Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 5 menit

View

0

Pluang Insight: Apakah Kutukan 'Septembear' di Pasar Kripto Akan Terulang Tahun Ini?

September selalu dikenal sebagai bulan "kutukan" bagi pasar kripto. Pasalnya, harga aset kripto selalu berguguran di bulan tersebut, sampai-sampai peristiwa ini kerap dikenal sebagai Septembear. Lantas, apakah fenomena Septembear bakal terulang lagi di tahun ini? Simak selengkapnya di Pluang Insight berikut!

Mengenal Fenomena Septembear

Percaya atau tidak, dunia investasi memiliki beberapa mitos yang berkaitan dengan satu periode tertentu.

Di investasi saham, misalnya, investor mungkin sudah familiar dengan istilah seperti January Effect atau Sell in May and Go Away. Sementara di kancah kripto, pelaku pasar mengenal keniscayaan lain bernama Septembear. Namun, apa sebenarnya Septembear?

Secara umum, Septembear menggambarkan peristiwa di mana harga aset kripto, khususnya Bitcoin (BTC), berguguran sepanjang September. Istilah ini muncul ketika firma analisis on-chain, Coinglass, menemukan bahwa harga BTC selalu melempem secara bulanan di September setiap tahunnya sejak 2013

Adapun menurut data terakhir, nilai BTC secara rata-rata tumbang 5,9% di setiap September antara 2013 hingga 2021 lalu. Menurut catatan, nilai BTC berhasil melaju ke zona hijau hanya di September 2015 dan 2016 saja.

Mengapa Fenomena Septembear Terjadi?

Meski perkara tersebut hadir setiap tahun, analis dan pelaku pasar sejatinya belum satu suara dalam menyimpulkan musabab peristiwa Septembear.

Di satu sisi, terdapat beberapa analis yang percaya bahwa Septembear disebabkan oleh kondisi psikologis investor.

Berkaca dari situasi di pasar saham AS, pelaku pasar selalu menganggap bahwa September adalah bulan paling bearish bagi pasar aset berisiko. Buktinya, nilai indeks S&P 500 rata-rata selalu melemah 1,1% secara bulanan di September antara 1928 hingga 2021. Sehingga, tak heran jika kemudian pelaku pasar memandang bahwa pasar aset kripto juga akan mengikuti pola serupa.

Selain itu, mereka juga kadang mengaitkan peristiwa tersebut dengan sepinya aktivitas perdagangan sepanjang Agustus-September gara-gara para trader lebih memilih liburan musim panas ketimbang memantau perkembangan market.

Namun di sisi lain, sebagian analis lainnya meyakini bahwa fenomena Septembear terjadi lantaran beberapa peristiwa yang mengguncang pasar kebetulan juga terjadi di September.

Ambil contoh September 2019. Kala itu, harga BTC ambles setelah pelaku pasar buru-buru menjual produk BTC berjangka milik Bakkt yang dirilis di bulan yang sama. Ternyata, aksi itu terjadi setelah produk berjangka BTC tersebut ternyata sepi peminat meski dipromosikan secara gila-gilaan.

Sementara pada September 2021, pasar aset berisiko, termasuk aset kripto, kompak terjungkal menyusul kabar mengenai gagal bayar utang jumbo yang mendera raksasa properti China, Evergrande.

Nah, berkaca pada rentetan kisah di atas, beberapa analis justru memandang bahwa Septembear bukanlah insiden yang mutlak terjadi setiap tahun. Hanya saja, kabar buruk memang kebetulan selalu muncul secara serentak di September.

Baca Juga: Pluang Insight: Mengenal Volatilitas, Apakah Selalu Jadi Musibah bagi Investor?

Apakah Septembear Akan Kembali Muncul di Tahun Ini?

Pasar kripto terlihat diterpa badai kencang sejak awal tahun ini. Tengok saja, per Rabu (14/9), nilai BTC sampai-sampai harus terjungkal 56,51% dari posisinya awal tahun. Sehingga, ada kemungkinan pasar kripto pun tak akan lolos dari fenomena Septembear di September 2022.

Namun, apa saja faktor utama bear market September tahun ini?

Di satu sisi, para trader memang tampak sedang malas berkutat di pasar kripto sejak Agustus gara-gara masih asyik berlibur musim panas atau mempersiapkan diri menjelang penutupan akhir tahun. Bahkan, sebagian investor ritel mungkin telah menjual aset kriptonya sepanjang musim panas untuk membayar biaya pendidikan buah hati mereka atau sekadar menambah "duit jajan" untuk pelesiran.

Hanya saja, tekanan kuat bagi pasar kripto di September justru datang dari sisi makroekonomi.

Sejak awal tahun, sebagian besar negara-negara dunia, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat, dilanda prahara inflasi tinggi. Pelaku pasar takut hal itu akan mengantar bank sentral global untuk mengetatkan kebijakan moneternya hingga akhir tahun nanti.

Sebagai contoh, lihat saja langkah yang dilakukan bank sentral AS, The Fed.

Otoritas moneter AS tersebut bahkan nekat mengerek suku bunga sampai 75 basis poin per bulan hanya demi mengekang inflasi. Kendati demikian, Ketua The Fed Jerome Powell tetap berharap ekonomi AS bisa "mendarat aman" dan terhindar dari resesi meski kenaikan suku bunga acuan AS terbilang gila-gilaan.

Sayangnya, ancang-ancang kenaikan suku bunga acuan rupanya membuat pelaku pasar terlalu serius mengantisipasi gerak-gerik The Fed berdasarkan rilisan data makroekonomi AS teranyar. Nah, ketakutan berlebihan itulah yang akhirnya bikin pelaku pasar jaga jarak dengan pasar berisiko, termasuk pasar kripto.

Ketakutan tersebut tampaknya juga tak akan sirna di September. Pasalnya, pada Selasa (13/9), Biro Statistik Ketenagakerjaan AS merilis tingkat inflasi tahunan AS berada di 8.3% alias lebih tinggi dari prakiraan analis yakni 8,1%.

Berdasarkan data makroekonomi selama ini, pasar berharap bahwa The Fed kemungkinan masih akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin di bulan ini. Namun, data inflasi terbaru membuat ekonom yakin The Fed bakal menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin di bulan ini.

Jika memang The Fed benar-benar mendongkrak suku bunga acuan sebesar 75 basis poin hingga 100 basis poin, maka kepanikan pasar sepertinya tak terelakkan.

Hanya saja, teror di pasar kripto mungkin bisa berubah menjadi bull run jika The Fed mengerek bunga acuannya 50 basis poin saja. Apalagi, pasar kripto sejatinya punya secercah harapan untuk lolos dari jeratan Septembear di tahun 2022.

Pada September, Ethereum berencana untuk memperbarui jaringannya, atau biasa disebut The Merge, di mana jaringan pionir smart contract itu akan mengubah konsensusnya dari Proof of Work menjadi Proof of Stake. Di saat yang sama, jaringan Cardano juga akan melakukan hard fork terbarunya yang diberi nama Vasil Hard Fork.

Nah, perkembangan di kancah blockchain tersebut diharapkan menjadi sentimen positif bagi pasar kripto di bulan ini. Kondisi tersebut jelas berbeda dibanding bulan September di tahun-tahun sebelumnya yang kering sentimen positif.

Baca Juga: Pluang Insight: Faktor Makroekonomi Apa Saja yang Pengaruhi Pasar Kripto?

Apa yang Seharusnya Dilakukan Jika Septembear Terjadi?

Jika memang fenomena Septembear terjadi di tahun ini, maka Sobat Cuan bisa mengambil beberapa langkah mitigasi berikut!

1. Borong Aset Kripto Saat Pasar 'Crash'

Dengan siklus yang, mitosnya, berulang setiap tahun, maka Sobat Cuan bisa memanfaatkan momentum ini untuk mencicil kembali portofolio investasi. Siapa tahu, cuan yang kamu dulang nantinya bisa berbuah manis.

Sebagai contoh, apakah Sobat Cuan masih ingat market crash kripto di Juni lalu? Jika Sobat Cuan melakukan aksi beli BTC pada saat itu, maka kamu bisa meraup return lebih dari 20% pada saat ini. Bahkan, nilai cuan yang kamu genggam bisa meroket lebih tinggi jika kamu juga memutuskan memborong altcoin tiga bulan lalu.

2. 'Wait and See'

Dalam berinvestasi, terkadang investor lebih baik bersikap diam ketimbang mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Nah, hal tersebut bisa Sobat Cuan terapkan jika pasar kripto terlihat lesu. Sebab faktanya, beberapa investor memang mengambil langkah wait and see agar tidak terjerat pada kerugian berlebih.

Namun, jangan salah artikan langkah tersebut sebagai sikap seorang pengecut. Justru, aksi wait and see adalah langkah yang bijak ketika pasar terlihat penuh ketidakpastian.

3. Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah langkah klasik yang selalu dilakukan investor ketika nilai portofolionya ambyar. Kendati demikian, strategi investasi ini juga terbilang efektif dalam menahan kerugian berlebih saat iklim investasi terlihat mendung.

Pluang sendiri sudah membeberkan jurus-jurus investasi DCA yang efektif saat pasar kripto mengalami bear market di artikel berikut.

Intinya, yang namanya risiko pasti selalu bisa dimitigasi. Sehingga, Sobat Cuan tak perlu keringat dingin berlebihan jika fenomena Septembear benar-benar terulang kembali di September tahun ini.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait