Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Cara Mencegah FOMO dalam Investasi

FOMO adalah sikap yang perlu dihindari dalam berinvestasi. Lantas, bagaimana cara investor jaga jarak dari sikap tersebut? Simak di sini!

Apa Artinya FOMO?

FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out atau rasa takut seseorang yang merasa "tertinggal" dengan tren atau hype yang terjadi di masyarakat.

Bahasa "gaul" ini dipopulerkan oleh Patrick McGinnis pada tahun 2004, yakni era ketika sosial media mulai mendapat animo masyarakat.

Kala itu, Ginnis yang tengah mengenyam pendidikan di Harvard Bussines School memperhatikan bahwa orang-orang di sekitarnya mulai kencanduan media sosial Friendster hingga mengalami kecemasan dan khawatir akan ketinggalan info dan tren teranyar.

Menurutnya, fenomena tersebut di Amerika Serikat (AS) juga dipicu oleh peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center pada 2001 yang umum dikenal sebagai tragedi 9/11. Pasalnya, setelah peristiwa tersebut, masyarakat AS terdorong untuk mencoba menjalani hari-harinya dengan bahagia dan berupaya move on dari insiden tersebut.

Akhirnya, warga AS menganggap setiap hari sebagai perayaan yang layak diunggah ke media sosial dan memantik warga lainnya untuk "berlomba-lomba" melakukan hal serupa.

Meski memiliki aspek positif seperti mendorong kompetisi yang sehat dan menginspirasi untuk hidup lebih semarak, FOMO juga memiliki sisi negatif yakni membuat pengguna media sosial mengalami kecemasan dan ketakutan yang tidak realistis.

Bukan hanya itu saja, FOMO juga menimbulkan kekhawatiran akan "rumput yang lebih hijau di halaman tetangga". Dengan kata lain, masyarakat menjadi takut tertinggal oleh kesuksesan dan kesenangan hidup yang yang ditampilkan lewat persona media sosial seseorang.

Kondisi FOMO pun rupanya juga berlaku di dunia investasi. Seperti apa bentuknya?

Baca Juga: Mengapa Saham Apple Adalah Aset Berharga?

Mengenal FOMO dalam Dunia Investasi

Ketika ditempatkan dalam konteks investasi, FOMO diartikan sebagai kecemasan pelaku pasar lantaran takut bahwa mereka akan ketinggalan potensi cuan dari pasar atau ketinggalan tren investasi tertentu.

Dalam konteks investasi, FOMO berlaku saat sang investor merasa takut ketinggalan tren investasi tertentu atau reli aset tertentu yang merupakan bagian dari strategi investasi orang lain. Hal ini akan mendorong kamu jadi FOMO trader.

Rasa takut ini biasanya muncul ketika kinerja pasar mengalami reli kencang atau terdapat kabar burung di pasar yang mengindikasikan bahwa harga suatu aset akan melejit tinggi. Bahkan, rasa cemas ini kian kentara ketika melihat pelaku pasar lainnya berhasil mendulang cuan fantastis di saat yang sama dengan melancarkan strategi investasi yang agak nyeleneh.

Hanya saja, sikap FOMO bisa berubah menjadi malapetaka bagi investor. Pasalnya, mereka akan berujung menentukan keputusan investasi berdasarkan emosi sesaat. Padahal, seluruh pertimbangan investasi haruslah didasarkan pada analisis dan informasi pasar yang valid.

Selain itu, secara natural, investor tidak boleh bersikap FOMO. Alasannya, pikiran tersebut berasal dari ekspektasi pelaku pasar bahwa kinerja pasar akan terus membaik sesuai keinginannya. Sementara itu, kondisi pasar keuangan terbilang bergejolak. Setiap hal dapat terjadi setiap saat, sehingga investor tak boleh ngarep berlebihan.

Intinya, sikap FOMO dapat membuat pelaku pasar tidak sabar, bertindak serampangan, bersikap cemburu terhadap kesuksesan pelaku pasar lainnya, dan mematahkan komitmennya dalam berinvestasi jangka panjang.

Apa Ciri-ciri FOMO dalam Investasi?

Terkadang, seorang pelaku pasar tak mau mengakui bahwa dirinya sudah terjebak dalam situasi FOMO. Tapi biasanya, mereka yang mengalami FOMO sering kebagian tugas 'cuci piring' saat kondisi pasar sudah melewati puncaknya. Dengan kata lain, investor yang menderita FOMO kronis biasanya selalu menjadi jongos alih-alih menjadi juara ketika hype pasar sudah berakhir.

Selain itu, terdapat ciri-ciri lain yang mengindikasikan sikap FOMO dalam berinvestasi.

  1. Serakah
  2. Terhanyut Arus
  3. Tidak sabar
  4. Berekspektasi tinggi tapi kurang percaya diri
  5. Plin-plan
  6. Tidak punya strategi, apalagi rencana jangka panjang
  7. Suka menebak-nebak, tapi malah tidak percaya pada analisisnya sendiri
  8. Tidak punya rencana manajemen risiko.

Apa Saja Sumber Penyebab FOMO?

FOMO adalah "penyakit" umum yang diderita sebagian besar investor. Tapi, apa sih sumber utama ketakutan mereka? Berikut penjelasannya!

1. Volatilitas Pasar

Kecenderungan munculnya sikap FOMO tak terlepas dari tren market yang sedang bergejolak. Sebab, kondisi pasar seperti ini menyediakan ruang luas bagi investor yang pandai memanfaatkan peluang agar dapat mereguk cuan.

Sayangnya, investor kurang berpengalaman yang ikut nimbrung dalam kerumunan reli suatu aset berpotensi terpapar FOMO. Tanpa strategi dan rencana investasi yang memadai, mereka justru bakal jadi santapan lezat dalam pasar yang sedang kurang sehat.

2. Forum Sesama Investor

Forum sesama investor memang menjamur belakangan ini. Tujuannya adalah menjadi sarana bagi sesama investor untuk berbagi ilmu dan strategi dalam berinvestasi.

Hanya saja, forum investor juga bisa menjadi pangkal kecemasan investor lainnya jika sarana itu diisi oleh investor lain yang memamerkan kesuksesan berinvestasi. Nah, alih-alih mendapat ilmu baru, investor awam yang masuk ke forum tersebut malah membawa "oleh-oleh" berbentuk kecemasan.

3. Berita Bikin FOMO

Sering kali, berita memang menyebabkan harga aset terutama saham bergerak.

Investor veteran tentu sering mendengar ungkapan 'beli saat masih jadi rumor, jual saat sudah jadi berita'. Sebab, saat berita tentang suatu emiten terkonfirmasi, saat itulah saham bakal diserbu oleh spekulan yang sebagian besar bersikap FOMO.

4. Meme

Terdengar konyol, namun meme investasi sering memantik gelombang FOMO. Salah satu aset yang paling sering jadi meme ialah aset kripto. Tak heran, pasar kripto cukup digandrungi oleh investor FOMO.

Memang, tak ada salahnya membeli aset yang sedang viral dan banyak dibuat jadi meme. Namun, perlu dicatat bahwa aset seperti itu biasanya berisiko tinggi. Bukan untung, bisa jadi buntung yang didapat!

5. Tips 'Influencer'

Tips kerap dibagikan oleh influencer investasi. Tips-tips tersebut memang bermanfaat jika kamu dapat menyikapi dengan bijak. Tapi, hati-hati jika tips para influencer malah membuat bias dalam analisis dan strategi investasi yang telah disusun!

Baca Juga: Ini Manfaat Investasi Saham Amerika bagi Investor!

Bagaimana Menghadapi FOMO dalam Investasi?

Seperti diketahui, FOMO adalah sikap yang harus dihindari investor. Lantas, bagaimana cara Sobat Cuan bisa menghindari perilaku tersebut?

1. Riset, Riset, Riset!

Tidak ada jurus yang lebih ampuh untuk menangkal perilaku FOMO selain perkuat risetmu. Pelajari baik-baik aset yang kamu minati, lalu lakukan analisis mendalam baik secara teknikal maupun fundamental.

Salah satu tips terhindari dari jebakan "cuci piring" ialah dengan menghindari aset "gorengan". Yakni aset yang pergerakan harganya tidak sejalan dengan analisis bisnisnya.

2. Konsisten dengan Strategi Investasi

Investor yang baik harus memiliki strategi berdasarkan filosofi, toleransi risiko, strategi diversifikasi, dan rencana finansial. Sebelum kamu tertarik buat investasi pada saham atau aset yang lagi ngetren, pastikan dulu aset tersebut sudah sejalan dengan strategi investasimu.

3. Ingat Bahwa Nekat FOMO Bisa Berujung Buntung

Tentu sah saja jika kamu memutuskan untuk tetap berinvestasi pada tren yang sedang hype. Siapkan saja mentalmu untuk menghadapi risiko sebesar kesempatanmu untuk cuan. Jangan sampai keinginan sesaat itu malah bikin kamu stres di kemudian hari.

4. Bersikap Sabar

Tips lain yang cukup ampuh untuk mengurangi bias analisismu pada suatu aset yang sedang hype ialah menunda transaksi beberapa hari hingga beberapa minggu.

Sambil menunggu, tentu kamu bisa memperbanyak riset terkait aset tersebut. Jika setelah beberapa waktu kamu tetap merasa tertantang mencoba peruntungan, maka kemungkinan besar keinginan tersebut tidak hanya berangkat dari emosi sesaat.

5. Pelajari Pola Investasimu!

Kamu dapat mempelajari pola investasimu dengan membuat catatan dalam excel mengenai rekam jejak investasimu. Dari situ, kamu bisa menulis aset mana yang kamu beli berdasarkan analisis, dan mana yang kamu beli karena ikut-ikutan semata.

Cara ini dapat membantu kamu lebih memahami pola investasimu sendiri. Mempelajari strategi dalam pola tersebut akan membentuk strategi investasi yang lebih baik di masa depan.

Jadi, apakah kamu masih ingin terjebak dalam perilaku FOMO?

Download Pluang di Sini!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber:  Get Smart About Money, Seeking Alpha, Edelweis, Quantified Strategies

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait