Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Jokowi Waswas Inflasi, The Fed Disebut Tukang 'Basa-Basi'!

Rangkuman kabar Kamis (17/2) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara diantaranya inflasi yang jadi isu utama dalam pertemuan G20 dan hasil risalah rapat The Fed yang agak 'unik'. Yuk, simak selengkapnya di sini!

Rangkuman Kabar Domestik

1. RI Cetak Rekor Konsumsi Listrik Tertinggi sejak 2018

PT PLN (Persero) mencatat penjualan listrik pada Januari 2022 mencapai 22,2 Tera Watt hour (TWh). Menariknya, konsumsi tersebut merupakan angka bulan Januari tertinggi sejak 2018.

Direktur Energi Primer PLN Hartanto Wibowo mengatakan peningkatan tersebut dipicu oleh pulihnya ekonomi yang mendorong aktivitas masyarakat.

Gejala pemulihan ekonomi, menurutnya, telah tampak sejak tahun lalu di mana konsumsi listrik mencapai 255,1 TWh, tumbuh 5,78% dibandingkan tahun 2020. Bahkan, konsumsi listrik tahun lalu telah melampaui konsumsi listrik pra pandemi yakni 242,1 TWh pada 2019.

Apa Implikasinya?

Kenaikan konsumsi listrik memang mengindikasikan pulihnya aktivitas masyarakat, sehingga menjadi salah satu indikator positif bagi perekonomian.

Namun, kenaikan tingkat konsumsi listrik menyisakan pekerjaan rumah bagi PLN untuk menjaga pasokan listrik berikut tarifnya di tengah mahalnya harga jual batu bara dan minyak bumi. Sebab, kenaikan tarif listrik dapat berimplikasi besar tehadap inflasi sebagaimana terjadi di berbagai negara saat ini.

2. Presiden Jokowi pun Juga Waswas Soal Inflasi!

Presiden Joko Widodo menekankan bahwa inflasi yang meradang di beberapa negara harus menjadi perhatian pemangku kebijakan ekonomi dunia saat ini. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Jakarta hari ini.

'Ketidakpastian global harus kita hadapi dengan sinergi dan harus bekerjasama mengendalikan inflasi yang meningkat, dan mengantisipasi kelangkaan dan harga pangan, kontainer, dan lain-lain dan kelaparan,' ujar Jokowi.

Belakangan, inflasi memang tengah menjadi momok bagi sebagian negara, salsah satunya adalah Amerika Serikat yang bahkan mencetak rekor inflasi tahunan tertingginya dalam 40 tahun terakhir pada Januari lalu. Oleh karenanya, ia meminta pemangku kebijakan fiskal dan moneter G20 untuk merumuskan langkah jitu yang dapat menyelesaikan isu tersebut.

Apa Implikasinya?

Persoalan inflasi yang disebabkan oleh disrupsi rantai pasok, baik kendala dari sektor logistik maupun kendala dari pihak pemasok seperti gangguan panen, dapat mengurangi kemampuan daya beli masyarakat.

Sementara itu, daya beli masyarakat adalah faktor krusial yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Sehingga, memerangi inflasi memang patut menjadi fokus pemangku kebijakan ekonomi dunia saat ini mengingat dunia tengah berjibaku untuk memulihkan ekonomi pasca dihantam pandemi COVID-19.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Harga Tempe Jadi Sorotan, Inflasi Bakal Makin Edan!

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. The Fed Ogah Agresif, Tapi Analis Sebut The Fed 'Sepik Doang'

Bank sentral AS The Fed mengaku akan bersikap lebih hawkish dalam mengerek suku bunga acuannya asal tingkat inflasi AS tidak kunjung melandai. Sikap itu termuat di dalam risalah rapat The Fed (minutes of meeting) Januari yang dirilis pada Rabu (16/2) waktu AS.

Hasil risalah itu seolah membuyarkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan buru-buru mengerek suku bunga acuannya dengan kencang, bahkan diramal hingga 50 basis poin, pada Maret mendatang. Meski memang, risalah tersebut tidak membahas secara detail mengenai angka tingkat suku bunga acuan yang akan dinaikkan The Fed bulan depan.

Kendati demikian, beberapa analis masih yakin bahwa The Fed tetap akan ngebet mendongkrak suku bunga acuan yang lebih sadis pada bulan depan berdasarkan beberapa hal.

Risalah tersebut merupakan rangkuman rapat FOMC yang dihelat 25 hingga 26 Januari silam, tepat dua pekan sebelum AS merilis data bahwa inflasi Januari telah mencetak rekor tertingginya dalam 40 tahun terakhir. Selain itu, rapat tersebut juga berlangsung sepekan sebelum AS mengumumkan data penambahan lapangan kerja baru (Non-Farm Payroll) yang kinclong. Sehingga, ada kemungkinan The Fed bakal mengganti stance moneternya pada bulan ini.

Oleh karenanya, analis dan investor memilih bergeming terhadap risalah tersebut. Mereka justru memilih untuk menantikan hasil rapat FOMC pada bulan ini untuk mencari sikap The Fed yang lebih klir.

Apa Implikasinya?

Detail risalah rapat yang mengindikasikan langkah pengetatan yang tidak terlalu agresif memberi ruang bagi para investor untuk sedikit bernapas lega.

Meski masih dibayangi inflasi tinggi, namun The Fed tampaknya lebih berhati-hati menerapkan pengetatan kebijakan. Kondisi ini merupakan angin segar bagi investor pasar modal dan aset berisiko yang beberapa waktu terakhir dighantam arus modal keluar menuju instrumen minim risiko.

2. Perdagangan Dunia Bakal Memble Tahun Ini

United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) merilis data nilai perdagangan tahun lalu yang mencapai US$28,5 triliun, tumbuh 25% dibandingkan tahun 2020. Bahkan, capaian nilai perdagangan itu 13% lebih tinggi dibandingkan tahun 2019, yakni level pra pandeminya.

Pendorong masifnya pencapaian tahun lalu tak terlepas dari lonjakan harga komoditas, pelonggaran kebijakan pandemi, dan pulihnya permintaan sebagai efek dari stimulus pandemi.

Kendati demikian, UNCTAD memproyeksikan pertumbuhan nilai perdagangan internasional tahun ini bakal melambat lantaran normalisasi pola konsumsi masyarakat. Selain itu, daya beli masyarakat global juga dapat menyusut akibat tekanan inflasi yang persisten.

Apa Implikasinya?

Kinerja perdagangan internasional yang berpotensi menurun bisa berdampak pada kinerja neraca dagang yang menjadi tumpuan neraca transaksi berjalan Indonesia beberapa waktu terakhir.

Selain itu, nilai perdagangan internasional yang diramal menyusut juga bisa menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sehingga, laporan tersebut sejatinya bisa menjadi 'alarm' bagi pemerintah untuk fokus mendorong pertumbuhan ekonomi dari aspek lain seperti konsumsi dan investasi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC Indonesia, Federal Reserve, Bloomberg, Reuters

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait