pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

8666

Pasar Sepekan: The Fed Lagi 'Gak Santai', Market Pun Kena Badai

Investor saham AS dan kripto tak henti-hentinya meratapai nilai portofolionya sepanjang pekan ini. Namun, mereka tak sendirian. Sebab, investor saham Indonesia dan emas pun setia menemani akhir pekan mereka yang agak sendu. Yuk, simak ulasannya di Pasar Sepekan berikut.

Pasar Aset Kripto Sepekan

Langit mendung masih menggantung di atas pasar kripto, persis seperti langit Indonesia kala memasuki musim penghujan seperti sekarang.

Melansir Coinmarketcap pukul 07.53 WIB, delapan dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat pasrah mendekam di zona merah dalam sepekan terakhir, seperti terlihat di tabel berikut.

Pelaku pasar nampaknya masih enggan berkubang di pasar aset berisiko setelah bank sentral Amerika Serikat The Fed mengumumkan kebijakan moneternya yang bernada hawkish. Pergerakan pasar kripto, sekali lagi, ternyata juga mengikuti kinerja pasar saham AS yang sama-sama memble.

Setelah merampungkan rapat FOMC, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa otoritas moneter tersebut tak segan-segan mengerek suku bunga acuannya tanpa "menyakiti" pasar tenaga kerja AS. The Fed menempuh langkah tersebut demi meredam inflasi yang kian meradang.

Investor langsung mengartikan langkah tersebut bahwa The Fed bisa jadi kian agresif dibanding ekspektasi. Jika hal itu terjadi, maka laju pertumbuhan ekonomi bisa terhambat. Akibatnya, investor pun makin malas membenamkan uang di pasar aset berisiko.

Selain itu, beberapa analis percaya bahwa lesunya performa pasar kripto minggu ini juga disebabkan oleh menguatnya nilai Dolar AS. Sekadar informasi, beberapa analis mengkaji bahwa pergerakan harga aset kripto berkorelasi negatif dengan naik-turunnya nilai sang aset greenback, mirip seperti emas, sejak Juli 2021.

Apakah BTC Masih Terus Berjaya?

Jika Sobat Cuan menyimak tabel di atas, maka kamu bisa menemukan bahwa nilai Bitcoin (BTC) masih tahan banting meski kawan-kawannya tengah tersungkur. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, mulai dari derasnya aliran dana investor institusi hingga merosotnya suplai BTC di pasar.

Namun pertanyaannya, apakah penguatan ini bisa semakin cemerlang di pekan depan?

Dari sisi teknikal, pergerakan BTC terbilang volatil mengikuti Nasdaq. Akan tetapi, penutupan di hari Jumat kemarin memberikan sinyal positif karena BTC berhasil tembus US$37.557.

Sayangnya, hal ini belum memberikan sinyal valid bagi BTC mematahkan downtrend-nya. Sehingga, untuk minggu depan, BTC diharapkan bisa menembus level US$40.000 agar nilainya terus mengangkasa. Adapun support terdekat BTC akan berada di level US$37.550 dan US$34.226.

Pasar Saham AS Sepekan

Trio indeks AS berhasil ditutup di zona hijau pada sesi perdagangan Jumat (28/1), menghapus semua minus yang mereka alami sejak awal minggu ini. Alhasil, dalam sepekan, nilai indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 1,3%, sementara nilai S&P 500 menguat di 0,8% dan nilai Nasdaq mengalami pergerakan yang flattish.

Meski membukukan kinerja apik, namun pergerakan harga saham AS terbilang liar sepanjang pekan ini. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pengumuman kebijakan moneter The Fed yang seolah-olah memberi isyarat bahwa mereka ogah mengerek suku bunga acuannya pelan-pelan.

Di sisi lain, ekonomi AS ternyata tumbuh 6,9% secara tahunan pada kuartal IV lalu. Nah, ekonomi yang lagi berotot ini membuat The Fed bisa saja melanggengkan kebijakan moneter sesuka hatinya.

Di balik itu semua, ternyata likuiditas pasar modal semakin mengering. Bahkan, levelnya pun terbilang paling tipis sejak krisis pandemi, membuat setiap swing harga saham semakin buruk dan mengirim para traders untuk ke pasar opsi untuk proteksi.

Jika melihat dari spesifik saham, maka saham Microsoft Corp atau MSFT melakukan swing paling parah yakni 15% dalam 15 jam terakhir dan mencetak volatilitas yang dua kali lebih besar daripada biasanya.

Grafik di bawah menunjukkan bahwa S&P 500 kini memiliki pergerakan harian yang cukup lebar di tengah ketidakpastian makroekonomi. Apakah ini menjadi pertanda bahwa pasar modal AS akan kembali volatil seperti zaman awal pandemi COVID-19?

Untuk ilustrasi yang lebih jelas, yuk ambil contoh dari pergerakan indeks Nasdaq 100.

Pada Senin (24/1), indeks Nasdaq menghapus pelemahannya sebesar 5%. Peristiwa ini sekaligus menandai sejarah reversal terbesar sejak Januari 2001 seiring para investor retail membeli di dasar dan para hedge fund membatalkan aksi short positions mereka.

Namun, pelaku pasar dilanda ketakutan parah sehari setelahnya karena mereka mengantisipasi rapat The Fed. Akhirnya, indeks Nasdaq harus merelakan pertumbuhannya pupus menjadi 3,5% dua hari kemudian. Dan akhirnya, pada Jumat (28/1), indeks Nasdaq berhasil naik lebih dari 3%.

Salah satu pemicu volatilitas ini datang dari rentetan perilisan laporan keuangan perusahaan AS. Ada perusahaan yang membukukan hasil keuangan mumpuni seperti Apple, namun ada juga emiten yang melaporkan kinerja keuangannya menyedihkan.

Pasar Emas Sepekan

Setelah tersenyum semringah pekan lalu, investor emas nampaknya terbilang pening di pekan ini. Betapa tidak, kini harga emas bertengger di Rp851.791 per gram alias merosot 1,8% dalam sepekan.

Di awal pekan, harga emas sejatinya kembali berjaya setelah tensi geopolitik antara negara-negara barat dan Rusia kian memanas.

Sekadar informasi, Inggris, Uni Eropa, dan Amerika Serikat sempat mengancam akan memberikan sanksi terhadap Rusia jika negara tersebut berani menginvasi Ukraina. Nah, ketegangan internasional tersebut membuat investor khawatir bahwa situasi ekonomi kian tak menentu. Alhasil, di saat-saat seperti itu, mereka memilih untuk melindungi kekayaan dalam bentuk aset safe haven utamanya emas.

Sayangnya, harga emas terpelanting setelah The Fed ternyata bersikap lebih hawkish dibanding ekspektasi pelaku pasar.

Pengumuman The Fed tersebut ternyata membuat dua musuh bebuyutan emas, nilai Dolar AS dan tingkat imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun, ikut mengangkasa. Hal tersebut sontak bikin emas KO.

Sekadari informasi, kenaikan nilai Dolar AS akan membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi mereka yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Sementara itu, kenaikan yield obligasi pemerintah AS akan membuat opportunity cost dalam menggenggam emas menjadi lebih mahal.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi tahunan AS yang mencapai 6,9% di kuartal IV juga ikutan menghantam harga emas. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi telah pulih dan ketidakpastian di pasar pun berkurang, sehingga investor memilih melepas emas.

Baca juga: Rangkuman Pasar: IHSG Pesta di Hari Jumat, Kripto Kena 'Skakmat'

Pasar Domestik Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Jumat (28/1) dengan bertengger di 6.645,51 poin, melorot 1,2% dibandingkan sepekan sebelumnya.

Data tersebut tentu bikin investor domestik gigit jari. Namun setidaknya, mereka bisa tersenyum lebih lebar dibanding investor saham AS yang mungkin tidurnya tak nyenyak sepekan terakhir.

Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini bisa dibilang gitu-gitu aja karena sedang berada di rentang sideways-nya yakni 6.540 hingga 6.750. Hanya saja, terdapat beberapa saham yang masih sukses menarik perhatian investor, utamanya saham emiten batu bara.

Pada pekan ini, nilai saham emiten batu bara seperti PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) masing-masing melejit 35,7% dan 18,4%. Prestasi fantastis ini tak terlepas dari niatan kedua perusahaan tersebut yang ingin nyemplung di bisnis kendaraan listrik.

INDY, contohnya, telah menandatangani nota kesepahaman dengan Indonesia Battery Corporation (IBC), Hon Hai Precision Industry (Foxconn) dan Gogoro untuk memperluas sayap bisnisnya ke sektor non-batu bara. Kuat dugaan, aksi korporasi ini dilakukan karena perusahaan berkomitmen untuk lebih go-green dan meningkatkan peringkat Environmental, Sustainable, dan Governance (ESG).

Satu catatan penting, perusahaan batu bara rata-rata memiliki skor ESG yang kurang baik lantaran bisnisnya dicap merusak lingkungan. Nah, dengan upaya hilirisasi ke bisnis kendaraan listrik, maka INDY bisa berharap skor ESG-nya bisa terdongkrak dan bisa berimbas ke pertumbuhan aliran dana yang masuk ke kantong perseroan.

Kemudian, bagaimana pergerakan IHSG jika dilihat dari sisi analisis teknikal? Sobat Cuan bisa menyimaknya di grafik berikut!

Dari sisi teknikal, IHSG telah retest support-nya lagi di area 6.544, yang juga memiliki titik pantulan. Tetapi, sinyal ini belum cukup valid sebagai dalih bahwa IHSG akan kembali bullish mengingat indeks saham domestik sedang dalam fase rally base rally. Jika memang IHSG dapat ditutup di atas level 6.760, maka IHSG diharapkan akan melanjutkan penguatan sampai ke level 7.000.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES