
Jawaban Singkat:
• ETF memberi diversifikasi otomatis lewat satu instrumen, dengan biaya tahunan (expense ratio) rata-rata sekitar 0,14% untuk ETF indeks (ICI, 2025).
• Saham individual tidak punya expense ratio, tapi risikonya terkonsentrasi pada kinerja satu perusahaan dan investor menanggung sendiri riset serta keputusan pemilihannya.
• Riset jangka panjang (SPIVA) menunjukkan mayoritas manajer aktif profesional kesulitan mengalahkan indeks pasar secara konsisten — tantangan yang sama juga relevan bagi investor individu yang memilih saham satu per satu.
ETF (Exchange-Traded Fund) adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa layaknya saham, berisi kumpulan aset — biasanya puluhan hingga ratusan saham atau instrumen lain — yang mengikuti kinerja indeks atau sektor tertentu.
Saham individual adalah kepemilikan saham pada satu perusahaan tertentu, di mana kinerja investasi sepenuhnya bergantung pada kinerja perusahaan tersebut.
Kriteria | ETF | Saham Individual |
Diversifikasi | Otomatis — satu ETF bisa berisi puluhan hingga ratusan saham | Terkonsentrasi pada satu perusahaan |
Kontrol pemilihan | Mengikuti indeks/strategi ETF; investor tidak memilih saham satu per satu | Investor memilih sendiri perusahaan mana yang dibeli |
Biaya berjalan | Ada expense ratio tahunan (rata-rata 0,14% untuk ETF indeks, ICI 2025) | Tidak ada expense ratio, tapi ada biaya transaksi per pembelian/penjualan |
Riset yang dibutuhkan | Riset pada tingkat indeks/strategi | Riset mendalam per perusahaan (laporan keuangan, prospek bisnis, dst.) |
Volatilitas | Umumnya lebih stabil karena tersebar ke banyak saham | Bisa lebih fluktuatif karena tergantung satu emiten |
ETF mengenakan expense ratio — biaya tahunan yang dipotong otomatis dari nilai aset ETF untuk menutup biaya pengelolaan. Rata-rata expense ratio ETF indeks saham di AS berada di kisaran 0,14% per tahun pada 2025, dengan tren menurun dibanding level beberapa tahun sebelumnya (Investment Company Institute, Trends in the Expenses and Fees of Funds 2025). ETF dengan strategi lebih kompleks atau dikelola aktif umumnya mengenakan biaya lebih tinggi, sementara ETF indeks pasar luas yang paling murah bisa berada di kisaran 0,03%.
Saham individual tidak memiliki expense ratio tahunan, tetapi setiap transaksi beli/jual biasanya dikenakan biaya transaksi yang besarannya berbeda-beda tergantung platform atau broker yang digunakan — cek halaman Biaya resmi platform investasimu untuk angka yang berlaku saat ini.
ETF mengurangi risiko spesifik perusahaan (unsystematic risk) karena nilainya tersebar ke banyak saham sekaligus — kalau satu perusahaan dalam ETF bermasalah, dampaknya ke keseluruhan ETF relatif kecil. Namun ETF tetap terekspos penuh pada risiko pasar (systematic risk): kalau pasar secara keseluruhan turun, ETF ikut turun.
Saham individual membawa risiko spesifik perusahaan yang jauh lebih besar — kinerja investasi sepenuhnya bergantung pada satu emiten, termasuk risiko seperti penurunan kinerja, masalah tata kelola, atau bahkan kebangkrutan. Di sisi lain, potensi hasil dari memilih saham yang tepat secara individual juga bisa lebih besar dibanding rata-rata pasar — meski riset jangka panjang menunjukkan hal ini sulit dicapai secara konsisten (SPIVA, S&P Dow Jones Indices).
Berdasarkan data internal Pluang, tingkat adopsi ETF di kalangan investor tercatat sebesar 34,8% (data internal Pluang). Tren ini sejalan dengan data industri: rata-rata biaya ETF terus menurun dari tahun ke tahun (Investment Company Institute, 2025), sementara riset jangka panjang menunjukkan mayoritas manajer investasi aktif profesional kesulitan mengalahkan indeks pasar secara konsisten — 79% reksa dana saham aktif berkapitalisasi besar di AS kalah dari indeks S&P 500 sepanjang 2025, dan 94,1% kalah dari indeks S&P 1500 dalam periode 20 tahun 2005–2024 (SPIVA, S&P Dow Jones Indices, Year-End 2025 & Persistence Scorecard).
Data SPIVA ini mengukur kinerja manajer reksa dana aktif profesional, bukan investor ritel yang memilih saham secara individual — tapi mengilustrasikan tantangan mengalahkan pasar secara konsisten, sesuatu yang juga relevan bagi investor individu yang memilih saham satu per satu.
1. Ingin diversifikasi instan tanpa perlu riset mendalam per perusahaan.
2. Fokus pada strategi jangka panjang dan mengikuti kinerja pasar secara luas.
3. Waktu terbatas untuk memantau laporan keuangan atau berita masing-masing emiten satu per satu.
1. Punya waktu dan kemampuan riset mendalam terhadap perusahaan tertentu.
2. Ingin kontrol penuh atas komposisi portofolio, termasuk memilih atau mengecualikan sektor tertentu.
3. Nyaman menanggung risiko yang lebih terkonsentrasi demi potensi hasil yang lebih besar jika pilihan sahamnya tepat.
Ilustrasi berikut bersifat hipotetis dan disederhanakan, menggunakan angka bulat untuk menjelaskan mekanisme biaya saja — bukan prediksi hasil investasi maupun rekomendasi memilih instrumen tertentu.
Skenario | ETF Indeks (expense ratio 0,14%/tahun) | Saham Individual (tanpa expense ratio) |
Investasi $10.000, dipegang 1 tahun | Biaya expense ratio sekitar $14/tahun, dipotong otomatis dari nilai aset | Tidak ada biaya tahunan berjalan; biaya hanya muncul saat transaksi beli/jual sesuai tarif platform |
Komposisi portofolio | Otomatis mengikuti seluruh saham dalam indeks yang dilacak | Sepenuhnya ditentukan investor, saham per saham |
Contoh ini hanya menunjukkan mekanisme expense ratio, bukan proyeksi hasil investasi — kinerja aktual ETF maupun saham individual bergantung pada pergerakan pasar dan tidak bisa diprediksi dari biaya semata.
Tidak sepenuhnya. ETF mengurangi risiko spesifik perusahaan lewat diversifikasi, tapi tetap terekspos penuh pada risiko pasar secara keseluruhan — ETF bisa tetap turun nilainya saat pasar sedang terkoreksi.
Tidak. Riset jangka panjang menunjukkan mayoritas manajer investasi profesional yang secara aktif memilih saham pun kesulitan mengalahkan indeks pasar secara konsisten (SPIVA, S&P Dow Jones Indices) — tantangan yang sama juga relevan bagi investor individu.
Bisa. Banyak investor menggabungkan keduanya — misalnya ETF sebagai fondasi diversifikasi portofolio, dan saham individual untuk posisi tambahan pada perusahaan tertentu yang diyakini investor berdasarkan riset sendiri.
Tidak. Artikel ini menjelaskan perbedaan, biaya, dan risiko struktural kedua instrumen berdasarkan sumber yang dikutip di setiap bagian — bukan rekomendasi personal. Pilihan yang sesuai bergantung pada tujuan, horizon waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor.
ETF dan saham individual sama-sama memberi akses ke pasar saham, tapi dengan struktur biaya, diversifikasi, dan risiko yang berbeda. ETF menawarkan diversifikasi otomatis dengan biaya tahunan yang relatif rendah (rata-rata 0,14% untuk ETF indeks pada 2025), sementara saham individual memberi kontrol penuh atas pilihan perusahaan dengan risiko yang lebih terkonsentrasi. Riset jangka panjang menunjukkan mengalahkan indeks pasar secara konsisten sulit dilakukan bahkan oleh manajer investasi profesional, sehingga banyak investor memilih menggabungkan keduanya sesuai tujuan dan toleransi risiko masing-masing.
Kalau kamu ingin mulai investasi ETF atau saham individual, Saham AS dan ETF di Pluang bisa diakses mulai dari modal kecil.
Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek. Seluruh transaksi dicatat di Jakarta Futures Exchange (JFX) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI). PT PG Berjangka juga merupakan Pialang Berjangka yang berizin dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.
Gambar yang ditampilkan dalam konten ini dibuat dengan menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.
Ditulis oleh Jonathan Santoso