Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 7 menit

View

0

Pasar Sepekan: Market 'Dikocok-Kocok', Saham & Kripto Pantang Anjlok!

Investor kripto dan saham domestik boleh tersenyum riang pada pekan ini karena sukses mandi cuan di akhir pekan. Sayangnya, investor saham AS tak henti-hentinya gigit jari setelah indeks saham utama AS "dikocok-kocok" selama seminggu terakhir. Yuk, simak ulasannya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Setelah mengarungi hujan dan badai, aset kripto akhirnya berhasil berlayar kencang menjelang akhir pekan. Melansir Coinmarketcap pukul 07.38 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat kini sudah aman di zona hijau dalam sepekan terakhir setelah mendekam di zona merah dalam beberapa pekan terakhir.

Pasar aset kripto awalnya melaju di zona merah pada awal pekan ini setelah beberapa data menunjukkan bahwa volume perdagangan terbilang sepi menjelang hari raya Tahun Baru China. Kemudian, aset kripto kembali melaju sehari setelahnya setelah beberapa data menunjukkan bahwa suplai beredar aset kripto di platform exchange sempat mengering.

Namun, drama terjadi di pertengahan pekan. Anjloknya nilai saham Facebook hingga 20% dalam sehari membuat pergerakan aset kripto langsung oleng. Pasalnya, perusahaan membukukan rugi US$10 miliar dari divisi usahanya yang bergerak di bidang metaverse.

Hal itu bikin pelaku pasar sangsi bahwa prospek metaverse benar-benar menjanjikan. Sementara itu, ekosistem metaverse sendiri punya kaitan erat dengan kehadiran aset kripto. Tak heran, jika kemudian nilai aset kripto pun berguguran.

Polemik lainnya datang dari Womhole, yakni platform cross-chain NFT antara jaringan Solana dan Ethereum. Pertengahan pekan ini, sebanyak 120.000 ETH diduga dibajak oleh oknum tak bertanggung jawab. Wormhole menyadari hal ini setelah keping-keping ETH tersebut awalnya diduga "disalahgunakan".

Untungnya, Wormhole segera mengambil tindakan. Induk usaha Wormhole, Jump Crypto, dikabarkan akan segera mengganti ETH yang raib. Bahkan, Wormhole sempat dikabarkan telah bernegosiasi dengan sang pembajak untuk mengembalikan keping-keping ETH tersebut dengan uang tebusan US$10 juta.

Nah, upaya Wormhole tersebut bikin nilai SOL dan ETH bertenaga. Sesuai dengan tabel di atas, nilai keduanya masing-masing lompat 20,6% dan 16,6% dalam sepekan.

Aset kripto lain ikut ngebut setelah saham Amazon berhasil comeback di akhir pekan. Ya, seperti Sobat Cuan ketahui, kini pasar modal dan pasar kripto punya korelasi positif yang lebih erat dibanding sebelumnya.

Analisis Bitcoin

Dengan kenaikan Bitcoin yang terlihat gahar di 9,7% di pekan ini, Bitcoin berhasil memecahkan angka psikologis US$40.000 untuk pertama kalinya dalam dua pekan terakhir.

Gerak BTC didorong oleh kinclongnya data pekerjaan AS Januari, membuat para trader optimistis bahwa mungkin sekarang saat yang tepat untuk kembali bergumul ke pasar aset berisiko.

Hanya saja, beberapa analis percaya bahwa hal ini bukanlah pendorong utama pergerakan BTC. Mereka justru percaya bahwa langkah BTC yang sat-set bat-bet tersebut terjadi karena short squeeze.

Pluang beranggapan bahwa angka keramat BTC bukanlah level psikologis US$40.000 melainkan US$43.180. Jika BTC tidak mampu menembus angka tersebut, maka bukan tidak mungkin sang raja aset kripto itu akan terpelanting ke US$31.900.

Selain itu, pelaku pasar belum melakukan priced in terhadap tensi geopolitk yang memanas antara Ukraina dan Rusia serta kenaikan suku bunga acuan The Fed. Jadi, masih ada kemungkinan harga BTC bisa kembali goyah ke depan.

Jika dilihat dari data historisnya, tingkat lapangan pekerjaan yang menguat seharusnya berdampak buruk bagi gerak harga BTC. Sebab, data ini memungkinkan The Fed untuk lebih agresif menaikan suku bunga acuannya. Apalagi, secara umum, harga BTC pun selalu bereaksi negatif jika The Fed mengetatkan kebijakan moneternya.

Pasar Saham AS Sepekan

Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil lompat 1,1% sepanjang pekan ini. Langkahnya pun disusul oleh indeks S&P 500 dan Nasdaq yang sama-sama sukses menguat 1,6% dan 2,4% di waktu yang sama.

Gerak trio indeks saham AS selama sepekan terakhir bisa dibilang cukup bergejolak. Investor dibikin gigit jari atas banyaknya drama yang terjadi di pasar modal negara Paman Sam tersebut. Namun, kondisi itu nampaknya juga menjadi tantangan yang digemari oleh trader profesional yang kecanduan volatilitas.

Pergerakan indeks saham AS yang jungkat-jungkit selama sepekan terakhir disebabkan oleh hasil-hasil laporan keuangan emiten sektor teknologi, yang menjadi pentolan indeks Wall Street. Dari laporan tersebut, investor bisa menerka saham teknologi apa yang keluar sebagai pemenang atau justru jadi pecundang.

Saham Amazon dan Google, misalnya, boleh saja berbangga hati menjadi pemenang pekan ini setelah nilai sahamnya masing-masing loncat 8,9% dan 6,81% selama sepekan. Tak heran, sebab keduanya mampu membukukan laba bersih masing-masing 98% dan 36% secara tahunan pada kuartal IV 2021.

Nah, keduanya pun sukses menjadi "ibu peri" bagi pergerakan indeks saham AS pekan ini. Tercatat, Google menopang laju indeks Wall Street pada perdagangan Rabu, sementara Amazon mendorong pergerakan trio indeks AS pada Jumat.

Di sisi lain, terdapat pula saham Meta Platforms alias Facebook yang menjadi jongos minggu ini. Betapa tidak, nilai sahamnya amblas 21,15% dalam sepekan terakhir. Bahkan, Facebook sempat mencatat rekor sebagai emiten yang kehilangan valuasi pasar terbesar sepanjang sejarah pasar modal AS.

Saham Meta longsor setelah membukukan perlambatan laba bersih 7% secara tahunan pada kuartal IV lalu. Capaian tersebut, ternyata, juga lebih rendah dari ekspektasi analis di AS. Apakah Sobat Cuan penasaran dengan hasil laporan keuangan Facebook yang amburadul? Klik tautan ini, ya!

Selain dari laporan keuangan yang fantastis, kondisi makroekonomi pun ikut mengocok-ngocok pergerakan indeks saham AS.

Sepanjang pekan ini, investor menghadapi pernyataan hawkish yang mengejutkan dari duo bank sentral Benua Biru, Bank Sentral Inggris dan Bank Sentral Eropa. Sementara itu, data pemerintah menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS kian menguat, yang ujungnya hanya menambah tekanan bagi The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya.

Volatilitas pasar akibat kondisi makroekonomi bisa disimak melalui Moving Average 10 hari dari Volatility Index (VIX) berikut. Data ini menunjukkan bahwa investor makin tidak bisa tidur tenang di malam hari hanya karena menanti gerak-gerik bank sentral berikutnya.

Pasar Emas Sepekan

Harga emas bertengger di Rp856.417 per gram di akhir pekan, alias menguat 0,55% dibanding sepekan sebelumnya.

Meski sukses melaju, harga emas sejatinya bergerak jalan di tempat. Sebab, ibarat duel, kubu bull dan bear sama-sama terlihat menunjukkan taringnya sepanjang pekan ini dan ujungnya bikin harga emas terlihat gitu-gitu aja.

Di satu sisi, kubu bull makin getol mengoleksi emas setelah khawatir bahwa tensi geopolitik antara Ukraina dan Rusia kian menjadi-jadi dan ujungnya bikin ekonomi menjadi tidak pasti. Nah, di saat seperti itu, pelaku pasar memang cenderung memarkirkan kekayaannya sementara di emas.

Namun, di sisi lain, kubu bear justru memilih melepas emas karena tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS sedang terkerek. Ya, yield obligasi pemerintah AS tengah melonjak drastis pekan ini lantaran investor mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada Maret mendatang. 

Selain itu, data Non-Farm Payroll (NFP) menunjukkan bahwa AS mampu menambah 487.000 lapangan pekerjaan sepanjang Januari. Data tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi AS mungkin benar-benar pulih dan membuat investor makin malas koleksi emas.

Nasib harga emas dalam beberapa pekan ke depan sepertinya juga akan dipengaruhi peperangan antara kubu bull dan bear. Lantas, bagaimana hasil akhirnya? Tunggu saja ya, Sobat Cuan!

Baca juga: Pluang Pagi: Facebook Bikin Runyam, Koin Metaverse 'Balas Dendam'

Pasar Domestik Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) undur diri dari sesi perdagangan Jumat (4/2) di level 6.731,39 poin, lompat 1,29% dibanding sepekan sebelumnya. Meski menguat di akhir pekan, pergerakan sang indeks domestik sejatinya bikin hati investor deg-degan sepanjang pekan ini.

Ya, laju IHSG sempat terseok-seok akibat aksi investor yang social distancing dari bursa saham dalam negeri lantaran infeksi COVID-19 semakin meradang. Pada Jumat (4/2), pemerintah bahkan mencatat bahwa jumlah kasus harian baru COVID-19 di tanah air mencapai 32.211 kasus.

Namun di sisi lain, ternyata investor asing justru tengah memborong saham domestik mumpung lagi murah (buy the dip), utamanya saham-saham big cap. Aksi tersebut tercermin dari total pembelian asing yang mencapai Rp1,77 triliun di pekan ini.

Hanya saja, pergerakan indeks dalam negeri sebenarnya terlihat stagnan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Pasalnya, pergerakan IHSG sedang berada dalam rentang sideways-nya yakni di kisaran 6.540 hingga 6.750. Sehingga, IHSG punya beban untuk menembus level 6.750 jika ingin terus reli kencang.

Nah, oleh karenanya, pekan dapan akan menjadi periode krusial bagi IHSG untuk melihat apakah ia mampu menembus level tersebut atau sebaliknya.

Saham Teknologi Unjuk Gigi

Adapun panggung utama bursa domestik pekan ini direbut oleh saham emiten teknologi. Tengok saja nilai saham PT Bukalapak Tbk (BUKA), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), dan PT Multipolar Tbk (MLPL) yang rebound kencang setelah "digebukin" beberapa pekan sebelumnya.

Sejatinya, tidak ada sentimen khusus yang membuat saham-saham teknologi terbang tinggi pada pekan ini. Namun, gerak lincah saham-saham tersebut terlihat mengikuti saham-saham sektor serupa di AS yang sukses membukukan laporan keuangan kinclong.

Sehingga, bisa dikatakan kinerja saham teknologi domestik yang apik adalah cerminan atas harapan pelaku pasar bahwa performa keuangan saham teknologi dalam negeri akan terlihat "sebelas dua belas" dengan saham sektor serupa di AS.

Tak hanya saham sektor teknologi, deretan saham milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo seperti PT MNC Studios International Tbk (MSIN), PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP), dan PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) juga merebut hati investor. Betapa tidak, sebab laju nilai geng saham tersebut melonjak lebih dari 50% dalam sepekan saja!

Kuat dugaan, salah satu pendorong meroketnya nilai saham-saham tersebut adalah kesepakatan antara BCAP dengan sebuah bank digital internasional. Namun, apakah kabar tersebut benar-benar mendorong harga saham BCAP?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait