Investasi
Fitur
Akademi
Lainnya
ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Berita & Analisis
Retained Earnings: Cara Membacanya di Laporan Keuangan Emiten
shareIcon

Retained Earnings: Cara Membacanya di Laporan Keuangan Emiten

4 Sep 2026, 11:11 AM
·
Waktu baca: 6 menit
shareIcon
retained-earnings-laporan-keuangan-emiten
Retained earnings (laba ditahan) adalah bagian dari laba bersih emiten yang tidak dibagikan sebagai dividen, melainkan disimpan dan digunakan kembali untuk mendanai operasional, ekspansi, atau pelunasan utang perusahaan. Kamu bisa menemukan angka ini pada Laporan Posisi Keuangan (neraca), di bagian Ekuitas, serta pada Laporan Perubahan Ekuitas di laporan keuangan tahunan atau kuartalan emiten.Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca berdasarkan analisis, tujuan keuangan, dan profil risiko masing-masing.

Apa Itu Retained Earnings (Laba Ditahan)?

Jawaban Singkat:

  • Retained earnings (laba ditahan) adalah akumulasi laba bersih emiten yang tidak dibagikan sebagai dividen.
  • Rumusnya: Saldo Laba Ditahan Awal + Laba Bersih Tahun Berjalan − Dividen yang Dibagikan = Saldo Laba Ditahan Akhir.
  • Letaknya ada di Laporan Posisi Keuangan (bagian Ekuitas) dan Laporan Perubahan Ekuitas, biasanya dengan nama akun "Saldo Laba".

Retained earnings atau laba ditahan adalah pos akuntansi yang mencatat akumulasi laba bersih emiten sejak awal berdiri, dikurangi seluruh dividen yang pernah dibagikan ke pemegang saham. Pos ini masuk dalam kelompok Ekuitas pada neraca perusahaan, bersanding dengan modal saham dan komponen ekuitas lainnya.

Di Mana Letak Retained Earnings dalam Laporan Keuangan Emiten?

Ada dua tempat utama untuk menemukan angka ini dalam laporan keuangan emiten yang bisa diunduh lewat situs Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun situs resmi investor relations emiten:

  • Laporan Posisi Keuangan (neraca) — cari bagian "Ekuitas yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk", lalu temukan baris "Saldo Laba" atau "Saldo Laba Ditahan". Pos ini biasanya dipecah menjadi "telah ditentukan penggunaannya" (dicadangkan untuk tujuan tertentu, misalnya cadangan wajib sesuai UU Perseroan Terbatas) dan "belum ditentukan penggunaannya" (bebas dialokasikan manajemen).
  • Laporan Perubahan Ekuitas — laporan ini menunjukkan pergerakan saldo laba dari awal ke akhir periode secara rinci: saldo awal, penambahan dari laba bersih tahun berjalan, pengurangan karena pembagian dividen, dan saldo akhir.

Bagaimana Cara Menghitung Retained Earnings?

Rumus dasarnya:

Saldo Laba Ditahan Akhir = Saldo Laba Ditahan Awal + Laba Bersih Tahun Berjalan − Dividen yang Dibagikan

Contoh ilustrasi (angka fiktif untuk simulasi, bukan data emiten riil): Jika PT Contoh Sejahtera Tbk mencatat saldo laba ditahan awal tahun Rp500 miliar, laba bersih tahun berjalan Rp150 miliar, dan membagikan dividen Rp60 miliar, maka saldo laba ditahan akhir tahun adalah Rp500 miliar + Rp150 miliar − Rp60 miliar = Rp590 miliar.

Sebagai gambaran skala nyata, BCA (emiten BBCA) tercatat membukukan laba bersih Rp57,5 triliun sepanjang 2025 (Investortrust.id, 2026). Sebagian dari laba tersebut dibagikan sebagai dividen ke pemegang saham sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dan sisanya berpotensi menambah saldo laba ditahan pada laporan keuangan periode berjalan — besaran pastinya bervariasi setiap tahun tergantung kebijakan dividen masing-masing emiten.

Apa Bedanya Retained Earnings, Laba Bersih, dan Dividen?

  • Laba bersih adalah total keuntungan emiten dalam satu periode setelah dikurangi seluruh beban dan pajak — angka ini "mengalir" (flow) dan dilaporkan di Laporan Laba Rugi.
  • Dividen adalah bagian laba yang dibagikan tunai atau saham ke pemegang saham, ditentukan lewat RUPS.
  • Retained earnings adalah akumulasi (stock) dari laba bersih dikurangi dividen sepanjang riwayat perusahaan berdiri, dicatat di neraca — bukan angka satu periode saja, melainkan saldo yang terus terbawa dan bertambah/berkurang dari tahun ke tahun.

Kenapa Investor Perlu Memperhatikan Retained Earnings Emiten?

  • Menunjukkan kapasitas pendanaan internal — emiten dengan saldo laba ditahan besar punya sumber dana internal untuk ekspansi atau pelunasan utang tanpa harus menerbitkan saham baru (rights issue) atau menambah utang.
  • Mencerminkan riwayat profitabilitas jangka panjang — saldo laba ditahan yang terus tumbuh dari tahun ke tahun mengindikasikan emiten secara konsisten mencatat laba, bukan rugi.
  • Membantu menilai kebijakan dividen — dengan membandingkan pertumbuhan laba ditahan terhadap laba bersih tahun berjalan, investor bisa memperkirakan pola dividend yield emiten di masa depan.
  • Menjadi komponen penghitungan rasio fundamental lain, seperti Return on Equity (ROE) dan book value per saham, karena retained earnings adalah bagian dari total ekuitas.

Apa Risiko Salah Membaca Retained Earnings?

  • Saldo besar tidak otomatis berarti kinerja baik. Retained earnings yang besar namun tidak dikelola secara produktif (tercermin dari ROE yang rendah) justru bisa menandakan modal yang mengendap, bukan tanda kesehatan finansial yang kuat.
  • Saldo laba ditahan bisa negatif (defisit). Ini terjadi ketika akumulasi kerugian emiten di masa lalu lebih besar dari akumulasi labanya — kondisi yang perlu ditelusuri lebih lanjut penyebabnya sebelum mengambil keputusan investasi.
  • Angka ini bersifat akuntansi historis, bukan proyeksi. Retained earnings tidak menjamin kinerja emiten di masa depan, dan nilai investasi saham tetap dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar.
  • Perlu dibaca bersama laporan lain, bukan berdiri sendiri — misalnya arus kas bebas (free cash flow), untuk memastikan saldo laba ditahan didukung oleh kas riil, bukan sekadar angka akuntansi.

Bagaimana Retained Earnings Berhubungan dengan Rasio Fundamental Lain?

Retained earnings tidak berdiri sendiri — pos ini menjadi salah satu komponen pembentuk ekuitas yang memengaruhi sejumlah rasio fundamental yang sering dipakai investor:

  • Return on Equity (ROE) — dihitung dari laba bersih dibagi total ekuitas, dan retained earnings adalah salah satu komponen utama dalam ekuitas tersebut. Emiten yang terus menambah retained earnings namun ROE-nya stagnan bisa jadi tanda modal yang ditahan belum digunakan secara efisien.
  • Book Value per saham — retained earnings yang terus bertambah akan menaikkan total ekuitas, dan secara langsung menaikkan nilai buku per saham (dengan asumsi jumlah saham beredar tidak berubah).
  • Price to Book Value (PBV) — karena PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku, pertumbuhan retained earnings yang konsisten dapat memengaruhi PBV dari waktu ke waktu jika harga saham tidak naik dengan kecepatan yang sama.

Menggabungkan retained earnings dengan rasio-rasio ini memberi gambaran yang lebih lengkap dibanding membaca satu angka saja — apakah laba yang ditahan benar-benar menambah nilai bagi pemegang saham, atau justru mengendap tanpa memberi hasil yang sepadan.

Bagaimana Cara Praktis Membaca Retained Earnings Emiten Langkah demi Langkah?

1. Unduh Laporan Keuangan Resmi Emiten

Ambil laporan keuangan terbaru dari situs resmi BEI atau halaman investor relations emiten — hindari sumber tidak resmi seperti forum atau blog pribadi yang tidak terverifikasi.

2. Buka Laporan Posisi Keuangan, Bagian Ekuitas

Cari baris "Saldo Laba" atau "Retained Earnings". Catat nilainya, lalu perhatikan apakah dipecah menjadi "telah ditentukan penggunaannya" dan "belum ditentukan penggunaannya".

3. Bandingkan dengan Laporan Perubahan Ekuitas

Lihat pergerakan dari saldo awal ke saldo akhir periode untuk memahami berapa laba bersih yang ditambahkan dan berapa dividen yang dikurangkan sepanjang periode tersebut.

4. Hitung Tren Beberapa Tahun ke Belakang

Bandingkan saldo laba ditahan minimal 3–5 tahun terakhir. Tren yang konsisten naik menunjukkan profitabilitas yang stabil; tren yang stagnan atau menurun perlu ditelusuri penyebabnya lewat Laporan Laba Rugi.

5. Gunakan Bersama Rasio Fundamental Lain

Kombinasikan dengan ROEDebt to Equity Ratio (DER), dan EPS agar analisismu lebih menyeluruh, bukan hanya berpatokan pada satu angka saja. Kamu bisa memanfaatkan fitur Screeners di aplikasi Pluang untuk membandingkan rasio-rasio fundamental antar-emiten saham Indonesia secara lebih cepat sebagai bagian dari analisa fundamentalmu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Retained Earnings

Apakah retained earnings sama dengan kas perusahaan?

Tidak. Retained earnings adalah pos akuntansi di Ekuitas, bukan kas yang tersimpan secara harfiah. Dana dari laba ditahan biasanya sudah dialokasikan untuk operasional, aset, atau investasi perusahaan, sehingga jumlahnya bisa berbeda jauh dari saldo kas riil emiten yang tercatat di Laporan Arus Kas.

Apa artinya jika retained earnings emiten bernilai negatif?

Retained earnings negatif (sering disebut defisit) berarti akumulasi kerugian emiten sepanjang riwayatnya lebih besar dari akumulasi labanya. Ini bukan otomatis berarti perusahaan sedang rugi tahun ini, namun tetap menjadi sinyal yang perlu ditelusuri lebih lanjut, misalnya lewat tren laba rugi beberapa tahun terakhir.

Apakah emiten dengan retained earnings besar pasti membagikan dividen besar?

Tidak selalu. Keputusan pembagian dividen ditentukan lewat RUPS dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebutuhan dana untuk ekspansi, kondisi arus kas, dan kebijakan manajemen. Emiten dengan retained earnings besar bisa saja memilih menahan sebagian besar labanya untuk reinvestasi, bukan membagikannya sebagai dividen.

Bagaimana cara membedakan retained earnings dengan laba ditahan yang "dicadangkan"?

Sebagian laporan keuangan memecah saldo laba menjadi "telah ditentukan penggunaannya" (dicadangkan untuk tujuan tertentu, misalnya cadangan wajib sesuai ketentuan UU Perseroan Terbatas) dan "belum ditentukan penggunaannya" (bisa dialokasikan manajemen secara lebih fleksibel, termasuk untuk dividen di masa depan).

Apakah retained earnings termasuk dalam perhitungan Earning Per Share (EPS)?

Tidak secara langsung. EPS dihitung dari laba bersih tahun berjalan dibagi jumlah saham beredar, sementara retained earnings adalah akumulasi laba dari seluruh periode setelah dikurangi dividen. Keduanya saling berkaitan karena sama-sama berasal dari laba bersih, namun EPS mencerminkan kinerja satu periode, sedangkan retained earnings mencerminkan akumulasi jangka panjang.

Kesimpulan

Retained earnings (laba ditahan) adalah salah satu pos penting di neraca emiten karena mencerminkan akumulasi profitabilitas dan kapasitas pendanaan internal perusahaan dari waktu ke waktu. Temukan angkanya di Laporan Posisi Keuangan bagian Ekuitas dan Laporan Perubahan Ekuitas, lalu baca trennya beberapa tahun ke belakang dan gabungkan dengan rasio fundamental lain seperti ROE dan DER sebelum mengambil kesimpulan tentang kesehatan finansial suatu emiten.

Disclaimer

Nilai investasi saham dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar dan kinerja emiten. Kinerja masa lalu tidak mengindikasikan proyeksi kinerja masa depan. Informasi emiten dalam artikel ini disajikan hanya untuk tujuan edukasi dan identifikasi, bukan rekomendasi investasi.

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1