Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Pluang Pagi: Inflasi Bikin Investor Berdebar, Kripto & Saham AS Ambyar!

Selamat hari Senin, Sobat Cuan! Investor harus menapaki pekan ini dengan muka kecut setelah indeks saham Amerika Serikat (AS) dan aset kripto gugur berjemaah. Apa yang membuat keduanya lesu di awal pekan? Simak selengkapnya di Pluang Pagi berikut!

Indeks Saham AS

  • Trio indeks saham AS mengalami pelemahan harian terparah pada Jumat (10/6). Nilai Dow Jones Industrial Average (DJIA) melorot 2,7%, sementara Nasdaq dan S&P 500 masing-masing terkulai 2,9% dan 3,5%.
  • Pelaku pasar terlihat minggat dari pasar modal setelah AS mencetak inflasi tahunan 8,6% di Mei. Ternyata, angka ini jauh lebih tinggi dari estimasi analis 8,3% dan merupakan laju inflasi terkencang sejak 1981.
  • Kepanikan pelaku pasar bukan tanpa alasan. Tadinya, mereka meyakini bahwa siklus inflasi tinggi di AS sudah selesai pada Maret lalu. Sehingga, mereka tak menduga bahwa inflasi Mei malah meroket.
  • Investor khawatir, inflasi AS yang ngebut kencang akan mendorong bank sentral AS, The Fed, mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin untuk bulan ini dan bulan depan.
  • Namun, jika itu terjadi, maka tingkat imbal hasil obligasi AS juga bakal meroket dan meredupkan kilau saham-saham teknologi. Pasalnya, return saham teknologi berkategori growth stocks selalu dikaitkan dengan return instrumen berpendapatan tetap.
  • Sontak saja, nilai saham teknologi seperti Apple ambles 3% Jumat lalu. Saham Microsoft dan Meta Platforms bernasib lebih apes setelah nilainya kompak longsor 4% di waktu yang sama.
  • Selain itu, pelaku pasar takut kenaikan suku bunga The Fed yang agresif akan menghambat pertumbuhan konsumsi dan investasi, dua motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi. Makanya, mereka juga waswas kebijakan moneter ketat The Fed akan menuntun ekonomi AS ke jurang resesi.

Baca juga: Pluang Insight: Katanya Dunia di Ambang Resesi. Apa Sih Arti Resesi Ekonomi?

Aset Kripto

  • Setali tiga uang, cuaca buruk juga tengah melanda pasar kripto. Melansir Coinmarketcap pukul 07.53 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar sejagat terbenam di zona merah dalam 24 jam terakhir.
  • Nilai Bitcoin (BTC), misalnya, jeblok 7,27% ke US$26.425 per keping dalam sehari terakhir. Sementara Ether (ETH) nyemplung 8% ke US$1.414 per keping di waktu yang sama.
  • Altcoin lainnya tak kalah bernasib apes. Binance Coin (BNB) membukukan penurunan nilai 8,37% dalam 24 jam terakhir. Sementara Polkadot (DOT) dan Dogecoin (DOGE) kompak melorot lebih dari 10% di saat bersamaan.
  • Terdapat pula nilai Solana (SOL) yang anjlok 11,81% dalam sehari terakhir dan Cardano (ADA) yang oleng 14,37%. Nasib paling ngenes dialami Avalanche (AVAX) yang nilainya ambrol 16,53% dalam sehari terakhir.
  • Sama seperti yang terjadi di pasar modal, lesunya pasar kripto Senin pagi disebabkan oleh kepanikan pelaku pasar atas data inflasi yang di luar ekspektasi. Mereka yakin tingginya inflasi akan membuat The Fed ngebet mengerek suku bunga acuannya.
  • Akibatnya, pelaku pasar berbondong-bondong mengurangi keterpaparan risiko di portofolionya (derisking) dengan cara melepas aset kripto dan hijrah ke instrumen aset berpendapatan tetap.
  • Sebenarnya, secara alamiah, pergerakan harga aset kripto memang tidak berkorelasi langsung dengan inflasi. Bahkan, tadinya ada anggapan bahwa Bitcoin (BTC) bisa menjadi aset pelindung nilai pesaing emas lantaran pergerakannya sempat berlawanan dengan inflasi.
  • Namun, kondisi pasar saat ini dipenuhi oleh investor institusi yang gerak-geriknya sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi. Ketika situasi ekonomi ke depan diramal tidak menentu, maka mereka akan melepas aset paling berisiko, utamanya aset kripto, terlebih dulu.
  • Kinerja memble aset kripto pun diperparah oleh rendahnya likuiditas perdagangan aset kripto pada akhir pekan. Sehingga, aksi jual dengan volume tak signifikan tentu akan menyeret harga aset kripto lebih dalam.

Emas

  • Harga emas di pasar spot bertengger di US$1.870 per keping pada pukul 08.08 WIB, melorot tipis dibanding akhir pekan lalu US$1.871 per keping.
  • Nilai sang logam mulia terdorong setelah pelaku pasar kompak memborong emas lantaran khawatir atas ancaman resesi ke depan. Mereka mengantisipasi hal ini setelah memperkirakan dampak dari kebijakan moneter The Fed yang agresif ke depan.
  • Sekadar informasi, emas dikenal sebagai aset pelindung kekayaan yang menjadi incaran investor ketika situasi ekonomi serba tidak pasti.
  • Hanya saja, laju harga emas tertahan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
  • Kenaikan yield obligasi AS akan membuat opportunity cost dalam menggenggam emas menjadi lebih mahal. Hasilnya, pelaku pasar akan meninggalkan emas, sebuah instrumen aset yang tidak menghasilkan imbal periodik.

Baca juga: Pasar Sepekan: Market Mendung di Bawah Bayang Inflasi & Waswas Kebijakan Fed

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 90 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait