Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Bagaimana Cara Menggunakan Sinyal Stochastic dalam Trading?
shareIcon

Bagaimana Cara Menggunakan Sinyal Stochastic dalam Trading?

14 Nov 2022, 5:02 AM·Waktu baca: 5 menit
shareIcon
Kategori
Bagaimana Cara Menggunakan Sinyal Stochastic dalam Trading?

Ada banyak cara untuk melihat tren pasar, salah satunya dengan menggunakan indikator Stochastic. Yuk, simak penjelasan lebih lanjut mengenai salah satu indikator analisis teknikal yang populer selama lebih dari setengah abad ini!

Apa Itu Indikator Stochastic?

Indikator stochastic oscillator adalah indikator yang memperlihatkan momentum dalam trading. Dalam analisis teknikal, momentum sendiri diartikan sebagai tingkat laju pergerakan harga sebuah aset. Oleh karenanya, indikator stochastic digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan tren harga sebuah aset dalam satu periode tertentu.

Indikator stochastic sendiri mengukur tren harga dengan membandingkan harga penutupan aset di satu waktu tertentu dengan kisaran pergerakan harganya dalam rentang periode waktu tertentu. Sebagai hasilnya, indikator ini akan memberikan sinyal apakah sebuah aset sedang dalam fase jenuh jual (oversold) atau jenuh beli (overbought) melalui kisaran nilai dari 0 hingga 100.

Stochastic
Contoh ilustrasi indikator stochastic dalam grafik BTC terhadap Dolar AS.

Indikator ini diciptakan oleh George C. Lane pada tahun 1950. Lane menciptakan indikator ini berdasarkan teorinya tentang momentum dan harga. Yakni, teori yang menjelaskan bahwa perubahan tren harga sangat tergantung dengan perubahan momentum yang terjadi sebelumnya.

Sejak saat itu, stochastic oscilator menjadi indikator populer di kalangan para trader lantaran akurasinya dalam membaca pergerakan harga aset ke depan.

Baca Juga: 5 Chart Pattern yang Perlu Diketahui Trader

Cara Membaca Stochastic untuk Melihat Tren

Indikator stochastic oscilator membandingkan deviasi harga saat ini dengan harga tertinggi dan terendah pada periode tersebut. Kemudian, hal itu akan dibandingkan dengan harga penutupannya.

Nah, oleh karenanya, indikator stochastic biasanya terdiri dari dua garis. Garis pertama biasanya disebut dengan %K adalah garis yang menggambarkan persentase selisih antara harga terendah dan tertinggi suatu aset dalam kurun waktu tertentu. Sehingga, bisa dibilang bahwa garis %K mengukur kondisi harga aset saat ini.

Sementara itu, garis kedua, yang biasa disebut %D, merepresentasikan rata-rata pergerakan harga aset dalam kurun tiga hari terakhir, atau Simple Moving Average (SMA) dalam periode tiga hari. Dengan kata lain, jika garis %K mewakili kondisi harga aset saat ini, maka garis %D adalah cerminan indikator tren harga dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Kedua garis ini bermanfaat untuk memberikan sinyal trading. Trader dipercaya harus melakukan transaksi jika garis %K melintasi garis %D. Apa sebabnya?

Pertemuan dua garis tersebut dipercaya sebagai sinyal bahwa momentum harga sedang berubah. Sebab, kedua garis yang bersilangan tersebut merupakan bukti bahwa pergerakan harganya saat itu tidak lagi mengikuti tren harga yang berlangsung dalam tiga hari terakhir. Sehingga, ada indikasi bahwa pembalikan tren harga (reversal) sedang berlangsung dan trader disarankan untuk melakukan aksi.

Selain itu, melihat tren harga dari indikator stochastic oscillator juga bisa diukur dari pergerakan garisnya.

Seperti yang telah disinggung di atas, garis stochastic oscillator bergerak di antara nilai 0 hingga 100. Namun, biasanya trader menggunakan rentang 20 hingga 80 karena masing-masing dipercaya sebagai batas titik momentum oversold dan overbought.

Jika indikator stochastic bergerak ke bawah nilai 20, maka harga aset tersebut diyakini sedang masuk zona oversold dan menjadi indikasi bahwa tren harga aset sedang tidak kuat. Lebih lanjut, momentum harga aset dikatakan sedang lemah jika indikator tersebut berada di bawah level 20 untuk waktu yang lama.

Sementara itu, indikator stochastic yang berada di atas 80 dalam waktu yang lama menunjukkan bahwa momentum harga sedang kuat-kuatnya. Sehingga, trader disarankan untuk tidak tergesa-gesa merealisasikan cuan dengan menjual asetnya.

Mengenal Beragam Sinyal Tren Harga dari Indikator Stochastic

Meski indikator stochastic dikatakan untuk melihat tren harga, jangan salah artikan indikator ini untuk meramal harga aset secara langsung ya, Sobat Cuan. Pasalnya, indikator stochastic hanya membantu trader dalam membaca arah pergerakan angin saat akan berlayar sehingga mereka dapat menerapkan strategi terbaik untuk cuan.

Dalam hal ini, terdapat beberapa sinyal dari indikator stochastic yang kerap dijadikan pedoman bagi trader dalam melihat momentum harga. Yuk, simak beberapa di antaranya berikut!

Baca Juga: 4 Gaya Trading Populer yang Bisa Dilakukan Trader Pemula

1. Breakout Trading

Breakout trading adalah pola yang mencerminkan antisipasi tren harga baru. Hal ini terlihat dari dua pita stochastic yang masing-masing saling melebar, tetapi keduanya mengarah ke satu tujuan yang sama.

Stochastic
Contoh Breakout Trading. Sumber: Tradeciety

2. Trend Following

Trend following mengindikasikan keberlanjutan dari sebuah tren harga. Jika kedua garis stochastic tetap selaras dan bergerak ke arah yang sama, maka hal itu menunjukkan bahwa tren harga masih berlangsung dengan baik.

3. Strong Trends

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, nilai indikator stochastic berada di atas 80 dalam waktu lama menunjukkan bahwa momentum harga sedang berada di titik yang sangat kuat. Sementara itu, indikator di bawah level 20 menunjukkan bahwa momentum harga sedang berada di fase paling lemah.

Nah, karena tren sedang konsisten pada saat-saat itu, maka Sobat Cuan sebaiknya jangan melakukan aksi yang berlawanan dengan tren. Nikmati saja kondisi tersebut.

Stochastic
Contoh tren harga kuat ketika indikator stochastic berada di atas level 80 untuk waktu lama. Sumber: Tradeciety

4. Trend Reversals

Sebuah tren harga diramal akan berganti (reversal) jika indikator stochastic meninggalkan area overbought atau oversold. Supaya tambah yakin, Sobat Cuan bisa mengonfirmasi perubahan tren ini melalui indikator lain seperti Moving Average.

Baca Juga: Scalping Trading

5. Divergence

Salah satu sinyal yang memberikan indikasi reversal adalah melihat perbedaan pola dari chart harga dengan pergerakan indikator stochastic.

Seperti yang terlihat dari contoh di bawah ini, tren harga diprediksi akan berubah jadi menanjak jika garis stochastic bergerak ke atas namun garis harga malah kian melemah. Begitu pun sebaliknya, tren harga diprediksi akan berubah melemah jika garis stochastic memperlihatkan situasi melandai ketika garis harga justru tengah menanjak.

Stochastic
Contoh Divergence yang menunjukkan reversal tren ke penguatan dan pelemahan. Sumber: Tradeciety

Kelemahan Indikator Stochastic

Meski indikator stochastic konon ampuh untuk melihat tren harga, kadang sinyal yang diberikan adalah sinyal-sinyal palsu. Kondisi ini kerap terjadi ketika harga aset bergerak secara volatil. Untuk itu, trader disarankan untuk mengonfirmasi indikator stochastic dengan indikator teknikal lainnya.

Apabila Sobat Cuan ingin belajar jauh mengenai indikator teknikal, kamu bisa menyimaknya secara detail di seri akademi Analisis Teknikal 101 berikut!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia, Tradeciety

Ditulis oleh
channel logo

Fathia Nurul Haq

Right baner

Fathia Nurul Haq

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
trading
Mengenal Bullish Harami Pattern dan Cara Tradingnya
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1