Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Ini Alasan Terapkan Diversifikasi Portofolio Meski Terjadi Bull Market
shareIcon

Ini Alasan Terapkan Diversifikasi Portofolio Meski Terjadi Bull Market

13 Aug 2020, 5:00 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Ini Alasan Terapkan Diversifikasi Portofolio Meski Terjadi Bull Market

Diversifikasi portofolio investasi adalah rencana investasi awal yang patut diperhitungkan sebagai fondasi berinvestasi. Ini pun dengan pertimbangan meskipun bull market sedang berlangsung.

Saham Amerika Serikat sedang mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir. Merespons hal ini, Charles Schawb, kepala investasi ekuitas di Investment Management, memprediksikan bull market diperpanjang sela a18 hingga 24 bulan lagi.

Sejarah menunjukkan diversifikasi portofolio investasi adalah strategi yang mampu membawa keuntungan jangka panjang. Bull market adalah momen penting untuk melakukan diversifikasi.

Sayangnya, dalam kondisi bull market, ucapan penasihat keuangan untuk diversifikasi portofolio investasi sering tidak diindahkan. Banyak orang yang tidak mendengarkan.

Diversifikasi portofolio investasi adalah hal penting dalam bull market. Simak ulasan di bawah untuk lebih jelasnya.

Baca juga: Mulai Investasimu, Cari Tahu Apa Itu Koreksi sebagai Dasar bagi Pemula

Diversifikasi portofolio investasi adalah kunci mempertahankan aset

bull market

Tidak semua ekuitas mengalami peningkatan nilai. Jika melihat lebih detail saham Amerika Serikat, kita bis melihat beberapa penurunan.

Salah satunya adalah saham energi. Pukulan dialami oleh pemain utama energi, seperti Exxon (XOM) dan Sunoco (SUN), hingga penyedia pipa, seperti Kinder Morgan (KMI) dan Williams Companies (WMB).

Kejadian serupa juga dialami oleh ritel. Misalnya saja saham Limited Brands (LB), Sears (SHLD), hingga Macys (M). Sekitar 500 saham jatuh dan hanya beberapa saham teknologi yang melambung.

Namun, tidak semua perusahaan teknologi mencicipi kenaikan ini. Tengok saja Facebook (FB) dan Netflix (NFLX). Mereka pernah masuk ke kategori FAANG karena nilainya yang tinggi. Namun, status tersebut dicabut karena mereka memposting angka yang mengecewakan.

Pada waktu yang bersamaan, Aguilar mengatakan pasar bullish akan masih berlanjut. Namun, Kepala Strategi ekuitas Amerika Serikat, Michael Wilson, mengatakan jika pasar sudah beralih menjadi bearish.

Perusahaan teknologi mendapat pengecualian. Wilson menerangkan jika perusahaan teknologi hanya akan turun harga 10 persen dan diikuti oleh peningkatan yang berkelanjutan.

Diversifikasi portofolio investasi adalah baiknya tidak hanya melihat saham individu. Chalie McElligott, kepala strategi lintas aset di Nomura, mencatat bahwa pergerakan tiga hari dari value/growth investing di Amerika menjadi yang terbesar sejak Oktober 2008.

Komentar tersebut untuk merespons penurunan value investing di sektor teknologi sejak awal Agustus 2018. Ditopang oleh saham teknologi, growth investing telah berhasil mengungguli value investing dalam beberapa tahun terakhir.

Para analis dan investor percaya tren tersebut tidak akan bertahan lama karena pengembalian nilai rata-rata dirasa sudah cukup. Prediksi ini diperkuat riset Merill Lynch dari Bank of America.

Menurutnya, nilai saham selama periode 90 tahun telah meningkatkan growth investing 12,6 persen per tahun sementara nilai saham kembali 17 persen per tahun. Artinya, growth investing telah berhasil dengan baik dalam jangka pendek belakang ini.

Baca juga: Bursa Saham Sedang Terkoreksi, Kenali Pola Investasi Saham dengan Cara Ini

Dampak diversifikasi portofolio investasi

Diversifikasi portofolio investasi adalah erat kaitannya dengan Warren Buffet. Salah satu legenda investor ini mendapat julukan sebagai ‘Oracle of Omaha’. Buffett tidak akan berinvestasi ke dalam perusahaan yang tidak dia mengerti. Banyak yang tidak setuju dengan strateginya. Mereka menganggap strategi Buffet ketinggalan zaman dan gaya value investing sudah tidak sesuai lagi.

Citra Buffet meningkat drastis dan banyak disukai orang pada tahun 2000 ketika pasar ambruk. Seiring dengan berjalannya waktu, sang Oracle pun mengubah strateginya. Dia tidak lagi menghindari saham teknologi, seperti yang sering dilakukan dulu.

Perusahaan Buffett, Berkshire Hathaway, memegang saham Apple senilai 50 M USD. Saham teknologi yang menjadi diversifikasi portofolio investasi adalah kunci keuntungan bagi Buffett.

Dalam istilah investasi, diversifikasi portofolio investasi adalah memastikan semua risiko dalam portofolio tidak terkonsentrasi pada satu kelas aset.

Itulah alasan penasihat investasi profesional merekomendasikan diversifikasi investasi di beberapa kelas aset. Misalnya dibagi ke dalam saham domestik dan asing, saham kapitalisasi besar dan kecil, obligasi perusahaan, dan obligasi pemerintah.

Diversifikasi berarti investor tidak akan menikmati keuntungan semaksimal mungkin dari aset yang memiliki kinerja baik. Sebaliknya, ini juga berarti mereka tidak akan menderita kerugian maksimum dari aset yang memiliki kinerja buruk.

Diversifikasikan Portofoliomu dengan Investasi Emas Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk membeli emas digital dengan harga paling kompetitif di pasaran! Selisih harga jual-beli terendah dan tanpa biaya tersembunyi apapun. Emas yang kamu beli aman karena disimpan di Kliring Berjangka Indonesia (BUMN), produk emas Pluang dikelola oleh PT PG Berjangka yang sudah terlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI. Kamu juga bisa menarik fisik emasnya dalam bentuk logam mulia Antam dengan kadar 999.9 mulai dari kepingan 1 gram hingga 100 gram!

Sumber: Investopedia

Simak juga:

Belajar Investasi Saham? Intip Yuk Simulasi Trading hingga Strategi Kelola Saham

Terdampak Wabah Corona, IHSG Masih Terkapar, Saham Blue Chip Pun Anjlok

Borong Saham “Diskon” Saat Pandemi COVID-19, Strategi Cuan Jangka Panjang

Investor Institusional dan Investor Ritel, Apa Bedanya?

Ditulis oleh
channel logo

Dewi Kharisma

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1