
Saham perusahaan tambang besar Australia, BHP, Rio Tinto, dan Fortescue turun ke level terendah beberapa bulan akibat harga bijih besi yang melemah, kekhawatiran pengeluaran modal global, dan proyeksi laba yang menurun. BHP dan Rio Tinto masih relatif kuat karena portofolio komoditas yang beragam, sementara Fortescue menghadapi risiko lebih besar karena ketergantungan pada bijih besi dan potensi pemotongan produksi. Sentimen pasar juga tertekan oleh keraguan atas keberlanjutan investasi di bidang AI, ditandai dengan pengurangan belanja modal Tesla untuk 2026. Ketua BHP, Ross McEwan, menekankan pentingnya Australia meningkatkan daya saing untuk menarik investasi tambang global, dengan mencontoh kebijakan di Kanada dan Chili yang menurunkan beban pajak dan mendorong aliran modal.
Per 22 Oktober 2026 pukul 08.02 WIB, Rio Tinto (ADR) diperdagangkan di harga USD 86,75 di Pluang, turun 1,60% dalam sehari dengan kapitalisasi pasar sebesar 141,67 miliar dolar AS. Meskipun tekanan pada saham tambang seperti BHP dan Fortescue, hasil dividen Rio Tinto tetap menarik di angka 5,27%. Aktivitas order di Pluang menunjukkan minat beli yang kuat, dengan 100% order merupakan pembelian pada waktu ini.