
Jawaban Singkat:
Retained earnings atau laba ditahan adalah pos akuntansi yang mencatat akumulasi laba bersih emiten sejak awal berdiri, dikurangi seluruh dividen yang pernah dibagikan ke pemegang saham. Pos ini masuk dalam kelompok Ekuitas pada neraca perusahaan, bersanding dengan modal saham dan komponen ekuitas lainnya.
Ada dua tempat utama untuk menemukan angka ini dalam laporan keuangan emiten yang bisa diunduh lewat situs Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun situs resmi investor relations emiten:
Rumus dasarnya:
Saldo Laba Ditahan Akhir = Saldo Laba Ditahan Awal + Laba Bersih Tahun Berjalan − Dividen yang Dibagikan
Contoh ilustrasi (angka fiktif untuk simulasi, bukan data emiten riil): Jika PT Contoh Sejahtera Tbk mencatat saldo laba ditahan awal tahun Rp500 miliar, laba bersih tahun berjalan Rp150 miliar, dan membagikan dividen Rp60 miliar, maka saldo laba ditahan akhir tahun adalah Rp500 miliar + Rp150 miliar − Rp60 miliar = Rp590 miliar.
Sebagai gambaran skala nyata, BCA (emiten BBCA) tercatat membukukan laba bersih Rp57,5 triliun sepanjang 2025 (Investortrust.id, 2026). Sebagian dari laba tersebut dibagikan sebagai dividen ke pemegang saham sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan sisanya berpotensi menambah saldo laba ditahan pada laporan keuangan periode berjalan — besaran pastinya bervariasi setiap tahun tergantung kebijakan dividen masing-masing emiten.
Retained earnings tidak berdiri sendiri — pos ini menjadi salah satu komponen pembentuk ekuitas yang memengaruhi sejumlah rasio fundamental yang sering dipakai investor:
Menggabungkan retained earnings dengan rasio-rasio ini memberi gambaran yang lebih lengkap dibanding membaca satu angka saja — apakah laba yang ditahan benar-benar menambah nilai bagi pemegang saham, atau justru mengendap tanpa memberi hasil yang sepadan.
Ambil laporan keuangan terbaru dari situs resmi BEI atau halaman investor relations emiten — hindari sumber tidak resmi seperti forum atau blog pribadi yang tidak terverifikasi.
Cari baris "Saldo Laba" atau "Retained Earnings". Catat nilainya, lalu perhatikan apakah dipecah menjadi "telah ditentukan penggunaannya" dan "belum ditentukan penggunaannya".
Lihat pergerakan dari saldo awal ke saldo akhir periode untuk memahami berapa laba bersih yang ditambahkan dan berapa dividen yang dikurangkan sepanjang periode tersebut.
Bandingkan saldo laba ditahan minimal 3–5 tahun terakhir. Tren yang konsisten naik menunjukkan profitabilitas yang stabil; tren yang stagnan atau menurun perlu ditelusuri penyebabnya lewat Laporan Laba Rugi.
Kombinasikan dengan ROE, Debt to Equity Ratio (DER), dan EPS agar analisismu lebih menyeluruh, bukan hanya berpatokan pada satu angka saja. Kamu bisa memanfaatkan fitur Screeners di aplikasi Pluang untuk membandingkan rasio-rasio fundamental antar-emiten saham Indonesia secara lebih cepat sebagai bagian dari analisa fundamentalmu.
Tidak. Retained earnings adalah pos akuntansi di Ekuitas, bukan kas yang tersimpan secara harfiah. Dana dari laba ditahan biasanya sudah dialokasikan untuk operasional, aset, atau investasi perusahaan, sehingga jumlahnya bisa berbeda jauh dari saldo kas riil emiten yang tercatat di Laporan Arus Kas.
Retained earnings negatif (sering disebut defisit) berarti akumulasi kerugian emiten sepanjang riwayatnya lebih besar dari akumulasi labanya. Ini bukan otomatis berarti perusahaan sedang rugi tahun ini, namun tetap menjadi sinyal yang perlu ditelusuri lebih lanjut, misalnya lewat tren laba rugi beberapa tahun terakhir.
Tidak selalu. Keputusan pembagian dividen ditentukan lewat RUPS dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebutuhan dana untuk ekspansi, kondisi arus kas, dan kebijakan manajemen. Emiten dengan retained earnings besar bisa saja memilih menahan sebagian besar labanya untuk reinvestasi, bukan membagikannya sebagai dividen.
Sebagian laporan keuangan memecah saldo laba menjadi "telah ditentukan penggunaannya" (dicadangkan untuk tujuan tertentu, misalnya cadangan wajib sesuai ketentuan UU Perseroan Terbatas) dan "belum ditentukan penggunaannya" (bisa dialokasikan manajemen secara lebih fleksibel, termasuk untuk dividen di masa depan).
Tidak secara langsung. EPS dihitung dari laba bersih tahun berjalan dibagi jumlah saham beredar, sementara retained earnings adalah akumulasi laba dari seluruh periode setelah dikurangi dividen. Keduanya saling berkaitan karena sama-sama berasal dari laba bersih, namun EPS mencerminkan kinerja satu periode, sedangkan retained earnings mencerminkan akumulasi jangka panjang.
Retained earnings (laba ditahan) adalah salah satu pos penting di neraca emiten karena mencerminkan akumulasi profitabilitas dan kapasitas pendanaan internal perusahaan dari waktu ke waktu. Temukan angkanya di Laporan Posisi Keuangan bagian Ekuitas dan Laporan Perubahan Ekuitas, lalu baca trennya beberapa tahun ke belakang dan gabungkan dengan rasio fundamental lain seperti ROE dan DER sebelum mengambil kesimpulan tentang kesehatan finansial suatu emiten.
Nilai investasi saham dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar dan kinerja emiten. Kinerja masa lalu tidak mengindikasikan proyeksi kinerja masa depan. Informasi emiten dalam artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


