
Last Updated: 21 Agustus 2026
Overhead Cost adalah biaya operasional bisnis yang tidak terkait langsung dengan proses produksi barang atau jasa, namun tetap wajib dikeluarkan agar operasional berjalan lancar.
Overhead Cost — atau biaya overhead — berbeda dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang melekat pada unit produk. Biaya ini mencakup pengeluaran pendukung seperti sewa gedung, listrik, gaji staf administrasi, hingga biaya pemasaran, yang menurut Kementerian Keuangan merupakan salah satu dari tiga komponen utama harga pokok produksi bersama biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung (sumber: Kemenkeu Learning Center).
Berdasarkan sifatnya, overhead cost terbagi menjadi tiga jenis:
Jenis | Karakteristik | Contoh |
Overhead tetap (fixed) | Nilainya sama meski aktivitas bisnis naik-turun | Sewa gedung, depresiasi aset, gaji karyawan tetap |
Overhead variabel (variable) | Berubah mengikuti volume aktivitas bisnis | Perlengkapan kantor, biaya pengiriman, biaya pemeliharaan |
Overhead semi variabel | Kombinasi tetap dan variabel — selalu ada, namun nilainya berubah | Tagihan listrik/air/internet, biaya komisi |
Overhead cost bekerja sebagai "biaya pendukung" yang dialokasikan ke dalam struktur biaya perusahaan meski tidak melekat langsung pada satu unit produk tertentu. Perusahaan mengidentifikasi, mencatat, lalu mengalokasikan biaya ini ke produk, divisi, atau periode akuntansi agar laporan laba rugi dan harga pokok produksi mencerminkan biaya yang sebenarnya.
Tiga fungsi utama menghitung overhead cost bagi perusahaan:
1. Mengukur profitabilitas — komponen biaya ini memengaruhi laba bersih pada laporan laba rugi.
2. Mengidentifikasi potensi efisiensi — biaya sewa, utilitas, atau administrasi umumnya lebih mudah dipangkas dibanding biaya produksi langsung.
3. Menentukan harga pokok produk atau layanan — overhead yang teralokasikan memengaruhi harga jual yang wajar ke pasar.
Contoh umum overhead cost meliputi biaya sewa, biaya utilitas (listrik, air, internet), biaya riset produk/pasar, dan biaya pemasaran (iklan digital, baliho, promosi).
Perusahaan umumnya memakai salah satu dari tiga metode berikut untuk menghitungnya:
1. Per divisi — total overhead dihitung berdasarkan pengeluaran masing-masing departemen.
2. Berdasarkan produktivitas — overhead pabrik dibagi dengan metrik produktivitas, misalnya jam kerja atau kapasitas mesin.
3. Berdasarkan persentase terhadap total biaya — overhead dipisahkan dari biaya produksi, lalu dihitung porsinya terhadap total biaya perusahaan.
Contoh ilustrasi perhitungan (angka hipotetis, bukan data riil): Misalkan PT Contoh mengeluarkan biaya sewa Rp10.000.000, listrik Rp3.000.000, dan gaji staf administrasi Rp7.000.000 dalam sebulan — total overhead Rp20.000.000. Jika perusahaan memproduksi 4.000 unit pada bulan tersebut, maka overhead per unit = Rp20.000.000 ÷ 4.000 = Rp5.000 per unit.
1. Laporan laba rugi dan harga pokok produk mencerminkan biaya yang lebih akurat.
2. Perusahaan dapat mengidentifikasi ruang efisiensi tanpa mengurangi kapasitas produksi.
3. Perencanaan arus kas dan strategi bisnis jangka panjang menjadi lebih terukur.
1. Harga jual produk bisa salah hitung — terlalu rendah (merugi) atau terlalu tinggi (kalah bersaing).
2. Pemborosan pada pos-pos non-produksi bisa tidak terdeteksi dan menggerus profitabilitas.
3. Keputusan bisnis (ekspansi, efisiensi, penetapan harga) berisiko keliru jika alokasi overhead tidak konsisten antar periode.
1. Identifikasi seluruh biaya non-produksi langsung — sewa, utilitas, administrasi, riset, dan pemasaran.
2. Kelompokkan berdasarkan sifatnya — tetap, variabel, atau semi variabel — agar mudah diproyeksikan.
3. Pilih metode alokasi yang sesuai skala bisnis: per divisi, berdasarkan produktivitas, atau persentase terhadap total biaya.
4. Masukkan hasil perhitungan ke laporan laba rugi dan harga pokok produksi secara konsisten setiap periode agar datanya bisa dibandingkan dari waktu ke waktu.
Pelajari lebih lanjut konsep dasar profitabilitas dan laporan laba rugi di glosarium Pluang untuk memahami bagaimana overhead cost memengaruhi kinerja keuangan bisnis secara keseluruhan. Materi dasar keuangan dan investasi lainnya tersedia di Akademi Pluang | Belajar Dasar Investasi Bagi Investor Pemula.
Apa itu overhead cost?
Overhead cost adalah biaya operasional bisnis yang tidak terkait langsung dengan proses produksi barang atau jasa, seperti biaya sewa, utilitas, administrasi, dan pemasaran. Meski tidak melekat pada unit produk tertentu, biaya ini tetap wajib dikeluarkan perusahaan agar operasional berjalan lancar dan menjadi salah satu komponen harga pokok produksi.
Apa perbedaan overhead cost tetap dan variabel?
Overhead tetap (fixed) bernilai sama meski aktivitas bisnis naik-turun, contohnya sewa gedung dan gaji karyawan tetap. Overhead variabel berubah mengikuti volume aktivitas bisnis, contohnya perlengkapan kantor dan biaya pengiriman. Ada pula overhead semi variabel yang menggabungkan keduanya, seperti tagihan listrik.
Bagaimana cara menghitung overhead cost per unit?
Overhead cost per unit dihitung dengan membagi total biaya overhead pada suatu periode dengan jumlah unit yang diproduksi pada periode yang sama. Misalnya, total overhead Rp20.000.000 dibagi 4.000 unit produksi menghasilkan overhead sebesar Rp5.000 per unit — angka ini bersifat ilustratif, bukan patokan baku untuk semua bisnis.
Overhead cost adalah komponen biaya pendukung yang tidak berkaitan langsung dengan produksi, namun tetap krusial bagi profitabilitas, efisiensi, dan penetapan harga pokok produk. Memahami jenis (tetap, variabel, semi variabel) dan metode perhitungannya membantu bisnis membuat keputusan keuangan yang lebih akurat dan terukur.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.