Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Holding Period Return, Formula Cuan Investasi dalam Periode Tertentu
shareIcon

Holding Period Return, Formula Cuan Investasi dalam Periode Tertentu

2 Jun 2020, 11:00 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Holding Period Return, Formula Cuan Investasi dalam Periode Tertentu

Dalam berinvestasi saham, terdapat istilah holding period return (HPR). Ini mengandaikan periode lamanya investor memegang suatu saham (holding period) untuk memperoleh keuntungan (return) berupa capital gain ataupun dividend yield.

Setiap investor memiliki preferensi atas saham yang ia akuisisi. Baik dari segi sektor yang disasar, seperti saham properti, ritel, pertambangan, perbankan, ataupun consumer goods.

holding period return

Untuk memprediksi kenaikan harga saham di berbagai sektor tersebut, investor perlu mengetahui holding period return yang ia terapkan. Karena holding period untuk beragam jenis aset (diversifikasi portofolio) tentu berbeda.

Secara umum, keputusan membeli atau menjual saham ditentukan oleh perbandingan atau perkiraan nilai intrinsik saham dengan harga pasar yang berlaku.

Holding period return merupakan penghasilan total yang diperoleh dari menyimpan investasi tersebut dalam periode waktu tertentu. Bagaimana menerapkan HPR dan menghitungnya?

Baca juga: Investasi Lebih Aman, Ketahui Cara Mengelola 7 Risiko Investasi Ini

Mengetahui holding period return dan formula menghitungnya

holding period

Periode holding adalah jumlah waktu investasi dipegang oleh investor atau periode antara pembelian dan penjualan sekuritas. Untuk menghitung periode ini, perhitungan dimulai dari hari setelah akuisisi sekuritas dan berlanjut hingga hari penjualan.

Imbal hasil yang diperoleh atau HPR ditentukan berdasarkan total pengembalian yang diterima dari portofolio aset selama periode waktu tertentu. Ini umumnya dijelaskan dengan persentase.

Nilai holding period return ditentukan dari pendapatan saat ini (pendapatan dividen, pendapatan sewa, ataupun pendapatan bunga) dan keuntungan atau kerugian modal (capital gain atau capital loss).

Perbedaan periode kepemilikan dapat menghasilkan perlakuan pajak berbeda atas suatu investasi. Dengan demikian, periode holding menentukan implikasi pajak.

Siapa yang menggunakan penghitungan holding period return ini dan kapan digunakan? Umumnya, investor dan manajer investasi menghitung HPR dari 5-10 tahun dalam memilih investasi.

HPR saham

Holding period return untuk saham dapat dirumuskan sebagai berikut:

HPR = Income + (EOPV – IV) / IV

Di mana EOPV adalah end of period value (nilai akhir ketika aset dijual) dan IV adalah initial value (nilai awal ketika aset diakuisisi).

Jika kamu membeli kelas aset atau sekuritas tertentu pada Januari 2020 dan menjualnya pada Januari 2021, total holding period return yang kamu terima ialah pendapatanmu berupa cash dividend sejak Januari 2020 hingga Januari 2021 ditambah dengan persentase EOPV dikurangi IV.

HPR reksadana

Dalam kasus reksadana, penghasilan (return) didistribusikan melalui 3 cara, yakni dividend, distribusi keuntungan modal (capital gain distribution), dan penyusutan nilai aset bersih (net asset value, NAV).

Dengan demikian, holding period return keseluruhan faktor tersebut dalam formula berikut:

HPR = dividen + distribusi keuntungan modal + (NAV akhir – NAV awal) : NAV awal

Dengan NAV = net asset value dan (NAV awal – NAV akhir) merepresentasikan kenaikan harga.

Baca juga: Fokus Investasi di Obligasi? Ini 4 Strategi Jitu untuk Mengelola Portofoliomu

Menghitung holding period return dalam saham dan danareksa

investasi emas atau saham

Dari ilustrasi pembelian dan penjualan saham di atas, maka kita bisa menerapkan formula sebagai berikut:

Harga beli saham pada awal tahun 2020

– Saham A = USD 50; Saham B = USD 50

Cash dividend yang diterima (selama satu tahun)

– Saham A = USD 10; Saham B = USD 15

Harga jual pada awal tahun 2021

– Saham A = USD 58; Saham B = USD 48

Maka, dari keterangan tersebut, HPR dapat diterakan sebagai berikut:

HPR

HPR dari Saham A sebesar 18% dan dari saham B sebesar 13%.

Sementara itu, berikut ini untuk ilustrasi holding period return dalam reksadana:

Mari kita asumsikan bahwa suatu reksadana membayarkan dividen sebesar USD 0,75 dan distribusi keuntungan modal sebesar USD 0,25 per lembar saham di sepanjang tahun tersebut.

Dengan NAV pada awal tahun sebesar USD 7 yang meningkat menjadi USD 8 per lembar saham pada akhir tahun.

HPR = USD 0,75 + USD 0,25 + (USD 8-USD 7) : USD 7 = USD 2 : USD 7 = 28,57%.

Jadi, tidak sulit bukan untuk menghitung holding period return yang dapat kamu peroleh dalam periode investasi tertentu?

Sumber: Investopedia, Portal Investasi

Simak juga:

Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Tetap Bisa Traveling Saat Kantong Tipis dengan 9 Trik Ini!

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!

Mau Financially-Savvy? Dengerin 7 Podcast Spotify Keuangan Ini, yuk!

Mau Cuan Investasi Saham untuk Pemula? Intip Dulu Panduannya di Sini!

Ditulis oleh
channel logo

Dewi Kharisma

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1