Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Apa Saja Jenis Investasi yang Cocok Saat Resesi?
shareIcon

Apa Saja Jenis Investasi yang Cocok Saat Resesi?

31 Jul 2023, 5:04 AM·Waktu baca: 4 menit
shareIcon
Kategori
investasi saat resesi

Investasi saat resesi punya trik tersendiri. Yuk simak arahan dan rekomendasi investasi yang cocok saat resesi lewat artikel berikut ini!

Apa itu Resesi?

Resesi ekonomi adalah periode terjadinya penurunan capaian produk domestik bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan tingkat pengangguran sehingga terjadi penurunan daya beli masyarakat.

Sektor konsumer yang terdampak langsung situasi ini pun mengalami kontraksi pendapatan. Akibatnya, industri manufaktur harus merumahkan pegawainya dan menciptakan efek domino berkepanjangan.

Kontraksi pendapatan manufaktur berimbas luas. Penanganan resesi yang buruk bisa berimbas pada sektor lain seperti perbankan yang terkena gelombang kredit macet, inflasi tak terkendali dan stabilitas makro ekonomi secara umum yang berimbas pada sektor-sektor mikro.

Butuh beberapa waktu bagi perekonomian suatu negara untuk pulih dari imbas resesi. Karena itulah resesi menjadi momok yang menakutkan bagi investor di pasar finansial.

Mengapa Resesi Bisa Terjadi?

Resesi terjadi akibat turunnya capaian pertumbuhan ekonomi. Adapun faktor-faktor yang menyebabkannya bisa bermacam-macam, mulai dari kondisi ekonomi global, dampak kebijakan suatu negara, pelemahan nilai tukar, defisit transaksi berjalan, hingga kondisi yang sulit di prediksi seperti bencana alam dan pandemi.

Baca juga: Mengenal Konsep Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia

Apakah Kita Sedang Dilanda Resesi?

Tidak ada pernyataan resmi mengenai kondisi resesi pasca pandemi. Kendati sempat mengalami kontraksi ekonomi, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5% secara tahunan tiap kuartalnya sejak tahun lalu.

Berdasarkan data statistik, gejala resesi yang sempat dialami Indonesia pasca pandemi Covid 19 memang menyebabkan pergeseran lokomotif perekonomian. Semula, PDB Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebagai lokomotif utamanya. Tapi sekarang, konsumsi rumah tangga mengalami penurunan akibat tingginya inflasi.

Beruntung, sektor ekspor impor mengalami penguatan signifikan sehingga capaiannya bisa menutupi pengurangan kontribusi konsumsi rumah tangga. Pergeseran dinamika inilah yang membuat kondisi resesi memang memelukan perhatian khusus, terutama bagi investor yang harus menyesuaikan porsi investasinya pada komponen dan pasar finansial yang lebih menguntungkan setelah peta perekonomian bergeser tersebut.

Bagaimana Tips Investasi Saat Resesi?

1. Cash is the King

Salah satu jargon paling mujarab saat resesi ialah 'cash is the king'. Jargon yang dilontarkan penasehat finansial Citi Global wealth Michelle griffith itu maksudnya ialah kamu perlu berjaga-jaga dengan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi kondisi tak terduga seperti PHK dan inflasi.

Meski begitu, menjual aset demi memperoleh lebih banyak tunai saat resesi cukup berisiko. Kamu mungkin terpaksa menjual dengan harga lebih rendah atau tempo prematur yang mengakibatkan kerugian margin ketimbang saat kondisi perekonomian lebih stabil.

2. Instrumen Tahan Banting

Resesi berakibat pada keruntuhan pasar finansial secara umum. Tetapi, beberapa sektor terbukti tahan resesi bahkan melambung karena sentimen yang berubah.

Sektor waralaba dan perkakas rumah tangga merupakan contoh sektor yang lebih tahan banting. Asumsinya, meski dilanda resesi, masyarakat tentu tetap membutuhkan makanan dan menunjang produktivitasnya.

Beberapa sektor lain seperti tambang dan jasa kesehatan malah mengalami uptrend selama resesi pandemi tahun lalu.

3. Dollar-Cost Averaging

Alih-alih menginvetsasikan seluruh dana kamu, saat resesi strategi dollar-cost averaging terbukti lebih tahan banting. Triknya ialah dengan membeli aset secara berkala selama resesi. Cara ini akan menekan kerugian kamu saat harganya jatuh, sekaligus memberi kesempatan kamu untuk mengepul aset yang sedang murah tersebut.

4. Atur Strategi Investasi

Jika kamu terbiasa menjadi trader yang mengejar margin saat trading, kamu bisa mencoba untuk mengalihkan strategi kamu jadi pemburu dividen. Trik ini akan membebaskan kamu dari stres berkepanjangan melihat portofolio merah dan penyusuran nilai investasi dengan mengkalkulasikan laba dari dividen yang dibagikan.

Agar memperoleh dividen yang menguntungkan, kamu harus mengubah strategi investasi kamu dengan memilah emiten berfundamental baik, meski sahamnya sedang downtrend. Alih-alih menjadi short trader, kamu bisa melakukan dollar-cost averaging untuk menimbun saham emiten seperti ini agar memperoleh nilai dividen yang lebih besar.

Meski demikian, investor dituntut untuk menjadi manager aktif yang melakukan penyesuaian berkala terhadap portofolio investasinya saat resesi. Pastikan portofolio kamu sudah sesuai dengan kondisi perekonomian yang berubah-ubah tersebut.

5. Memilih Kelas Aset

Pasar finansial memiliki tingkatan kelas aset, mulai dari yang paling berisiko hingga yang minim risiko. Salah satu kelas aset yang dianggap tahan banting saat resesi ialah surat utang.

Kamu bisa mengatur ulang portofolio investasi kamu berdasarkan tingkatan risiko tersebut.

6. Tenang, Jangan Panik

Kunci utama sukses berinvestasi saat resesi ialah menghindari bias psikologis akibat kepanikan saat akan mengambil keputusan investasi. Pastikan kamu bisa berfikir jernih dan logis dalam mengambil langkah terbaik untuk menyelamatkan portofolio investasi kamu dari amukan resesi.

Baca juga: Cicil Emas vs Dollar Cost Averaging

Apa Saja Instrumen yang Disarankan untuk Investasi Saat Resesi?

Berikut ini beberapa instrumen investasi yang bisa kamu pilih untuk berinvestasi saat resesi.

1. Industri Kesehatan dan Gerai Bahan Pokok

Industri kesehatan dan gerai bahan pokok terbukti tahan resesi. Bagaimanapun, masyarakat terdampak resesi tetap akan membelanjakan uangnya untuk dua kebutuhan dasar tersebut.

2. Emiten dengan Fundamental Baik

Jajaran emiten blue chip dengan kapitalisasi pasar besar dan laporan keuangan yang relatif sehat saat resesi masuk dalam kategori instrumen tahan banting.

3. Instrumen Pendapatan Tetap

Surat utang dan emiten dengan dividen tinggi merupakan pilihan cerdas saat resesi. Kamu mungkin kesulitan untuk mencetak profit dari margin trading, namun instrumen pendapatan tetap bisa membuat portofolio kamu tetap tumbuh di saat yang sulit.

4. Reksadana yang Spesifik

Saat resesi, tidak semua sektor terdampak. Malah ada juga sektor yang semakin berkibar karena sentimen tertentu.

Biasanya produk reksadana memiliki spesifikasi yang membuat kinerjanya lebih baik di saat seperti ini. Kamu bisa memilih reksadana dengan kinerja baik untuk jadi alternatif alokasi dana investasi kamu.

Baca juga: Mengapa Reksa Dana Pasar Uang Cocok Sebagai Penyimpan Dana Darurat?

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Nerdwallet, Forbes, Kompas

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
investasi
Sobat Cuan, Begini Lho Cara Jitu Screening Saham Favoritmu!
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1