
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada 16 September 2026 pukul 14.00 waktu AS Timur, atau sekitar pukul 01.00 WIB dini hari 17 September 2026 (sumber: FedRateCalc, diperbarui 10 September 2026). Berdasarkan survei ekonom yang dipublikasikan 15 September 2026, sekitar 85% responden memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) dari 3,50%-3,75% menjadi 3,75%-4,00% (sumber: Kayonews, 15 September 2026).
Artikel ini ditulis sebelum pengumuman resmi keputusan FOMC — seluruh angka di bagian dampak bersifat prediksi pasar, bukan hasil final.
Jawaban Singkat:
● Keputusan FOMC diumumkan 16 September 2026, 14.00 ET (≈01.00 WIB, 17 September 2026).
● Survei ekonom (15 September 2026): 85% memperkirakan kenaikan 25 bps menjadi 3,75%-4,00%.
● Kurs rupiah per 16 September 2026 berada di level Rp17.700/US$ (sumber: PortalMadura), di tengah kondisi pasar yang menanti keputusan tersebut.
FOMC (Federal Open Market Committee) adalah komite di bawah bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang bertugas menetapkan kebijakan moneter, termasuk suku bunga acuan (Fed funds rate). Keputusan FOMC memengaruhi biaya pinjaman di AS dan, karena dolar AS adalah mata uang cadangan dunia, turut berdampak pada arus modal global, nilai tukar mata uang lain (termasuk rupiah), serta harga aset seperti saham, emas, dan kripto.
Pertemuan FOMC periode ini berlangsung 15-16 September 2026, dengan pengumuman keputusan dan konferensi pers Ketua The Fed dijadwalkan pukul 14.00 waktu AS Timur pada 16 September 2026 (sumber: FedRateCalc, diperbarui 10 September 2026). Karena perbedaan zona waktu, pengumuman ini akan diterima pasar Indonesia pada dini hari WIB.
FOMC biasanya mengadakan delapan pertemuan terjadwal dalam setahun, dan setiap keputusannya disertai pernyataan tertulis serta proyeksi ekonomi (dot plot) yang menggambarkan pandangan masing-masing anggota komite terhadap arah suku bunga ke depan. Pasar keuangan global, termasuk Indonesia, umumnya memantau ketat setiap pertemuan ini karena dampaknya yang luas terhadap likuiditas dan arus modal lintas negara.
Berdasarkan survei ekonom yang dipublikasikan Kayonews pada 15 September 2026:
Skenario | Probabilitas (survei) | Suku Bunga Acuan Jika Terjadi |
Kenaikan 25 bps | ~85% | 3,75%–4,00% |
Suku bunga ditahan | Minoritas (skenario hidup, persentase spesifik tidak dirinci) | Tetap 3,50%–3,75% |
Sumber: Kayonews, 15 September 2026, mengutip survei ekonom. Cambridge Currencies (diperbarui 4 September 2026) turut mencatat probabilitas kenaikan sekitar dua pertiga pasca pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, 28 Agustus 2026. Angka probabilitas ini adalah estimasi pasar per tanggal sumber, bukan kepastian, dan dapat berubah hingga saat pengumuman resmi.
Rasionalisasi di balik ekspektasi kenaikan suku bunga mencakup: inflasi headline AS yang tercatat 3,4% YoY pada Juli 2026 (inflasi inti 2,5%), yang menurut sumber tersebut "belum kembali secukupnya" ke target 2% The Fed, ditambah data ketenagakerjaan yang masih kuat — non-farm payrolls Agustus 2026 bertambah 162.000 dan tingkat pengangguran di 4,1% (sumber: Cambridge Currencies, diperbarui 4 September 2026). Ini adalah rangkuman ekspektasi pasar dan pendapat sumber pihak ketiga, bukan proyeksi atau rekomendasi dari Pluang.
Periode | Suku Bunga Fed Funds |
Sejak Desember 2025 hingga pertemuan Juli 2026 | 3,50%–4,00% |
Efektif sejak 29 Juli 2026 (ditahan) | 3,50%–3,75% |
Skenario setelah keputusan 16 September 2026 (jika naik 25 bps, sesuai prediksi mayoritas) | 3,75%–4,00% |
Sumber: FedRateCalc, diperbarui 10 September 2026. Periode data: Desember 2025–September 2026. Angka ini bukan cerminan performa mendatang dan skenario kenaikan belum merupakan hasil final.
Berdasarkan analisis Kayonews (15 September 2026), berikut potensi dampak jika suku bunga The Fed naik sesuai ekspektasi mayoritas pasar — perlu dicatat, ini adalah skenario dan bukan kepastian arah pasar:
● Rupiah — tekanan dolar AS yang lebih kuat berpotensi membuat rupiah melemah, karena aliran modal cenderung mengarah ke aset berdenominasi dolar saat suku bunga AS naik.
● IHSG — volatilitas berpotensi meningkat, terutama pada sektor yang sensitif terhadap biaya pinjaman, meski dampak akhir bergantung pada seberapa besar kenaikan ini sudah diperhitungkan (priced in) pasar sebelumnya.
● Emas — harga emas berpotensi tertekan karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) seperti emas.
● Bitcoin/aset kripto — aset berisiko seperti kripto berpotensi mengalami volatilitas seiring pengetatan likuiditas global, meski arah pergerakannya belum dapat dipastikan dan sangat bergantung pada nada (forward guidance) yang disampaikan Ketua The Fed dalam konferensi pers.
Arah pergerakan pasar yang sebenarnya baru dapat diketahui setelah pengumuman resmi dan konferensi pers The Fed pada 16-17 September 2026 waktu WIB. Artikel ini tidak memberikan proyeksi harga maupun rekomendasi transaksi terkait peristiwa ini.
● Risiko volatilitas tinggi jangka pendek — harga aset lintas kelas (saham, emas, kripto, kurs) berpotensi bergerak tajam dalam waktu singkat begitu keputusan dan forward guidance diumumkan.
● Risiko ekspektasi meleset — jika keputusan aktual berbeda dari ekspektasi mayoritas pasar (misalnya The Fed menahan suku bunga alih-alih menaikkannya), reaksi pasar dapat berlawanan dari skenario yang diperkirakan.
● Risiko interpretasi forward guidance — pernyataan Ketua The Fed terkait arah kebijakan ke depan seringkali berdampak lebih besar terhadap pasar dibanding keputusan suku bunga itu sendiri.
● Risiko lintas aset dan lintas negara — investor yang memegang kombinasi saham AS, kripto, emas, dan saham Indonesia perlu memahami bahwa dampak keputusan ini dapat berbeda-beda dan tidak selalu bergerak searah antar kelas aset.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi. Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini. Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
1. Pantau pengumuman resmi melalui menu berita di aplikasi Pluang atau sumber resmi Federal Reserve pada dini hari WIB, 17 September 2026.
2. Hindari mengambil keputusan besar berdasarkan spekulasi semata sebelum keputusan resmi dan forward guidance disampaikan.
3. Evaluasi portofolio lintas aset (saham Indonesia, saham AS, kripto, emas) sesuai profil risiko masing-masing, bukan berdasarkan ekspektasi arah pasar semata.
4. Gunakan fitur pemantauan harga real-time di aplikasi Pluang untuk mengikuti pergerakan pasar begitu keputusan diumumkan.
Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek.
Aset | Minimum Pembelian | Minimum Penjualan/Order |
Aset Kripto | Rp10.000 | Rp5.000 |
Saham AS (Limit/Stop/Stop Limit Order) | Minimum order US$1,5 | Minimum order US$1,5 |
Saham AS (Market Order) | Minimum order US$1,00 | Minimum order US$1,00 |
Catatan: minimum transaksi kripto adalah Rp10.000 untuk pembelian dan Rp5.000 untuk penjualan. Untuk saham AS, minimum transaksi adalah US$1,5 apabila menggunakan Limit Order, Stop Order, atau Stop Limit Order, dan US$1,00 apabila menggunakan Market Order. Data per 16 September 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu — cek ketentuan terbaru di aplikasi Pluang.
Pluang sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh transaksi tercatat di Central Finansial X (CFX) dan Kliring Komoditi Indonesia (KKI).
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi. Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini. Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Keputusan dijadwalkan diumumkan pada 16 September 2026 pukul 14.00 waktu AS Timur, atau sekitar pukul 01.00 WIB dini hari 17 September 2026 (sumber: FedRateCalc).
Belum. Survei ekonom per 15 September 2026 menunjukkan sekitar 85% memperkirakan kenaikan 25 bps, namun skenario suku bunga ditahan tetap menjadi kemungkinan minoritas hingga pengumuman resmi disampaikan.
Jika suku bunga naik sesuai ekspektasi, rupiah berpotensi mendapat tekanan pelemahan karena penguatan dolar AS, meski besaran dampak sebenarnya baru terlihat setelah pengumuman resmi.
Aset kripto berpotensi mengalami volatilitas mengikuti perubahan likuiditas global, namun arah pergerakannya belum dapat dipastikan dan sangat bergantung pada forward guidance The Fed, bukan hanya keputusan suku bunga itu sendiri.
Berdasarkan sumber yang dikutip (Cambridge Currencies, Kayonews), Ketua The Fed saat ini adalah Kevin Warsh, yang pidatonya di Jackson Hole pada 28 Agustus 2026 turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan September ini.
Keputusan FOMC pada 16-17 September 2026 WIB dinanti pasar global karena berpotensi memengaruhi arah rupiah, IHSG, harga emas, dan aset kripto. Mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga 25 bps, namun ini tetap sebatas ekspektasi hingga pengumuman resmi dan forward guidance Ketua The Fed disampaikan. Investor sebaiknya tidak mengambil keputusan besar hanya berdasarkan prediksi pasar semata, melainkan memantau pengumuman resmi, mengevaluasi portofolio sesuai profil risiko, dan mendasarkan setiap keputusan investasi pada analisis pribadi.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.