pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Sobat Cuan, Begini Lho Cara Jitu Screening Saham Favoritmu!

Sobat Cuan tertarik investasi saham? Nah, ada baiknya kamu melakukan satu langkah khusus yang disebut dengan screening saham untuk memilih saham jagoanmu. Tapi, apa sih artinya screening saham? Dan bagaimana cara melakukannya? Yuk, simak artikel berikut!

Sekilas Mengenai Screening Saham

Screening, atau bahasa yang lebih umum adalah penyaringan atau menyortir, selalu dilakukan investor saham yang berbasis fundamental sebelum membeli atau menjual suatu saham.

Namun, investor pemula jarang melakukan hal tersebut lantaran mereka cenderung lebih doyan melihat pergerakan dari harga saham dibandingkan kesehatan finansial dari suatu emiten tertentu. Apalagi, mereka pun kadang tak paham cara melakukan screening saham yang benar.

Nah, berikut ini terdapat dua langkah mudah bagimu jika ingin melakukan screening saham dengan teknik fundamental. Apa saja?

Cara Screening Saham

1. Periksa Tren Pendapatan dan Laba Bersih Perusahaan

Hal paling mudah yang Sobat Cuan bisa lakukan sebelum membeli saham adalah memeriksa pertumbuhan laba bersih (net income) dan pendapatan (revenue) perusahaan.

Kuncinya, jika perusahaan terus membukukan pertumbuhan laba dan pendapatan antar tahunan atau kuartal, maka ada baiknya kamu mulai mengoleksi saham perusahaan tersebut! Kok begitu?

Laba bersih yang terus bertumbuh secara tahunan mengindikasikan bahwa perusahaan berhasil untuk terus berkembang antar tahun. Dengan kata lain, perusahaan benar-benar melakukan upaya untuk berkembang, baik dari sisi efisiensi biaya maupun mendorong penjualan.

Namun, kamu tidak boleh melihat tren pertumbuhan labanya dari satu periode saja ya, Sobat Cuan. Misalnya, kamu sedang mengincar saham perusahaan X. Maka, kamu tidak boleh hanya melihat tren pertumbuhan labanya secara kuartalan saja, namun juga performanya secara tahunan. Mengapa demikian?

Sobat Cuan perlu ingat bahwa profitabilitas suatu perusahaan sangat tergantung dengan faktor musiman.

Contohnya, laba perusahaan ritel di Indonesia akan kinclong di kuartal II akibat momen lebaran. Nah, jika kamu hanya berpatokan dengan pertumbuhan laba di periode tersebut saja, maka kamu akan salah menafsirkan performa perusahaan secara keseluruhan. Salah tafsir yang terus menerus akan membuat kamu cepat boncos!

Tapi, di sisi lain, perusahaan yang tidak punya tren pertumbuhan positif juga jangan diartikan bahwa sahamnya tidak punya prospek masa depan. Sebab, terdapat pula saham-saham perusahaan rintisan (startup) yang belum sukses mencetak laba, namun punya potensi pertumbuhan bisnis yang tak kalah mumpuni.

Nah, untuk mengukur kinerja saham-saham perusahaan tersebut, kamu bisa menggunakan indikator tren pendapatan perusahaan ketika melakukan screening saham.

Kalau pendapatan perusahaan tersebut meningkat terus antar kuartal maupun antar tahun, maka tidak ada salahnya lho kamu mengoleksi saham-saham tersebut!

2. Pastikan Harga Saham Berlawanan Arah dengan Tren Pendapatan atau Laba

Selain mengubek-ubek tren laba dan pendapatan, kamu juga bisa memilih saham jagoanmu berdasarkan valuasi harganya. Dalam hal ini, tips utamanya adalah kamu perlu memilih saham yang harganya berbanding terbalik dengan tren positif pendapatan atau laba bersihnya! Apa sih alasannya?

Hal ini bertujuan agar kamu bisa mendapat saham berharga murah, namun juga punya prospek masa depan yang juga mantap. Imbasnya, kamu bisa mendulang cuan yang ciamik di masa depan!

Adapun rumus valuasi yang paling simpel adalah rasio harga saham terhadap laba alias Price to Earnings (P/E) ratio.

Dalam metode ini, yang dimaksud dengan harga adalah harga saham. Sementara itu, laba adalah laba per saham, yang dihitung dari laba sesudah pajak dibagi dengan jumlah saham perusahaan.

Rasio ini menunjukkan berapa tahun yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar aset tersebut dari labanya. Sebagai contoh, jika rasio P/E sebuah perusahaan adalah 20, maka perusahaan tersebut artinya menghasilkan laba setara dengan 5% tiap tahun dari nilai asetnya. Nah, kalau kamu mau belajar lebih lanjut tentang rasio P/E, klik tautan ini ya, Sobat Cuan!

Hanya saja, murah atau mahalnya harga saham berdasarkan rasio P/E tidak bisa dipatok dari harganya semata. Sobat Cuan dapat membandingkannya rasio P/E dari dua atau lebih perusahaan yang bergerak di sektor yang sama. Ambil contoh perbandingan rasio P/E Visa dan Mastercard, di mana keduanya bergerak di sektor jasa pembayaran.

Bagaimana, Sobat Cuan? Apakah kamu sudah berani melakukan screening saham? Nah, kalau kamu mau paham lebih jauh tentang investasi saham, yuk pelajari di Equity 101 pada tautan di bawah ini!

Pelajari Investasi Saham Lebih Jauh di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES