Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Pasar Sepekan: The Fed Bikin Investor Gemetar, Market Kompak Ambyar!

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Antisipasi investor atas pertemuan Fed di Jackson Hole sukses "mengobok-obok" market selama sepekan terakhir. Seperti apa detailnya? Simak Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Untuk kesekian kalinya, pasar kripto pasrah memasuki pekan yang penuh kemalangan. Tengok saja, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat kompak mendekam di zona merah dalam sepekan terakhir.

Pasar kripto memang tengah galau pekan ini, mengindikasikan kebingungan pelaku pasar untuk beraksi di pasar kripto.

Adapun sumber kegamangan mereka adalah antisipasi atas hasil simposium ekonomi bank sentral AS The Fed di Jackson Hole pada Jumat (26/8). Pelaku pasar benar-benar menanti hasil pertemuan tersebut menyusul sikap plinplan The Fed dalam sebulan terakhir.

Pada Juli, Ketua The Fed Jerome Powell sempat sesumbar ingin melonggarkan kebijakan moneter selepas September mendatang. Hanya saja, berdasarkan risalah rapat (minutes of meeting) komite pasar terbuka federal Juli yang dirilis pekan lalu, The Fed ternyata masih ngebet mengerek suku bunga acuan selama inflasi belum padam sepenuhnya.

Akhirnya, mereka mendapat kepastian itu kemarin. Dalam pidatonya, Powell menegaskan bahwa The Fed akan terus menempuh kebijakan moneter yang ketat lantaran pertempuran melawan inflasi membutuhkan waktu lama.

Sontak, nilai aset kripto pun berguguran, bahkan masih melanjutkan pelemahan saat artikel ini ditulis.

Selain perkara The Fed, pangkal kecemasan pelaku pasar juga berasal dari aksi platform exchange kripto asal Jepang Mt. Gox yang mendistribusikan 170.000 keping BTC kepada penggunanya pekan ini. Aksi ini adalah tindakan "ganti rugi" Mt. Gox terhadap raibnya 850.000 keping BTC ketika platform tersebut diretas 2014 silam.

Pelaku pasar takut bahwa mereka yang mendapat ganti rugi tersebut akan segera membuang keping-keping BTC itu ke bursa kripto. Terlebih, jumlah BTC yang didistribusikan pun bernilai jumbo.

Pluang menganggap, aksi jual besar-besaran dari peristiwa tersebut bisa saja benar-benar terjadi. Pasalnya, pengguna Mt. Gox kala itu membeli BTC di harga US$483 per keping. Jika mereka menjualnya sekarang, maka mereka bisa mendulang cuan 42 kali lipat lebih besar!

Kendati dirundung kabar tak sedap, pasar kripto setidaknya masih dikerubungi sentimen positif, utamanya perkembangan upgrade jaringan duo platform smart contract Ethereum dan Cardano.

Dalam unggahan blog Rabu (24/8), Ethereum Foundation memastikan upgrade di jaringan utamanya, atau dikenal sebagai The Merge, akan berlangsung antara 10 hingga 20 September mendatang.

Sementara itu, perusahaan teknologi di balik Cardano, Input Output Hong Kong (IOHK), mengumumkan upgrade jaringan Vasil di Cardano kemungkinan bakal terjadi lebih cepat.

Sebab, salah satu kandidat node penerima pertama upgrade Vasil, yakni node bernomor 1.35.3, kini bertanggung jawab memproses 42% transaksi di jaringan Cardano. Jika node tersebut memproses transaksi hingga 75%, maka Cardano akan semakin pede memasang pembaruan Vasil.

Analisis Teknikal BTC

Untuk saat ini, BTC masih tertahan di level psikologis US$20.000 per keping. Di saat bersamaan, BTC juga membuat level terendah terbarunya yang tercermin dari pola marubozu candle di rentang waktu hariannya. Berkaca dari faktor-faktor tersebut, bisa dibilang bahwa BTC kembali memasuki fase bearish.

Pluang beranggapan, Sobat Cuan saat ini lebih baik melakukan aksi wait and see sembari menanti sentimen Mt. Gox dan The Fed mereda. Sobat Cuan bisa kembali mengoleksi BTC jika harganya terjun ke kisaran US$16.700 hingga US$18.860 per keping.

Baca Juga: Pluang Insight: Faktor Makroekonomi Apa Saja yang Pengaruhi Pasar Kripto?

Pasar AS Sepekan

Setali tiga uang, trio indeks saham AS pun tumbang berjemaah mengakhiri pekan ini. Nilai S&P 500 melemah 4,04%, sementara nilai indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dan Nasdaq masing-masing terjungkal lebih dalam 4,23% dan 4,42%.

Trio indeks Wall Street sebenarnya bergerak sideways sejak Senin hingga Kamis. Namun, pidato Powell di Jakson Hole mengubah haluan laju pergerakan trio indeks saham AS.

Dalam pidato tersebut, Powell menekankan bahwa The Fed akan terus mempertahankan tingkat suku bunga acuan tinggi lantaran perang melawan inflasi akan butuh waktu lama.

Sayangnya, pernyataan ini bertolak belakang dengan ekspektasi pelaku pasar yang mengharapkan sikap dovish dari otoritas moneter AS tersebut. Bahkan, harapan akan sikap moneter The Fed yang melunak sempat bikin kapitalisasi pasar saham AS kembali ke level US$7 triliun.

Hanya saja, penegasan tentang pengetatan kebijakan moneter The Fed justru bukanlah hal yang bikin pelaku pasar ketar-ketir. Mereka justru lebih mencemaskan komentar Powell lainnya yang kira-kira menyebut bahwa upaya pemadaman inflasi The Fed pasti akan melukai bisnis dan rumah tangga.

Berkaca dari komentar ini, pelaku pasar menangkap sinyal bahwa The Fed sengaja memperlambat pertumbuhan ekonomi AS agar inflasi benar-benar terkendali.

Pelaku pasar juga menganggap The Fed nekat menempuh kebijakan tersebut meski tanda-tanda resesi ekonomi AS tampak di pelupuk mata.

Lihat saja pertumbuhan ekonomi AS kuartal II yang mendarat di teritori negatif dua triwulan berturut-turut. Selain itu, data the S&P Global Flash Composite Purchasing Manager Index (PMI) Agustus berada di angka 45 atau anjlok dari 47,7 sebulan sebelumnya, menandakan bahwa aktivitas bisnis di AS mengalami kontraksi tajam di bulan ini.

Menimbang sikap The Fed yang makin "buas", Sobat Cuan tampaknya mesti siap melihat gejolak besar di pasar saham AS dalam jangka menengah. 

Analisis Teknikal Saham AS

Berkaca dari pergerakannya sepekan terakhir, indeks S&P 500 langsung mengalami gap down setelah tertahan di support kuatnya di level 4.210. Alhasil, S&P500 pun tampak harus menguji dirinya di level terdekatnya yakni 4.034.

Secara garis besar, S&P500 sebenarnya masih berada di channel uptrend-nya karena belum membuat titik harga terendah baru di bawah level 3.910. Implikasinya, Sobat Cuan bisa memanfaatkan momentum ini untuk mulai mengoleksi saham-saham AS mumpung aspek teknikalnya sedang mendukung.

Pasar Emas Sepekan

Harga emas di pasar spot mengakhiri pekan ini di level US$1.737 per ons, melorot 0,57% dibanding posisi sepekan sebelumnya US$1.747 per ons.

Nilai sang logam mulia lunglai setelah dihantam tekanan bertubi-tubi, salah satunya adalah keperkasaan nilai Dolar AS sepanjang pekan ini.

Nilai indeks Dolar AS sempat menanjak mendekati level 110 di pertengahan pekan setelah pelaku pasar mengantisipasi hasil simposium ekonomi The Fed di Jackson Hole.

Tapi masalahnya, penguatan nilai Dolar AS akan membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang jarang bertransaksi menggunakan mata uang tersebut. Hasilnya, permintaan emas pun melorot.

Ibarat peribahasa "sudah jatuh tertimpa tangga", harga emas makin sengsara di akhir pekan setelah Powell dalam pidatonya di Jackson Hole menegaskan bahwa The Fed akan tetap menempuh kebijakan moneter ketat untuk mengekang inflasi. 

Ekspektasi investor akan rezim suku bunga tinggi berpotensi meningkatkan tingkat imbal hasil instrumen berpendapatan tetap. Sayangnya, hal itu akan membuat opportunity cost dalam menggenggam emas jadi lebih mahal.

Baca Juga: Rangkuman Pasar: The Fed Bikin Gigit Jari, IHSG & Kripto Langsung Grogi

Pasar Domestik Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ketularan nasib apes saham AS dan emas. Buktinya, ia menutup sesi perdagangan Jumat (26/8) di 7.135,25 poin alias melemah 0,52% dibanding pekan lalu.

Sang indeks domestik tak selamat melalui pekan ini setelah perjalanannya diterpa badai dari segala penjuru.

Awalnya, IHSG bergerak pede setelah Bank Indonesia mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin setelah menahan hal tersebut di tingkat 3,5% selama 18 bulan terakhir. Upaya tersebut diharapkan dapat meredam inflasi domestik plus menahan arus modal keluar dari Indonesia.

Sayangnya, kepercayaan diri mereka luntur lantaran mengantisipasi pengumuman kebijakan moneter The Fed yang lebih garang di simposium Jackson Hole. Alhasil, investor pun memilih melancarkan aksi ambil untung (profit taking) pekan ini daripada nantinya menyesal jika pidato tersebut tidak berpihak pada mereka.

Selain perkara The Fed, nilai sang indeks domestik juga terguncang setelah pemerintah mengaku tengah mengkaji kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Bio Solar dan Pertalite. Pasalnya, kebijakan tersebut tentu akan menjadi "bensin" bagi tingkat inflasi domestik yang kian hari kian membara.

Terlebih, pergerakan sideways IHSG pekan ini sebenarnya adalah buah dari aksi mark up with distribution. Dengan kata lain, pelaku pasar sengaja mengatrol nilai saham-saham sebelum kemudian dijual kembali demi menggaet cuan.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka Sobat Cuan jangan heran jika IHSG bakal mengalami fase short-term bearish. Pasalnya, kebijakan moneter ketat The Fed kemungkinan akan berimbas ke arus modal keluar (capital outflow) pekan depan sementara kenaikan harga BBM, jika terjadi, akan mengurangi daya beli masyarakat dan ujungnya menghantam kinerja keuangan emiten domestik.

Implikasinya, Sobat Cuan diharapkan menghindari saham-saham sektor yang terdampak negatif oleh kenaikan harga BBM seperti konsumer dan rokok. Alih-alih, Sobat Cuan dapat menitikberatkan posisi portofolio di saham sektor-sektor yang kecipratan berkah inflasi dan suku bunga acuan tinggi seperti perbankan dan jalan tol.

Meski IHSG Ambrol, Aksi Beli Asing Tetap Getol

Salah satu hal mengejutkan pekan ini adalah derasnya aksi beli asing meski IHSG terbata-bata. Bahkan, mereka mencetak aksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp1,61 triliun sepanjang pekan ini.

Namun, mereka tetap saja mengoleksi saham "itu-itu saja" seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Baca Juga: Kabar Sepekan: Kenaikan BBM di Depan Mata, Harga Telur Ayam Jadi Derita

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait