Perbedaan Mark Price dan Last Price di Futures Pluang
Di platform Crypto Futures Pluang, last price adalah harga transaksi terakhir yang dieksekusi di order book, sedangkan mark price adalah harga rata-rata tertimbang yang dihitung di berbagai bursa kripto global besar, bukan hanya dari order book Pluang sendiri. Pluang menggunakan mark price — bukan last price — untuk perhitungan unrealised PnL dan pemicu likuidasi, secara khusus untuk melindungi trader dari satu transaksi tipis atau termanipulasi yang secara artifisial memaksa terjadinya likuidasi. Satu pengecualian penting: saat kamu benar-benar menutup posisi dengan market order, harga fill yang kamu terima dieksekusi pada harga terbaik yang tersedia di order book, yang bisa berbeda dari mark price maupun last price, meski harga-harga ini biasanya tetap berdekatan dalam kondisi normal dan hanya melebar sesaat saat volatilitas sangat tinggi atau likuiditas tipis pada kontrak tertentu. Memahami perbedaan ini membantu kamu menafsirkan angka yang tampil di aplikasi dengan lebih tepat.
- Last price adalah harga di mana transaksi futures terakhir dieksekusi di order book Pluang sendiri. Harga ini bisa bergerak tajam selama periode likuiditas rendah dan lebih rentan terhadap manipulasi jangka pendek dari satu order besar. Harga inilah yang ditampilkan di grafik Crypto Futures.
- Mark price adalah harga rata-rata tertimbang yang dihitung di berbagai bursa kripto global besar, bukan diturunkan dari satu order book saja. Karena mencerminkan konsensus pasar yang lebih luas dibanding transaksi terakhir di satu venue, mark price jauh lebih tahan terhadap manipulasi jangka pendek dibanding last price saja.
- Mengapa likuidasi menggunakan mark price: jika likuidasi dipicu oleh last price, anomali sesaat atau satu order besar bisa mendorong harga cukup jauh untuk memaksa likuidasi yang seharusnya tidak dibenarkan — praktik yang kadang disebut wick-hunting. Mark price menutup celah ini.
- PnL ditampilkan menggunakan mark price: angka unrealised PnL yang kamu lihat di aplikasi Pluang mencerminkan mark price, memberimu estimasi wajar dari nilai posisimu alih-alih angka yang terdistorsi oleh lonjakan sesaat di order book.
- Eksekusi order menggunakan harga terbaik yang tersedia: saat kamu memasang market order untuk menutup posisi, harga eksekusi aktual adalah harga terbaik yang tersedia di order book, bukan mark price, dan juga bisa berbeda dari last price yang tampil di grafik. Selisih antara harga-harga ini tetap sempit dalam kondisi likuid dan hanya melebar saat likuiditas benar-benar rendah atau volatilitas ekstrem.
Pertanyaan terkait:
Q: Bisakah last price dan mark price sangat berbeda di Pluang?
Dalam kondisi pasar yang likuid, keduanya tetap sejajar dengan selisih yang sangat kecil. Namun saat volatilitas tinggi atau likuiditas tipis, selisih ini — kadang disebut basis — bisa melebar untuk sementara sebelum menyempit kembali seiring aktivitas trading kembali normal di berbagai venue, jadi berhati-hatilah saat menempatkan order dalam jumlah besar di kontrak tersebut ketika pasar bergerak cepat.
Q: Kenapa posisi saya terlikuidasi padahal grafik belum menyentuh harga likuidasi?
Karena grafik Crypto Futures menampilkan last price, sedangkan likuidasi dipicu oleh mark price. Saat keduanya sesaat berselisih, mark price bisa lebih dulu mencapai harga likuidasimu sebelum grafik menyentuhnya. Stop Loss juga mengikuti mark price, jadi bisa terpicu sebelum grafik menyentuh harganya. Lihat CFT-TXN-TS-003.
Q: Apakah penggunaan mark price berarti saya tidak akan pernah dilikuidasi secara tidak adil?
Penggunaan mark price secara signifikan mengurangi risiko likuidasi yang dipicu oleh satu transaksi termanipulasi, tetapi tidak menghilangkan risiko likuidasi itu sendiri sama sekali dalam kondisi apa pun. Posisimu tetap bisa dilikuidasi jika harga pasar yang sesungguhnya bergerak cukup jauh melawan posisimu hingga melanggar syarat maintenance margin, betapapun wajar dan akuratnya harga referensi tersebut dihitung setiap saat oleh sistem Pluang secara otomatis.