
ADRO adalah saham dari emiten PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, perusahaan energi terintegrasi yang bergerak di pertambangan batu bara, jasa pertambangan, logistik, hingga pengolahan mineral. Sebelum berganti nama, perusahaan ini dikenal luas sebagai PT Adaro Energy Tbk, salah satu pionir batu bara termal Indonesia yang berdiri sejak 2004 dengan nama awal PT Padang Karunia, sebelum resmi berganti nama menjadi PT Adaro Energy Tbk pada 2008.
Perubahan nama menjadi Alamtri Resources disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 November 2024 — bersamaan dengan keputusan pembagian dividen tunai spesial yang nilainya terkait langsung dengan pelepasan sebagian saham anak usaha PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), unit logistik dan trading batu bara Grup Adaro. Sejak restrukturisasi ini, Alamtri Resources berfokus pada tiga pilar bisnis utama: pertambangan batu bara termal, mineral (termasuk batu bara metalurgi), dan energi baru terbarukan — sebuah langkah diversifikasi yang mencerminkan strategi jangka panjang perusahaan menghadapi tren transisi energi global.
Berikut ringkasan cepat seputar saham ADRO:
Alamtri Resources mengoperasikan model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir: mulai dari penambangan dan perdagangan batu bara, jasa pertambangan (kontraktor tambang), logistik dan pelabuhan, hingga unit usaha pendukung seperti pengolahan mineral dan pembangkit listrik. Kantor pusat perusahaan berada di Menara Karya, Jakarta, dengan lebih dari 10.400 karyawan tetap per data terkini.
Ketiga pilar bisnis Alamtri Resources memiliki peran yang saling melengkapi. Pilar batu bara termal tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar dan mencakup rantai pasok dari tambang hingga pelabuhan ekspor. Pilar mineral mencakup aset batu bara metalurgi dan pengolahan mineral, yang sebagian sahamnya telah dilepas ke publik melalui entitas terpisah. Sementara pilar energi baru terbarukan masih dalam tahap pengembangan awal, mencakup studi dan investasi pada proyek pembangkit listrik tenaga surya serta pembangkit listrik ramah lingkungan di kawasan tambang — bagian dari komitmen perusahaan mendukung target penurunan emisi karbon nasional.
Dari sisi kepemilikan, mayoritas saham ADRO — sekitar 67% — masih dipegang oleh pihak insider, yang mencakup kelompok pengendali yang diasosiasikan dengan pendiri dan manajemen senior perusahaan, sementara kepemilikan institusi publik tercatat sekitar 11,8%. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi ini umum dijumpai pada emiten tambang keluarga besar di Indonesia, dan menjadi salah satu bagian dari analisa fundamental yang perlu diperhatikan investor sebelum mengoleksi sahamnya.
Perusahaan juga tercatat aktif melakukan aksi buyback saham dalam beberapa periode terakhir, salah satu bentuk corporate action yang lazim dilakukan emiten dengan kas berlimpah untuk mendukung harga saham dan efisiensi struktur modal. Rasio likuiditas perusahaan pun tergolong sehat, dengan current ratio di atas 4x — mengindikasikan aset lancar yang jauh melampaui kewajiban jangka pendeknya.
Harga saham ADRO pada penutupan 20 Juli 2026 berada di level Rp2.570 per lembar, naik 3,2% dibanding penutupan sebelumnya di Rp2.490, dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp74 triliun. Berikut data kunci lain yang perlu diketahui investor:
| Indikator | Nilai (per 20 Juli 2026) |
|---|---|
| Harga saham | Rp2.570 |
| Kapitalisasi pasar | ~Rp74 triliun |
| Rentang harga 52 minggu | Rp1.625 — Rp2.700 |
| PER (trailing) | 8,3x |
| PER (forward, estimasi) | 5,0x |
| Dividend yield (trailing 12 bulan) | ~9,5% |
| ROE | 10,3% |
| Debt to Equity Ratio | 19,5% |
| Pertumbuhan pendapatan (YoY) | 23,4% |
| Pertumbuhan laba (YoY) | 74,8% |
Menurut konsensus 12 analis yang dipantau melalui data Yahoo Finance per 20 Juli 2026, rekomendasi rata-rata untuk saham ADRO berada di kisaran "Buy", dengan target harga rata-rata (mean) di Rp3.140 dan target harga tertinggi Rp4.233. Perlu dicatat, target harga analis bersifat proyeksi dan dapat berubah mengikuti pergerakan harga komoditas batu bara serta kinerja kuartalan perusahaan — bukan jaminan hasil investasi di masa depan.
Saham ADRO dikenal sebagai salah satu saham blue chip dengan reputasi dividen tinggi di BEI. Rasio pembayaran dividen (payout ratio) perusahaan secara historis tergolong agresif — bahkan sempat melebihi 100% dari laba bersih tahun berjalan pada beberapa periode, termasuk komitmen membagikan 99,9% dari laba bersih 2025 yang disepakati dalam RUPST 2026.
| Tanggal ex-dividen | Dividen per saham (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|
| 2 Jan 2023 | 251,28 | Dividen interim |
| 23 Mei 2023 | 240,78 | Dividen final |
| 29 Des 2023 | 199,98 | Dividen interim |
| 28 Mei 2024 | 209,31 | Dividen final |
| 28 Nov 2024 | 1.358,18 | Dividen tunai spesial — terkait divestasi AADI |
| 30 Des 2024 | 106,48 | Dividen interim |
| 13 Jun 2025 | 166,69 | Dividen final |
| 30 Des 2025 | 145,14 | Dividen interim |
| 28 Apr 2026 | 118,26 | Dividen final, dibayarkan 8 Mei 2026 |
Angka yang paling menonjol dari tabel di atas adalah dividen tunai spesial senilai Rp1.358,18 per saham pada November 2024. Dividen jumbo ini bukan bagian dari laba operasional rutin, melainkan hasil pelepasan sebagian kepemilikan di PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melalui skema Penawaran Umum oleh Pemegang Saham (PUPS) — momen yang juga berbarengan dengan perubahan nama perusahaan menjadi Alamtri Resources. Investor yang membaca riwayat dividen ADRO secara historis sebaiknya memisahkan dividen rutin dari dividen non-rutin seperti ini agar tidak salah memproyeksikan yield ke depan.
Sebagai gambaran, dividend yield rata-rata 5 tahun terakhir saham ADRO tercatat sekitar 13% — jauh di atas rata-rata yield saham-saham di Indeks LQ45 pada umumnya, meski investor tetap perlu waspada bahwa yield setinggi itu sebagian besar terdongkrak oleh dividen non-rutin seperti kasus November 2024 di atas.
Sebagai salah satu emiten dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar besar di sektor energi, saham ADRO secara historis menjadi konstituen sejumlah indeks utama BEI seperti Indeks LQ45 dan Indeks IDX30. Perlu diingat, komposisi indeks-indeks ini dievaluasi ulang secara berkala oleh BEI, sehingga status keanggotaan ADRO dapat berubah tergantung kinerja likuiditas dan kapitalisasi pasar pada periode evaluasi terbaru — investor disarankan mengecek data indeks terkini langsung di situs Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum mengambil keputusan berbasis status indeks.
Sebagai emiten berbasis komoditas, harga saham ADRO dipengaruhi oleh beberapa faktor utama berikut:
Dari sisi pertumbuhan, laporan keuangan terbaru mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan sebesar 23,4% dan pertumbuhan laba bersih hingga 74,8% secara tahunan, mendorong estimasi PER forward turun ke level 5,0x — jauh di bawah PER trailing 8,3x. Penurunan PER forward ini mengindikasikan pasar memperkirakan laba per saham (EPS) akan terus tumbuh, dari Rp309 saat ini menjadi proyeksi sekitar Rp516 pada tahun fiskal berikutnya.
Beberapa katalis yang berpotensi memengaruhi arah saham ADRO ke depan antara lain: perkembangan harga batu bara termal di pasar Asia (khususnya permintaan dari China, India, dan Korea Selatan sebagai tujuan ekspor utama), realisasi lebih lanjut dari strategi diversifikasi ke mineral dan energi baru terbarukan, serta kelanjutan program buyback saham yang berpotensi mendukung harga di pasar sekunder. Sebaliknya, tekanan regulasi terkait dekarbonisasi dan potensi pelemahan permintaan batu bara jangka panjang tetap menjadi faktor risiko yang perlu dipantau investor dengan horizon investasi jangka panjang.
Di samping potensi dividen yang menarik, investor perlu memahami sejumlah risiko yang melekat pada saham berbasis komoditas seperti ADRO:
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi untuk membeli maupun menjual saham tertentu; rekomendasi analis yang dikutip di atas bersifat umum dan bukan nasihat investasi individual. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor setelah mempertimbangkan profil risiko masing-masing.
Bagi investor yang tertarik mengoleksi saham ADRO, berikut langkah praktis membeli saham ini melalui Pluang:
Produk Saham Indonesia di Pluang difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati selaku Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas selaku Perusahaan Efek yang berizin dan diawasi OJK.
Saham ADRO adalah saham dari PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (dahulu PT Adaro Energy Tbk), emiten pertambangan dan perdagangan batu bara termal yang tercatat di BEI sejak 2008.
Sejak RUPSLB 18 November 2024, nama perusahaan resmi berubah dari PT Adaro Energy Tbk menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, meski kode saham ADRO tidak berubah.
ADRO berada di sektor energi, sub-sektor batu bara termal (thermal coal), dengan lini bisnis mencakup pertambangan, jasa tambang, logistik, dan pengolahan mineral.
Per 20 Juli 2026, harga saham ADRO berada di level Rp2.570 per lembar. Harga ini bergerak dinamis mengikuti jam perdagangan BEI, sehingga sebaiknya dicek secara real-time melalui fitur Web Trading di Pluang.
ADRO secara historis menjadi konstituen Indeks LQ45 dan IDX30, namun komposisi indeks ini dievaluasi ulang secara berkala oleh BEI sehingga status keanggotaannya dapat berubah tiap periode.
Dividend yield trailing 12 bulan saham ADRO tercatat sekitar 9,5% per 20 Juli 2026, dengan rata-rata yield 5 tahun terakhir di kisaran 13%. Angka ini fluktuatif tergantung harga saham dan besaran dividen yang dibagikan tiap periode.
ADRO umumnya membagikan dividen interim di akhir tahun dan dividen final pada semester pertama tahun berikutnya, mengikuti hasil RUPST. Pembagian terbaru senilai Rp118,26 per saham dibayarkan pada 8 Mei 2026.
Saham ADRO bisa menjadi opsi bagi investor pemula yang memahami risiko saham berbasis komoditas dan siap menghadapi volatilitas harga. Karena pergerakannya sangat dipengaruhi harga batu bara global, disarankan untuk mempelajari analisa fundamental dan teknikal dasar sebelum berinvestasi, serta menyesuaikan porsi alokasi dengan profil risiko masing-masing.
Saham ADRO dapat dibeli melalui aplikasi sekuritas yang menyediakan akses ke Saham Indonesia, seperti Pluang, dengan langkah: daftar akun, cari ticker ADRO, pelajari data fundamental, tentukan jumlah lot, lalu eksekusi order.
Risiko utamanya meliputi volatilitas harga komoditas batu bara, risiko regulasi dan transisi energi, dividen spesial yang bersifat non-rutin, konsentrasi kepemilikan saham pada pemegang saham pengendali, serta risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Saham ADRO — kini bernaung di bawah nama PT Alamtri Resources Indonesia Tbk — tetap menjadi salah satu emiten batu bara paling diperhatikan di BEI berkat reputasi dividennya yang tinggi dan model bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Namun, seperti saham komoditas pada umumnya, pergerakan harganya sangat bergantung pada siklus harga batu bara global dan kebijakan regulasi, sehingga penting bagi investor untuk memahami profil risiko sebelum mengoleksinya. Pelajari data fundamental, riwayat dividen, dan pergerakan harga terkini secara real-time melalui menu Saham Indonesia di Pluang sebelum mengambil keputusan investasi.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


