Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Pluang Insight: Kripto Dihantam Bear Market, Saat Tepat Gunakan Dollar Cost Averaging?

Sobat Cuan pasti sudah menyadari bahwa pasar kripto sedang masuk ke dalam fase bear market. Harga aset kripto gugur berjemaah dan membuat nilai portofolio pemiliknya susut. Tapi katanya, investor bisa memitigasi kondisi tersebut dengan melakukan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Memangnya beneran jitu? Simak ulasannya di Pluang Insight ini!

Kondisi Pasar Kripto Saat Ini

Pelaku pasar mungkin tak akan menduga bahwa pasar kripto akan rontok menjelang pertengahan tahun.

Tengok saja, harga Bitcoin (BTC) kini telah terjun 55% enam bulan pasca menyentuh level tertingginya sepanjang masa US$69.000 per keping pada November lalu. Selain itu, nilai kapitalisasi pasar kripto pun kini bertengger di kisaran US$1,2 triliun setelah selalu berkutat di atas level US$2 triliun.

Penyebab lesunya pasar kripto pun beragam. Tapi, salah satu faktor utamanya adalah redupnya selera risiko mereka untuk berkutat di pasar aset berisiko gara-gara ketidakpastian situasi makroekonomi.

Betapa tidak, investor mau tak mau minggat ke kelas aset yang lebih aman lantaran tingginya inflasi, ancaman resesi, dan kebijakan moneter hawkish bank sentral AS, The Fed. Bahkan, data terakhirnya, manajer investasi kini menambah alokasi kas di portofolionya sebesar 6,1% dalam enam bulan terakhir, menunjukkan bahwa mereka tengah memitigasi kemungkinan pasar terburuk ke depan.

Pada kondisi ini, pelaku pasar tentu terjebak di situasi dilematis. Mereka tentu galau dalam memilih apakah perlu memborong aset kripto mumpung harganya murah (buy the dip), menunggu harga aset kripto lebih dalam lagi, atau justru malah merealisasikan kerugiannya. Pasalnya, mereka tentu ingin melancarkan aksi beli ketika harga diprediksi membaik ke depan. Tidak ada satu pun pelaku pasar yang mau terjebak di posisi "nyangkut".

Namun, pelaku pasar sejatinya masih bisa pede bergumul di pasar kripto asal mengetahui strategi yang tepat. Nah, belakangan, beberapa analis bahkan menyarankan pelaku pasar untuk melancarkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) saat pasar kripto terpantau mendung.

Tapi, apa sih metode DCA? Dan apakah metode tersebut benar-benar efektif membawa investor cuan di saat pasar melempem?

Mengenal Dollar Cost Averaging

Sobat Cuan bisa menemukan penjelasan rinci mengenai strategi DCA di artikel berikut. Namun, secara garis besarnya, DCA adalah strategi investasi di mana investor akan menempatkan uang secara rutin untuk memiliki sebuah aset terlepas dari situasi dan kondisi yang terjadi di pasar. Strategi ini merupakan kebalikan dari strategi lump sum, alias langsung berinvestasi dalam jumlah besar di awal.

Dengan melancarkan strategi DCA, pelaku pasar bisa menekan dampak volatilitas harga sebuah aset terhadap keseluruhan portofolionya. Jadi, keputusan investasi mereka tidak tergantung atas pergolakan naik-turunnya harga sebuah aset tersebut.

Di samping itu, investor juga bisa menghindari risiko pricing investasi, yakni berinvestasi dengan jumlah jumbo meski situasi pasarnya sedang tak kondusif.

Kemudian, melalui strategi DCA, pelaku pasar bisa membeli aset dengan harga rata-rata yang relatif lebih rendah jika tren harganya sedang meningkat. Namun, bagi investor, manfaat paling penting dari strategi DCA adalah memupuk sikap disiplin dalam berinvestasi.

Tetapi pertanyaannya, apakah return dari strategi DCA cukup menjanjikan? Yuk, simak simulasinya berdasarkan kalkulator DCA CryptoHead berikut!

Jika kamu berinvestasi US$1 (atau Rp14.500) di BTC setiap bulan sejak akhir 2017 hingga sekarang, maka return yang bakal kamu dapatkan adalah sebesar US$163 atau sekitar Rp2,36 juta. Dengan kata lain, secara persentase, maka kamu bisa mendulang untung sebesar 200% jika menabung BTC melalui strategi DCA dalam 4,5 tahun terakhir!

Apakah Cuan Dollar Cost Averaging Benar-Benar Fantastis?

Meski angka simulasi di atas terbilang menggiurkan, sebenarnya return strategi DCA kalah jika dibandingkan strategi lump sum, utamanya di pasar saham.

Studi 60/40 portfolio Vanguard menunjukkan bahwa strategi saham lump sum memberikan return 2,4% lebih banyak dibanding DCA antara 1926 hingga 2015. Nah, jika melihat korelasi pergerakan harga BTC dengan S&P 500 sebesar 0,96 (alias hampir identik), maka ada kemungkinan BTC pun akan mengikuti pola serupa.

Namun, menggunakan strategi DCA pun tak selamanya menghasilkan cuan yang mini, kok. Terdapat studi yang mengatakan bahwa strategi DCA di BTC bisa mengalahkan 99,99% return yang didulang seluruh manajer investasi di dunia!

Baca juga: Pluang Insight: Duel Kinerja JP Morgan vs Bank of America. Siapa Paling Unggul?

Apakah Strategi DCA Tepat Digunakan Saat Ini?

Hanya saja, keputusan terkait penggunaan strategi DCA sebenarnya tergantung dengan keinginan investor saat ini.

Pluang beranggapan, dengan korelasi BTC yang sudah sangat tinggi dengan S&P500, maka tidak ada salahnya untuk memulai investasi yang lebih besar secara langsung atau menggunakan strategi 60/40 pada aset kripto berkapitalisasi besar seperti BTC jika memang tujuan Sobat Cuan adalah mendulang cuan maksimal dan tidak peduli dengan risiko pasar.

Pasalnya, strategi ini bisa memberikan investor ruang untuk menambah posisi dengan 40% kas mereka jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, strategi ini pun harus dipikirkan secara matang-matang lantaran aset kripto punya risiko volatilitas tinggi.

Namun, jika Sobat Cuan adalah investor pemula dan masih ragu menempatkan uang di kripto, Pluang menyarankan kamu untuk tetap melancarkan strategi DCA. Sebab, beban kerugian yang kamu tanggung tentu akan lebih rendah dibandingkan menggunakan strategi lump sum.

Dalam kondisi bear market, tentu fokus beberapa pelaku pasar adalah untuk tidak kehilangan nilai portofolionya dengan drastis. Makanya, daripada ngebet menggelontorkan investasi besar di awal tapi harga kripto anjlok sesudahnya, investor lebih baik pelan-pelan mengeluarkan uangnya asal tetap selamat, bukan?

Strategi DCA sebenarnya adalah strategi yang paling aman. Sebab, investor tidak perlu khawatir akan penurunan harga yang dalam karena memiliki dana untuk berinvestasi secara rutin dari uang yang dihasilkan secara bulanan.

Kalau kamu bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kamu tertarik menggunakan strategi DCA?

Baca juga: Pluang Insight: Mengupas 'The Great Reset', Dulu Konspirasi Viral Kini Fenomena Global

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait