
Starbucks melaporkan hasil keuangan kuarta III tahun 2023 yang kuat, dengan pendapatan konsolidasi tumbuh 12% secara tahunan menjadi rekor tertingginya di $9,2 miliar. Sayangnya, pencapaian ini pun masih dibawah prediksi para analis. Konon, pertumbuhan penjualan Starbucks sendiri dikarenakan harga jual mereka yang dinaikkan sehingga volume penjualan menurun secara keseluruhan.
Penjualan di Amerika Utara mencatat pendapatan rekor, didorong oleh pertumbuhan penjualan toko yang sama sebesar 7%. Selain Amerika, Starbucks juga melaporkan pertumbuhan pendapatan dua digit di segmen internasionalnya, dengan performa yang kuat di China, di mana pendapatan tumbuh 51% YoY. Jika melihat secara lebih detil, perseroan mengalami pertumbuhan yang kuat dalam bisnis minuman dingin, dengan peningkatan 13% YoY untuk minuman espresso dingin.
Untuk memperkuat lini bisnis mereka, perseroan berencana untuk terus berinovasi dalam minuman dingin dan panas, termasuk peluncuran pembuat kopi Clover Vertica dan pengujian cold-pressed cold brew. Perusahaan ini juga melihat tingkat penjualan yang tinggi di berbagai waktu, terutama dalam platform Starbucks Refreshers. Starbucks fokus pada memperkuat posisi kepemimpinan digitalnya, dengan jumlah pelanggan aktif Starbucks Rewards selama 90 hari tumbuh menjadi hampir 75 juta secara global.
Tak hanya perusahaan teknologi, Starbucks pun juga berencana untuk berinvestasi dalam kecerdasan buatan dan kemampuan digital di Amerika Serikat dan China. Pada panggilan rapat analis kemarin (1/8), Starbucks mengungkapkan bahwa mereka berencana untuk fokus pada daerah yang belum terpenuhi di China dan memanfaatkan rantai pasok digital dan penawaran yang nyaman untuk mendorong pertumbuhan.
Perusahaan ini bertujuan untuk pertumbuhan pendapatan jangka panjang sebesar 10-12% dan pertumbuhan pendapatan sebesar 15-20%.


