Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Pluang Insight: Ditekan Biaya Marketing, Mastercard Masih Punya Taring!

Apakah kamu senang gesek-gesek kartu saat berbelanja? Jika jawabannya adalah ya, mungkin ada baiknya kamu menyimak artikel ini. Sebab, ada kemungkinan kamu juga telah berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan jaringan pembayaran AS, Mastercard, yang mentereng di kuartal IV 2021! Agar lebih jelas, yuk simak penjelasannya di Pluang Insight berikut!

Profil Mastercard

Mastercard adalah perusahaan pemroses pembayaran asal AS. Kini, Mastercard menyandang status sebagai pemrosesan pembayaran terbesar ke-dua di dunia dengan nilai transaksi sebesar US$4,8 miliar yang lalu lalang di jaringannya sepanjang 2020.

Mastercard beroperasi di lebih dari 200 negara, termasuk Indonesia, dan kini menyediakan jasa transaksi dalam 150 mata uang berbeda.

Tren Pendapatan Mastercard

Mastercard membukukan pendapatan US$18 miliar dalam bentuk Gross Dollar Volume sepanjang tahun lalu alias tumbuh 23% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Untungnya, raihan ini jauh berada di atas ekspektasi para analis pasar modal di AS.

CEO Mastercard Michael Miebach mengatakan, kenaikan pendapatan perseroan didorong oleh kenaikan transaksi belanja lintas batas. Bahkan, ia sesumbar bahwa volume transaksi antar negara tersebut pada kuartal IV lalu sudah menyamai tingkat pra pandemi COVID-19.

Mastercard menyebut, transaksi belanja lintas batas pada triwulan lalu tumbuh 53% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa perseroan mampu memanfaatkan momentum daya beli masyarakat yang kian membaik setelah aktivitas konsumsi sempat meredup selama pandemi COVID-19.

Baca juga: Pluang Insight: Produk Makin Apik, Pendapatan Apple Kian Ciamik!

Biaya Operasional 'Jegal' Laba Mastercard

Pertumbuhan pendapatan Mastercard yang semringah pun berdampak positif pada kenaikan labanya.

Sepanjang kuartal IV lalu, Mastercard mencetak laba bersih sebesar US$2,38 miliar atawa US$2,41 per lembar saham, tumbuh signifikan 33% dari periode yang sama tahun lalu yakni US$1,79 miliar atau US$1,64 per lembarnya.

Dengan kata lain, Mastercard sukses membukukan pertumbuhan laba yang lebih kinclong dibandingkan pertumbuhan pendapatannya.

Namun, pertumbuhan laba Mastercard sejatinya bisa lebih cemerlang asalkan perseroan mampu menekan beban operasionalnya, yang terdiri atas beban tenaga kerja dan biaya umum.

Pada kuartal IV lalu, Mastercard mencatat pertumbuhan beban tenaga kerja dan biaya pemasaran masing-masing sebesar 15% dan 40% secara tahunan. Nah, dalam hal ini, Sobat Cuan perlu fokus pada biaya pemasaran yang angkanya disebut belakangan. Mengapa demikian?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Mastercard berhasil meraih pertumbuhan pendapatan 20% secara tahunan pada kuartal lalu. Namun, hasil tersebut dicapai perusahaan dengan menggelontorkan biaya pemasaran dan iklan yang lebih besar 40% dibanding tahun sebelumnya.

Sehingga, jika dilihat secara persentasenya, maka upaya Mastercard tersebut ibarat 'besar pasak daripada tiang', bukan?

Valuasi dan Rekomendasi

Berkaca pada pertumbuhan pendapatan Mastercard yang masih mantap, valuasi Mastercard jika dilihat dari rasio harga saham per pendapatan (Price-to-Earning atau P/E) berada di level 27x.

Hanya saja, valuasi ini terbilang cukup murah, Sobat Cuan. Pasalnya, valuasi saham Mastercard sempat menyentuh 43x jika kita menengok rekam jejaknya di masa lalu. Tetapi, valuasi saham Mastercard malahan masih jauh lebih mahal 15% ketimbang pesaing sengitnya, Visa.

Kemudian, para analis di AS berpendapat bahwa Mastercard, secara umum, memiliki prospek yang menjanjikan pada 2022. Namun, di saat yang sama, mereka mewanti-wanti bahwa pertumbuhan penjualan yang cemerlang di tahun lalu mungkin tak akan terulang di tahun ini.

Tekanan biaya pemasaran dan tenaga kerja nampaknya masih akan membayangi profitabilitas Mastercard sepanjang 2022. Di samping itu, valuasi Mastercard yang lebih mahal dibanding Visa akan bikin investor lebih senang mengoleksi saham Visa ketimbang Mastercard.

Kalau kamu pilih mana, Sobat Cuan? Visa atau Mastercard?

Dapatkan CFD Saham Mastercard di Sini!

Baca juga: Pluang Insight: COVID Bawa Berkah, Pendapatan Johnson & Johnson Merekah

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait