
Saham sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah saham emiten yang kegiatan usaha utamanya menanam kelapa sawit dan mengolahnya menjadi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta produk turunannya; artikel ini memetakan 29 emiten sawit menurut posisinya di rantai nilai. Pendapatan emiten ini bergantung pada harga CPO: Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi CPO periode September 2026 sebesar USD1.007,51 per metrik ton, naik 1,10% dari Agustus 2026 (ANTARA, 1 September 2026).
Saham sawit adalah saham perusahaan tercatat yang usaha utamanya membudidayakan kelapa sawit dan mengolah tandan buah segar menjadi CPO serta produk turunannya. Pendapatannya bergantung pada harga CPO, volume produksi, serta kebijakan ekspor dan biodiesel.
Istilah teknis yang perlu diketahui sebelum membaca laporan keuangan emiten sawit:
• TBS (Tandan Buah Segar): buah kelapa sawit yang dipanen dari kebun.
• CPO (Crude Palm Oil): minyak kelapa sawit mentah hasil pengolahan TBS.
• OER (Oil Extraction Rate): rendemen, yaitu persentase CPO yang dihasilkan dari setiap ton TBS.
• Nucleus dan plasma: kebun milik perusahaan sendiri, dibedakan dari kebun petani mitra.
• Usia prima: rentang usia tanaman sawit dengan produktivitas puncak, umumnya 7–20 tahun.
Artikel ini memetakan 29 emiten di BEI yang usaha utamanya berada di rantai kelapa sawit: 17 emiten hulu, 10 emiten terintegrasi hulu–hilir, dan 2 emiten hilir. Pengelompokan ini penting karena posisi di rantai nilai menentukan bagaimana pendapatan emiten bereaksi terhadap pergerakan harga CPO.
Kode | Nama Perusahaan | Catatan |
ANDI | PT Andira Agro Tbk | Perkebunan Sumatera Selatan |
ANJT | PT Austindo Nusantara Jaya Tbk | Sawit, sagu, dan energi terbarukan |
BWPT | PT Eagle High Plantations Tbk | Perkebunan dengan delapan pabrik |
CSRA | PT Cisadane Sawit Raya Tbk | Perkebunan Sumatera Utara |
FAPA | PT FAP Agri Tbk | Perkebunan berskala besar |
GZCO | PT Gozco Plantations Tbk | Perkebunan Sumatera Selatan |
LSIP | PT PP London Sumatra Indonesia Tbk | Sawit dan karet |
MAGP | PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk | Perkebunan skala kecil; berstatus suspensi (lihat catatan) |
MKTR | PT Menthobi Karyatama Raya Tbk | Perkebunan Kalimantan Tengah |
NSSS | PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk | Lima kebun dan satu pabrik |
PGUN | PT Pradiksi Gunatama Tbk | Perkebunan Kalimantan Timur |
PNGO | PT AEP Pinago Plantations Tbk | Sawit dan karet |
PSGO | PT Palma Serasih Tbk | Perkebunan Kalimantan Timur dengan dua pabrik |
PTPS | PT Pulau Subur Tbk | Perkebunan skala kecil |
SGRO | PT Prime Agri Resources Tbk | Perkebunan dan produksi benih sawit (kecambah) |
TAPG | PT Triputra Agro Persada Tbk | Sawit dan karet |
TLDN | PT Teladan Prima Agro Tbk | Perkebunan Kalimantan Timur |
Kode | Nama Perusahaan | Catatan |
AALI | PT Astra Agro Lestari Tbk | Perkebunan, penyulingan, dan pencampuran pupuk |
DSNG | PT Dharma Satya Nusantara Tbk | Sawit dan produk kayu olahan |
JARR | PT Jhonlin Agro Raya Tbk | CPO, RBDPO, dan biodiesel FAME |
JAWA | PT Jaya Agra Wattie Tbk | Sawit, karet, kopi, dan teh |
SIMP | PT Salim Ivomas Pratama Tbk | Hingga minyak goreng bermerek; juga tebu dan karet |
SMAR | PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk | Berbobot hilir hingga produk konsumen |
SSMS | PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk | Perkebunan, pabrik, dan penyulingan |
STAA | PT Sumber Tani Agung Resources Tbk | Terintegrasi dengan penyulingan |
TBLA | PT Tunas Baru Lampung Tbk | Sawit, biodiesel, dan gula |
UNSP | PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk | Sawit, karet, dan oleokimia; suspensi dicabut 23 September 2026 |
Kode | Nama Perusahaan | Catatan |
CBUT | PT Citra Borneo Utama Tbk | Penyulingan dan fraksinasi; tidak memiliki kebun sendiri; anak usaha SSMS |
MGRO | PT Mahkota Group Tbk | Enam pabrik dan satu penyulingan |
Pemetaan Pluang berdasarkan kegiatan usaha utama emiten, per 24 September 2026. Jumlah emiten dapat berubah seiring pencatatan baru dan delisting; periksa berkala di idx.co.id.
Periksa status perdagangan sebelum bertransaksi. BEI mencabut suspensi saham UNSP di seluruh pasar mulai 23 September 2026 setelah perseroan membukukan ekuitas positif per 31 Agustus 2026 (Periskop, 23 September 2026). Sementara itu, suspensi saham MAGP diperpanjang karena belum ada perkembangan signifikan atas langkah perbaikan perseroan (IDX Channel, 23 Juli 2026). Sebagian emiten lain memiliki porsi saham publik kecil sehingga perdagangannya tipis. Daftar efek dalam pemantauan khusus dan pengumuman suspensi terbaru tersedia di idx.co.id.
Dua catatan penamaan: SGRO kini bernama PT Prime Agri Resources Tbk dan PNGO kini bernama PT AEP Pinago Plantations Tbk, dengan kode saham tetap. Kode PALM milik PT Provident Investasi Bersama Tbk bukan emiten sawit karena perseroan telah melepas seluruh kebunnya dan kini menjadi perusahaan investasi.
Model bisnis emiten sawit bergerak dari kebun, panen dan pengolahan, penjualan CPO, hingga hilirisasi, dan setiap tahap memengaruhi seberapa besar kenaikan harga CPO sampai ke laba.
1. Kebun. Sawit mulai berbuah pada usia sekitar tiga hingga empat tahun dan mencapai produktivitas puncak pada usia 7–20 tahun. Komposisi usia tanaman menentukan volume panen bertahun-tahun ke depan.
2. Panen dan pengolahan. TBS harus diolah di pabrik kelapa sawit dalam hitungan jam setelah panen, sehingga kedekatan kebun dengan pabrik memengaruhi biaya dan rendemen.
3. Penjualan. CPO dijual ke pasar domestik atau ekspor dengan harga acuan yang terbentuk di bursa berjangka dan lelang, di luar kendali perusahaan.
4. Hilirisasi. Sebagian emiten mengolah CPO menjadi minyak goreng, oleokimia, atau biodiesel. Margin hilir umumnya lebih stabil, tetapi membutuhkan belanja modal besar.
Konsekuensinya, kenaikan harga CPO tidak otomatis menaikkan laba. Volume panen, rendemen, biaya pupuk dan tenaga kerja, serta pungutan ekspor berada di antara harga dan laba bersih.
Tiga kebijakan yang berpengaruh secara struktural adalah mandatori biodiesel, pungutan ekspor dan bea keluar, serta kewajiban pasar domestik (DMO).
• Mandatori biodiesel. Porsi campuran biodiesel berbasis sawit dinaikkan bertahap dari B20 (2018), B30 (2020), B35 (2023), B40 (2025), hingga B50 yang berlaku sejak 1 Juli 2026 berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, dengan masa transisi hingga 30 September 2026 (CNBC Indonesia, 1 Juli 2026). Mandatori ini menciptakan permintaan domestik, tetapi juga mengurangi volume yang tersedia untuk ekspor.
• Pungutan ekspor dan bea keluar. Tarif pungutan ekspor CPO menjadi 12,5% dari harga referensi melalui PMK Nomor 9 Tahun 2026 yang berlaku 1 Maret 2026 (Pajakku, 2 Maret 2026). Untuk periode September 2026, bea keluar CPO ditetapkan USD148 per metrik ton dan pungutan ekspor USD125,94 per metrik ton (ANTARA, 1 September 2026). Karena keduanya dihitung dari harga referensi, bebannya ikut naik ketika harga CPO naik.
• DMO dan DPO. Kewajiban pasar domestik mensyaratkan produsen memasok sebagian produksinya ke dalam negeri, dengan harga yang diatur (Domestic Price Obligation), sebagai prasyarat hak ekspor.
Kebijakan ini dapat berubah. Periksa ketentuan terbaru di situs resmi Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan.
Pada semester I 2026, lima emiten sawit rujukan mencatat kenaikan laba bersih secara tahunan, dengan AALI membukukan Rp1,10 triliun, naik 56,5% (Astra Agro Lestari, 4 Agustus 2026). Kenaikan ini sejalan dengan harga dan volume penjualan produk sawit yang lebih tinggi, meski besarnya berbeda antaremiten.
Tabel: Laba bersih emiten sawit rujukan, semester I 2026
Kode | Laba bersih S1 2026 (Rp) | Perubahan tahunan (%) | Sumber |
TAPG | 2,04 triliun | +20,43 | Periskop, 5 Agu 2026 |
AALI | 1,10 triliun | +56,5 | Astra Agro Lestari, 4 Agu 2026 |
DSNG | 985,88 miliar | +7,8 | SWA, 31 Jul 2026 |
SSMS | 904,41 miliar | +30,80 | Liputan6, 1 Sep 2026 |
LSIP | 891 miliar | +25 | IDX Channel, 31 Jul 2026 |
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagaimana dilaporkan sumber. Data SIMP semester I 2026 belum kami verifikasi dari sumber bertanggal sehingga tidak dicantumkan.
Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data: 1 Januari–30 Juni 2026.
Berdasarkan harga penutupan terakhir per 23 September 2026, harga 1 lot saham (100 lembar) enam emiten sawit rujukan berkisar Rp59.500 (SIMP) hingga Rp785.000 (AALI) (IDNFinancials). Minimum pembelian saham Indonesia adalah 1 lot per saham.
Keenam emiten ini dipilih dengan kriteria yang dapat diperiksa: luas tertanam terverifikasi dari laporan resmi, lama pencatatan di BEI, dan frekuensi menjadi rujukan dalam pemberitaan sektor. Kriteria ini tidak menilai kinerja atau kelayakan beli.
Tabel: Emiten sawit rujukan, harga, dan nilai 1 lot (per 23 September 2026)
Kode | Catatan rujukan | Harga penutupan (Rp/lembar) | Nilai 1 lot (Rp) | Estimasi total dengan biaya beli 0,15% (Rp) |
AALI | Luas tertanam 280.325 ha (Maret 2026); tercatat sejak 1997 | 7.850 | 785.000 | ±786.178 |
TAPG | Luas tertanam 159.707 ha (Desember 2025); 82,7% usia prima | 1.980 | 198.000 | 198.297 |
LSIP | Berdiri sejak era kolonial; kini bagian dari kelompok usaha Salim | 1.575 | 157.500 | ±157.736 |
SIMP | Terintegrasi hingga minyak goreng bermerek | 595 | 59.500 | ±59.589 |
DSNG | Sawit dan produk kayu | 1.515 | 151.500 | ±151.727 |
SSMS | Terintegrasi di Kalimantan Tengah | 1.110 | 111.000 | ±111.167 |
Harga penutupan terakhir per 23 September 2026 (IDNFinancials); untuk SSMS, harga terakhir tercatat pada pembaruan 21 September 2026. Biaya beli 0,15% dan biaya jual 0,25% (termasuk PPh Final 0,1% atas nilai jual) sesuai halaman biaya trading saham Indonesia di Pluang, diakses 24 September 2026.
Komponen biaya perlu dibaca terpisah: trading fee atau komisi broker berbeda-beda antarsekuritas, levy BEI/KSEI dan biaya KPEI merupakan pungutan yang diatur, sedangkan PPh Final 0,1% atas penjualan dikenakan sesuai ketentuan perpajakan pasar modal, bukan komponen biaya sekuritas. Rinciannya ada di halaman biaya trading saham Indonesia di Pluang. Harga terkini dapat dicek di halaman harga saham AALI, TAPG, dan LSIP hari ini.
Prospek sektor sawit ditentukan oleh interaksi permintaan biodiesel, keterbatasan pasokan, cuaca, akses pasar ekspor, dan hilirisasi. Bagian ini mengutip pandangan pihak ketiga dengan sumber dan tanggalnya; ini bukan proyeksi Pluang.
• Permintaan biodiesel. Lee Leng Hoe, VP Equity Research RHB Research Institute (riset 31 Juli 2026, via Bisnis Indonesia), memperkirakan B50 membutuhkan sekitar 18 juta ton CPO per tahun, atau lebih dari 35% total produksi Indonesia. Lolita Bangun, Wakil Sekretaris Jenderal GAPKI (3 Agustus 2026), mencatat peningkatan serapan domestik berdampak pada volume ekspor.
• Pasokan terbatas. Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI (rilis 30 Desember 2025, via Bisnis Indonesia 5 Januari 2026), menyebut pertumbuhan produksi CPO berada di kisaran 1–2% per tahun karena keterbatasan lahan baru, penuaan tanaman, dan kebutuhan peremajaan.
• Cuaca. Siklus iklim seperti El Niño memengaruhi produktivitas kebun dengan jeda sekitar 12 bulan.
• Keberlanjutan dan akses pasar. Persyaratan sertifikasi dan regulasi impor di negara tujuan, terutama Uni Eropa, menentukan akses pasar ekspor.
• Hilirisasi. Produk turunan bernilai tambah dapat mengurangi ketergantungan pada harga CPO mentah, tetapi menuntut belanja modal besar dan waktu.
Faktor-faktor ini tidak searah. Serapan biodiesel dan keterbatasan pasokan menunjuk ke satu arah, sementara pungutan ekspor, persyaratan pasar tujuan, dan volatilitas harga komoditas menunjuk ke arah lain.
Risiko utama saham sawit adalah ketergantungan pada harga CPO yang ditentukan pasar global dan berada di luar kendali perusahaan. Risiko lainnya:
• Risiko kebijakan: pungutan ekspor, bea keluar, DMO, dan mandatori biodiesel dapat berubah dan langsung memengaruhi margin.
• Beban pungutan naik seiring harga: karena dihitung dari harga referensi, tidak seluruh kenaikan harga CPO menjadi laba.
• Risiko cuaca dan siklus tanaman: curah hujan, usia tanaman, dan peremajaan menentukan volume panen.
• Risiko keberlanjutan dan akses pasar: persyaratan sertifikasi dan regulasi negara tujuan dapat membatasi ekspor.
• Risiko emiten spesifik: sebagian emiten pernah menghadapi masalah permodalan hingga suspensi, dan sebagian lain memiliki likuiditas rendah.
Di sisi lain, mandatori biodiesel memberi serapan domestik, dan sejumlah emiten sawit memiliki riwayat pembagian dividen. Mekanismenya dibahas di artikel dividen interim.
Saham sawit dapat dibeli di aplikasi Pluang melalui menu Saham Indonesia, dengan minimum pembelian 1 lot (100 lembar) per saham. Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
1. Buka aplikasi Pluang dan login ke akun kamu.
2. Pilih menu Saham Indonesia, lalu cari kode saham yang diinginkan, misalnya "AALI" atau "LSIP".
3. Klik "Beli", lalu masukkan harga dan jumlah lot (minimum 1 lot atau 100 lembar).
4. Pastikan saldo RDN (Rekening Dana Nasabah, rekening khusus atas nama investor untuk transaksi saham) mencukupi nilai order ditambah biaya transaksi.
5. Periksa ringkasan order, konfirmasi, lalu cek statusnya di riwayat transaksi.
Karena emiten sawit berada di satu sektor dengan faktor penggerak yang mirip, perhatikan diversifikasi portofolio agar dana tidak terkonsentrasi pada satu komoditas.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.
Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.
Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Artikel ini memetakan 29 emiten sawit per 24 September 2026: 17 hulu, 10 terintegrasi hulu–hilir, dan 2 hilir. Jumlahnya dapat berubah seiring pencatatan baru dan delisting.
B50 adalah mandatori pencampuran 50% biodiesel berbasis sawit pada bahan bakar diesel, berlaku sejak 1 Juli 2026 berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026.
Tidak selalu. Laba juga dipengaruhi volume panen, rendemen, biaya operasional, serta pungutan ekspor 12,5% dari harga referensi dan bea keluar yang naik bersama harga CPO.
Saham sawit di BEI mencakup 29 emiten dengan model usaha berbeda, dari perkebunan murni, kelompok terintegrasi, hingga emiten hilir tanpa kebun sendiri. Harga referensi CPO September 2026 berada di USD1.007,51 per metrik ton, dan lima emiten rujukan mencatat kenaikan laba pada semester I 2026. Namun, pungutan ekspor, mandatori biodiesel, dan siklus tanaman membuat kenaikan harga CPO tidak seluruhnya menjadi laba, sehingga status perdagangan dan laporan keuangan tiap emiten perlu diperiksa terpisah. Untuk pemetaan emiten sawit yang terhubung dengan grup usaha besar, baca saham Haji Isam dan saham konglomerat Indonesia.
Pandangan sektor yang dikutip dalam artikel ini berasal dari pihak ketiga, disertai sumber dan tanggalnya, dan bukan pandangan Pluang. Ketentuan kebijakan dan data emiten dapat berubah setelah tanggal pembaruan; periksa sumber resmi untuk kondisi terkini.
Gambar yang ditampilkan dalam konten ini dibuat dengan menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.
Tanggal | Perubahan |
10 September 2026 | Artikel dipublikasikan: daftar 29 emiten sawit per posisi rantai nilai, kebijakan biodiesel dan pungutan ekspor, serta faktor prospek sektor. |
24 September 2026 | Angka Kunci harga referensi CPO September 2026 ditambahkan; tabel laba semester I 2026 dan tabel harga 1 lot enam emiten rujukan ditambahkan; status UNSP diperbarui (suspensi dicabut 23 September 2026); data bea keluar dan pungutan ekspor September 2026 ditambahkan; H2 diubah ke bentuk pertanyaan; bagian cara beli beserta blok disclaimer produk ditambahkan. |
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.


