
The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang bertugas menjaga stabilitas harga dan menetapkan suku bunga acuan negara tersebut.
Nama resminya adalah Federal Reserve System, dibentuk melalui Federal Reserve Act pada 23 Desember 1913 sebagai respons atas krisis keuangan 1907. Keputusan suku bunga The Fed diikuti secara luas oleh investor global karena berpengaruh terhadap nilai tukar dolar AS, arus modal, dan pergerakan pasar keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
The Fed (Federal Reserve) adalah bank sentral Amerika Serikat yang bertanggung jawab mengawasi dan mengatur sistem keuangan negara tersebut. Lembaga ini terdiri dari Board of Governors di Washington D.C. dan 12 Federal Reserve Bank regional yang tersebar di berbagai wilayah AS.
Dewan Gubernur The Fed beranggotakan tujuh orang yang ditunjuk oleh Presiden AS dan disetujui oleh Senat. Ketua The Fed saat ini adalah Kevin Warsh, yang dilantik pada 22 Mei 2026 menggantikan Jerome Powell (sumber: Federal Reserve, 22 Mei 2026).
Secara garis besar, The Fed memiliki lima fungsi utama: menjalankan kebijakan moneter untuk mendukung lapangan kerja maksimal dan stabilitas harga, menjaga stabilitas sistem keuangan, mengawasi keamanan sistem pembayaran, mengawasi keamanan lembaga keuangan, dan mendukung perlindungan konsumen.
The Fed menjalankan kebijakan moneternya melalui Federal Open Market Committee (FOMC), yaitu komite yang bertemu secara berkala — umumnya delapan kali dalam setahun — untuk menentukan arah suku bunga acuan (Federal Funds Rate). Berikut mekanisme utamanya:
1. Target Inflasi — The Fed menetapkan target inflasi tahunan sebesar 2%, yang menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.
2. Suku Bunga Acuan (Federal Funds Rate) — FOMC menaikkan, menurunkan, atau menahan suku bunga acuan sesuai kondisi ekonomi seperti inflasi dan data ketenagakerjaan.
3. Operasi Pasar Terbuka — The Fed membeli atau menjual surat berharga pemerintah untuk memengaruhi jumlah uang beredar dan likuiditas perbankan.
4. Forward Guidance — The Fed memberikan sinyal komunikasi kepada pasar mengenai arah kebijakan ke depan, agar pelaku pasar dapat menyesuaikan ekspektasi.
Menurut siaran pers resmi Federal Reserve (29 Juli 2026), FOMC memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan Juli 2026 — level yang sama sejak pemangkasan terakhir pada Desember 2025.
Berikut ilustrasi historis pergerakan suku bunga acuan The Fed sejak puncak siklus kenaikan pada 2023 hingga keputusan terbaru (data historis, bukan prediksi arah kebijakan ke depan):
Tanggal Keputusan FOMC | Batas Atas Suku Bunga | Perubahan |
26 Jul 2023 | 5,50% | Puncak siklus kenaikan |
18 Sep 2024 | 5,00% | -50 bps |
7 Nov 2024 | 4,75% | -25 bps |
18 Des 2024 | 4,50% | -25 bps |
17 Sep 2025 | 4,25% | -25 bps |
29 Okt 2025 | 4,00% | -25 bps |
10 Des 2025 | 3,75% | -25 bps |
29 Jul 2026 | 3,75% | Ditahan (0 bps) |
Sumber: Bankrate, analisis data Federal Reserve (data per April 2026); Federal Reserve, siaran pers FOMC (29 Juli 2026).
Cara membacanya: dari puncak 5,50% pada Juli 2023 hingga 3,75% pada Juli 2026, total penurunan suku bunga acuan mencapai 1,75 poin persentase atau 175 basis poin dalam kurun sekitar 29 bulan. Perhitungan sederhana seperti ini membantu investor memahami skala perubahan kebijakan The Fed dari waktu ke waktu — bukan sebagai dasar untuk memprediksi arah kebijakan berikutnya.
1. Konteks makro yang lebih jelas — memahami arah kebijakan The Fed membantu investor menilai kondisi likuiditas global dan biaya modal secara umum.
2. Sinyal terhadap nilai tukar — perubahan suku bunga acuan berkaitan dengan pergerakan indeks dolar AS, yang relevan bagi investor yang memiliki eksposur ke aset berdenominasi dolar.
3. Diversifikasi berbasis data — memahami siklus kebijakan moneter membantu investor menyusun strategi diversifikasi portofolio antarnegara dan antarkelas aset secara lebih terinformasi.
1. Volatilitas pasar — pengumuman kebijakan The Fed kerap memicu volatilitas jangka pendek pada pasar saham, obligasi, dan mata uang, termasuk Rupiah.
2. Risiko interpretasi — kebijakan The Fed dipengaruhi banyak variabel ekonomi yang kompleks; kesimpulan yang terlalu sederhana berisiko keliru dan merugikan keputusan investasi.
3. Bukan jaminan hasil investasi — memahami kebijakan The Fed tidak menjamin keuntungan; seluruh keputusan investasi tetap mengandung risiko kerugian modal.
Bagi investor pemula yang ingin memantau kebijakan The Fed sebagai bagian dari strategi investasi, berikut langkah yang umum ditempuh:
1. Pelajari kalender FOMC — catat jadwal pertemuan FOMC (umumnya delapan kali setahun) melalui situs resmi federalreserve.gov untuk mengikuti perkembangan kebijakan secara langsung dari sumbernya.
2. Pahami indikator yang dipantau The Fed, seperti data inflasi (CPI), data ketenagakerjaan, dan pertumbuhan ekonomi, karena indikator inilah yang mendasari keputusan FOMC.
3. Lakukan diversifikasi, termasuk ke aset yang berkaitan dengan pasar AS, agar portofolio tidak bergantung pada satu kelas aset atau satu mata uang saja.
4. Gunakan platform investasi yang berizin dan diawasi OJK, serta pahami biaya dan risiko produk sebelum bertransaksi.
5. Mulai dengan nominal kecil dan pelajari mekanismenya, misalnya melalui produk saham AS fraksional yang memungkinkan investor beli saham AS dari Rp5.000, sebelum menambah porsi investasi secara bertahap.
Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek. Seluruh transaksi dicatat di Jakarta Futures Exchange (JFX) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI). PT PG Berjangka juga merupakan Pialang Berjangka yang berizin dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Investor dapat beli saham AS dari Rp5.000 melalui produk saham AS fraksional Pluang.
Untuk memahami dasar-dasar investasi saham sebelum masuk ke strategi yang mempertimbangkan kebijakan The Fed, pelajari juga pengertian investasi saham, cara kerja, dan cara memulainya.
The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat, sedangkan Bank Indonesia adalah bank sentral Republik Indonesia — keduanya memiliki mandat serupa untuk menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan di negara masing-masing. Perbedaannya terletak pada cakupan pengaruh: kebijakan The Fed berdampak global karena dolar AS berperan sebagai mata uang cadangan dunia, sementara kebijakan BI berfokus pada stabilitas domestik.
Perubahan suku bunga acuan The Fed dapat memengaruhi arus modal asing, nilai tukar Rupiah, dan biaya pendanaan global, yang pada gilirannya turut memengaruhi sentimen investor di pasar saham Indonesia. Namun, pergerakan IHSG juga dipengaruhi faktor domestik seperti kinerja emiten dan kebijakan dalam negeri, sehingga pengaruh The Fed bersifat salah satu faktor, bukan penentu tunggal.
Ketua The Fed saat ini adalah Kevin Warsh, yang dilantik pada 22 Mei 2026 menggantikan Jerome Powell (sumber: Federal Reserve, 22 Mei 2026). Ketua The Fed dipilih oleh Presiden AS dan memerlukan persetujuan Senat, dengan masa jabatan empat tahun untuk posisi ketua.
The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang berperan besar dalam menentukan arah kebijakan moneter global melalui keputusan suku bunga acuan, operasi pasar terbuka, dan forward guidance. Memahami cara kerja dan sejarah keputusan The Fed dapat membantu investor menilai konteks makroekonomi secara lebih terinformasi, meskipun keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan berbagai faktor lain serta risiko yang menyertainya.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.