Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 7 menit

View

0

Pluang Insight: Mengupas 'The Great Reset', Dulu Konspirasi Viral Kini Fenomena Global

The Great Reset adalah sebuah istilah yang hangat diperbincangkan di kancah ekonomi global. Awalnya, The Great Reset sempat viral sebagai sebuah teori konspirasi. Namun, kini makna istilah tersebut bergeser untuk menggambarkan fenomena baru di pasar tenaga kerja. Yuk, simak penjelasannya di Pluang Insight berikut!

Apa Itu 'The Great Reset'?

Untuk mengetahui asal mula istilah The Great Reset alias tata ulang akbar, Sobat Cuan perlu kembali dua tahun lalu ketika pandemi COVID-19 bikin ekonomi kalang kabut.

Pada Juni 2020, Pangeran Charles dari Inggris beserta tokoh elit lainnya meluncurkan gerakan yang disebut tata ulang akbar bagi ekonomi global (Great Reset of the Global Economy). Gerakan yang diluncurkan di helatan ke-50 World Economic Forum (WEF) itu berfokus untuk melihat pandemi sebagai kesempatan untuk menata ulang perekonomian global.

Dalam kesempatan tersebut, Pangeran Charles mengatakan bahwa pandemi harusnya bisa menjadi kesempatan luas bagi umat manusia untuk menciptakan industri yang mengedepankan perkembangan berkelanjutan.

Mantan Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney ikut menimpali dengan mengatakan bahwa pandemi adalah ujian berat bagi sistem tata kelola perusahaan. Sehingga menurutnya, masuk akal jika nantinya banyak orang menginginkan perbaikan terkait hal tersebut selepas pandemi COVID-19.

Namun, komentar yang justru menarik perhatian masyarakat luas meluncur dari ketua WEF Prof. Klaus Schwab. Ia mengatakan bahwa pandemi global adalah kesempatan langka di mana umat manusia bisa introspeksi, membayangkan kembali, dan menata ulang dunia untuk menuju masa depan yang lebih makmur.

Sayangnya, Schwabb tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai komentarnya tersebut meski terdapat siniar khusus dan buku setebal 280 halaman yang menjelaskan gerakan The Great Reset.

Nah, minimnya informasi tersebut, plus kehadiran sosok-sosok penting di baliknya, menjadi ajang yang sempurna bagi beberapa pihak untuk menciptakan teori konspirasi terkait The Great Reset.

Mengenal Konspirasi 'The Great Reset'

Banyak teori konspirasi yang bermunculan di masyarakat terkait gerakan The Great Reset. Tetapi, teori yang paling populer mengatakan bahwa kebijakan lockdown dan pembatasan sosial bukan ditujukan untuk menghalau virus COVID-19, namun merupakan kesengajaan untuk meruntuhkan ekonomi dan sistem pemerintahan negara-negara sosialis.

Mereka yang menganut teori ini percaya bahwa pemimpin dunia sengaja berkonsolidasi untuk membumihanguskan ekonomi dan memulainya "dari nol lagi". Mereka menuduh kelompok elit dunia bisa melancarkan aksi tersebut mumpung ekonomi sedang krisis dan harga minyak dunia sedang ambyar gara-gara pandemi.

Dugaan ini semakin kuat setelah Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada pertemuan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) 15 November 2020 mengatakan bahwa pandemi COVID-19 memberikan kesempatan bagi sebuah "tata ulang". Hanya saja, ia juga tidak memberi penjelasan lebih lanjut terkait "tata ulang" yang dimaksud.

Maka dari itu, tak heran jika pecinta teori konspirasi meyakini bahwa inflasi tinggi, rubuhnya pasar modal, dan ancaman resesi saat ini merupakan buah dari persengkokolan tersebut. Hanya saja, hingga saat ini, teori tersebut masih belum dapat dibuktikan dengan pasti. WEF sendiri menganggap teori konspirasi tersebut hanyalah "kegaduhan" semata.

Makna Baru 'The Great Reset'

Namun, perbincangan mengenai konsep The Great Reset memasuki babak baru di tahun ini. Kini, konsep The Great Reset sudah bergeser dari sekadar teori konspirasi menjadi sebuah teori baru yang tengah berkembang dan jadi buah bibir di pasar tenaga kerja.

Seperti apa konsep The Great Reset dalam konteks ketenagakerjaan? Yuk, simak penjelasannya yang terbagi ke dalam empat babak berikut!

Babak 1: Pandemi Mengubah Sikap Tenaga Kerja

Seperti yang Sobat Cuan ketahui, pandemi COVID-19 mengubah segalanya termasuk dari sisi ketenagakerjaan. Jutaan pekerja seluruh dunia dirumahkan sementara sebagian lainnya memutuskan untuk mengundurkan diri secara sukarela.

Namun, mujurnya, mereka punya banyak kesempatan mendulang cuan selain bekerja di era digital seperti saat ini. Salah satunya adalah berinvestasi ritel. Apalagi, platform investasi yang menyediakan investasi terjangkau cukup menjamur di era pandemi.

Pilihan mereka pun ternyata jitu. Kinerja pasar modal ternyata cukup bersinar sepanjang 2021. Selain itu, kinerja aset kripto pun tak mau kalah ikutan manggung di tahun yang sama.

Menurut grafik di bawah, indeks saham AS seperti S&P500 dan Nasdaq memberikan return yang fantastis pada saat itu. Sobat Cuan bisa melihat buktinya di grafik berikut.

Tak hanya pasar modal, kinerja aset kripto pun terlihat menggiurkan sepanjang tahun lalu. Tengok saja laju return Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) yang mencapai 300% hingga 1.400% di 2021.

Ibarat ketiban durian runtuh, mereka pun akhirnya menerima cuan jumbo dan memutuskan tidak ingin kembali merepotkan diri bekerja siang dan malam untuk mencari nafkah. Lagipula, untuk apa susah-susah banting tulang kalau mereka bisa mendapat rezeki nomplok dari trading aset, bukan?

Sayangnya, hal ini malah menyebabkan suplai tenaga kerja kian mengetat. Perusahaan pun semakin sukar menemukan talenta yang tepat untuk mengisi beberapa posisi yang lowong. Nah, salah satu sektor yang kesusahan mendapatkan tenaga kerja dengan skill mumpuni adalah perusahaan sektor teknologi.

Babak 2: Perusahaan Pusing Tujuh Keliling Cari Tenaga Kerja

Sobat Cuan mungkin menyadari bahwa sektor teknologi adalah salah satu sektor yang berkinerja kinclong selama pandemi. Tengok saja, perusahaan jasa streaming seperti Netflix dan Disney+ menikmati puncak kejayaannya. Selain itu, beberapa perusahaan e-commerce juga kipas-kipas uang seiring minat belanja daring yang tinggi.

Melihat potensi kinclong sektor teknologi, perusahaan modal ventura pun tak mau ketinggalan kecipratan cuan dari fenomena tersebut, Mereka kemudian kompak menggelontorkan pendanaan jumbo ke perusahan-perusahaan sektor teknologi.

Tetapi, untuk mengembangkan skala bisnisnya, perusahaan teknologi tentu membutuhkan talenta berkeahlian mumpuni dengan jumlah tak sedikit. Sayangnya, karena tenaga kerja ahli sudah nyaman hidup berbasiskan trading aset, maka sebagian di antaranya tak mau kembali bekerja. Perusahaan teknologi pun akhirnya pusing tujuh keliling memburu tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya.

Sebagai jalan keluarnya, para perusahaan tersebut lalu memanfaatkan dana segar dari para investornya untuk menggaet pegawai baru. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan gaji serta benefit bejibun.

Namun, peristiwa ini malah justru memicu fenomena makroekonomi baru. Sejak akhir tahun lalu, AS selalu mencatat inflasi gaji dengan angka signifikan. Selain itu, kini gaji pegawai di AS dianggap terlalu "kemahalan" dan bahkan tak sepadan dengan tanggung jawab yang mereka emban.

Hanya saja, ibarat drama, dinamika di pasar tenaga kerja tersebut pun mengalami plot twist pada 2022.

Babak 3: Nasib Tenaga Kerja Kembali Terombang-Ambing

Kondisi makroekonomi ternyata tak berjalan mulus memasuki 2022. Tingkat inflasi yang tinggi dan ketidakpastian ekonomi membuat prospek bisnis sektor teknologi menjadi terancam.

Data terakhir menunjukkan bahwa inflasi tahunan AS mencapai 8,3% di April. Meski turun dari bulan sebelumnya 8,5%, namun angka inflasi tersebut merupakan yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Bank sentral AS The Fed sendiri pun berencana melancarkan kebijakan moneter agresif, yang ditakutkan akan berujung pada resesi ekonomi.

Hanya saja, di tengah kondisi ekonomi yang serba tak pasti tersebut, perusahaan teknologi tetap punya kewajiban terhadap investornya untuk meningkatkan pertumbuhan pendapatannya. Imbasnya, pendanaan investor yang tadinya fokus digunakan demi menarik minat talenta-talenta cemerlang kini terpaksa digunakan untuk mempertahankan bisnis mereka.

Alhasil, pekerja "angkatan pandemi" pun tidak memperoleh lagi kompensasi yang selama ini mereka nikmati. Sebagai aksi "balas dendam", mereka pun kemudian ogah-ogahan untuk berkontribusi besar bagi perusahannya.

Nah, sikap tidak disiplin dari para pekerja tersebut kemudian memicu perusahaan teknologi untuk melancarkan aksi pemutusan hubungan kerja (PHK). Maka tak heran jika dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan teknologi AS dengan valuasi di atas US$1 miliar silih berganti mengumumkan perumahan karyawan.

Kini, drama tersebut tengah memasuki fase baru, sebuah fase yang dipercaya menjadi awal mula The Great Reset di pasar tenaga kerja.

Babak 4: 'The Great Reset' Tenaga Kerja Bakal Terjadi?

Aksi PHK perusahaan teknologi aklhirnya membuat suplai tenaga kerja AS kembali bertambah. Pasokan itu pun kemudian bertambah makin banyak setelah para pekerja yang tadinya memutuskan tak mau kembali bekerja demi trading akhirnya kembali menjadi pemburu kerja lagi. Lho, kok bisa begitu?

Sobat Cuan sudah pasti paham bahwa pasar modal dan kripto mengalami bear market sejak awal tahun. Bahkan, kini investor lebih senang menggenggam Dolar AS ketimbang berinvestasi lantaran situasi market yang gonjang-ganjing. Hal ini tercermin dari kenaikan nilai Dolar AS yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Caption

 

Peristiwa ini membuat pelaku pasar boncos setengah mati. Bahkan, dampak bear market ini paling berat dirasakan oleh mereka yang mencari nafkah dari trading aset.

Nah, dengan keadaan market yang serba tak pasti, karyawan yang awalnya enggan bekerja kini terpaksa kembali jadi jobseeker. Selain itu, jumlah tenaga kerja menganggur yang kian banyak pun kini rela dibayar berapapun asal mendapat pekerjaan. Nah, fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai The Great Reset di pasar tenaga kerja.

Hanya saja, majunya perkembangan teknologi plus kondisi makroekonomi yang amburadul membuat beberapa perusahaan membekukan proses rekrutmen mereka. Selain itu, hingga saat ini, masih belum ada yang mengetahui kapan The Great Reset ini akhirnya akan menghasilkan kestabilan baru di pasar tenaga kerja.

Makna The Great Reset saat ini memang telah banyak bergesar dari konteks semula. Namun, konsepnya tetap sama, yakni menata ulang sebuah aspek di dalam ekonomi secara besar-besaran.

Kalau kamu bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kamu percaya dengan konsep The Great Reset di dalam ekonomi?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: BBC, Tech Crunch

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait