat yang sama, garis tren harga mengarah ke satu tujuan tertentu. Sobat Cuan bisa melihat ilustrasi pola tersebut di bawah ini!

Sinyal Buy dan Sell
Contoh Ascending Triangle. Sumber: Investopedia

Di sisi lain, trader biasanya menggunakan pola descending triangle sebagai sinyal jual. Pasalnya, pola ini dikenal ampuh untuk melihat sinyal penurunan harga aset yang berkepanjangan.

Polanya pun sama seperti ascending triangle, di mana harga aset membentuk dua titik tertinggi dan dua titik terendah secara bergantian. Namun, kali ini, pola yang tercipta mengarah ke downtrend. Sehingga, ada kemungkinan harga aset akan longsor di bawah titik support-nya. Berikut contohnya!

Sinyal buy dan sell
Contoh Descending Triangle. Sumber: Daily FX

Namun, agar kamu bisa yakin melihat buy dan sell melalui pola harga, kamu juga harus menyandingkannya dengan volume trading. Biasanya, pola ascending triangle akan efektif jika volume trading ikut meningkat. Begitu pun sebaliknya, pola descending triangle bisa menjadi sinyal jual kuat jika volume trading melandai.

Baca Juga: 5 Chart Pattern yang Perlu Diketahui Trader

2. Indikator Teknikal

Selain melalui pola harga, Sobat Cuan dapat mengetahui sinyal buy dan sell melalui indikator teknikal. Hanya saja pertanyaannya, indikator teknikal apa saja yang umum digunakan untuk melacak kedua hal tersebut?

Volume-Weighted Average Price (VWAP)

VWAP adalah indikator yang mencerminkan volume trading berdasarkan pembobotan harga aset di satu periode tertentu. Indikator ini dihitung dengan menambah harga tertinggi, harga terendah, dan harga penutupan untuk kemudian dibagi tiga. Setelahnya, harga rata-rata tersebut akan dikalikan dengan volume perdagangannya di periode yang sama.

Dalam grafik trading, indikator VWAP akan membentuk tiga garis, yakni garis VWAP dan dua garis batas atas dan batas bawah, seperti yang terlihat dalam ilustrasi berikut!

sinyal buy dan sell
Contoh VWAP. Sumber: Daytradetheworld

Sesuai contoh di atas, sinyal buy terjadi ketika harga bergerak di atas garis VWAP. Sementara itu, sinyal sell muncul ketika harga melengos ke bawah garis VWAP.

Moving Average

Sobat Cuan sebelumnya sudah memberikan penjelasan lebih detail mengenai Moving Average (MA). Namun intinya, Moving Average berguna untuk melihat harga rata-rata dari sebuah aset dalam satu periode tertentu. Misalnya, MA 10-day mencerminkan pergerakan harga suatu aset dalam 10 hari terakhir.

Jika digunakan dengan seksama, maka indikator MA sejatinya bisa memberi sinyal buy dan sell yang efektif. Sobat Cuan dapat melihat contohnya di grafik saham Alibaba di bawah ini.

sinyal buy dna sell
Contoh MA di grafik saham Alibaba. Sumber: Daytradetheworld

Contoh di atas memperlihatkan sinyal sell terjadi ketika garis harga berada di bawah garis MA dalam periode 25 harinya. Maklum, karena peristiwa tersebut mencerminkan bahwa harga aset terus melandai dari reratanya dalam 25 hari terakhir.

Bollinger Bands

Bollinger Bands adalah indikator teknikal yang menggambarkan pergerakan harga suatu aset. Indikator ini terdiri dari tiga garis utama, yakni garis atas, tengah, dan bawah. Garis tengah merupakan garis MA harga aset tersebut sementara dua garis lainnya mencerminkan standar deviasi harga aset. Sobat Cuan bisa melihat contohnya di bawah ini.

Sinyal Buy dan Sell
Contoh Bollinger Band di Grafik Saham Twitter. Sumber: Daytradetheworld

Sama seperti indikator MA, indikator ini dapat memperlihatkan sinyal jual dan beli jika dianalisis secara tepat. Biasanya, trader akan menangkap sinyal jual ketika garis harga berada di antara garis tengah dan garis bawah. Bahkan, beberapa trader sudah keburu menjual asetnya ketika garis harga menuju ke bawah dan berpapasan dengan garis tengah.

Di sisi lain, sinyal buy muncul ketika harga aset bergerak melampaui garis tengah dan terus menanjak.

Volume Perdagangan

Indikator terakhir yang umumnya digunakan untuk melihat sinyal buy dan sell adalah volume perdagangan. Hal ini digunakan untuk mengonfirmasi apakah pergerakan harga aset benar-benar sesuai dengan permintaan dan penawaran aset tersebut di pasar. Sehingga, trader tidak menganggap pergerakan tersebut sebagai pergerakan semu.

Dengan demikian, maka sinyal jual terjadi ketika pergerakan harga aset diikuti oleh penurunan volume perdagangan. Sebaliknya, sinyal beli terjadi ketika kenaikan harga dibarengi oleh kenaikan volume perdagangannya.

Sinyal Buy dan Sell
Ilustrasi Kesesuaian volume trading dan pergerakan harga. Sumber: Daytradetheworld

Meski banyak indikator teknikal yang memberi sinyal buy dan sell secara gamblang, perlu diperhatikan jika sinyal-sinyal tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut sebelum dieksekusi.

3. Nilai Intrinsik

Nilai intrinsik merupakan salah satu analisis fundamental yang juga memberikan sinyal buy dan sell. Biasanya, sinyal ini digunakan oleh investor ataupun trader untuk membeli aset dalam periode yang lebih panjang.

Para investor memperhitungkan sejumlah rasio dan model yang dikembangkan untuk menilai kondisi perusahaan suatu emiten berbanding harga asetnya di pasar. Saat harga jatuh di bawah nilai teoritisnya, trader dan investor berasumsi saat itulah kesempatan emas untuk memborong. Sebaliknya, saat harga berada di atas nilai teoritisnya, itu adalah waktunya taking profit.

Baca Juga: Cara Membaca Indikator Oscillator dalam Trading

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia, Investopedia, DailyFX, Daytradetheworld

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait